MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Andreas Grey Lee


__ADS_3


Elena -



Hidup terkurung bertahun tahun layaknya burung dalam sangkar menutup pengetahuan tentang seberapa luas dan indahnya dunia ini. Bukan burung dalam sangkar, tapi lebih tepatnya seperti anjing yang dirantai. Setidaknya burung bisa bergerak bebas dalam sangkar.


Puji syukur tidak bisa aku abaikan setelah bertemu dengan dia. Orang yang berhasil membawaku terlepas dari rantai dan kandang sekaligus. Pria yang berbahaya tapi di sisi lain memiliki hati lembut yang terabaikan.


Di jalan yang bersinar luar biasa serdiri disana, ternyata selama itu aku menunggu dia pangeranku. Saat aku dalam pelukannya, aku bisa merasakan kehangatan.


Aku ingin melindungi siang dan malamnya, dialah keajaiban dari Tuhan bagiku, berharap dia akan selalu melihat balasan perasaanku.


Tuhan memberikan sebuah kado bernama Steven Lee. Indah tapi juga menyeramkan. Tapi tidak terlalu buruk karena dia hangat memelukku.


Terlalu klise mengatakan bahwa dia segalanya bagiku, keajaiban bagiku, aku berharap bisa melihatnya selalu tersenyum.


Di akhir penantian panjang, dialah satu-satunya yang tulus melindungiku di siang dan malamku. Tuhan memberi pangeran seperti mawar, indah tapi berduri. Dan aku bersyukur karena menjadi kupu-kupunya.


"Kenapa mengkhayal? Ayo naik" Steven mengulurkan tangannya dari atas yacht.



Mengarang puisi indah sendirian dalam hati membuatku tidak sadar sejak tadi Steven sudah menunggu dengan uluran tangannya. Melihat wajahnya membuatku ingin menulis bait bait puisi yang indah seperti bunga.


Aku cengar cengir ketika tersadar, kuraih tangannya segera. "Apa yang kau pikirkan? Kenapa menatapku terus?" dia menuntunku berjalan di sisi yacht dan masuk ke dalam.


Kepalaku menggeleng, "hanya terkesan kenapa suamiku sangat tampan" jawabku memujinya berdasarkan kenyataan. Dia terkekeh dengan pujianku.


Steven dan aku berdiri di depan begitu banyak tombol dan tuas pengontrol serta setir. Ini adalah ruang kontrol kemudi yacht.


"Kenapa kita naik yacht? Bermain dipinggiran pantai juga menyenangkan" tanyaku penasaran.


Dia sibuk menekan entah tombol apa saja serta menarik segala macam tuas di meja kontrol yang langsung menghadap ke depan melalui dinding kaca.


"Menikmati senja di tengah laut itu menyenangkan, nanti kau juga akan paham rasanya" balas pria yang berdiri di sampingku tapi tidak menoleh sama sekali.

__ADS_1


Mesin kapal yang sejak tadi sudah menyala sekarang mulai mendorong semakin jauh ke tengah laut. Steven bahkan sangat santai mengontrol setir tanpa goyah.


"Kau bisa membawa kapal yacht ini?" tanyaku lebih tepat seperti sebuah rasa kagum.


Dia tersenyum tipis masih memperhatikan ke arah laut di depan sana. Saat ini kami sedang menjelajahi Vatikan Garden, pantai indah bagaikan danau yang diapit oleh semak semak hijau yang asri.


"Tentu saja, ini terlalu mudah" gumamnya lalu menekan sebuah tombol berwarna hijau yang entah apa kegunaannya.


Aku terkesima dengan pria ini, apapun yang dia lakukan kelihatan tampan dan sexy. "Selain yacht apa lagi yang bisa kau bawa?"


"Helikopter dan tank militer juga bisa, jika aku mau aku juga akan belajar membawa kereta api" katanya.


Cara menjelaskannya terasa sombong, tapi wajar saja karena dia memang bisa melakukannya. Perkataannya bukan omong kosong belaka.


"Pasti butuh lama untuk mempelajarinya" gumamku pelan.


Dia menoleh sejenak, "tidak lama karena aku suka hal hal menantang itu membuatnya menjadi lebih mudah. Jika nanti anakku adalah seorang pangeran, dia harus bisa melakukan segalanya. Bahkan mengendarai yacht juga akan aku ajarkan. Tapi jika dia seorang putri maka aku akan mengajarkannya hidup seperti bangsawan"


Mendengar kalimat itu aku terkekeh, "kau pria terkaya di negara kita, apa kau juga punya satu yang seperti ini?"


