
Elena -
Maaf ya tapi gak punya foto dia lagi hamidun hahaha
✨✨✨
Larut malam tubuhku menggeliat terbangun. Sayu-sayu perlahan mata terbuka. Tangan meraba bagian kosong rangjang tempatku berbaring.
Tidak ada Steven, aku duduk dan memperhatikan sekitar kamar kami tapi hanya ada aku seorang. Sudah dua hari ini Steven seperti terbebani akan banyak hal. Dia menjadi lebih sering diam, memikirkan banyak hal, dan seperti biasanya ketika terusik ia akan lupa mengurus dirinya sendiri. Jika bukan karena diingatkan dia tidak akan makan seharian demi menyelesaikan pekerjaannya.
Mataku masih sangat mengantuk tapi rasa penasaran membawaku bangun. Kulihat ada cahaya yang keluar dari sela-sela pitu ruang kerjanya.
Sepertinya dia ada di dalam. Aku memastikan dengan mengetuk pintu, takutnya jika asal masuk maka akan mengganggu dan membuatnya kesal.
Tokkk...tokk...tok...
"Steven, kau di dalam?"
Cklekkk...
Pintu terbuka sedikit, Steven berdiri di bagian pintu yang sudah terbuka sehingga aku tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana.
"Sedang apa?" tanyaku.
Dia tersenyum kecil, "ah tidak ada, hanya menyelesaikan pekerjaan kantor saja"
Aku berjinjit untuk melihat tapi tubuhnya yang tinggi membuat usahaku sia-sia. "Boleh aku masuk?"
Steven keluar dan segera menutup pintu itu rapat-rapat. "Sudah selesai jadi tidak perlu melihatnya lagi. Ayo kita balik tidur" dia membawaku kembali ke ranjang.
✨✨✨✨
- Steven -
Perlahan tanpa membangunkannya lagi, aku memindahkan tangannya yang memelukku. Elena sudah kembali pulas setelah kembali tertidur.
Aku beranjak dari atas ranjang dan melihat jam portable di meja menunjukkan pukul 03.09 pagi. Masih jam segini, aku masih bisa melanjutkan pekerjaanku.
Tanpa mengeluarkan suara berisik aku masuk ke dalam ruang kerja. Mirror wall sudah dalam camuflase mode. Aku duduk di kursi kerja dengan kaki menyilang.
"Mode on"
Seketika dinding yang semula terlihat biasa dan kosong berubah menjadi layar monitor.
"Selamat datang kembali tuan Andreas" sebut mirror itu untuk nicknameku yang akan menjadi nama putraku nantinya.
"Sudah selesai meningkatkan sistem? Bagaimana hasil yang aku minta tadi?"
Proses mengundo data rahasia terjadi dalam beberapa detik.
"Hasil ditemukan, saya akan menunjukkan hasil yang ditemukan"
Seketika layar menunjukkan gambar berwarna hitam kehijauan dengan banyak titik yang disebut kordinat lokasi satelit. Semakin dizoom semakin jelas dimana letaknya.
"Yongsandong 27E, Seoul Korea Selatan" mirror.
Kedua tangan aku tumpukan di atas meja dengan seluruh jari bertaut. Mataku memperhatikan lekat-lekat gambar bangunan pusat penelitian lama yang mirror tunjukkan.
"Tunjukkan hal mendukung sebagai bukti"
Proses pencarian kembali dilakukan. Dalam beberapa detik juga hasil ditemukan.
Aku tersenyum senang melihat semua bukti bukti yang diberikan.
"Perfect" kataku senang lalu menyandarkan bahu di kursi kerja. Dengan melakukan ini tiga burung berhasil ditembak dengan satu batu sekaligus.
__ADS_1
Masyarakat aman, pak tua Han itu, dan Jessica ada dalam genggamanku.
Kuraih HP yang tergeletak di meja dalam posisi terbalik. Aku mencari nomor si rubah.
Dia butuh lama untuk mengangkat panggilanku, jelas saja sekarang sudah hampir jam empat pagi.
'Haruskah menelepon jam segini? Apa kau tak tahu jam berapa ini?' celetuknya dengan suara bantal yang masih sangat jelas.
"Aku sudah menemukan mereka"
'Serius? Oh God! Besok kita bertemu dan menyusun strategi' jawabnya antusias.
"Oke"
Siang harinya sesuai janji aku menemui si rubah di tempat yang diminta. Kita bertemu di tepi sungai Han di tempat sunyi.
