Mr. CHEF Is Mine

Mr. CHEF Is Mine
Bab 24


__ADS_3

Laju mobil milik Annisa terhenti, untungnya tepat waktu. Keduanya melangkah masuk kedalam dan segera membersihkan diri serta mengganti pakaiannya.


"Thanks ya kak!" Ujar Aira, ah kakaknya memang selalu mendukung apapun yang di lakukan adiknya, asalkan bahagia. Ia sudah dewasa dan bisa membedakan mana yang baik dan buruk untuknya.


"Hah, oke dek! Tu kayaknya mobil Mama sama Papa deh!" Ujar Annisa


"Hem, tumben mereka pulang jam segini!" Ujar Aira, kala jam pergelangan tangannya menunjukkan jam 9, Ada rait wajah tak rela nampaknya, sangat jelas. Untuk di kota besar dengan suasana yang cenderung bebas. Ah jam segitu adalah jam anak muda menghabiskan waktunya dengan orang terkasih, terlebih ini malam minggu.


"Kamu mah Mama Papa pulang cepet bukannya seneng malah ngomel." Sunggut sang kakak.


"Beda mah kalau dulu kak, sekarang kalau mereka mau gak pulang ya gakpapa. Aira justru seneng karena..." Fikirannya berkela liar, ah baru saja berpisah sudah rindu nampaknya.


"Rendra mulu kamu nihh..." Ujar Annisa sedikit menoyor kepala sang adik yang pastinya membayangkan hal yang tidak-tidak.


"Hehehehe, lagian kakak juga kenapa si gak mau aku kenalin sama dia!" Ujar Aira bertanya.


"Kakak takutnya ntar Rendra malah jatuh cinta ke kakak, bukan ke adik kakak yang cantik ini!" Ujarnya mencubit gemas pipi adiknya.


"Kakak ih...."


"Kalian berdua besok harus siap-siap. Papa dan Mama mau mengajak kalian untuk ke singapura." Ujar Papa Baskoro kepada dua putrinya, kali ini mereka berkumpul di ruangan keluarga.


"Pa, kenapa kok dadakan seperti ini?" Ujar Aira memprotes.


"Memangnya kenapa? toh biasanya kamu paling suka kalau kita ke luar negeri? Kamu masuk kuliah juga masih minggu depan, bisa liburan kan? jalan-jalan." Tanya Papa Baskoro, nampaknya ada yang aneh dengan putri bungsunya.


"Pah Aira kan....." Gagapnya.


"Di kampus untuk mahasiswa semester 7 6 ada pengarahan tentang pembagian dosen pembimbing dan langkah langkah pembuatan skripsi agar cepat selesai Pah!" Annisa langsung berujar kala melihat gelagat sang adik yang nampaknya kesulitan menjawab.

__ADS_1


"Kan kalian baru minggu depan ya berangkatnya?" Tanya Papa Baskoro, pasalnya sesibuk apapun ia dengan dunia bisnis, sesekali Papa Baskoro memantau kedua putra putrinya terkait informasi akademik yang bisa di caro melalui website resmi universitas.


"Ya Pa, tapi untuk hari senin dan selasa besok itu adalah hari pembekalannya, Annisa gak tau Pa dapet hari apa begitu dengan Aira." Ujar Annisa, ah anak ini sangat pandai sekali mencari alasan yang logis dan masuk akal.


"Pa, kita sendiri aja!" Bisik sang Mama tapi masih bisa di dengarkan.


"Gak bisa Ma, mereka harus ikut dan mempelajari ilmu yang didapat. Terutama Annisa." Ujar Papa Baskoro kembali bersuara.


"Memang ada kegiatan apa Pa!" Ujar Annisa sedikit bertanya.


"Kamu dan adikmu harus mengikuti seminar dan kunjungan bersama para pembisnis, dan di perusahaan Papa juga akan melebarkan anak cabangnya di singapura nanti!" Ujar Papa Baskoro memberitahu maksud dan tujuan nya.


