Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 22


__ADS_3

"Lo ga perlu minta maaf ke gue, akhir akhir ini memang pekerjaan gue lagi banyak Ra. Gue juga gak enak ada di antara hubungan lo sama pacar lo. Salah gue kayaknya!" Ujar Rendra kembali.


"Gue suka sama lo kak!" Mutlak Aira.


"Ha? lo ngomong apa Ra!" Ujar Rendra kembali memastikan, samar mendengar hanya kata kak yang terdengar jelas.


"Gakpapa, lupain kak!" Ujar Aira kembali.


Dor


Dor


Dor


Happy New Year!!!! Selamat Tahun baru untuk kita semua, tepat jam 12. Ah langit malam ini sangat indah begitu indah dengan tatanan mahakarya kembang api di luar angkasa.


"Selamat tahun baru Ra!" Ujar Rendra kembali, suaranya begitu lembut mengalun di gendang telinga.


"Gue juga suka lo!" Ujarnya berbisik mesra dalam telinga Aira.


"Kak elu, tadi?" Gagapnya.


"Gue suka sama lo, entahlah gue gak tau kapan Ra! Tapi lo masih punya waktu untuk mempertimbangkan rasa lo ke gue setelah ini!" Ujarnya kembali.


"Maksudnya?" Tanya Aira tak mengerti.


"Ra, gue cuman ada pintu masuk buat lo. Gue gak punya pintu keluar saat lo ngerasa salah dalam bertindak ataupun itu. Sekali lo masuk ke kehidupan gue, selamanya lo harus sama gue. Ini paksaan dan perintah." Ujarnya kembali.


"Aku....." Gugupnya.


"Lo masih boleh berfikir untuk itu. Sekarang pulang, udah malem. Gue takut lo di cariin Papa sama Mama lo!" Ujar Rendra.


"Kan gue bawa mobil, bisa pulang sendiri kak!"


"Gue ikutin lo dari belakang, gak usah bantah deh!" Ujar Rendra, kali ini tangannya memegang Aira untuk keluar dan pulang.


"Kak." Panggil Aira sebelum masuk.


"Kenapa" Tanya Rendra kala sudah bersiap memasang helm miliknya.


"Jadi kita?"


"Lo baru aja putu, gue gak mau lo di cap cewek apa itu. Lo harus pertimbangin itu dan kenal lebih dalam gue dulu. Gue bukan orang yang terburu buru dalam segala hal. Semua harus di rencanakan dengan matang. Males gue, udah gede gonta ganti mulu! Kalau boleh minta si, pengen nya elu aja." Ujarnya lembut, tangannya memegang kedua pundak Aira, mencoba menjelaskan bahwa "Its okey , gue selalu sabar nungguin jawaban lo." Begitu katanya. Meskipun di akhir, otak licik Rendra tetap akan membuat Aira harus masuk kedalam dunianya.


...********************...

__ADS_1


"Lo ga benci gue nis?" Ujar Daniel memecahkan keheningan, setelah kepergian Aira keduanya nampak sangat canggung duduk berhadapan.


"Benci? Maksudnya kak?" Tanyanya tak mengerti.


"Sorry nis, gue yang salah. Soal kemarin, gue bohongin lo dan..." Ujarnya menunduk.


"Jadi kamu...." Ujarnya kaget.


"Sorry nis, gue terpaksa. Gue kira dengan cari simpatik elo, Aira tetep mau sama gue, nyatanya engga." Ujarnya sendu.


"Secinta itu sama adikku?" Ujar Annisa bertanya, percayalah terselip rasa kecewa yang tak berujung kala Annisa bertanya seperti itu pada laki laki yang jelas ia cintai, sangat.


"Gue bingung nis harus bilang ini cinta atau gimana, cuman adik lo yang nolak gue. Secara banyak di luar sana cewe yang sukarela bahkan mau jadi yang kedua. Tapi adik lo?" Ujar Daniel jujur.


"Lalu?"


"Setelah gue bisa dapetin dia, rasanya biasa saja, kayak gak ada tantangan lagi. Tapi setelah gue tau kebiasaan dia yang... Lo tau sendirikan, gue penasaran aja pengen ngubah dia." Ujar Daniel.


"Gak nyangka pemikiran kak Daniel sangat kekanak-kanakan." Ujar Annisa, ah manusia tampan ini nyatanya punya kekurangan.


