Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 21


__ADS_3

Seperti halnya Aira yang ingin Daniel mengerti bahwa inilah dia dengan segala kekurangannya.


Daniel pun sama, ia hanya ingin di mengerti atas hal yang tak di sukai, bukan tak ingin membantu. Mau, tapi tidak berinteraksi dengan mereka secara langsung.


Pada dasaranya, hubungan melibatkan dua orang yang saling mendukung satu sama lain, dengan menyesuaikan segala hal yang membuat keduanya semakin percaya bahwa "Kamulah orang yang ku cari selama ini."


Untuk Daniel dan Aira, nampaknya bukan dua orang yang di kirim Tuhan untuk saling melengkapi bahkan sampai ke tahap memahami keinginan masing masing tanpa harus mengutarakannya.


Kegiatan magang telah usai, semua mahasiswa sudah menyusun proposal dan di serahkan kepada dosen pembimbing masing masing. Kita sampai di penghujung akhir semester ganjil 5. Sedikit bisa menarik nafas lega, setidaknya semua sudah terselesaikan dengan baik di semester ini, termasuk ujian akhir.


31 Desember to 1 Januari, Rendra? Entahlah Aira lupa terakhir kapan ia bertemu dengan Rendra. Setiap kali datang di cafe, pemuda ini tak ada. Hanya Rizki yang melayaninya.


Ada rasa yang mengganjal nampaknya, ada apa? Terakhir bertemu dengan Jelita sang adik? ah gadis itu nampaknya sedang menghindar darinya.


"Hayo mikiran apa!" Ujar Annisa mengangetkan.


"Eh kakak, gakpapa kak." Ujar Aira tersenyum.


"Kakak ada kabar bagus buat kamu loh?" Ujarnya memberitahu sang adik.


"Hem? apa?"


"Papa dan Mama pulang dan kita akan ada acara barbequean disini." Ujar Annisa "Seneng gak?" Tanyanya lagi kepada sang adik.


"Oh..." Cuek Aira. Entahlah, harusnya dia senang. Namun acara tersebut seperti tak di harapkan.


"Dih gitu, harus seneng dong ini Mama dan Papa loh tumben!" Ujar Annisa penuh dengan semangat.


"Iya deh seneng! hihihi!!" Ujaranya tertawa penuh paksa.


...********************...


"Kalo kangen di samperin, jangan menghindar!" Tegur Jelita pada kakaknya yang tengah sibuk memangku laptop di tangannya dengan mata yang terus mengarah keluar.


"Apaan si dek, ganggu aja! Kakak lagi kerja nih!" Ujarnya sedikit sewot.


"Sorry bang, kayaknya aku harus ngomongin ini! Maaf-maaf aja ni ya kalau engga sopan." Ujarnya kembali.


"Ngomong tinggal ngomong, susah amat ealah...."Ujar Rendra masih cuek, paling soal perkuliahan yang ingin di bicarakan sang adik, begitu pikirnya.


"Lo bukan siapa siapanya kak Aira kan? jelas dia bebas pilih mau balikan sama mantannya atau pun deket sama cowo lain!" Ujar Jelita menjeda, menunggu reaksi sang kakak yang hanya diam, masih dalam mode tak faham rupanya.


"Gue tanya sekarang? apa hak lo gak suka kak Aira deket sama cowok lain? kan bukan lo pacaranya. Kalaupun lo suka ya perjuangin, bukannya diem merhatiin dari jauh tapi hati uring uringan. Kak Aira juga gak bakalan faham kalau lu suka dia, kalu lu nya aja ga ngomong!" Ujar Jelita, jika masih tak faham bodo amat.


"Tau apa si lo?"


"Gue emang masih kecil, tapi gue gak egois kayak lo seperti ini. Kekanak-kanakan. Dahlah... Aku pulang aja nemenin bunda" UjarJelita pamit meninggalkan sang kakak.


ah nampaknya ia mulai berfikir dan membenarkan perkataan sang adik, memang siapa dirinya. mengapa sok tak terima jika Aira dekat dengan pria lain. Bathinnya mengacak rambut frustasi.


...******************...


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


Ketukan pintu membuat keluarga Papa Baskoro yang tengah berkumpul tersenyum senang, terutama sang Papa.


"Tamunya udah dateng, buka ya bi!" Ujar Papa Baskoro memerintahkan.


"Siapa?" Ujar kedua putrinya heran, setahu keduanya Papa dan Mama tak suka mengundang siapapun di rumah saat quality time seperti ini bukan? Lalu siapa?


"Ah siapa lagi!" Bathin Aira kala melihat keluarga dari Daniel lah yang di undang sang Papa, memang Aira mengharapkan siapa.


Agak canggung di awal, maklum menyesuaiakan apalagi setelah masalah Daniel dengan Aira, dan kedua orang tua pun asih menganggap keduanya menjalain kasih.


