MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Baby Boy Shoes


__ADS_3


Elena -



Sihir yang dia berikan dalam tubuh dan hatiku sangat kuat. Entah kenapa aura seorang Steven Lee selalu mampu membuatku jatuh hati lagi, lagi, dan lagi.


Penampilannya hari ini sangat casual tapi kenapa malah terlihat elegan dan mewah? Dia hanya memakai celana chinos dengan kemeja serta topi tapi ketampanannya malah semakin meningkat.


Kami sudah menikah selama sekitar lima bulan dan aku sudah menghabiskan hari hariku dengannya selama tujuh bulan lebih tapi pesonanya masih terus membuatku takjub.


Style seperti ini membuat dia tidak tampak berumur tiga puluh tahun. Aku sering menonton drama atau film jika bosan dan biasanya para pemuda yang berpenampilan seperti ini.


Ternyata umur tidak menjadi batasan baginya untuk tetap tampil stylis. Jika dilihat dia seperti masih berusia sekitar dua puluh lima tahun.


Syukurnya hal ini akan membuat dia tidak tampak terlalu tua jika nanti anak kami sudah tumbuh dewasa. Aku sangat bangga memiliki suami setampan dia, rasanya aku wanita paling beruntung.



"Heii kenapa kau sering melamun melihatku? Aku tahu aku tampan, tidak perlu tercengang" ia menyadarkanku.


Aku lupa, satu hal yang menyebalkan darinya adalah sifat narsisnya itu. Walaupun wajar saja narsis karena dia memang terlalu tampan.


"Kau laki-laki tapi berdandan lebih lama dariku yang wanita" ujarku ketus.


Dia terkekeh mendengar kekesalanku. Lalu ia membuka laci meja rias dan mengambil masker dari sana.


"Kenapa pakai masker? Untuk apa ketampanan itu ditutup? Sudah biarkan saja. Aku mau pamer ke dunia bahwa suamiku sangat tampan" ujarku menahannya saat akan memasang masker di wajah.


Steven melangkah mendekat sampai tidak menyisakan sedikitpun jarak. Ia membungkuk untuk menyejajarkan wajah kami. "Kau yakin aku tidak perlu menutup wajahku di depan publik? Kau yakin tidak akan menyesal?" tanyanya dengan nada agak menggoda.


Aku bingung maksud pertanyaannya, kenapa harus menyesal? Bukannya harusnya aku sombong?


"Tidak akan" jawabku lalu mendorongnya menjauh.


Sebelum dia menarikku pergi, Steven tersenyum aneh seakan menyimpan sesuatu dalam pikirannya yang aku tidak ketahui. Entahlah, pria ini memang terkadang aneh.


Kami pergi ke baby store yang sudah ditentukan oleh Steven. Sebenarnya dia ingin membeli keperluan bayi secara online karena malas bertemu orang banyak.


Tapi aku memaksa membeli secara langsung karena ada kesan tersendiri saat memilih keperluan bayi. Lagipula aku juga bosan sendirian terus di rumah.

__ADS_1


Steven menghentikan mobilnya di depan sebuah baby store. Hari ini dia mengendarai mobil sendiri namun aku yakin dia tetap memerintahkan bodyguardnya untuk mengawasi secara diam-diam.


Wow... Benar saja, kami masih baru turun dari mobil dan banyak orang lalu lalang di sekitaran store yang melihat kami langsung mengenali Steven. Mereka langsung memandangi kami, dan jujur aku benci bagaimana para wanita menatapnya.


Kami masuk ke dalam store, aku memilih untuk tidak memperdulikan orang-orang tersebut. Saat masuk, aku sangat terkesan dengan semua keperluan bayi yang mereka jual.


Semuanya berukuran kecil, sangat menggemaskan. Mataku sampai berbinar melihat ini, bagaimana ada manusia sekecil ini. Bahkan tanpa sadar aku langsung melepaskan tangan Steven.


Usiaku masih baru dua puluh tahun tapi karena sedang hamil, sifat keibuanku semakin lama semakin tumbuh. Rasanya hatiku menghangat melihat sepatu bayi kecil yang sangat imut.


"Pilihlah semaumu, aku juga akan memilih yang kusuka" kata Steven walaupun aku tidak mendengarkannya.


Bayiku adalah laki-laki, jadi aku ingin memilih sesuatu yang terkesan manly namun tetap imut. Pelayan memberikan beberapa pilihan baju untuk kupilih dan aku langsung jatuh cinta dengan semua pilihan yang ada.


Bingung harus memilih karena semuanya bagus. "Pilih apapun yang kau suka, jika mau semua ya sudah minta saja pada pelayan" Steven sadar dengan kebingunganku.


Siapa yang tidak tahu seberapa royal suamiku ini. Wajar jika aku setuju dengan perkataannya, karena ini tidak seberapa baginya.


Dia adalah ayah dari anakku, dia juga berhak memutuskan mana pilihan yang terbaik untuk anak kami. Aku meminta pendapatnya dan ternyata Steven juga punya selera yang bagus.


Saat tak sengaja melihat wajahnya, Steven tampak haru bahagia saat memilih semua ini. Aku bahagia melihat dia bahagia juga.


