Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 25


__ADS_3

"Cemberut aja?" Ujar Rendra sedikit menoel pipi milik Aira.


"Kayaknya dalam beberapa hari kita gak bisa ketemu deh kak!" Ujarnya memangku kedua tangan dengan wajahnya yang nampak lesu, sama sekali tak ada semangat.


"Loh kenapa? Yaudah biar aku yang gantian ke rumah kamu gimana?" Tawar Rendra.


"Aku mau ke singapura, Papa ngajakin!" Ujarnya lagi.


"Wah enak dong kak, mumpung masih liburan. Jangan lupa oleh olehnya!" Ujar Jelita, ah anak ini datang dari mana, kenapa langsung menyeletuk seperti itu.


"Dek, kamu ih... Sana masuk keruangan kakak. Jangan ganggu Kak Rara!" Ujar Rendra menatap sang adik dengan galak.


"Kak Rendra yeah, gak asyik ih!" Ujarnya sedikit kesal, namun kakinya tetap melangkah masuk kedalam ruangan. menurut saja begitu kata hatinya.


Untuk cafe, masih belum buka. Rendra akan terlebih dulu datang sebelum kedua teman yang juga merupakan pegawainya datang. Memastikan semuanya stock makanan sudah siap dan tentunya akan memuaskan pelanggan.


"Kenapa? Coba cerita!" Ujar Rendra dengan lembut, kali ini ia duduk berhadapan dengan Aira.


"Cuman liburan aja si, tapi kan aku mau nya disini." Jawab Aira, kali ini nadanya seperti anak kecil saja.


"Berapa hari."


"Gak tau, paling lama ya seminggu!" Lesunya kembali.


"Yaudah, lumayan kan liburan sama Papa dan Mama. Jarang jarang mereka ada waktu buat kamu, gak usah khawatir. Kita kan masih bisa ketemu setelahnya. Dan selama kamu disana, kita masih bisa bertukar kabar melalui video call bukan?" Nasihatnya terlihat bijak, padahal rasanya sama seperti Aira yang tampak tak bersemangat jika tak ada gadis usil nan menggemaskan seperti dirinya yang mengganggu hari harinya.

__ADS_1


"Kak ih... Tapi...." Ujar Aira. Kaki Rendra berdiri, melangkah membuatkannya secangkir kopi. Semuanya tak luput dari penglihatan Aira.


Selain alam dan keindahan semesta lainnya, Mr.Rendra juga merupakan wujud sempurna yang patut di syukuri hadirnya. Gagah sekali.


"Namanya secangkir coffe cinta, khusus dari Mr. Rendra untuk Nona cantik Aira!" Ujar Rendra memberikan coffe tersebut kehadapan Aira.


Rona merah nampaknya tergambar jelas di kedua Pipi milik Aira, ah kenapa Rendra jadi manis sekali. Bibirnya kelu sehingga tak mampu menjawab walau hanya sekedar kata berterimakasih.


"Enak..." Ujar Aira kala sudah merasakan coffe tersebut, ah kenapa rasanya lebih manis sekali. Ini mungkin coffe termanis yang pernah Aira dapatkan nampaknya.


"Aira, maaf jika aku pernah tak yakin dengan mu. Aku pernah jatuh hati, namun ia mengecwakan. sekarang aku sadar bahwasannya kamu adalah gadis unik dengan segala teka teki baik. Jika orang melihatmu aneh, bagiku kau akan tetap terlihat lucu, bahkan sangat lucu. Maaf jika aku baru menyadari bahwa aku mencintaimu. Tak bisa ku janjikan apapun dengan pasti, namun kan ku pastikan setiap hari kan ku tambah rasa cinta ini untukmu. Maukah kau menjadi gadisku?" Katanya begitu manis, hingga Aira masih dalam keterkejutannya setelah untaian kata tersebut berakhir.


"Kak aku, mau." Ujarnya malu, rasanya begitu hangat kala peluk menghampiri tubuhnya. Sangat damai, jelas berbeda kala dirinya di sentuh oleh Daniel.


Mr. Chef is Mine, ujar Aira dalam hatinya. Rendra mungkin bukan yang pertama, tapi bisa Aira pastikan ia adalah yang terkahir dan satu-satunya.


