MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Fight on Fight


__ADS_3


Steven -



He looks fine! But I am not!


Perkiraan awal dalam benak ternyata salah total. Kembali seperti semula. Walaupun tidak sama persis karena setengah kesedihan itu tercover oleh berita- berita suka cita. Sedangkan yang setengah lagi masih tetap setia memenuhi hati dan jiwaku.


Buquet bunga yang aku bawakan kuletakkan di depan nisan. Aku kira aku tidak akan kembali bersedih namun aku salah. Walaupun tak sesakit biasanya, tapi jiwaku masih terluka.


Aku terduduk di sisi makam, langsung duduk begitu saja di atas rerumputan tanpa menghiraukan celanaku kotor. Kedua kaki tertekuk dan tanganku bertumpu di masing-masing lutut kaki.


Masih terus kupandangi nisan tersebut. Elena turut duduk di sisiku, dia mengelus punggungku memberikan ketabahan dan kekuatan.


Kalian tahu apa yang aku rasakan? Selama ini aku tidak tahu apa dan bagaimana kematian kakak kembarku sendiri. Aku hanya tahu dia dibunuh.


Aku tidak bisa membalaskan dendamku pada pelaku karena mereka sudah dilenyapkan terlebih dahulu sebelum aku tahu siapa mereka. Dan ternyata mereka hanya alibi, karena pelaku sebenarnya menghilang begitu saja.


Ingin membalas namun tidak bisa, itu yang sangat menyiksaku. Dan hanya aku yang tahu bagaimana sakitnya. Karena hanya orang yang dipukul yang tahu bagaimana rasa sakitnya dipukul.


Air mataku terjatuh begitu saja. Aku tidak membenci hari ini seperti biasanya. Aku hanya masih belum bisa melepaskan rantai yang mengikat leherku selama ini. Penyesalan!!


Elena memelukku dari samping, aku masih menangis. Setiap kali kesini, aku selalu menjadi orang yang lemah. Aku menangis terisak.


"Kak apa aku bisa? Mampukah aku membalaskan dendammu? Aku takut kak" ujarku pada kubur itu hendak menyampaikannya pada kak Alvin.


"Aku yakin kak Alvin pasti percaya kau bisa Stev! Mana dirimu yang selalu tegas dan kuat? Baik aku maupun kak Alvin, tidak suka melihat Steven yang lemah" ujar Elena lembut. Dia juga ikut meneteskan air matanya.


Kutundukkan kepalaku, "kak aku takut kehilangan lagi. Aku sudah sering kehilangan. Kehilangan kakak, mama, ayah tiri, aku takut sekali kak. Bisakah aku bertahan?"


Sekarang aku memandangi wanita di sampingku, tanganku mengelus perutnya "menurut kakak bisakah aku menjadi seorang ayah yang baik? Bisakah aku menjaga Elena dan putraku?"


Elena tersenyum samar, ia mengelus pipiku sangat lembut "kau bisa! Aku yakin kau bisa sayang" ujarnya sangat mendalam.


"Hari ini aku sangat bahagia bayiku tumbuh sehat dan kuat, aku sungguh bahagia saat tahu dia adalah pangeran kecil, tapi aku juga merasa takut Elena. Sudah terlalu sering kehilangan orang orang disekitarku, aku takut!"


Dia menggeleng pelan, "dengarkan kata hatimu Steven. Kau pria yang baik, dimana pria dengan hati lembut itu berada sekarang? Yang aku lihat adalah pria kalut yang menyedihkan"


"Aku tumbuh tanpa orang tua, saat aku baru saja merasakan kasih sayang ibu aku tetap tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Tapi aku malah kehilangan keduanya. Bisakah aku menjadi seorang ayah yang baik? Aku takut" ungkapku jujur dari lubuk hatiku.

__ADS_1


Kedua tangannya memegang wajahku, dia mengapus air mata di pipiku "kau bisa, pasti bisa, aku percaya itu. Kau pria yang baik dan kau akan menjadi ayah yang baik juga"


Kupeluk dia dengan erat, aku membenamkan wajahku pada lehernya. Dia memberiku kekuatan dan kepercayaan diri dengan sangat tulus. Dia membelai rambutku dengan hangat, selama ini tidak ada yang pernah melakukannya saat aku butuh diperlakukan seperti ini.


Butuh lama untukku merasa tenang. Lalu saat ketenangan itu ada, aku melepaskan pelukanku. Benar, Steven Lee bukan pengecut. Bukan diriku bila menyerah secepat itu.


- Elena -


Butuh kesabaran dan kasih yang benar-benar tulus untuk memberikan ketenangan bagi Steven mengatasi pain di hatinya. Dan syukurnya aku berhasil.


Dari sorot matanya bisa diartikan dia mulai membangun kembali kepercayaan diri dan tekad untuk berjuang. Semua orang punya sakit dan bebannya masing-masing. Yang jelas bagaimana mengatasinya itulah yang menjadi point pentingnya.


Yang tadinya dia duduk begitu saja di atas rerumputan, sekarang Steven mengambil posisi berbeda. Ia duduk berlutut dengan masih menghadap ke makam mendiang kakak iparku.


Steven membuat tanda salib dalam dirinya, ia tampak sangat hikmat dan hening. Kedua tangannya kemudian ia lipat dan ia menunduk, Steven berdoa dalam hatinya.


Aku hanya menunggu sampai doa selesai, lalu dia kembali membuat tanda salib untuk menutup doanya. Setelah kegiatan itu, dia menatap ke arahku.