Aku memasuki mobilnya yang sudah menunggu dengan beberapa bodyguard yang berjaga di luar. Kita duduk di kursi belakang untuk berbincang.
"Mana bukti yang kau bilang?" tanyanya langsung.
Kusilangkan kaki ku dengan santai, "berikan janjimu dulu"
Kedua bola matanya berputar lalu ia menghela nafas kecil, "semakin kau seperti ini semakin aku curiga" katanya. Dia memberikan sebuah map berwarna hitam tipis.
Aku membuka isinya dan mendapati beberapa berkas yang sudah ditata rapi dengan jilidan di pinggirnya. Satu per satu aku membaca isinya, memang tepat sekali dia rubah.
"Bagus, kau memang rubah. Demi jabatan kau rela memanipulasi seluruh negeri ini"
Benar, isinya adalah bukti-bukti manipulatif yang dia ciptakan untuk menghilangkan prasangka akan diriku. Ia memanipulasi bahwa mirror itu tidak ada di Korea melainkan Tiongkok.
Sejujurnya ini tidak bisa menjadi benteng yang kokoh karena bos dan beberapa kelompok mafia tetap percaya aku yang menyimpan mirrornya. Tapi setidaknya pemerintah maupun BIN tidak akan ikut mengambil mirrornya. Dan ini akan memberiku waktu lebih untuk bersiap.
Dari dalam saku dalam jas aku mengambil sebuah hardisk dan memberikan pada si rubah bermarga Kim. "Semuanya ada di dalam sini"
"Hebat sekali, bagaimana caramu mendapatkannya?"
"Seperti tidak mengenalku saja" kataku datar.
Kami saling memandang dan aku yakin isi pikiran kami sama.
Setelah semuanya selesai aku pergi dari mobilnya. Saat kemari, aku datang sendirian karena ini sangat rahasia. Lucas tahu pertemuan ini tapi aku menyuruhnya tetap mengurus kantor selama aku pergi.
Sesampainya di kantor aku langsung menghempaskan tubuhku di sofa. Kepala menghadap ke langit-langit ruangan dengan mata tertutup.
"Bagaimana? Kapan kita menyerang?" Lucas yang sejak kedatanganku ke kantor mengikuti ke dalam ruangan.
"Semuanya lancar, kita akan lakukan sesuai perintahku" jawabku dengan nada malas.
"In the grace of God, it will be fun"
"Your noisy! Get out now! I wanna take a rest" aku menatap dia tajam karena mengganggu sekali.
"Okey honey, enjoy your pretty sleeping" dia melambai dan ingin pergi.
Dengan cepat aku menggerakkan kaki ingin menendangnya.
"Wlee tidak kena wlee" dia menjulurkan lidahnya mengejek karena kakiku tidak berhasil menendangnya.
Aku hanya menggeleng malas melihat tingkah anehnya. Aku membaringkan tubuh di sofa sedangkan dia membiarkanku beristirahat. Sungguh lelah kerja bagai kuda selama tiha hari ini.
Satu hal mengusikku, sepertinya aku melewatkan sesuatu. Sesuatu yang tidak tahu pasti apa, tapi entah kenapa mengganjal di pikiran.
✨✨✨✨
/ Author pov.../
Tuan Han berjalan dengan diiringi oleh banyak pria berkulit putih khas Amerika. Mereka semua menuntunnya melewati koridor kecil.
Saat ini mereka berada di pasar lama yang sudah terbengkalai tapi para gengster atau preman pasar yang biasanya pakai untuk menjadi markas.
Anak buahnya tidak diizinkan masuk, hanya dia seorang. Tuan Han sejujurnya takut tapi ia harus memberanikan diri.
__ADS_1
Mereka memasuki sebuah ruko tua yang menjadi markas utama. Ia berdiri di depan sebuah kursi yang membelakanginya.
"Maafkan saya tuan, saya sudah berusaha tapi tidak ada bayi yang cocok untuk penelitian ini" tuan Han menunduk tidak berani memandang lurus.
Kursi itu berputar dan tampaklah seorang pria yang masih cukup muda dibandingkan pak Han sedang duduk dan menatap dia intens. Dimana tangannya memutar-mutar pistol yang ada
di tangannya.
"Berapa tahun lagi aku harus menunggu? Setahun? Dua tahun? Seputuh tahun? Seratus tahun?" tanyanya tajam dan dingin.
