
"Selamat sayang! Kamu terbaik!" Kak Annisa datang kala sang adik sudah keluar dari ruang sidang, senyum tawa tangis bahagia semau beradu satu.
Selamat atas gelar dan pencapaiannya Aira Mutiara.
"Selamat kakak Aira!" Ujar Jelita, Daniel masih ada disana untuk menjadi orang terakhir setelah semuanya.
Rendra? Entalah pemuda ini tak ada kabar sekalipun dan hubungannya dengan Aira merenggang. Semua baik baik saja tapi Rendra terkesan acuh bahkan menyepelekan.
"Rendra?" Seolah mengerti maksud yang di lontarkan oleh Aira, Jelita dengan baiknya menjawab.
"Kakak masih sibuk Kak Aira, tadi Kak Rendra ada pesan untuk Kak Aira supaya datang ke rumah nanti malam, katanya akan ada kejutan spesial kata Kak Rendra!"
"Ah begitu?" Ujar Aira nampak sekali raut wajah kecewanya.
"Iya kak!" Jawab Jelita dengan senyum menyakinkan.
"Udah dong, gak usah kayak gitu jelek tau! Sekarang kita foto dulu ya!" Ujar Annisa menghibur.
Tring!!!!!
"Selamat atas gelar sarjana mu Aira, aku mendoakan yang terbaik untukmu. Bahagia selalu. Jika kau tanya bagaimana hatiku? aku mencintaimu. Nyatanya kau gadis yang terbaik untukku!" Notifikasi pesan itu baru saja di terima saat Aira dan Annisa sudah sampai di rumah.
Gaun cantik di belikan oleh Jelita untuk Aira supaya ia memakainya malam ini, spesial. Khusus.
"Siapa dek?" Tanya Annisa, kala melihat raut wajah sang adik yang nampak berubah.
"Ah ini Jelita katanya ia yang akan menjemputku nanti Kak, Jam 7 aku harus sudah siap!" Ujarnya berbohong.
"Oh...." Jawab Annisa singkat, tak mungkin kak Iara jujur memberitahu pesan tersebut. Kakaknya pasti akan sedih jika mengetahuinya.
Mengetahui bahwa pria yang ia idamkan masih mencintai adik kesayangannya.
...*************************...
Cantik, gaun selutut dengan hells warna senada tak lupa tas putih yang ia bawa. Riasan wajah natural. Perfect. Aira malam ini sangat cantik bak seorang bidadari saja.
"Kak Aira cantik sekali!" Ujar Jelita.
"Ah makasih!" Ujar Aira tersipu malu.
Kala roda mobil sudah berputar kerumah miliknya, jantungnya kian bertalu. Berbagai puluhan pesan tentang penjelasan di kirimkan namun tak satupun yang dibaca oleh kakaknya.
Iya! Kalimat mengajak Aira untuk makan malam hanya kebohongan yang Jelita perbuat agar kakaknya dan Aira tak terlibat masalah apapun, tapi ini justru akan membuat masalah baru nampaknya.
"Hallo dek kenapa?" akhirnya setelah mobil itu sampai didepan rumahnya, Rendra menjawab belasan pesan dari sang adik dengan telfon di ujung sana.
"Buruan kerumah, pulang. Ada kak Aira!!!!" Ujarnya lagi.
"Ha? Apa?" Nadanya terputus.
"Kakak lupa ya kak Aira hari ini sidang dan dinyatakan lulus!!! kak Rendra kenapa gak dateng Ha!!!!" Ujarnya lagi.
"Oke kakak kerumah sekarang!" Ujar Rendra menutup telfon.
"Ayo masuk kak!" Ajak Jelita masuk kedalam, berbagai menu sudah tersedia di meja makan tersebut sangat menggungah selera.
Tak
Tak
Tak
Tak selang beberapa lama Rendra datang dengan tergesa, membawa bunga dan boneka cantik untuk Aira. Semua itu Jelita yang mempersiapkan segalanya, Kakaknya hanya perlu mengambil di mobil miliknya tadi.
__ADS_1
"Kangen!" Ujar Aira langsung memeluk Rendra.
"Selamat, dan maaf aku tak datang tadi!!! aku menyiapkan semuanya untukmu!" Mohonya dengan mengiba atas ketidakhadirannya tadi.
"Sekarang lebih dari cukup!" Ujar Aira, keduanya masih berpelukan dengan mesra.
Hah.... Helaan nafas lega, Biarlah kak Aira bahagia untuk saat ini. Setelah ini, ia akan membuat Rendra sadar atas kesalahannya. Simpan energi dulu sebelum menceramahi kakaknya begitu hiburnya.
