
Steven -
Selena membawakan para tim designernya langsung dari AS ke tempat kami sekarang berada, Vatikan. Kemampuan fashionnya memang sangat tajam.
Aku memandangi jas berwarna putih yang didesain oleh designer ternama yang ternyata adalah teman adikku sendiri..
Tubuhku yang tinggi membuat setelan apapun yang kupakai akan kelihatan menawan. Aku mengagumi ketampananku sendiri yang sangat diatas rata-rata, ya aku memang tampan dan perfeksionis tidak perlu malu mengakui itu.
Hari pernikahan adalah minggu depan dan persiapan mulai rampung. Selena mempersiapkan segalanya dengan sangat baik dibantu oleh kekasihnya.
Pemberkatan dilakukan di Gereja Katolik Basilika St.Petrus Vatikan dengan resepsi akan diselenggarakan di NH Collection Hotels yang telah di sewa penuh. Elena pernah berkata dia sangat ingin ke kota rohani Katolik jadi aku berfikir itu pilihan yang tepat untuk pernikahan.
Drrtt..
"Scusami puoi lasciarmi in pace? (Bisakah kalian tinggalkan saya sendirian?)" gumamku pada para designer yang membantuku dalam fitting.
Para deaigner itu keluar, aku mengangkat panggilan tersebut.
"Apa?"
' Pihak Kanada mulai meresahkan dengan mengancam manager tim kita"
"Aku sedang sibuk fitting"
' Kau dengan nyaman persiapkan pernikahanmu sedangkan aku banting tulang mengurus perusahaanmu'
"Makanya aku katakan menikahlah dan urus keluargamu"
Aku menutup panggilan karena telingaku bisa meledak karena mendengar celoteh dari Lucas.
Rasanya puas dengan design yang katanya sudah dipersiapkan tahun lalu oleh adikku sendiri. Jika ditata sedikit rambutku lalu wajahku sedikit dipoles maka ini akan sempurna.
"Wow kau sangat sexy bro" ujar pria yang datang.
Tentu aku hanya merespon dengan bangga. Dia duduk di sofa dekat aku berdiri dan memandangiku cermat. "Aku melihat anak buahmu yang berjaga bukan orang Korea, apa kau menyewa tim lain?"
"Mereka adalah hadiah"
Briant mengernyitkan dahi, "Hadiah? Maksudmu?"
Pria ini sangat banyak bicara saat aku ingin menikmati pemandangan tubuhku yang ideal, "mereka hadiah dari temanku dari AS, bukan bodyguard biasa"
Ia berjalan ke sisiku lalu tangannya merapikan dasiku yang sedikit miring, "apapun itu yang jelas aku mau kau harus menjaga keselamatan adikku. Siapapun kau di dunia gelapmu aku tidak perduli, yang jelas keselamatan Elena adalah prioritas"
Kupandangi dia sedikit kesal, "aku tahu harus bagaimana adik ipar. Dan oh iya kau harusnya menggilku hyung bukan?"
Bibirnya menyungging, "cih kita hanya beda beberapa bulan saja"
"Sebaiknya kau pergi memilih satu diantara susunan jas disana, pilih yang sesuai untukmu" aku menunjuk ke arah jas yang terpajang.
Dia menggeleng, "aku sudah punya khusus" Briant meninggalkan ruangan fittingku.
Aku mengganti kembali pakaianku menjadi seperti semula. Ketika aku hendak keluar dari ruangan fitting HP ku kembali berdering. Senyuman terukir di bibirku saat membaca nama kontak yang menelepon 'Vincenzo'.
"Halo sobat lama"
'Hola sobat lama, senang mendengar suaramu lagi'
"Terima kasih atas pasukan khusus yang kalian kirimkan"
' Iya tapi kau bisa menyampaikannya langsung pada Mr.Agustov'
__ADS_1
"Jika bukan karena itu, kenapa kau menghubungiku setelah sekian lama tidak berbicara lagi?"
'Aku akan sampai di Vatikan dalam empat jam lagi. Dengarkan aku baik-baik Stev, sisa-sisa anggota Kartel Sinaloa yang kau basmi beberapa tahun lalu akan menyergap hotel tempatmu menikah malam ini sekitar tiga jam lagi. Mr.Agustov sendiri yang mengirimku kepadamu. Sepertinya aku akan terlambat menyelamatkanmu karena cuaca buruk disini penerbangan cukup sulit. Kau mengerti maksudku kan?'
"****! Seriously? Oke oke tenang saja tanpa kau jelaskan aku tahu apa yang harus kuperbuat"
' Ya ya tentu aku tahu Mr. Lee yang lebih berpengalaman dariku. Baiklah semoga kau beruntung malam ini boy'
"Baiklah terima kasih informasimu. Semoga penerbanganmu selamat dan jangan lupa bawakan aku hadiahku"
**** of!! Sepertinya mereka tidak takut dengan kepala El Chapo yang aku kirim. Elena dalam bahaya dan persiapan adikku akan sia-sia bila begini.