"Lo gak nyaman ya ada keluarga gue disini? Terutama gue?" Ujar Daniel menghampiri Aira yang hanya duduk di ayunan mendengar interkasi orang tua disana.


"Eh elo kak!" Ujar Aira melirik.


"Sorry kalau kehadiran gue bikin lo ga nyaman!" Ujar Daniel kembali.


"Its okey, enggak kok." Ujarnya memaksakan tersenyum.


"Kak Annisa." Panggil Aira kepada sang kakak agar mendekat.


"Iya kenapa dek?" Tanya Annisa yang sudah berdiri di depan adiknya.


"Temenin kak Daniel sini aja dari pada sama para orang tua!" Ujar Aira dengan candaannya.


"Hehehe becanda, eh kak lupa. Aira keluar bentar ya kedepan mau beli sesuatu di indom*ret!" Pamitnya sudah berdiri ingin melangkah.


"Kakak anterin dek." Tawar Annisa.


"Gak usah kak, temenin kak Daniel aja disini. Rara cuman bentar doang, kalau papa dan mama cariin bilang aja gitu ya!" Ujar Aira sudah melesat, melangkah pergi.


...*******************...


"Bodoh!" Kata yang cocok untuk di lontarkan kepada dirinya sendiri. Ayolah ini jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan ini akhir tahun. Tak mungkin caffe milik Rendra buka bukan? Kenapa arah mobilnya kesini.


Ayolah otak tolong kerjasama dengan tuanmu, bukan disini tempat tujuan mu. Bathinnya kembali merutuki kebodohannya dengan menundukkan kepala di atas stir mobil.


Tok


Tok


Tok


"Maaf, cari siapa?" Ujarnya mengetuk pintu mobil.


"Eh maaaf maaf, Saya kira cafenya buka!" Ujar Aira langsung menurunkan kaca mobilnya dan meminta maaf. Salah sendiri memarkirkan tepat di depan cafe, seperti seorang penjahat yang ingin mrmbobol cafe di akhir tahun.


"Aira?"


"Rendra?"

__ADS_1


"Ngapain ra kesini?" Ujar Rendra menyapa untuk memecah keheningan yang ada.


"Eh itu, salah alamat. Tadi mau ke indomar*t!" Ujarnya nampak gugup.


"Turun Ra, ayo masuk!" Ujar Rendra mempersilahkan.


"Gak gak mau pulang aja kak. Kan cafenya tutup!" Ujar Aira menolak.


"Yasudah kalau begitu." Ujar Rendra berlalu.


Dih, gitu doang? Cih.... bujuk lagi kenapa si, Tawarin lagi gitu. Ya kali cuman sekali doang. Ah cemen. Gerutunya tertahan.


"Mau ikut masuk kak!" Ujar Aira sudah lari mensejajarkan langkahmya dengan Rendra.


"Nih coffenya!" Ujar Rendara memberikan secangkir coffe pada Aira.


"Oh makasih." Ujar Aira gugup tersenyum malu malu.


"Setahuku, di depan perempatan rumah mu ada outlet indomar*t bukan? kenapa bisa sampai disini yang jelas jelas tak ada outletnya sama sekali?" Ah Rendra, kenapa mesti mengulang kembali pertanyaan itu.


"Kakak sendiri ngapain hayo malem malem kesini!" Good, tidak menjawab pertanyaan dengan benar malah melemparkan pertanyaan kepada lawan.


"Mau ngambil leptop yang tertinggal Ra!" Ujarnya menunjuk leptop yang dia bawa.


"Oh...."


"Ra..."


"Kak..."


"Elu duluan!" Ujarnya berbicara kompak.


"Kenapa? elu duluan aja!" Ujar Rendra mempersilahkan.


"Ah anu... itu.... anu... aku minta maaf!" Gugupnya di awal kemudian melirih di akhir.


"Buat?"


"Mungkin gue ada salah sama lo kak, akhir akhir ini soalnya gue ngerasa lo ngindarin gue banget gitu!"


"Bukan ngindarin, kan lo juga udah punya pacar."


"Gak udah putus!" Potongnya langsung, kenapa mesti terburu buru si neng? Si abang kan eksprsinya jadi nahan ketawa gitu.


"Oh jadi udah putus?" Goda Rendra mengulang pertanyaan Aira.


"Apaan si, ya intinya gue pinta maaf!" Ujar Aira kembali dengan kalimat sewotnya.


"Lo ga perlu minta maaf ke gue, akhir akhir ini memang pekerjaan gue lagi banyak Ra. Gue juga gak enak ada di antara hubungan lo sama pacar lo. Salah gue kayaknya!" Ujar Rendra kembali.


"Gue suka sama lo kak!" Mutlak Aira.


...********************...

__ADS_1


__ADS_2