
"Hai sayang? kau tahu bukan? aku sangat mencintaimu bahkan selama 4 tahun kau dengan jahatnya pergi. Kau tahu, aku masih setia denganmu hingga saat ini. Ah apakah kau akan cemburu jika aku bersama wanita lain? Pasti kau akan cemburu! Lalu bagaimana jika aku menjaga kakakmu, apakah kau akan senang melihatku dari sana? bahagia bersama kakak yang paling kau cintai?" Monolog Rendra menatap foto Aira yang tergantung besar di ruang kerjanya. Ini gila, pikiran macam apa sehingga manusia satu ini bisa menyimpulkan bahwa Aira akan bahagia jika kekasihnya menjaga sang kakak.
Pagi hari ini membuat dirinya bersemangat, setalah semalam tak mampu memejamkan matanya. Jas mahal tak lupa jam tangan, semua pakaian berharga fantastis itu melekat ditubuh pria tersebut. Bibirnya tercetak jelas raut wajah kebahagiaan. Pada hari ini semua agenda rapat ataupun pertemuan penting ia lupakan.
"Baiklah, memang aku yang paling tampan. Dan satu lagi, sekarang kau punya segalanya Rendra. Annisa pasti akan jatuh hati padamu bukan? seperti adiknya Aira." Ucapnya dengan penuh kepercayaan diri.
"Sayang! Maukah kau menjadi tunangan ku dan menikah denganku?" Tuan muda Daniel sudah berlutut dihadapan kekasih hatinya saat ini, riuh para pengunjung yang ada seketika bersorak "TERIMAAAAAA!!!!!!!!"
Dengan tetesan air mata bahagia gadis itu mengangguk setuju, pelukan hangat tak terhindarkan setelah cincin emas bertahta tinggi dijari manis miliknya. Kedua orang tua Annisa hanya mengangguk bahagia, Apapun itu ia akan setuju dengan laki laki pilihan putrinya asalkan Annisa mencintai dan tidak ada unsur keterpaksaan.
Sejatinya pernikahan hanya sekali seumur hidup bukan? Maka menikah dengan pria yang benar benar kau ingin habiskan waktu mu itu bersamanya.
Tatapannya diliputi gairah tak suka, sudut hatinya menatap iri. Mengapa kisah percintaannya tak berakhir seperti ini. Rendra, pemuda itu telat datang ke acara tersebut, kemacetan lalu lintas yang tak bisa dihindarkan membuatnya harus mengumpat kesal sepanjang perjalanan. Niat hati ingin datang tepat waktu bak seorang pangeran berkuda dengan membawa bunga pupus sudah.
"Selamat untuk mu Annisa!" Raut wajahnya masih nampak tersenyum lembut, menyembunyikan segalanya. Ingin rasanya Rendra membuang cincin sialan itu.
"Terimakasih tuan Rendra, anda sudah menyempatkan datang ke acara kecil-kecilan milikku!" Ujar Annisa masih tersenyum, tangannya menerima bunga dari Rendra. tak sopan jika menolak toh ia sudah menganggap Rendra sebagai sahabatnya bukan? Ah terlalu cepat bagaimana jika teman?
"Ya....." Jawabnya singkat namun tatapan mata itu tak bisa dipungkiri, Annisa sangat mirip dengan Aira. Bertambahnya umur membuatnya semakin cantik dan berkelas.
__ADS_1
"Oh ya kenalkan ini Daniel, tunangan saya!" Ujar Annisa ramah, gadis itu nampak bangga memperkenalkan prianya.
***********************
Beberapa barang nampak hancur berserakan tak berguna di lantai. Rendra, apa yang membuat prtia ini berubah begitu dratis. Begitu emosional saat keinginan ataupun Rencananya tak sesuai dengan yang ia harapkan.
"Bukankah Tuan Rendra selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Tenang Rendra ,mereka baru sebatas tunangan. kau masih bisa mengagaglkannya." Ucapnya menenangkan hati, detik berikutnya tawanya melambung dengan begitu keras memenuhi ruangan.
BRAK!!!!!!
"Apa apa ini kakak!" Jelita datang dengan membentak sang kakak.
"Kau tau, kakakmu ini akan segera menikah!" Ujarnya tersenyum bangga.
"Kau tau, dia sangat mirip dengan Aira. Sempurna. Dia cantik dan berkelas, sangat cocok menyandang marga Nyonya Rendra!" Ujarnya kembali membayangkan sosok Annisa.
"Haaa?" Gugu jelita masih tak mengerti.
"Annisa!" Jawabnya ragu.
__ADS_1
"Jangan bilang kakak mau menikah dengan kak Annisa karena wajahnya begitu mirip dengan Kak Aira. Dan kakak juga beranggapan bahwa jika kakak menikah dengan Annisa pasti kak Aira tak akan sedih diatas sana dan justru akan berterimakasih jika kak Rendra mau menjaga kakak kesayangannya." Tebak Jelita.
"Kau benar sekali!" Ucap Rendra dengan bangganya.
"Itu bukan cinta, kau gila kak!" Bentak Jelita dengan nada kilatan emosi.
"Ya aku gila, gila karena Aira sudah pergi bahkan dengan jahatnya dia membawa semua ragaku pergi bersamanya." Kini wajah ceria itu berubah menjadi sendu kembali.
"Tapi menjadikan Annisa dengan sosok bayang bayang Aira itu bukan hal yang baik kak! Itu sebuah kejahatan." Ucap Jelita memperingati sang kakak.
"Tidak peduli, Papa selalu berkata apapun yang membuatku bahagia. Aku pasti mendapatkannya. Termasuk Annisa!"
"Kau sakit, kau harus bertemu dokter Anggun besok!"
"Ha apa?"
"Dokter Anggun menunggumu, minum ini!" Pil dimasukkan kedalam mulut Rendra begitu bringas oleh Jelita.
GLEK! Tertelan dengan sempurna.
__ADS_1
Kepergian Aira yang begitu mendadak untuk sosok Rendra membuat traumanya semakin tak terkontrol. bayang bayang bagaimana ia tak memperdulikan Aira menjadi penyesalan tak berujung. Dan sampai sekarang, Rendra menapik bahwa Aira sudah pergi, baginya gadis itu masih ada disampingnya dan akan terus bersamanya. 2 tahun menjalani pengobatan dengan beberapa psikiater tak membuahkan hasil sama sekali. Hati kecilnya masih menolak bahwa Aira telah berpulang. Dr. Anggun, gadis ini juga dirasa gagal. Namun setidaknya Rendra lebih waras tak membawa barang barang Aira pergi bersamanya, Namun disimpan didalam rumah miliknya.
*************************