MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Berharap hari baru akan dimulai


__ADS_3


Elena -



Dua pasang mata yang saling menatap satu sama lain. Bersatu dalam cinta yang dirindukan. Sepasang kekasih yang akhirnya bersatu dalam ikatan cinta tragis yang tidak tahu akan bermuara kemana.


Hati yang berharap akan akhir bahagia tanpa terbayang-bayang akan masa lalu. Harapan untuk hidup dalam sukacita bersama.


"Mulai hari ini aku akan memanggilmu Elena Lim" Steven bergumam.


Akhirnya Tuhan mengembalikan jati diriku yang sudah lama menghilang. Aku merindukan seseorang memanggilku dengan namaku yang sebenarnya.


"Iyaa Steven Lee"


Lamaran yang begitu hangat dan mendebarkan akhirnya terjadi. Kami kembali ke hotel dengan saling bergenggaman tangan.


Malam ini tidak segelap malam-malam yang lalu. Suana begitu hangat dan positif.


"Kemana kita akan pergi sekarang ?" tanyaku.


Pria yang sudah menjadi calon pendamping hidupku mambawa aku ke restauran hotel. Pelayan membukakan pintu restauran untuk kami.


Aku terpesona dengan kejutan yang ia berikan khusus untukku. Restauran yang ia sulap bagaikan istana bagi ribuan lilin.


Hanya terdapat satu meja berbentuk lingkaran di tengah-tengah ruangan dengan lilin-lilin beragam warna dan ukuran yang menerangi seisi ruangan.


Aku duduk di kursi yang Steven sediakan, ia lalu duduk depan ku. Seorang pelayan wanita datang dengan membawa sebuah bucket bunga yang sangat indah dan hadiah yang terbungkus rapi.


Pintu ruangan kembali terbuka, cake di atas meja dorong datang dari luar. Kak Edward, bukan, maksudku kak Briant dan calon adik iparku Selena datang dengan cake itu.


"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamata ulang tahun Elena..Selamat Ulang Tahun" kak Briant menyanyikan lagu ulang tahun.


Dengan penuh haru dan rasa syukur air mata kebahagiaan menetes begitu saja. Steven memberikan bucket bunga yang dibawa oleh pelayan tadi.


"Selamat ulang tahun sayang" diberikannya sebuah bucket bunga tulip putih yang begitu cantik dan elegan.


Kudekatkan bunga tersebut ke dekat indra penciuman, wangi dan sangat cantik. Ketika lebih memperhatikan bunga tersebut ada sebuah kotak berwarna navy terselip di dalamnya.


Aku membuka kotak tersebut dan mendapati sebuah liontin yang sangat cantik. "Liontin ?" tanyaku pada Steven.


Ia berjalan ke sisiku, diambilnya liontin ini lalu memasangkannya di leherku. "Sangat mempesona seperti orang yang memakai" katanya.


"Terima kasih" ujarku dengan senyuman lebar.


"Oh iya ini satu lagi hampir aku lupakan" ia memberikan bingkisan kado tadi kepadaku.


"Apa ini Stev ? Kenapa banyak sekali ?" tanyaku.

__ADS_1


Ia memberiku kode untuk membuka saja. Dan ternyata ia memberikan sebuah kamera.


Kamera yang sangat bagus, aku sangat menyukainya. Aku langsunng memeluk Steven dengan erat. Ia memberiku begitu banyak kebahagiaan. Mereka bahkan tahu hari ini adalah ulang tahunku.


Kak Briant berjalan ke sisiku, ia segera memelukku. "Selamat ulang tahun adikku" katanya.


"Terima kasih kak" jawabku dengan sukacita juga.


Kakaku ini membelai rambutku dan menatap kedua mataku dengan hangat. Ia bahkan memberikan bunga juga untukku.


"Ini ambillah, maafkan kakak karena tidak sempat membeli hadiah" katanya setelah memberi sebuah bucket bunga mawar putih.


"Tidak kak, aku sangat bahagia bahkan walaupun kau tidak memberiku apapun" jawabku kembali memeluknya.


Selena yang sejak tadi hanya diam dan ikut berbahagia kemudian datang menghamipirku. "Selamat ulang tahun kakak ipar. Maafkan aku karena tidak sempat membeli hadiah apapun."


Aku memeluknya bagaikan adikku sendiri, usia kami mungkin sama tapi tetap saja ia aku anggap seperti adikku sendiri.


"Tidak apa Selena, terima kasih karena sudah mengucapkan selamat untukku. Itu saja sudah cukup bagiku" ujarku.


"Karena kalian sudah sah menjadi sepasang calon suami istri aku akan memberikan hadiah yang aku buat sendiri. Sebagai hadiahku, aku akan membuat gaun pernikahan terbaik khusus aku rancang sendiri untuk kakak iparku di hari pernikahan kalian nanti" ia bercerita dengan sangat manis.


"Gaun pernikahan ?" tanyaku.


"Iya kak Elena, Ena sudah lama merancang ini sendiri khusus untuk calon kakak iparku. Dan ternyata itu akan menjadi milikmu" kata gadis manis ini.


Steven mengangguk untuk memberi persetujuannya. Dia menceritakan beberapa hari lalu bahwa adiknya itu adalah mahasiswa tahun akhir fashion designer di Amerika. Maka aku percaya pasti hasilnya nanti akan amat mewah.


