Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 35


__ADS_3

Seminggu, hari di lalui dengan kekosongan. Hatinya merindu pada sosok ceria Aira.


"Lo ga boleh egois kak! Gue tau ngelupain cinta pertama itu ga mudah. Tapi kembali pada orang yang menyakitimu, semua akan sama akhirnya."


"Tapi Aira juga tak menjamin kebahagiaan!"


"Setidaknya dia tak menyakitimu, bahkan meninggalkanmu untuk saat ini. Tapi aku tak tau selanjutnya apa yang akan terjadi setelah kau membuatnya kecewa terus menerus."


"Maksudnya dek?"


"Meski kamu adalah kakak kandungku, tapi jika aku dihadapkan pada pilihan maka yang akan ku pilih mundur karena bersaing atas apa yang sudah kumiliki? buat apa? Kakak yakin, kalau kak Aira gak ngejamin kebahagiaan buat kakak?"


"Gue butuh waktu dek!"


"Waktu mu sudah cukup kak, sadari sebelum apa yang menjadi sumber bahagia mu menghilang!"


Percakapan setalah makian keras yang di lontarkan sang adik kepada kakaknya. Pesan baik yang melihat kedua sisi, jika memang kakaknya salah dia tak membenarkan. begitu sebaliknya.


"Gue kangen lo Ra!" Lirihnya.


Hari minggu, pasti dia ada dipantai. Lirihnya dalam hati.


"Gue gak tau masih pantes apa engga buat lo! Honey, iam so sorry!" Ujar Rendra duduk tanpa permisi di samping Aira.


Benar saja, gadis ini ada di bibir pantai. Matanya memandang damai lautan lepas yang ada diujung sana. Begitu tenang, seolah meminta lautan untuk membawa segala masalah yang ada dalam fikirannya.


"Ini baru seminggu, kau akan menyesal jika ada disini dan meminta maaf terlalu dini, Ndra!" Jawabnya masih memandang kedepan, tubuhnya sudah berdiri untuk melangkah pergi.


"Aku.... "


"Benar apa yang orang bilang, hubungan itu dua orang yang saling memahami dan aku kurang memahami mu. Tapi laki laki baik tak akan membuat gadisnya menangis untuk memahami segala tentangnya!"


"Ra aku....."


"Aku sayang sama kamu Ndra, lebih dari yang kamu kira tapi kalau sama aku buat kamu ga bahagia. Gpp!!!! Kita lebih baik berjalan pada jalan masing masing saja dan menjadi asing seperti sedia kala!"


"Gue gak mau Ra!!! Gue gak mau!!!! Gue sayang lo!!!" Ujar Rendra, kali ini tubuhnya memeluk Aira dari belakang. Membenamkan wajahnya di ceruk bahu milik Aira dengan tangis yang begitu pilu.


"Rendra kan kuat, gak boleh seperti ini ya." Ujarnya berusaha tegar. Apa ini pilihan yang baik untuk keduanya?


Melepaskan Rendra?


"Ra..... Gue mau ngelupain dia, ngebuang dia dari hati gue dan ga peduli lagi sama dia. Asal lo tetep stay ke gue Ra, gue sepi gak ada lo... hari hari gue rasanya... Hiks.... Hiks....."Tangisnya kembali mengudara tanpa bisa melanjutkan untaian kata miliknya.


"Lepasin dulu!" Ujar Aira begitu pelan.


"Engga! Gue gak mau sebelum lo tetep mau jadi pacar gue!!!! Hikss...... Hikssss....." Kekehnya.

__ADS_1


"Rendra, lepasin!!!" Ujarnya lagi, akhirnya pelukan itu terlepas dengan wajah tertunduk.


"Lihat aku!"


"Aku jelek,"


"Lihat aku." Ujar Aira menangkup wajah Rendra dengan kedua tangan miliknya mengangkat dan membuat sang empu memandangnya.


"Janji gak peduli lagi sama dia dan ngelupain dia!"


"Gue janji Ra, janji!" Ujar Rendra bersungguh sungguh.


"Yaudah sini peluk!" Ujarnya tersenyum merentangkan kedua tangan, agar Rendra masuk kedalam pelukannya.


"Sayang...." Ujar Rendra tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu.


...Semua manusia berhak memiliki kesempatan kedua, dan kamu berhak untuk mendapatkannya tuan Rendra. Kamu adalah anugerah yang memang harus aku perjuangkan. Aku mencintaimu, sangat. Ku mohon ini yang terakhir kalinya kau mengecewakanku!...


...~ Aira Mutiara ~...