"Tidak, hanya membuang buang uang saja karena tidak bisa dipakai kapanpun dibutuhkan. Tapi sepertinya aku harus punya satu sekarang" balasnya sekali lagi menyombongkan kemampuan.


"Tapi aku tidak berani, bagaimana kalau yachtnya terbalik karena aku?"


Suamiku menarikku berdiri di depan setir dan memelukku dari belakang. "Tenang saja aku akan menuntunmu" dia memegang tanganku yang menggenggam benda hitam berbentuk lingkaran itu.


Aku tersenyum senang karena bisa merasakan bagaimana membawa sebuah kapal mewah ke tengah laut. "Ini menyenangkan" kataku berusaha untuk menstabilkan arah kendali.


Yacht melaju terus ke tengah laut. Sebenarnya bukan aku yang mengendarai, aku hanya memegang setir saja karena dia yang menahan dan mengarahkan kendali.



Setelah berhasil sampai di tengah hamparan laut luas, kendali yacht dialihkan kepada nakoda yang pergi bersama kami tadi. Steven membawaku ke deck terdepan.


Terdapat kasur pantai yang sudah tersedia langsung menghadap ke depan. Kami berbaring santai memandangi mentari yang seolah sangat dekat dan terbelah oleh laut.


Cahaya jingganya sangat indah, menenangkan juga sedih. Steven membiarkanku menjadikan lengannya sebagai bantal sedangkan tangan satu lagi memegang gelas sampanye.

__ADS_1


Selama hamil dia sangat ketat padaku, sama sekali tidak boleh melakukan apapun yang bisa berakibat buruk bagi bayinya. Salah satunya adalah alkohol.


Diusia dewasa adalah hal wajar jika menikmati alkohol, tapi aku sekalipun belum pernah merasakan minuman yang katanya membuat tenggorokan panas tapi juga ketagihan dengan rasa itu.


"Kau sangat suka senja sampai pergi sejauh ini hanya untuk melihat sunset"


Dia meneguk setengah sampanyenya, "selain senja aku sangat menyukai pantai. Senja dan pantai itu misterius. Setiap memandanginya aku merasakan damai, tenang, tapi sekaligus gundah. Bagaimana ujungnya? Kenapa ia begitu tenang dan sekaligus menyedihkan? Aku merasakan bumi berbicara padaku. Seolah memberitahu alasan dan akibat dari kegundahan hidup. Hidup itu berat dan menakutkan, takdir selalu membawa hal menyedihkan untukku tapi setiap melihat senja aku merasa tenang sekaligus sedih. Begitu juga dengan pantai"


Kukecup pipinya, "dibandingkan antara senja dan aku, mana yang lebih indah?"


Steven mengalihkan pandangannya yang sejak tadi pada matahari sore kepadahku, "senja itu penuh pertanyaan sedangkan kau adalah jawaban. Jawaban atas penantian hidupku yang penuh teka teki"


Kami saling tersenyum, "suamiku sangat pintar berkata manis, semanis senyuamnnya"


Di hadapan senja yang begitu disukai olehnya, kami berciuman penuh perasaan dan cinta. Aku sangat mencintai dia dan menyukai setiap perlakuannya, rasa aman yang dia berikan menuntunku untuk selalu percaya.


Kami menyudahi itu setelah cukup dalam dan lama, kusandarkan kepalaku dibahunya. Dia kembali meneguk habis sampanye tadi.


"Aku ingin mencoba wine, sampanye dan jenis lainnya" gumamku pelan.


Dia terheran, "tidak boleh, aku tidak mau terjadi sesuatu pada anakku"


"Kau sangat menyayangi anakmu ini, ayah yang manis" pujiku semeakin mengeratkan tanganku di pinggangnya.


Steven mengelus rambutku, "aku tidak mau dia menjalani hidup sepertiku, dia harus tumbuh seperti pangeran yang penuh kehormatan dan ambisi"


"Bicara tentang bayi kita, aku sudah memikirkan nama yang bagus. Bagaimana denganmu?" tanyaku.


Ia mengecup rambutku, "aku juga sudah punya, tapi beritahu dulu nama yang kau pikirkan"


"Jika dia laki-laki aku memikirkan nama Andreas, kuat dan pemberani. Itu kuambil dari namamu saat meriset ulang smart mirror wall. Bila dia perempuan, aku suka nama Josephine yang artinya Tuhan memenuhi, menjadi berkat bagi orang lain"



Eitsss suami gua comeback nih..


Ganteng banget emang vibe sehun sumpah dah ..

__ADS_1


By the way author pengen nyempilin video tapi gak bisa, padahal bagus loh 😴


__ADS_2