"Yasudah Aira gak usah ikut, kan Aira bukan anak bisnis!" Ujar Aira kembali bersuara setelah kebungkaman melanda.


"Tidak bisa, kamu harus ikut! Kamu bisa sedikit mempelajari tentang bisnis dan seluk beluk kantor Papa, dengan begitu saat kalian berdua lulus bisa bekerja disana tanpa susah kesana kamari mencari pekerjaan." Putus Papa Baskoro final. Sepintar apapun, memang orang dalam lebih ampuh untuk mencapai sebuah tujuan apalagi masalah pekerjaan.


"Papa jadi curiga, gak biasanya kamu menolak seperti ini. Toh Papa juga tau ini tak ada kaitannya dengan jurusan kamu. Tapi biasanya kamu akan memanfaatkan momen seperti ini untuk berbelanja dan menguras saldi ATM Papa." Ujar Papa Baksoro menyelidik heran.


"Aira pasti ikut Pa, seperti tadi yang sudah Annisa jelaskan. Mungkin Aira masih bingung akan hadir hari apa, dan ingin mempersiapkan segalanya." Ujar Annisa kembali.


"Nah itu loh Pah yang Aira maksud, udah di jelasin kakak masih aja gak ngerti." Ujar Aira cemberut, kali ini dirinya merapat ke arah sang Mama sepeti anak koala saja.


"Yasudah Papa gak mau tau, kalian harus hadir dan acaranya selasa malam." Putus Papa Baskoro. Ah ayah satu ini selalu berlaku seenaknya.


"Kak gimana nih?" ujar Aira, keduanya telah duduk di ranjang milik Annisa, hanya ada dua krang kakak beradik itu saja.


"Ya mau gimana? Turuti saja Papa."


"Tapi kan kak..."

__ADS_1


"Kakak sudah mengulur waktu 2-3 hari ke kamu, setidaknya kamu bisa berpamitan dengan Rendra-Rendra itu. Jangan membantah Papa dan ikuti kemauannya, kamu kelihatan sekali kalau menyembunyikan sesuatu dari Papa tadi." Ujar Annisa kembali menasehati dirinya.


"Kakak ih...."


"Tidur dek, tidur!" Ujar Annisa, ayolah dirinya cukup lelah sengan semua hal yang terjadi hari ini.


Salam perpisahan menghiasi pagi ini, pesawat keduanya akan terbang di hari selasa pada pagi hari, itu keputusan mutlak.


"Papa dan Mama duluan ya, kalian berdua harus nyusul dan hati hati!" Perkataan sang Mama selaly menengkan keduanya, wanita baik.


"Belajar yang rajin, harus lulus dengan nilai terbaik! Jangan kecewakan Papa yang sudah bersusah payah membiayai kalian sekolah!" Ujarnya Papa Baskoro.


"Pah ih..." Mama menyenggol merasa ini sedikit keterlaluan.


"Mereka harus bisa dan tau arti balas budi Ma!" Ujar Papa Baskoro masih tak mau kalah.


"Iya Pa!" Jawab Annisa tersenyum terpaksa.


"Bye Pa...." Lambaian tangan itu selaras dengan mobil yang mulai keluar, berhenti ketika mobil tersebut saat tak terlihat lagi.


"Tuh, Papa dan Mama udah pulang! Kamu hanya punya waktu pagi sampai sore! Jangan pulang malem, kita harus berkemas malam ini. Tiket yang di pesan Papa ada di pagi hari."


"Kak ah...."


"Kali ini jangan membantah kakak dulu Aira, kita hanya beberapa hari disana Okey! Tidak seterusnya. Kamu masih bisa bertemu dengan Rendra." Ujarnya menepuk pelan pundak sang adik, memberikannya semangat.


...******************...


...**********************...

__ADS_1


__ADS_2