Pesawat sudah lepas landas, terbang ke singapura kedua gadis ini nampak memiliki ekspresi yang bertolak belakang.


Annisa dengan bacaan sebuah buku bermode serius, sedangkan Aira nampak lesu dengan perjalanan luar negerinya kali ini.


"Akhirnya kalian datang juga! Ayooo...." Ujar Mama menyambut kedua putrinya yang baru saja tiba.


"Mama...." Pelukan hangat, masih seperti anak kecil saja, begitu kok sudah punya pacar.


"Manja sekali putri bungsu mama ini... Capek? Ayo!" Ujarnya sang Mama.

__ADS_1


Malam hari begitu cepat bergulir nampaknya, ruangan ini di sulap dengan sangat indah dan menganggumkan.


Beberapa pembisnis sudah datang dengan rapi, menyilat lidah demi mendapatkan suntikan dana dari beberapa investor atau menjaga citra baiknya, sangat memuakkan.


Global Industri, adalah nama perusahaan yang seperti Raja karena ia mengusai elemen ekonomi perdagangan yang ada. Beberapa produk makanan ringan ia keluarkan dengan harga yang terjangkau, tak lupa ada beberapa restoran mewah yang ia miliki. Sangat mempesona.


"Loh pak Baskoro? duh ketemu lagi kita?" Papa Winanta beserta keluarga, tak bisakah hanya di indonesia Aira di ganggu dengan sosok Daniel, kenapa negara singapura juga ada manusia yang sangat ingin di hindari.


"Sabar Aira...." Ujarnya mengelus dada dengan nada pelan dalam hatinya. Oboral itu berlanjut hingga acara selesai.


"Wah, perusahaan tempat Pak Baskoro bekerja ternyata bagus juga ya prospek masa depannya, saya jadi ingin berinvestasi?"


Kan baru saja membatin sudah ada candaan seperti ini, Mana Papanya tak mungkin menolak bukan.


"Tentu. Jadi kita bisa makin akrab seperti keluarga" Ujar Papa Bakoro, Siapa si yang mau menjadi keluarga, keluarkan Aira dari semua drama ini.


"Ah ya, Aira dan Daniel juga sudah berpacaran kan? bagaimana kalau setelah mereka lulus kuliah kita mengadakan pertunangan?" Candaan gila apa lagi ini yang di lontarkan Papa Baskoro, dua putri cantiknya langsung terbantuk mendengar kalimat mengerikan itu.


"Pa!" Aira langsung melolot dengan tajam, peduli apa, sorot matanya memandang dengan nyalang menatap Daniel, ingin meminta pemuda itu menjelaskan. Sial, masih tak memgerti.


"Maaf om, tante, Papa dan Mama. Nampaknya saya kurang cocok mendampingi Daniel, dikarenakan Daniel seorang calon pembisnis yang sukses. sangat bertolak belakang dengan saya yang hanya mahasiswa jurusan Bahasa. Alangkah lebih baiknya seorang Daniel mendapatkan wanita yang setara, seperti kakak saya yang sama-sama seorang pembinis. Maaf jika Aira terlalu banyak berbicara, tapi Aira dan Daniel hanya sebatas teman tak lebih, dan tak memiliki huhungan khusus apapun. Aira permisi dulu, om tante, Papa dan Mama." Kaki Aira melangkah keluar menjauh.dari sana, tangannya menepuk pundak sang kakak dengan tersenyum.


"Ah Tuan dan Nyonya Winanta saya minta.maaf atas kelakuan putri bungsu saya!" Ujar Mama Baskoro dengan membungkuk tanda penghormatan.


"Maaf Om, tante. Pa, Ma yang dikatakan Aira memang benar. Daniel menyusul Aira dulu ya!" Akhirnya manusia bernama Daniel mengeluarkan suaranya, setelah kepergian kedua orang itu suasana menjadi canggung untuk memulai sebuah obrolan.

__ADS_1


"Maaf jika saya kurang sopan, hal ini wajar di kalangan anak muda. Putus nyambung seperti itu om, masih sayang tapi gengsi." Untunglah, Annisa bisa mencairkan suasana yang ada hingga semuanya berjalan normal kembali.


...*****************...


__ADS_2