Jemariku menelusuri kontak dan menemukan yang aku cari 'Mr.A'
"Hallo Boss"
' .......'
"Thanks for your gift, I feel safe because of you"
'.......'
"I'm sorry Boss but I have to slaughter them all. You know I have a strong principle. But if anyone touches mine then he will die!" aku menarik sedikit kerahku kemeja dalam balutan jas hingga menampilkan tatto kecil ukiran huruf S dengan setengah lingkaran masih permanen di bagian dadaku.
'.......'
"Oke Boss thanks for your understanding"
Tut..tut..tuutttt..
Dengan emosi yang mulai naik, aku berjalan tergesa meninggakkan kamar fitting pribadiku. Aku berjalan dengan cepat serta dengan HP yang dekat dengan telinga.
"Manda qui le mie truppe tra quindici minuti. Voglio il massimo e il professionista! (Kirimkan pasukanku dalam lima belas menit. Aku mau yang terbaik dari profesional"
Namun lawan mereka bukan kumpulan orang biasa. Mereka adalah pasukan terlatih, angkatan khusus militer atau lebih tepatnya ******* AS. Serta ditambah dendam mereka akan semakin menguatkan pertahanan.
Malam ini aku menggunakan anak buahku, bukan bodyguard kelas kakap yang aku sewakan untuk politikus, konglomerat, dan artis dari Lee's Group. Melainkan pasukan militer khusus hasil pelatihan militer tentara Romawi yang terkenal cekatan dan buas.
Langkah ini terhenti di hadapan sebuah pintu ruangan berinterior klasik khas romawi dengan ornamen-ornamen kerajaan yang sangat mahal. Pelayan hotel membukakan pintu untukku dan bertapa tercengangnya diriku menyaksikan seorang dewi yunani yang menjelma menjadi calon mempelai.
"Kakak sudah disini, kemari dan lihatlah mempelaimu" Selena.
Elena tersenyum manis dari tempatnya berdiri dengan wedding dress yang sangat pas untuknya. Ia sudah cantik sejak awal tapi hari ini dia terlihat bagaikan ratu dari keluarga kerajaan.
Jika tanpa make up ataupun hair style saja sudah secantik itu bagaimana lagi bila sudah ditata seluruhnya. Jantungku bisa meleyot nanti.
Kuhampiri mempelaiku itu lalu mengecup dahinya lembut, "Tentu calon mempelaiku harus cantik"
"Stop, kalian belum menikah. Elena masih menjadi hakku sebagai walinya" Briant yang ternyata juga ada di dalam ruangan fitting menyela.
Tujuanku datang kesini memang ingin melihat Elena, tapi ada yang lebih utama. Kulepaskan tanganku dari pinggangnya. Aku berjalan mendekati Selena dan berbisik sesuatu.
Selena sangat terkejut dan mulai memucat. Adikku memang tidak tahu keseluruhan cerita masa laluku, tapi dia tahu garis besarnya.
"Guys, collect all your belongings in ten minutes. We have to leave this hotel. Please help secure this dress and my brother's suit" Selena pada timnya.
"Kakak ipar cepatlah lepas dressmu, kita harus pergi sekarang" Selena memandang intens Elena.
"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba pergi?" Briant heran.
Aku memegang bahu saudara iparku itu, "nanti adikku akan menjelaskannya. Tidak ada waktu lagi, cepatlah amankan diri kalian. Pasukan di luar akan membantu kalian bersembunyi"
"Ada apa Stev? Apakah sesuatu yang buruk akan terjadi?" Elena gusar.
Kecemasannya tentu aku pahami, trauma dia sepertinya masih cukup membekas. Kupeluk erat Elena, "semuanya akan baik-baik saja"
__ADS_1
"Hati-hati dan jangan sampai terluka" nanar.
"Take them away immediately, you know what to do right?" perintahku pada para pria berkulit putih berjas hitam.
Mereka membawa Elena dan yang lainnya dari hotel ini. Aku segera menghubungi para pasukan yang aku panggil dan mengajari taktiknya. Dan dalam sepeluh menit kemudian semua sudah pada posisi masing-masing.
Hotel masih kelihatan ramai tanpa ada kesenjangan. Para pelayan yang bekerja mendekor dan mempersiapkan segalanya aku biarkan agar mereka terkecoh.
Semuanya sudah terancang dengan terorganisir, aku mengambil pistol yang diberikan oleh salah seorang pasukan. Pistol bernama Mark XIX, adalah yang dianggap paling mematikan karena menembakkan peluru .50 Action Express (.50AE), salah satu peluru terbesar dan paling mematikan dalam sejarah senjata genggam.
🔫🔫🔫
Dalam dunia hitam atau lebih sederhana dunia permafiaan, tepat waktu adalah salah satu prinsip teguh. Benar saja, mereka datang sesuai dengan apa yang dikatakan oleh teman sekaligus mantan rekan.