...Terimakasih atas kesempatan dan maaf yang kesekian kalinya. Aku seperti laki laki buruk dan tak berguna. Terimakasih telah memahamiku, ku harap kau tak pernah meninggalakan laki laki tak sempurna sepertiku! Jangan mengulangi perbuatan dan membuatku trauma kembali Ra!!! Promise, gue gak akan ninggalin lo ...


...~ Rendra Afrizal ~...


...******************...


"Sayang... Hei....." Ujar Aira menepuk pelan pipi Rendra.


"Hah...." Bangunnya yang langsung membuka matanya, nafasnya masih terputus putus.


"Sayang, minum dulu ya..."Ujar Aira memberikan segelas air.


Pemuda ini benar benar menepati omongannya, beberapa kali Felicia menghubungi namun pada akhirnya ia memblokir kontak itu bahkan berusaha sekuat tenaga menghindarinya.


Mata Rendra baru saja tertutup untuk beberapa jam di pangkuan Aira. tapi tiba tiba mengingau dengan suara tak jelas dengan keringat dingin membasahi.


"Kenapa hem?" Ujar Aira bertanya saat minuman itu telah di tengguk habis.


"Aku mimpi kamu ninggalin aku!" jujurnya.


"Mimpi hanya bunga tidur sayang! Mau makan? aku bawain bubur buat kamu. Kata Bunda kamu sakit ya?" Ujar Aira bertanya.


"Cuman kecapekan aja!" Ujar Rendra.


"Mau makan? Aku panasin dulu buburnya!" Ujar Aira.


"Gak mau, mau seperti ini!" Ujarnya kembali tertidur di pangkuan Aira, namun dengan usapan tangan gadisnya.

__ADS_1


"Gimana enakan?" Gadis ini bertanya, kala ia memberikan pijatan kecil di tengah usapan rambut milik sang kekasih.


"Sangat!" Ujar Rendra.


"Sayang, mau nikah sama aku?" Pertanyaan Rendra itu tiba tiba mengudara begitu saja.


"Sayang, kamu masih ngigau ya?" Jawab Aira terheran.


"Aku serius ih!" Jawabnya lagi.


"Ngajak nikah kok kayak ngajakin beli bakso gitu!" Goda Aira.


"Ra, mau kenal sama Papa dan Mama kamu, mau izin!" Ujarnya lucu.


"Gemesin banget ih pacar aku!" Ujar Aira menoel hidung mancung milik Rendra.


"Sayang ih aku serius!!!" Ujar Rendra cemberut, wajahnya di buang tak ingin menghadap kekasihnya.


"Hah.... Kenapa tiba tiba pengen kenal Papa hem?" Tanya Aira dengan lembut.


"Kan kamu udah kenal keluarga aku, dan aku juga pengen kenal keluarga kamu?" Ujarnya mengutarakan pendapat.


"Kalau seandainya Papa dan Mamaku gak setuju sama kamu gimana? Kamu akan nyerah gitu aja?" Tanya Aira, hatinya bertalu. Jelas ia sangat was was karena ia tau betul bahwa kedua orang tuanya tak akan menyetujui itu. Setidaknya sebelum Rendra bertemu dengan kedua orang tuanya, ia harus membuat orangtuanya merestui dulu hubungan mereka.


"Enak aja!!!! Pokoknya mau perjuangin kamu. Gimana caranya, apapaun itu!"


"Yakin? janji? apapun masalahnya kita lewatin sama sama?"


"Iya Ra, aku janji. Apapun itu, asal dengan mu aku mau." Ujar Rendra nampak serius.


"Yaudah bulan depan dateng ke wisuda aku ya. Nanti aku kenalin ke Papa Mama! Kalau dalam waktu dekat ga bisa sayang, Mama dan Papa masih ada di luar kota masalah pekerjaan!" jujurnya.


"Serius?" Tanya Rendra dengan mata berbinar.


"Tentu sayang!" Ujar Aira gemas dengan kedua pipi milik Rendra.


"Kamu gak malu punya pacar kayak aku yang hanya tukang cafe!" Ujar Rendra, sepersekian detik laki laki ini insecure jika bersanding dengan Aira.


"Ah iya ya!!!" Ujar Aira tampak berfikir keras.


"Sayangggggg....."Panggilnya dengan penuh penekanan.


"Hahahaha.... Buat apa malu? Kamu ganteng gini kok. Dan yang lebih penting, kita sama sama saling mencintai bukan? Tapi harus makan dulu ya..."


"Suapin?"


"Duh anak bayi... Tentu!!! Tunggu ya, aku siapain buburnya dulu!"

__ADS_1


...************************...


__ADS_2