"Hai, Maaf aku ganggu ya!" Keempat orang tersebut begitu terkaget kala melihat sosok gadis cantik yang muncul tiba tiba diujung sana.
"Felicia?" Rendra dan Jelita kompak memanggil nama itu, membuat Aira yang telah melepas pelukan dan berada di samping Rendra menatap heran keduanya. Siapa Felicia? begitu pikirnya.
"Mau apa kau kemari?" Bunda sudah melayangkan nada sinisnya.
"Maaf Bunda, saya hanya ingin mengembalikan handphone milik Rendra yang tertinggal di cafe tadi!"
"Apa maksudmu!" Bunda bertanya, seolah meminta kejelasan bagaimana bisa.
"Ah tadi kita tak sengaja bertemu lalu mengobrol di cafe dan lupa waktu. Setelah itu Rendra terburu buru untuk pulang hingga melupakan handphone miliknya. Jadi saya mengantarkannya kemari. Jelasnya tanpa di tutup-tutupi.
"Makasih! Kau boleh pergi!" Ujar Rendra langsung mengambil paksa handphone itu.
"Siapa?" Tanya Aira pada Rendra.
"Saya Mantan kekasihnya, cinta pertamanya!" Jawab Felicia tak tau malu.
"Teman!" Jawab Rendra, keduanya menjawab secara bersama sama an.
"Oh.... Bunda Jelita, maaf Aira baru ingat kalau Aira ada urusan. Maaf Aira harus pulang!" Pamitnya tanpa mau mendengar jawaban.
"Ra... Aku bisa jelasin!" Panggilnya tanpa lari mengejar Aira yang sudah keluar dari rumahnya.
"Apa si kak! kenapa cuman teriak aja. Gak guna, kejar Kak Aira!" Gemas Jelita.
Kala kakinya sudah melangkah, cekalan tangan membuat Rendra kembali terhenti. "Maaf jika..." Ucapan Felicia terpotong!!
"Gue tau semua ini akal-akalan lo!" Sinis Jelita kala sosok Rendra sudah pergi.
"Jelita...."
"Shut!!! Jijik gue ngedengernya. Lo sekarang pergi dan jangan pernah injakkan kaki lo kerumah ini lagi! Jika lo ngelanggar itu, gue gak segan segan membunuh lo! Bodoamat soal gue bakal si penjara!!! pergi ga lo!!!!" Ucap Jelita begitu tertohok.
Kakinya melangkah keluar dengan kesal, akan menjadi hambatan terbesar baginya karena Jelita secara terang terangan menentang dirinya.
"Bunda kekamar yuk! Gak usah difikirin tadi!" Ujar Jelita dengan sopan.
Jelita? Gadis ini hanya ingin berjalan baik sepeti sedia kala bahwa Keluarganya sudah bahagia tanpa seorang Papa dan bahkan tak ada gangguan dari wanita ular yang telah merenggut kebahgiaan Bunda dan kakaknya.
Kembali pada sosok Rendra yang begitu bodoh,
"Tunggu Ra tunggu!!!" Ujar Rendra, akhirnya ia bisa memberhentikan Aira yang berlinangan Air mata.
"Dengerin penjelasan gue Ra!!! gue bisa jelasin semuanya!" Ujar Rendra dengan nafas yang tersenggal senggal.
"Hiks.... Hiks... Lo jahat!" Kata itu menunjukkan kekecewaan terdalam dalam diri Aira pada sosok kekasihnya.
"Dengerin Ra!!! gue tau, gue salah Ra!!!!" Ujar Rendra kali ini permohonan maaf di paksa dalam hangat pelukan mesti Aira terus memberontak tak mau diam.
"Ra pleaseee!!! Jangan kayak gini, dengerin gue Ra!!!" Ujarnya kembali.
"Gue salah Ra, gue salah. Jangan kayak gini. gue bakal cerita semuanya sama lo!!! Please lo tenang dulu Ra!!! Tenang!!!" Ujarnya untuk kesekian kalinya.
"Minum dulu!" Ujar Rendar memberikan sebotol air mineral, keadaan Aira sudah tenang bahkan keduanya sudah duduk dibangku taman.
__ADS_1
"Namanya Feicia, cinta pertama gue Ra semenjak sma sampai gue lulus kuliah dan akhirnya dia menikah sama bokap gue." Awalan cerita ia jabarkan.
