
Kamu duluan ya... Nanti aku nyusulin. Ada sesuatu hal yang harus aku kerjain di caffe bentar. Gpp kan sayang... Pesan itu masuk menjadi notifikasi pagi ini di hari minggu, kebiasaan bahwa Rendra selalu menemaninya membuatnya terbiasa melakukan segala hal bersama Rendra.
Oke sayang... Aku tunggu.... Balasan itu di kirim dari handphone canggih miliknya, namun hingga jam menunjukkan pukul 10 pagi, Rendra masih belum membalas oesannya, bahkan belum terbaca.
Kemana? Tak biasanya Rendra seperti ini?
"Hai kak Aira? Mana kak Rendra?" Pertanyaan yang juatru ingin Aira tanyakan pada Jelita membuatnya berfikir aneh.
"Kak Rendra gak ada di sini ya?" Ujar Aira, nampak gurat kecewa di wajahnya.
"Kan biasanya kak Rendra sama kak Ara, udahbdari jam 9 Kak Rendra pamit sama aku kok!" Tutur Jelita dengan jujur.
Lantas ? Rendra kemana? Dering telfon mentuarakan "Nomor yang anda tuju sedang tidam aktif!"
"Ah yasudah kak Aira pulang dulu ya..." Ujar Aira melangkah pergi.
"Gak pengen nungguin Kak Rendra disini kak?" Tanya Jelita sedikit berteriak.
"Hehehe, gak duku ya dek. Kakak ada urusan dirumah.. Hehehe.." Tawanya begitu dusta, banyak terselip kecewa di dalamnya.
"Yaudah nanti kalau Kak Rendra udah pulang, jelita suruh kabarin kak Aira ya!" Ujarnya kembali, bocah itu memberikan ketenangan untuk berfikir yang tidak tidak perihal kakaknya pada otak pujaan hati kakaknya.
...**********************...
"Kusut amat itu muka?" Tanya Annisa yang melihat langkah lunglai sang adik.
"Rendra gak nemenin aku hari ini!" Ujarnya duduk di sebelah sang kakak dengan raut wajah kecewa.
"Tumben?"
"Gak tau, katanya mau nyusul. Tapi gak nyusul, dicari di cafe gak ada!" Lirihnya kembali, airmatanya sudah menganak.
"Udah sering gitu?" Tanya Annisa.
"Baru sekali!"
"Bhahhaaha...." Bukannya menghibur ini malah menertawakan, apakah ini kakaknya? kenapa mengejek dan membuatnya bertambah kesal saja.
"Kakak ih bikin tambah kesal aja."
"Hargai dia yang memiliki privasi dek, mungkin ada kejadian di luar kendalinya. Besok pasti dia akan menjelaskan, kalau cinta mah ini pasti akan satang kesini!" Ujar Kak Annisa menggodanya.
__ADS_1
"Kakak...."
"Berikan kepercayaan, jangan terlalu mengekangnya. Selama ini pun dia selalu ada waktu buat kamu kan?" Ujar Annisa kembali menenangkan adik kesayangannya.
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu membuat keduanya saling memandang satu sama lain.
"Buka sana, siapa tau Rendra tu!" Goda Annisa.
"Ah mana mungkin itu dia..."
"Yaudah kakak yang buka aja, kamu tunggu disni!" Ujar Kak Annisa melangkah kedepan. "Iya sebentar."
Kreat!!!!
"Cari siapa?" Tanya Annisa kala melihat sosok pemuda tampan didepannya.
"Maaf, Sayang? Saya tak mengenal anda. Cari siapa?" Tanya Annisa kembali.
"Kak siapa si? Lama amat?" Ujar Aira yang masih bermode ingin curhat dan menumpah kekesalannya tapi sang kakak tak kunjung kembali.
"Rendra?"
"Sayang kok kamu dua?" Ujar Rendra dan Aira barengan.
Suasana ruang tamu ini menjadi sangat canggung untuk ketiganya.
"Kak?" Panggil Aira dengan lirih.
"Gakpapa, kamu selesaikan masalahnya aja. Kakak kedalam ya!" Ujar Annisa pamit masuk setelah membantu menghindarkan secangkir minuman kepada Aira dan Rendra.
Setelah kepergian Annisa, "Itu kakakmu? Kamu kembar?" Tanya Rendra kembali.
"Hah.... Ya kita kembar. Maaf gak cerita sebelumnya dan kamu harus tau seperti ini!" Ujar Aira tak enak.
"Tak perlu minta maaf, aku yang harusnya minta maaf. Maaf buat tadi, aku gak bisa dateng teoat waktu. Pas sampai sana kamunya udah gak ada!" Ujarnya meminta maaf.
__ADS_1
"Nyebelin!" Ujarnya nampak lucu dengan mengerucutkan bibirnya.
"Utuk Utuk Utuk, maafin ya! Sorry my honey!" Ujat Rendra menyerahkan sekotak strawberry dan sebuah cake.
"Untukku?"
"Tentu, rasanya permohonan maaf dari Tuan Rendra untum gadis manis miliknya bernama Aira." Ujarnya tersenyum.
"Makasih...." Ujar Aira tersenyum senang, kemana perginya rasa kekesalan tadi. Dasar wanita selalu saja seperti itu.
"Aku sama Kak Annisa itu kembar tapi kita tak terlalu identik." Jelasnya sambil memakan buah strawberry.
"Aku lebih sedikit berisi di bagian pipi, sedangkan kak Annisa tidak. Aku memiliki hidung minimalis, kakak Annisa mah mancung. Apalagi pas pake kacamata, orang yang udah lama kenal kita pasti bisa bedain. tapi sama sama cantik kan." Ujar Aira kembali menjelaskan, selain itu jika bersebalahan Aira lebih pendek dan kekanak-kanakan, sedangkan Annisa lebih berwibawa dan berkelas.
"Ah.... Yaa..."
"Kak Annisa itu malu, susah untuk beradaptasi sama orang terutama cowok. Cuman sama Daniel aja dia bisa ngomong kayak temen!" Ujar Aira kembali.
"Daniel????" Tanya Rendra mengingat siapa kiranya pemuda bernama Daniel.
"Daniel itu." Jujur Aira lagi. "Dan gak usah cemburu, kan cintaku udah mentok di kamu, mana nyogoknya pake giniian. Udah cinta kamu, you are mine, Mr. Chef."
"Bisa aja gombalnya, tapi bagi aku kamu wanita paling cantik. Mana unik dan ngegemesin gini!" Ujar Rendra menimpali gombalan kekasihnya.
"Tadi kamu kemana?" Tanya Aira.
"Ah itu, temen ku ada yang sakit Ra, jadi aku harus membantunya kerumah sakit dulu! Kasihan." Ujar Rendra.
"Siapa? Rizki?" Tanya Aira kembali.
"Bukan temen sekolah dulu, udah gpp!" Ujar Rendra.
"Ah ya, tapi minggu depan ga boleh gak dateng loh ya!"
"Minggu depan? ah pasti tentu. Ke pantai kan?"
"Iya, kan bulan kemarin kita udah gak kesana, aku pengen kesana!" Ujar Aira kembali.
"Tentu sayang, aku akan nemenin kamu!" Ujar Rendra tersenyum.
...*********************...
__ADS_1