Sungguh berbeda, beberapa menit yang lalu ia sangat kacau tapi sekarang dia tampak sangat tenang seperti biasanya. Steven yang aku kenal telah kembali, kuat dan pemberani.


Kubalas senyumannya dengan senyuman lebar dan paling tulus. "Kau sangat religius" kataku memujinya.


"Tapi aku sering melihatmu berdoa, seperti barusan"


Dia mengalihkan pandangannya ke perutku yang membuncit, tangannya mengelus perutku "aku pendosa besar tapi pendosa juga ingin orang disekitarnya aman. Aku tidak mendoakan diriku sendiri karena tidak pantas tapi mendoakan kalian. Karena bahkan jika cinta di dunia menghilang, aku mau kalian menjadi cinta terakhirku"


Jujur kata-katanya barusan sangat menghangatkan hati, terdengar seakan kami adalah yang paling berharga di dunianya.


Saat seperti ini aku tiba-tiba meringis, bayiku ikut merasakan kehangatan dari perhatian ayahnya. Seakan di dalam sana dia sangat bahagia hingga menendang sesukanya.


"Hey whats wrong honey?" Steven tampak cemas karena aku tiba-tiba meringis.


Kugelengkan kepalaku, "dia sangat nakal menendangku dari dalam"


Kami tertawa karena kecemasan Steven terpatahkan. Ia berlutut dan bertumpu dengan satu lutut di depanku yang duduk di rerumputan seperti semula. Steven mengelus perutku, "hey boy, be nice please. Don't hurt your mom"


"Awww"


Sekali lagi gua meringis karena bayi dalam perutku seakan sengaja melawan perintah ayahnya. Seakan sengaja untuk menunjukkan ketertarikannya.


"Hey boy listen to me, you hurt your mom, jangan melawan perintah daddy. Be nice boy" katanya lembut.

__ADS_1


Aku tidak bisa menahan senyuman kebahagiaan hingga air mataku terjatuh begitu saja akan haru yang memenuhi tubuhku. Aku sangat bersyukur karena ayah dari anakku adalah pria yang penyayang dan sangat mengesankan.


"Hei haruskah kalian bermesraan di kuburan juga" suara seorang pria yang tidak asing.


Kami menoleh ke arah datangnya suara, terlihat empat orang datang bersamaan. Lucas, eonni Elsa, kak Briant, dan bahkan Selena juga hadir bersama kami.


Steven membantuku bangkit berdiri. Kami menyambut kedatangan keempatnya yang tidak disangka. "Kenpa tidak mengabari kakak kalau kau akan pulang Enna?" tanya Steven pada Selena.


Selena menggandeng kak Briant manja, "kekasihku ada, lalu kenapa aku memberitahu kakakku?"


Kami semua tertawa melihat keabsurdan kakak beradik ini. Setelah berdiri dalam jarak dekat, aku segera memeluk kak Briant. "Aku sangat merindukan kakak" kataku pelan.


Ia membelai rambutku sangat lembut, "apa kau baru nangis? Sudah kakak katakan kau jelek saat menangis" katanya malah mengejekku. Mendengar itu aku cemberut, walaupun sejujurnya aku sangat rindu dengan satu kalimat itu.


"Kau membuat istriku cemberut Briant, kau mau kuledakkan kepalamu?" Steven mengancam.


"Sudah-sudah, ledakan kepalanya nanti setelah kami selesai jiarah" potong Lucas yang lelah melihat pertengakaran kami.


Mereka meletakkan buquet bunga yang mereka bawa di sisi nisan kubur itu. Lalu Lucas menuangkan arak di sekitar kubur. Aku tidak tahu dan bingung kenapa dia melakukan itu.


Eonni Elsa yang berdiri di sampingku seperti sadar dengan kebingunganku. "Itu salah satu kebiasaan tradisional saat jiarah Elena, air yang dituangkan itu namanya arak. Itu adalah Alkohol tradisional"


Oooo... Aku mengerti maksudnya, walaupun tidak tahu maknanya tapi jika sudah menjadi kebiasaan aku hanya diam memperhatikan saja. Mereka melakukan langkah demi langkah dalam jiarah.


Selena duduk di dekat nisan, ia memperhatikan tulisan-tulisan itu. Aku tahu dia juga sedih, aku menghampirinya dan mengelus punggungnya. Tidak ada kata yang dia ucapkan tapi butuh waktu lama baginya untuk termenung.


Setelah semuanya selesai kami semua pergi dari makam tersebut. Selena dan eonni Elsa menuntunku berjalan, sedangkan ketiga pria itu berjalan bersama di belakang kami bertiga.


"Bagaimana bayimu? Apa kalian sudah melakukan pemeriksaan jenis kelamin?" tanya eonni Elsa.


"Tadi kami sudah periksa eonni, dia tumbuh sehat dan kuat. Kami juga sudah periksa jenis kelaminnya" jawabku jujur.


Selena sangat bersemangat, "benarkah kak? Lalu bayinya laki-laki atau perempuan?"


Kuelus perutku, dengan senang hati kujawab "seorang pangeran kecil"


Kedua wanita di sampingku sangat senang dengan kabar ini. Keduanya memelukku dari sisi kiri dan kanan, "aku tidak sabar menyambut kelahiran pangeran kecil, pasti dia tampan sekali" puji eonni Elsa.


Setelah memasuki mobil masing-masing, kami melanjutkan perjalanan. Aku dan Steven bingung kemana kedua mobil di depan kami melaju. Karena mereka mengatakan ingin ke suatu tempat.


__ADS_1


__ADS_2