"Maksud lo? Gue gak ngerti nis!" Ujarnya jujur, bertanya apa yang di maksud.


"Lo obsesi sama adik gue, bukan cinta." Ujar Annisa kesal, oke gaya bicaranya sudah tak menunjukkan aura hormat apalagi kagum.


"Ketika lo menginginkan seseorang hanya beralasan lo penasaran sama orang itu."


"Itu cinta."


"Obsesi, cinta itu murni. Murni sampai lo ga tau alasan kenapa lo suka sama cewek itu bahkan lo sampai berkoban apapun, asalakan seseorang yang lo suka bahagia."


"Gila, gue gak mau berkorban apapun buat seseorang. Sejak kecil Papa dan Mama gue selalu nuruti apa yang gue mau. Bahkan permintaan gue apapun selalu di turutin tak terkecuali."


"Hahaha... "Tawanya miris, "Kebahagiaan tak di ukur dari apapun yang lo minta semuanya bakal terkabul kak dan cinta tidak akan mengubah apapun, dia datang bahkan mampu membuat ketenangan dalam diri lo. Meskipun banyak permintaan lo yang gak sesuai, dia orang pertama yang ada saat lo jatuh. Suatu saat lo bakal ngerti." Ujar Annisa mengakhiri, kaki nya melangkah pergi mendekati Papa dan Mamanya bercengkrama hangat dengan orang tua nampaknya lebih mengasyikan daripada menjelaskan sesuatu kepada manusia kolot disana.


...******************...


"Hai pacar!" Ujarnya menggoda, kemudian meralat "Hai calon pacar!" Ujar Aira menggoda.


"Shut!!! Duduk!" Ujar Rendra.


"Kenapa?"


"Gak enak kalau di denger anak dua itu." Ekor mata Rendra menunjuk ke arah Rizki dan Desi yang sedang mengantar makanan ke meja pelanggan.


"Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Gue belom siap di tagih uang makan sama mereka, Ngabisin gorengan segrobak ntar." Tawa Rendra terdengar lucu di mata Aira.


"Hai Aira cantik, tumben baru kesini?" Ujar Rizki menggoda.


"Hai kak Rizki, Coffe biasa ya!" Ujarnya lagi.


"Coffe hitam tanpa gula?" Tanya Rizki memastikan.


"Dia sukanya rasa Mocca sekarang!" Ujar Rendra memotong.


"Widih, tau aja nih si bos. Yaudah bos aja ya yang layanin. Saya mah sibuk, mau ngelayanin yang lain!" Ejek Rizki.


"Sialan lo!" Ujar Rendra geram.


"Nih, coffe yang cantik buat orang yang cantik." Godanya kembali.


"Thanks kak!" Ujar Aira menyeruput dengan nikmat.


"Oh ya, tungguin bentar!" Ujar Rendra berlalu, kemudian ia datang membawa sebuah cake yang lucu.


"Cobain deh!" Ujar Rendra tersenyum.


"Apa?" Tanya Aira, seolah bertanya kue ini rasa apa dan bagaimana.


"Softcake rasa strawberry, gue campur sedikit keju di tengahnya sebagai isi terus atasnya kasih cream sama irisan segar strawberry." Kurang lebih begitu tuturnya menjelaskan pada Aira.


"Baru liat, kayaknya..."


"Menu baru, dan lo orang pertama yang harus coba. Gue tau lo suka strawberry kan?" Ujar Rendra bertanya.


"Iya sih , gue suka tapi..."


"Cobain nih!" Ujar Rendra memaksa, ia menyuapkan dengan lembut roti itu kedalam mulut Aira.


"Gimana?" Ujarnya meminta pendapat, seperti sedang mengikuti lomba saja.


"Ini...." Helaan Aira, ah wajahnya tak bisa terdeteksi. "Enak. Banget enak!" Ujar Aira dengan ekspresi lucunya.


"Beneran?" Tanya Rendra berbinar.


"Ya..." Ujar Aira memakan softcake tersebut dengan rakusnya.


"Pelan pelan, belepotan gini!" Ujar Rendra membersihkan ujung bibir Aira yang terkena cream, ah romantisnya. Jadi malu.


...*******************...

__ADS_1


__ADS_2