
"Hai, selamat siang? Apakah aku menganggumu?" Gadis cantik itu datang dengan beberapa makanan yang dirinya bawa, khusus untuk sang pujaan hatinya.
"Kemarilah sayang!" Ujar Daniel bangkit, keduanya pun duduk disofa yang ada diruangan tersebut.
"Aku merindukanmu!" Ujarnya melirih memeluk tubuh sang kekasih dari belakang yang tengah menghidangkan beberapa menu makanan disana. Sungguh ini cukup melelahkan dan sangat berat.
"Makanlah dulu sayang, okey!" Ujarnya tersenyum.
"Kau memasaknya?" Tanya Daniel melepas pelukan dan menatap wajah cantik milik Annisa.
"Hehehe... Tapi aku tak yakin ini enak atau tidak." Jujurnya.
"Aku pastikan ini enak karena dibuat dengan cinta dari tangan bidadari cantikku!" Ujarnya mengombal dengan mengecup singkat pipi sang kekasih dan ia pun melahap habis semua masakan tersebut.
"Ini Enak sekali sayang!" Ujar Daniel kembali dengan mulut yang masih mengunyah.
"Gak baik bicara saat makan sayang, telanlah makanan mu dulu." Titahnya mengusap pelan punggung sang kekasih.
"Hehehe.........." Kekehnya.
"Apakah ada masalah?" Tanya Annisa, setelah makan pemuda ini memilih untuk merebahkan kepalanya dipangkuan Annisa, semuanya nampak memusingkan sekarang. Beberapa lembar dokumen tertumpuk dan agak berserakan diatas meja sang kekasih.
"Penjualan tak sesuai dengan target!" Ujarnya melirih sendu, namun matanya masih setia terpejam.
"Tidurlah, aku akan menemanimu disini! Okey!"Ujar Annisa, tanganya senantiasa membelai rambut milik Daniel.
"Hem...." Ujarnya mencari titik nyaman.
30 Menit berlalu, pemuda itu nampaknya sudah tertidur dengan tenang. Kaki gadis ini perlahan bergerak selembut mungkin meninggalkan kekasihnya tuk berdiri. "Tidurlah!"Ujarnya mengecup singkat kening kekasihnya.
Duduk seperti bos di kursi, tangan lentiknya perlahan memeriksa beberapa lembar dokumen membolak balik. Tak terasa sudah 20 menit ia memeriksa. Terdapat beberapa perubahan yang dirinya inginkan agar sesuai dengan target penjulaan dan bisa menyelesaikan masalah yang terjadi.
"Huft selesai!" Ujar Annisa.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Maaf tuan Daniel........" Laju katanya terhenti kala Annisa memberikan isyarat untuk jangan berbicara.
"Maaf bu!" Ujarnya dengan sopan.
"Katakan! Ada apa?" Tanya Annisa.
"Ini ada beberapa dokumen yang harus ditanda tangani oleh tuan Daniel dan biodata beberapa investor yang ingin bekerjasama!" Sopannya.
"Baiklah, kau taruh disini. Nah bawa ini dan perintahkan beberapa departemen untuk mengubah rencanaya dan hasilnya serahkan pada pak Daniel besok!" Ujar Annisa.
"Baik bu!" Sopannya pamit undur diri, Daniel pemuda ini tetaplah memiliki sisi manjanya. Kehidupannya sudah mewah sedari kecil, agaknya ia sedikit kewalahan menyesuaikan semua tanggung jawab, Dan Annisa akan selalu ada memmberikan beberapa masukkannya.
Sejatinya cinta merupakan hubungan dua orang yang saling melengkapi, dan Daniel adalah cinta yang ia impian dan wajib ia fahami. Sosok yang selalu ia syukuri hadiranya.
"Senyumnya penuh kebanggaan." Beberapa dokumen ditumpuk dan disusun dengan rapi.
"Sayang....." Ujarnya melembut membangunkan sang kekasih, ini sudah 3 jam lamanya dirinya tertidur.
"Eughhh!" Usahanya untuk bangun, mengumpulkan semua nyawanya.
"Bangun, ini sudah sore!" Ujar Annisa masih tampak tersenyum.
"Astaga! Sudah berapa lama aku tertidur? Maaf-maaf!" Ujar Daniel tak enak hatinya.
"Tak apa, Ayo pulang dan istirahat dirumah!"
"Tapi pekerjaanku....."
__ADS_1
"Semuanya sudah aku kerjakan, soal target penjualan sudah aku serahkan pada asistenmu. Besok hasilnya ada ditanganmu dan itu sudah aku pisahkan dan koreksi semua!" Ujar Annisa, gadis ini menuturkan dengan jelas.
"Aku mencintaimu......"
********************************
"Ayo....."Gadis ini tersenyum, sangat cantik. Namun sedetik kemudian pandangannya menjadi ambigu "Rendra?"Ujarnya dengan gugup, tangan yang tadi menggenggam seketika terlepas "Maaf!" Malam ini seperti kebanyakan seorang pasangan, keduanya ingin menghabiskan waktu berdua hanya sekedar bejalan jalan. Menikmati suasana malam.
"Sangat cantik!" Lirih Rendra.
"Apa? kau berbicara apa tadi?" Tanya gadis ini.
Tanganya terkulur tanpa sopan, seketika tubuhnya dengan paksa memeluk Annisa "Aira aku rindu!" Ujarnya begitu tulus.
"Lepas Rendra!" Usahanya memukul punggung milik Rendra hingga pemuda ini akan melepaskannya, namun sial! Pelukan ini semakin erat saja.
BUGH!!!!!!
Tubuhnya ditarik, dengan satu pukulan yang tepat mengenai wajahnya "Brengs*k! Maksud lo apaan meluk calon istri gue!" Sinis Daniel dengan begitu nyalang.
"Daniel!" Panggil Annisa yang masih syok.
"Kau tak apa?" Ujarnya memeluk sang kekasih, memberikannya sebuah rasa ketenangan dan rasa aman.
"Aku mencintainya dan kupastikan dia menjadi milikku!" Celetuk Rendra dengan mengusap kasar sudut bibirnya yang terluka.
"Apa kau bilang? Tak punya harga dirikah sampai kau ingin merebut tunanganku! HAH!!!!!!" Ujar Daniel berapi-api. Demi apapun Daniel saat ini ingin memukuli Rendra, andai kondisi Annisa bisa ia lepaskan.
"Hah? Kau? Tak akan mampu membahagiakannya tuan muda. Lihatlah dan perjuangkan saja perusahaan mu yang sedang diambang bangkrut!" Sinisnya meremehkan.
"KAU!!!!!!!!!!"
"Ku pastikan Annisa akan menyandang gelar NYONYA RENDRA tuan Daniel, dan Annisa aku permisi!" Ujar Rendra masih dengan ketidaksopanannya.
__ADS_1
Demi apapun, aku akan membunuh dia jika itu tak berdosa dan berujung penjara. Hati kecil Daniel memberontak.