Vatikan merupakan negara kecil di Roma serta sebagai negara umat Katolik yang menjunjung tinggi kemanan dan ketertiban sesuai ajaran agama.
Sistem politik yang ketat menjadikan mafia maupun ******* tertekan bila melakukan aksi gencatan senjata. Sisa-sisa anggota Kartel Sinaloa hanya mengambil langkah bodoh dengan menyerang hotel ini.
Di tengah-tengan aula yang sudah di sulap begitu indah dengan bunga-bunga segar serta lampu-lampu dekorasi yang glam dan classy aku berdiri.
Kuhisap batang rokok dengan tenang, emosi dingin dan datar tidak bisa aku acuhkan. Sial, pestaku hampir saja berantakan.
Pintu besar yang menjulang tinggi terbuka puluhan pasukan bersenjata lengkap dengan kostum tentara angkatan khusus yang serba hitam dan tidak lupa balutan rompi anti peluru bergerak masuk.
"Blöd (bodoh)" umpatku pada mereka semua yang tertipu.
Secara bergantian mereka memandangi ke sekitar dan tiba-tiba pintu tertutup. Ya hanya aku sendirian yang ada bersama mereka. Seluruh senjata ditodongkan ke arahku. Bos mereka mengangkat tangan berarti tahan.
Untuk terakhir kalinya aku menghisap batang rokok yang sama lalu menjatuhkan dan menginjak hingga padam. Tangan ku yang satu lagi tetap jatuh dalam keadaan normal namun sudah dalam posisi siap untuk menembak.
"Sie müssen jetzt aufgeben, da wir Sie umzingelt haben (anda harus menyerah sekarang karena kami sudah mengepung" kata sang bos.
Aku malas sekali memberikan ekspresiku yang bernilai mahal, "Ich lasse dich leben, weil wir in der gleichen Gegend arbeiten, aber du willst selbst sterben, damit ich deine Gebete gewähren kann. und bevor du den Herrn Jesus triffst, werde ich dir ein Abschiedsgeschenk geben. obwohl ich nicht sicher bin, ob du Jesus begegnen wirst (Aku akan membiarkanmu hidup karena kita bekerja di ranah yang sama, tetapi kamu ingin mati sendiri maka aku dapat mengabulkan doamu. Dan sebelum Anda bertemu dengan Tuhan Yesus saya akan memberi Anda hadiah perpisahan. Meskipun saya tidak yakin apakah anda akan bertemu Yesus)"
"Come in" perintahku.
Seorang pria berpenampilan berantakan muncul dari pintu belakang aula. Dia sudah mengalami siksaan dari pasukanku.
"Du wolltest mich und meine zukünftige Frau töten, aber du bist schwach, weil du betrogen wurdest. Du Grabenratte! (Kalian ingin membunuhku dan calon istriku tapi kalian sendiri begitu lamah hingga dikhianati. Dasar tikus got!"
"Sorry bos" ujar pria itu pada sang bos.
Bos mereka ingin menembak pengkhianat tapi aku lebih cepat dan berhasil melubangi dahinya. Darah kotornya merembes dan mengenai celanaku.
Semua pasukan dan sang bos masih terkejut. Tanpa butuh lama aku langsung mengarahkan pistol Mark XIX ini ke arah sang bos dan untuk tembakan pertama mengenai tangannya dan tembakan yang kedua melubangi lehernya.
Seketika seisi aula penuh akan suara tembakan dan darah yang merambas kemana-mana. Pasukanku pastinya lebih hebat dari mereka. Para pejuang itu langsung menembak dari jarak jauh memecahkan seluruh jendela dan membunuh mereka.
Dengan keadaan santai aku keluar meninggalkan aula yang sudah tidak layak untuk dipakai itu. Putih berubah merah dan menawan berubah mencekam.
Selamat jalan buat kalian semua. Semoga Tuhan Yesus memaafkan dosa-dosamu membasuh jiwamu yang menangis.
Hola My Dear Readers 💚💚
Yippy kalian masih setia dan nunggu kelanjutan cerita aku ya.
Mohon maaf ya jika ada kesalahan pengetikan maupun cerita yang kurang jelas.
Author juga mohon maaf karena lama update. Awalnya author mau buat ceritanya ringan guys, tapi tiba-tiba dapat inspirasi setelah gak sengaja lihat beberapa artikel. Steven memang bos Lee's Group tapi diatas dia masih ada bos lagi.
Novel Bad Boy: Sin or Death awalnya udah mau sampe klimaks tapi author lupa kalo belum jelasin siapa Steven yang sebenarnya. Ceritanya bakal cukup kompleks dan nama-nama tokoh actionnya diambil dari kisah nyata ya.
Dan author berencana mau buat sekuel Bad Boy hihihi tapi kalau viewersnya tetap dikit ya gak jadi.
__ADS_1