Kami berdua memperhatikan design yang ada dalam buku katalog. Lembar demi lembar yang kami pandangi semuanya bagus tapi aku tidak terlalu tertarik.


"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Steven.


Aku menggeleng, "semuanya terkesan biasa saja, aku mau yang glamorous layaknya seperti prince"


"Tolong berikan semua katalog yang ada yang sesuai dengan keinginan istriku" pinta Steven pada pelayan toko.


Mereka memberi kami beberapa katalog, aku mulai memilih yang ada dalam buku tersebut. Namun masih ada yang kurang, sepertinya aku tidak mau merias kamar bayiku sesuai dengan buku karena pasti sudah ada orang lain yang memakai design itu.


"Apa aku boleh mendesign sendiri?" tanyaku.


"Tentu saja" jawab Steven gampang.


Aku memberi tahu pada pelayan design yang ada dalam otakku. Menggabungkan beberapa interior yang aku suka dari katalog dengan yang aku inspirasikan sendiri.


Walaupun lama akhirnya semuanya siap. Aku mendesign sebuah kamar bayi yang tidak terlalu monoton kekanak-kanakan. Bahkan lebih ke kamar biasanya.


Suasana kamar akan tenang dan menyejukkan. Mencampurkan warna putih, gold, creamy, dan vintage. Ornamen kamar terinspirasi dari ornamen bangsawan Italia, dan perabotan yang selaras dengan ornamen itu.

__ADS_1


Steven sampai heran karena kamarnya sangat mewah. "Bagaimana kau bisa memikirkan semua ide itu? Aku terkejut" katanya dengan tatapan heran.


Dengan canggung aku tersenyum pada dia dan pelayan yang juga ada di dekat kami, "itu terinspirasi saat kita di Vatikan dulu"


Dia tertawa puas dan senang karena semua yang aku lakukan. Senang rasanya saat kita punya ide atau pemikiran dan orang yang mendengarnya menyukai bahkan memuji ide tersebut. Aku merasa sangat dihargai setiap kali bersamanya.


Setelah semua rampung kami berjalan keluar dari store. Tapi orang-orang masih ramai berkumpul di luar menunggu kehadiran kami.


Saat baru saja keluar, beberapa wanita langsung meminta berfoto dan tanda tangan juga. Sialnya, Steven malah menuruti permintaan mereka.


Aku hanya memandangi bagaimana para wanita itu menggoda dia dengan rasa tidak suka. Mataku melotot saat ada yang merangkul tangannya hanya demi berfoto.


Melihat itu aku langsung mengeluarkan masker yang aku sita tadi dari dalam slingbagku. Aku menerobos ke kerumunan itu lalu menggeser mereka yang mengalangi.


"Sudah cukup berfoto, ini pakai maskermu dan kita pulang" ujarku lalu tanpa persetujuannya aku langsung memasangkan masker di wajah tampan sialannya.


Steven tidak menolak, dia hanya menurut bahkan saat aku menariknya pergi dari keramaian. Entah dari mana nyaliku ini, tapi aku tidak suka melihat para wanita genit itu.


Setelah masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan area store aku hanya diam dan kesal. Dia bahkan mengajakku mengobrol tapi aku hanya diam dan memandangi ke luar jendela di samping kananku.


Tiba tiba dia menepikan mobilnya di bahu jalan yang langsung menghadap ke sungai Han. Terserah maunya, yang jelas aku sangat kesal.


"Kenapa kau marah sekali?" ia malah bertanya begitu.


"Aku tidak marah" jawbaku simpel.


Dia mendekat ke arahku bahkan wajah kami hanya berjarak sekian senti saja. Ia membuka masker yang sejak tadi masih terpasang di wajah tampan sialannya itu.


"Kau cemburu? Aku sudah ingatkan tadi sebelum pergi tapi kau sendiri yang ingin memamerkan wajahku" katanya menyebalkan.


Atensiku langsung terarah ke matanya, kutatap mata itu tajam. "Cemburu? Aku? Untuk apa?" jawabku ketus.


Steven menepikan rambutku ke balik telinga, tatapannya berubah dari menggoda menjadi tenang. "Satu hal yang perlu kau ingat my sweetheart, semua raja memiliki puluhan selir tapi raja yang baik hanya memiliki satu ratunya. Ratu tidak perlu cemburu pada selir karena pada dasarnya semua selir itu hanya barisan para penggoda. Karena raja yang baik hanya mencintai ratunya saja"


Sialan, dia selalu bisa membuatku yakin padanya. Saat ini aku malah luluh. Tapi memang benar, sebagai ratunya aku tidak perlu cemburu pada mereka yang menjadi selir.


Tanpa aba-aba aku langsung mengecup bibirnya. Steven terkejut namun akhirnya dia sangat senang. Kami saling tersenyum dengan kehangatan.


Dia menciumku dengan lembut dan mendalam. Aku sangat suka setiap kali dia menyentuhku, kulingkarkan tanganku di lehernya. Dan kami saling bercumbu mesra.


__ADS_1


__ADS_2