
Karina -
Masa lalu adalah sesuatu yang tak akan bisa kita hapus. Bagaimana pun masa lalu akan terus ada dalam diri kita. Tiap orang punya masa lalu pahit yang membekas dihatinya.
Namun itu bukan alasan bagi kita untuk menyalahkan diri sendiri, merasa tidak pantas untuk hal baik yang harusnya kita terima. Yang bisa kita lakukan hanya jangan membiarkan masa lalumu itu terus membayang-bayangi masa sekarang dan masa depanmu.
Rasa ingin tahuku tentang apa yang ia hadapi sangat besar. Tapi privasi adalah segalanya. Semua orang pasti ingin menyimpan rahasianya masing-masing. Sepertiku yang bahkan belum berani mengatakan sedikitpun tentang masa laluku.
Aku menghormati masa lalunya, akan lebih baik jika dia sudah merasa lebih baik dan memilih menceritakan segalanya sendiri.
Steven duduk di kamarnya bersamaku. Sebaiknya aku menghiburnya agar ia tidak bersedih lagi. Walaupun aku juga bingung harus bagaimana.
Ia duduk sambil meneguk alkohol yang ia ambil tadi dari sebuah lemari besar penuh akan alkohol dan semacamnya.
Sedangkan aku meminum segelas susu yang dibuatkan oleh bibi Kim, katanya ini adalah susu khusus bagi ibu hamil.
Aku duduk di sampingnya, memperhatikan raut wajahnya yang masih sedih. "Jangan minum terus, itu tidak baik untuk kesehatan" kataku padanya setelah melihatnya sudah menghabiskan hampir sebotol alkohol yang berwarna coklat ke kekuninangan.
Steven menatapku lirih, "ini adalah caraku untuk merasa tenang" katanya lalu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
Barang yang kebanyakan pria bahkan wanita konsumsi. Ia mengeluarkan bungkus rokok dari dalam saku celananya.
Steven membakar ujung batang rokok yang ia akan hisap. Ini tidak bisa dibiarkan. Sudah mabuk, ditambah merokok, itu bukan hal yang bisa aku biarkan lagi.
Aku langsung menarik batang rokok itu dari mulutnya tanpa seizin si pengonsumsi itu. Batang rokok itu aku masukkan ke dalam asbak kaca yang ada di meja.
"Apa kau tidak sadar, kau merokok di depanku" kataku memarahinya.
Jelas di wajahnya kekesalan atas tindakanku barusan. Tapi setidaknya dia sadar dia sedang merokok di depan ibu hamil.
"Ayolah Steven, bersedih terus dan menyalahkan diri sendiri tidak akan merubah masa lalu. Bukan salahmu atas apa yang terjadi, semuanya sudah diatur oleh Tuhan. Kak Alvin pasti tidak bisa tenang bila kau saja hancur begini" kataku menasehatinya padahal aku sendiri masih sering mengasihani diri sendiri.
Steven tidak menjawab atau membantah. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kecilku. Aku tidak melawan, sepertinya ini lebih baik dari pada melihatnya merusak dirinya sendiri.
__ADS_1
"Baiklah" katanya singkat. Ia kemudian membaringkan tubuhnya di sofa dan tertidur di atas pangkuan ku.
Aku membiarkannya agar dia setidaknya bisa tenang. Dahulu saat aku sedang sedih, mama akan membiarkanku tertidur di pangkuannya lalu membelai rambutku yang panjang.
Seperti itu juga yang aku lakukan pada Steven, aku membelai rambut pendek hitamnya. Dari atas ia terlihat sangat manis dan polos. Hidungnya yang mancung dan wajah tirusnya terlihat indah dari posisiku memandang.
Semakin waktu berlalu, aku pun mulai mengantuk dan tertidur juga.
- Steven -
Pagi yang cerah kembali datang. Walaupun hidup terasa berat dan menyedihkan, namun hidup akan terus berjalan.
Tadi malam aku terbangun setelah tertidur di pangkuan Karina Lalu memindahkannya ke ranjang empukku agar ia tidak merasa lelah dan pegal.
Entah apa yang membuat ia bisa membuatku merasa tenang. Yang jelas saat bersamanya aku terasa lebih rileks.
