Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Sosok Annisa (S2)


__ADS_3

Perlahan namun pasti beberapa investor mau menanamkan modalnya pada perusahaan Daniel, tambahan tabungan dari Annisa rasanya cukup untuk menstabilkan perusahaan itu.


Tak


Tak


Tak


"Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis tersebut dengan lembut.


"Katakan pada Tuan Rendra, bahwa Annisa ingin menemuinya!" Ujarnya kembali.


"Baik nona!"


Ruangan ini nampak mencekam dengan 2 orang yang berbeda pandangan nampaknya, Annisa datang dengan mimik wajah tak bersahabat miliknya dan Rendra yang menyambut itu dengan senyuman.


"Apa kiranya yang membuat nona Annisa yang cantik ini datang menemui saya?" Tanyanya.


"Hentikan semua ini, Jangan ganggu apa yang sudah menjadi milikmu dan terimalah nasibmu!" Bengis nadanya tak seperti biasa.


"Aku tak mengerti maksudmu?"


Beberapa lembar dilempar dengan sinis, tampak beberpa foto yang menjijikan itu berserakan tak beraturan. "Berhenti memata-mataiku tuan Rendra yang terhormat? Apa anda semenjijikan itu hingga terus mengusik kehidupan saya yang bahagia?"


"Hahhaha? Bahagia? Apa yang kau maksud dengan pemuda yang bernama Daniel itu? Pemuda yang perusahaannya hampir bangkrut!"


"Rasanya aku tak perlu menjelaskan keburukanmu lagi bukan?"


"Annisa!!!!!!!!" Nadanya memekik sedikit menahan kesal.


"Bagus, Aku Annisa! Ku ulangi sekali lagi! Annisa! BUKAN AIRA!!!!!!"


"Kau.........."


"Jangan pernah usik Daniel atau menganggu kehidupanku, aku hanya sebatas menghormatimu karena kau laki laki yang adikku cintai! Tak lebih, jangan melangkah diluar batas kemampuan mu itu tuan Rendra!" Ujarnya dengan menohok.


"Aku bukan adikku yang berbaik hati denganmu, kita sama tuan Rendra! Siapapun yang berani mengusik orang yang kucintai, kupastikan akan ada harga yang dibayar mahal termasuk dirimu!" Kalimat itu berhenti, kakinya sudah melangkah meninggalkan ruang yang menyesakkan.


Annisa, maaafkan kakak..... tapi laki laki kesayangamu harus sadar segera bahwa yang dilakukannya selama ini salah...

__ADS_1


Dering telfon ditutup dengan kasar, teriakan tak terhindarkan beserta dokumen yang jatuh berserakan.


"INI GILA......." Ujarnya dengan segala umpatan kala mengetahui investor tersebar miliknya sengaja mencabut modal dan tak mau lagi bekerja dengannya, bebrapa proyek juga terpaksa dialihkan pada perusahaan Daniel,


Meremehkan perempuan yang pendiam ternyata menjadi bom yang begitu mematikan, mengapa Annisa tak selembut Aira?


Detik berikutnya, tangan kekar miliknya mengusap lembut figura kecil yang dirinya genggam, "Aira......." Airmatanya jatuh mengenang menumpahkan segala egois, ini sudah beberapa tahun namun nampaknya sosok AIra menjadi luka abadi dalam diri Rendra.


Kepergiannya seolah menyiksa dan membawa seluruh harta berharga bernama hati dalam dirinya.


****************************


"KEJUTAN............" Ucap Annisa yang tiba-tiba msuk dalam ruang kerja milik Daniel.


"Apakah saya menganggu waktu anda bos!" Ucapnya seperti gadis kecil lucu.


"Sayang, Kemarilah!" Ujar Daniel tersenyum, kakinya melangkah memeluk Annisa.


"Kangen!" Jujurnya menghirup harum tubuh kekasihnya, bukan tapi calon ibu dari anak-anaknya nanti.


"Aku bawakan menu kesukaanmu? Mau makan?" Tawarnya.


"Bagaimana keadaan perusahaan?" Tanya Annisa.


"Alhamdulilah, semua ini juga berkat mu sayang!" Ujar Daniel gemas, mobil baru saja melaju meninggalkan area perusahaan.


"Berhenti depan, aku ingin membeli bunga! Kita ke Aira yuk!" Ujarnya kembali.


"Tentu, aku juga ingin berterimakasih lagi padanya karena telah menjodohkan aku dengan harta berharga miliknya! Yaitu kamu......."Gemas Daniel.


Keduanya nampak terkejut dengan seseorang yang begitu lusuh tampak tertidur diatas area makam adiknya.


"Siapa?" Tanya Annisa dan Daniel juga tak tau siapa orang tersebut kiranya.


"Rendra!" Pekik Annisa kaget.


"Sayang!" Cegah Daniel kala Annisa hendak membangunkannya.


"Tak apa! Kau percaya padaku bukan? Kasihan dia."

__ADS_1


"Tapi?"


"Love you tuan Danielku!" Ujar Annisa nampak centil dengan mengedipkan sebelah mata miliknya.


"Rendra....."Tepukan dibahu lembut mmbuat tubuh lusuh itu bergerak, perlahan matanya terbuka, melihat ke belakang sosok tangan yang menepuk pundaknya.


"Aira! Sayang kau kembali!" Ujar Rendra cepat, tubuhnya spontan memeluk Annisa dengan isak tangis yang tersedu-sedu..


Genggaman tangan Daniel nampak mengeras, dan itu bisa Annisa rasanya.


"Aku bukan Aira Rendra, lihatlah diriku dengan baik!" Ucap Annisa kala tangisan itu mereda.


"Maaf!"


"Sejak kapan kau ada disini!" tanya Annisa.


"Aku......." Gugupnya.


"Pulanglah, besok temui aku dirumah ada yang ingin aku sampaikan, nampaknya kau juga sudah terlalu lama disini bukan?"


"Baiklah!" Ujar Rendra pamit meninggalkan keduanya, pandangan senantiasa ditundukkan sepanjang pergi menjauhi area pemakaman.


"Kau milikku!" Ucap Daniel spontan menarik Annisa dalam pelukannya.


"Ya!" Jawabnya menenangkan, sekilas Annisa mengecup pipi milik Daniel.


"Kenapa kau mengundangnya dirumahmu sayang?" Tanyanya dnegan aura cemburu.


"Malam ini kau tidur dirumahku, Papa sama Mama katanya ingin ngobrol sama kamu. kangen katanya."


"Tapi sayang?"


"Semua baju sudah aku siapkan, dan untuk apa aku mengundang Rendra besok?Kau akan tahu sendiri okey? Sekarang kita berdoa untuk Aira ya?"


"Tapi........."


"Promise. aku hanya mencintaimu. Just you, Okey?"


"hem baiklah.........."

__ADS_1


__ADS_2