"Gue trauma Ra!!! gue benci diri gue, kenapa gadis yang gue sayang harus nyakitin gue kayak gini. Jijik gue Ra!!!! Setelah itu, gue gak pernah percaya sama wanita manapun kecuali Bunda dan Jelita. semuanya gak mudah untuk gue lewati dan termasuk pada hari ini cerita ke elo. Gue hanya bisa cerita sampai situ doang ke elo Ra. Masalahnya terlalu rumit buat gue jelasin Ra!!!"
"Udah berapa kali ketemu dia!!" Ujar Aira.
"Gue.... 4 kali!" Tunduknya dengan kejujuran.
"Termasuk yang tadi?"
"Sorry Ra!!! Sorry." Ujar Rendra tak enak hati.
"Kebohongan apalagi yang lo sembunyiin ke gue?" Kali ini nadanya sudah tak bersahabat.
"Gue...."
"Tak ada kebohongan berasaskan kebaikan Ndra!! Itu hanya pelarian manusia dari sebuah kejujuran!" Ujar Aira.
"Gue...." Mau tak mau semua harus di cerirakan bagaimana 4 kali pertemuan itu bisa terjadi.
"Perhatian banget ya kamu sama dia?" Tawanya begitu cambah, hatinya sungguh tercabij cabik atas sikap Rendra.
Benar ternyata, laki laki yang membuatmu seolah seperti ratu di awal perkenalan dan menjalin hubungan. Dia adalah laki laki yang tak tau diri yang akan memberikan luka pada hatimu hingga bagian terdalam.
"Sayang aku...." Panggilnya di ubah agar ia bisa mendapatkan permintaan maaf dari kekasihnya.
"Aku ngerasa kayaknya kita bakal selesai sampai disini!" Putusnya dengan kecewa dan di liputi kekalutan hati yang tak karuan.
"Ra!!! No Ra, gue gak bisa. gue cinta ke elo, gue gak mu lo pergi dari gue Ra!!!!" Mohonya mengambil kedua tangan Aira dengan lembut untuk di genggam.
"Tapi lo sayang sama dia kan?" Tanyanya.
"Gue... Maaf!!!! Gak mudah untuk itu Ra, Banyak kenangan yang udah gue lewatin sama dia Ra, Aku harap kamu ngerti. Aku butuh waktu Ra!!!"
"Jadi disini gue yang harus ngertiin keadaan lo! Ngerti bahwa lo masih cinta sama perempuan yang sekarang jadi nyokap lo?"
"Dia udah cerai Ra sama bokap gue, dan dia gak salah soal ini!"
"Hah... Masih ngebela dia ya? Sebegitu beratinya dia buat lo?" Tany Aira.
"Sayang........"
"Gue gak tau harus ngomong apa ke elo!!! tapi ini nyakitin Ndra!!! Lebih baik kita!!!"
"Gue gak mau, lo bakal tetep jadi pacar gue!!! gak Ra gak...."
"Hah.... Kita sendiri dulu ya!!! Gue mau pulang, Tadi gue udah wa kak Annisa buat kesini. Nah itu dia!" Tunjuk Aira saat mobil sang kakak udah dateng.
"Ra...."
"Mungkin gue yang egois disini Ndra, gue maksa lo buat segera nerima kehadiran gue. Lo cukuo dewa untuk memahami semua ini. Gue kasih waktu buat lo sendiri."
"Ra...."
"Kita belum putus. Tapi sebaiknya perbaiki dulu dan renungkan kekurangan masing masing. Gue sayang sama lo!!! udah malem, aku pulang. Love you!" Kata Cinta itu masih ada untuk Rebdra, meski haginya begitu kecewa.
*Jangan salahkan Rendra, tapi melupakan kenangan itu tak mudah butuh bertahun tahun untuk lupa. 2 tahun? Sebagian mungkin iya. Tapi kenangan baik itu masih terlintas kala sosoknya ada di hadapan kita. Rendra trauma dan dia butuh waktu lebih lama.
Untuk Aira, gadis ini mungkin menyumbang sedikit kesalahan. Sedikit. Rasanya terlalu terburu buru mengungkapkan cinta. tapi rasa sakit mencintai sosok laki laki yang belum selesai dengan masa lalunya begitu hebat.
Daniel? Jangan seperti Rendra ya... Lepaskan hal yang memang bukan di takdirkan untukmu.
Cobalah sedikit peka dan membuka hati, niscaya kau akan memenukan bunga terindah yang tak pernah bisa kau bayangkan syukurnya*.
__ADS_1
...**********************...
Maaf kalau ada yang typo hehehehhe,, Btw ini bab terpanjang hingga 1555 kata.. Happy Readingā¤