Ia masih tertidur memelukku. Wajah polos cantiknya seakan seperti seorang bayi yang tertidur. Aku mengecup bibir dan keningnya, "selamat pagi cantik".
Drrrtttt...
Aku mengecek notifikasi pesan yang masuk ke HP ku. Itu adalah pesan dari Lucas.
Aku segera bersiap agar segera pergi ke kantor. Setelah cukup lama waktu berlalu aku selesai bersiap dan sudah dengan setelan jas kantorku.
Ketika aku masuk ke kamar, Karina sudah tidak lagi ada di ruangan ini.
Aku mencarinya di kamarnya tapi dia juga sudah tidak ada. Aku turun ke ruang makan, dan ternyata dia sudah ada disana menungguku.
Karina sudah mandi dan mengenakan pakaian cantik. Ia memberikan senyuman padaku ketika melihatku datang.
Aku duduk dan mulai menyantap hidangan yang tersedia di meja. Aku melihat jam tangan, dan sepertinya harus mengakhiri sarapanku.
"Aku harus ke kantor sekarang, dan sepertinya aku tidak akan pulang malam ini. Kau baik-baik di rumah, jika butuh sesuatu katakan saja pada bibi Kim. Dan bila terjadi sesuatu, hubungi aku secepatnya. Jangan lupa makan dan jangan tidur larut malam" kataku pada Karina.
Tampak jelas sedih di wajahnya setelah mendengar penjelasanku, "kenapa sedih, aku akan segera pulang setelah semuanya selesai" kataku pada Karina.
"Memangnya kau mau pergi kemana? Tapi kan..." tanyanya padaku.
__ADS_1
Aku membelai rambut hitamnya lembut, "aku harus pergi ke luar kota, tenang lah ada bibi Kim disini" jelasku pada Karina.
Ia hanya mengangguk saja, aku tahu dia pasti akan kesepian sendirian di rumah besar ini. "Bi tolong jaga wanitaku ini ya, jika dia bosan ajak saja dia keluar bi" kataku pada bibi Kim di dapur.
Jawab bibi Kim, "baik tuan".
Walaupun aku sudah memberikannya izin keluar, Karina masih belum tersenyum. Aku menariknya agar berdiri di hadapanku.
"Kenapa kau sedih? Kau takut akan merindukanku?" tanyaku menggodanya.
Karina tidak menjawab, dia pergi begitu saja. Wanita memang sulit ditebak. Aku mengejarnya sampai ke ruang tamu. Aku menangkap tangannya, "apakah kau kesal? tolong katakan sesuatu" tanyaku.
Karina menggeleng "tidak aku hanya masih mengantuk" jawabnya berbohong.
Aku memeluk Karina erat, "Aku minta maaf karena tidak mengabarimu dahulu, ini sangat penting dan mendesak" kataku.
Aku menatap mata Karina, "Aku mencintaimu" ujarku pada Karina lalu menciumnya. Dia awalnya diam saja, namun akhirnya dia menutup mata lalu membalas bibirku.
Aku tidak akan bertemu dengannya malam ini, rasanya sangat berat bagiku. Jadi aku akan memuaskan perasaanku sekarang. Aku menciumnya dan memeluknya erat.
Akhirnya aku menyudahi hal itu, "Hati-hati dan jangan sampai terluka" katanya singkat.
Aku mengangguk senang, jadi aku sudah bisa pergi dengan nyaman sekarang. Aku berbohong pada Karina bahwa sebenarnya aku ingin ke luar negeri. Jika tidak dia pasti akan sangat kecewa.
Aku berangkat ke bandara dengan diantar oleh sopir. Sesampainya di bandara, Lucas sudah menyediakan segala keperluan misi ini.
Agar sampai dengan cepat, kami berangkat dengan jet pribadi keluarga Lee. Jet ini adalah milik keluargaku, hasil kerja kerasku selama beberapa tahun.
Media tidak tahu akan jet ini, karena memang kebanyakan propertiku adalah rahasia dan sejujurnya tidak ada gunanya memberitahu semua orang akan apa saja kekayaan kita.
hai hai readers 😍😍
Terima kasih yang udah singgah dan masih betah di novel aku 💚
Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan maupun pemilihan kata
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen
Semoga kalian suka guys 💚💚