Aku melipat kedua tanganku dengan kedua mata tertutup di hadapan cake yang dibawa oleh kak Briant tadi. Ya Tuhan terima kasih untuk hari ini dan segalanya yang aku terima. Kiranya ini semua menjadi awal babak baru kehidupan kami yang selama ini pelik. Semoga yang tersisa hanya kebahagiaan bukan tangisan lagi.


Kubuka kedua mataku lalu aku menghembus lilin yang tertancap diatas cake.


"Yeayyyy selamat ulang tahun kembali kakak ipar" ujar Selena.


Kami bersulang dengan gelas masing-masing. Mereka bertiga dengan gelas wine dan aku dengan gelas jus mengingat kondisi kehamilanku.


Aku sangat bersyukur untuk hari ini. Akhirnya hari seperti ini datang dalam hidupku. Terima kasih Tuhan karena telah mempertemukan aku dan pria ini.


"Kak bolehkan aku bertanya ?"


Kakak kandungku itu menyetujui. "Kakak saat kecil takut dengan air yang dalam bagaimana kakak bisa menjadi perenang ?" tanyaku. Pertanyaan ini sudah sangat lama aku pendam karena tidak enak untuk menanyakannya.


"Kakak dulu takut air ?" spontan Selena menyaut bertanya. Ia langsung menutup mulutnya karena sadar saat ini mereka sedang bertengkar.


Steven terlihat sangat jelas menahan tawanya, ia menutup mulutnya dengan tangannya.


Kakak menatap Steven sinis "Saat kecil aku memang takut akan kedalaman, tapi aku menantang diriku sendiri. Saat hari dimana aku terpisah dengan mama, aku terjatuh ke dalam air sungai Han. Untunglah seseorang menemukanku di tepi sungai masih bernyawa. Butuh waktu sebulan lebih bagiku untuk mengingat siapa aku. Namun hingga kini aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi sebelum aku terjatuh" cerita sedih masa lalu yang menimpah kakak.


"Lalu kenapa kau tidak kembali ke rumah orang tua kalian ?" tanya Steven.

__ADS_1


Ia meneguk wine di gelasnya hingga habis, "Aku kembali ke rumah namun saat itu orang-orang beramai-ramai berkumpul di depan rumah. Saat aku bertanya, mereka mengatakan bahwa papa bunuh diri di rumah karena stres setelah meninggalnya mama sebulan yang lalu atau saat kejadian itu. Mereka mengatakan Elena menghilang sejak kematian mama" aku meneteskan air mata mendengar kisah pilu itu.


"Mama meninggal karena overdosis obat tidur karena papa ternyata menikah dengan Jessica dan kakak yang menghilang. Papa kemudian menjadi gila akibat rasa bersalah pada mama yang meninggal. Ia memilih bunuh diri dan membiarkanku sendirian dengan wanita itu" sambung Elena.


Suasana menjadi sangat dingin dan pilu. Kami larut akan kisah sedih akan masa lalu yang sampai sekarang masih menghantui kami.


"Sudah sudah kak jangan terus larut akan masa lalu. Hari ini tidak boleh sama dengan hari-hari yang lalu. Mari kita bersenang-senang dan melanjutkan hidup saja. Mari kita berpesta malam ini" Selena menghentikan kesedihan kami.


Benar yang ia utarakan. Bagaimanapun kami harus melangkah maju terus karena kehidupan akan terus berjalan.


Kami melanjutkan pesta kami dengan bercerita kisah lucu dan tertawa bersama. Selena menceritakan kejadian-kejadian lucu yang pernah ia saksikan.


Malam sudah terlalu larut, Steven membawaku kembali ke kamar kami. Dan mereka berdua kembali ke kamar masing-masing.


/ Kamar Selena /


Gadis manis dan imut berdiri di atas balkon kamar memandangi laut malam yang hitam. Dengan segelas wine di tangannya ia merasakan angin malam yang dingin membawa keluh hati.


tokk..tokkk..tokkk


"Iya ?" Selena.


"Boleh aku masuk ?" Briant dari balik pintu.


Ia membukakan pintu kamarnya, "ada apa kak larut malam begini ?" tanya gadis itu.


Briant masuk ke kamar Selena usai gadis itu mengijinkannya. Briant memandangi Selena lekat-lekat dari mata ke mata.


"Maafkan aku Selena sudah membuat hatimu terluka. Tapi yang kau lihat itu hanyalah kesalahpahaman" Briant.


Selena mendekati Briant, "aku akan memaafkannya asalkan dengan satu syarat" ungkapnya.


"Apa itu ? Katakan saja"


"Tolong beritahu aku, sekali saja kak. Sekali saja jelaskan mengapa kau tidak pernah menerima perasaanku ?" Selena.


Briant merebut gelas wine yang ada di tangan gadis itu, ia berjalan menuju balkon. Ia meneguk seleuruh isi gelas sampai habis.


"Masa laluku akan membuatmu tersiksa karena itu aku menghindarimu. Dan ada satu hal lagi yang membuatku takut" katanya.


"Aku tidak perduli dengan apa yang akan terjadi kak, aku siap menanggung resiko apapun. Dan satu lagi apa ?"



Hola My Dear Readers 💚💚


Author minta maaf ya karena lama updatenya🙏🙏


Semoga kalian suka ya ceritanya

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote novel ini 💚💚


__ADS_2