Tuan Han membungkuk meminta maaf pada pria dengan tangan penuh tatto. "Saya minta maaf tuan Yu, saya sudah berusaha keras tapi tidak ada bayi yang mampu menerima uji coba ini"
Pria bermarga Yu itu beranjak mendekati tuan Han yang gemetar ketakutan. Ia menyeringai dengan tatapan mautnya. Pistol yang sejak tadi berputar-putar berhenti dan tepat mengarah ke dahi sebelah kiri tuan Han.
"Kau pikir aku perduli? Aku tidak suka orang yang berdalih" dia menarik tuas pistolnya sehingga bila jarinya menarik pelatuk maka timah panas akan bersarang di otak tuan Han.
Tuan Han menutup matanya karena ketakutan, tubuhnya gemetar karena akhir ajal bisa saja ada di depan matanya.
Tiba-tiba pria bermarga Yu itu menyeringai kecil, ia menjauhkan pistolnya dari dahi tuan Han. "Aku mau lebih dari ini" katanya memaksudkan sesuatu.
Kepala tuan Han memandang ke wajah pria itu, alisnya berkerut heran "maksud tuan?"
Pria itu duduk di mejanya, ia meletakkan pistol di sampingnya dan menatap intens tuan Han "Black Sun mau sesuatu yang lebih"
Benar, tuan Han berurusan dengan kelompok gengster paling menakutkan di dunia. Ia menjerumuskan dirinya dalam lingkaran iblis. Dan pria bermarga Yu itu adalah tangan kanan bos kelompok tersebut.
Semua yang dilakukan tuan Han, pekerjaan kotornya ditopang oleh Black Sun sehingga ia selalu bersih dan tidak pernah terjerat hukum negara.
Salah satu hal besar antara tuan Han dan Black Sun adalah fantasia. Black Sun adalah pemilik resmi fantasia.
"Apa itu tuan Christian Yu?"
"Smart mirror wall, aku mau itu" ujarnya intens.
Mereka saling tatap sejenak. Pria bermarga Han dan pria bernama Christian Yu itu saling bertukar isi pemikiran hanya dengan tatapan mata.
Setelah pembicaraan dan laporan selesai antara mereka, tuan Han meninggalkan ruko itu diantar oleh pria yang mengawalnya.
Ia kembali ke mobilnya, para pengawalnya menunggu disana dengan sikap was-was dan takut. Karena mereka berada di camp gengster paling mengerikan di dunia.
Tapi saat dia akan pergi seseorang tidak sengaja melihatnya. Orang itu memergoki dia keluar dari pasar terbengkalai tersebut.
Orang itu adalah Steven yang tidak sengaja lewat dari jalanan sunyi itu setelah bekerja. Ia mengambil jalan yang sunyi dan menyeramkan tersebut karena itu jalan alternatif tercepat sampai ke kediaman Lee.
Steven menepikan mobilnya di bahu jalan yang tidak jauh dari mobil tuan Han. Ia memperhatikan gerak-gerik mereka. Ia merasa ada sedikit hal tidak beres disini.
"Bodoh sekali, bermain dengan preman pasar" ujarnya pada kesunyian meratapi tuan Han yang ia pikir bodoh.
Mobil tuan Han dan para pengawalnya sudah pergi. Steven baru saja akan pergi tapi ia melihat sesuatu yang sangat membuatnya terkejut.
Matanya melebar melihat siapa yang keluar dari pasar itu.
"Christian Yu?" ucapnya sangat terkejut.
Tangan kanan bos Black Sun bernama Christian Yu itu berada dalam sebuah mobil Ferarri. Ia duduk di belakang dengan jendela yang terbuka sehingga Steven yakin itu dia.
"Fucking lord! For the grace of god, the monster is coming home" umpatnya dengan suasana hati yang tidak bisa dia jelaskan. Pikiran dan hatinya langsung tidak stabil.
Deep down he talks about everyone, wife, son, mirror wall and don't forget one thing, Selena, her own sister.
Aduhhh gimana ya aku lagi bingung nihhh 😴😴
Ceritanya kan udah mau ke ******* nih tapi aku bingung mau buat endingnya gimana. Kalian mau yang gimana? Happy Ending? Sad Ending?
BTW aku mau kasih tahu, ini aku juga bingung tadi tulis ceritanya gimana. Sulit cari insprirasi gitu, kayaknya juga agak ngaur ini. Entah datang dari mana, aku bisa terpikirkan sama my sugar dear Christan Yu 😭
Aku pilih dia karena emang vibe Christian Yu itu cocok banget jadi gengster. Aku tetap pakai nama aslinya karena aku suka banget sama Christian.
cast:
Christian Yu (28 years old)
__ADS_1