MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Will Not


__ADS_3

Mengapa semua hal yang tersentuh menjadi berantakan? Tidak ada satupun yang berjalan baik sesuai dengan rencana. Semakin hari mood terus bergejolak tak menentu.


"Fucking ****!"


Mengumpat seakan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari karena tidak ada yang berjalan baik. Seolah dunia memusuhiku dengan tidak pernah menurut akan rencana dan ideku.


Berkas-berkas bertumpukan di meja sekarang sudah bertebaran di lantai. Tidak ada satupun yang beres.


"Apakah otakmu diciptakan hanya sekedar pajangan?! Apa kau membuat berkas ini sambil tertidur memimpikan banyak hal sampai tidak lihat kesalahan itu? Jika kau membuat kesepakatannya begini, maka mereka akan mengintervensi perusahaan ini!"


Kalimat panjang yang terlontarkan dari mulutku dalam volume keras pada sang ketua divisi perencanaan strategis.


Ia menunduk takut, tidak berani sekalipun mengangkat kepalanya "maafkan saya pak, saya kurang teliti dalam menyusun kontraknya" suaranya bahkan bergetar.


Aku menghela nafas secara kasar, rahang mengeras mengontrol emosi "kurang teliti pantatmu! Kau sama sekali tidak teliti, bodoh! Aku beri waktu dua jam, jika tidak selesai dengan sempurna maka bersiaplah rumah duka akan menjadi persinggahanmu saat itu juga, bastard!"


"B-baik pak, sa-saya laksanakan sekarang" menundukkan kepala kemudian pamit pergi. Dari penampilannya saja tampak ketakutan.


Bertepatan ketua divisi itu keluar, masuklah Lucas dari pintu yang sama. Aku memijit dahi pusing akibat semua hal yang berantakan.


Kuhempaskan tubuh ke kursi kerja, menutup mata mengontrol emosi berlebih yang menggebu.


"Stev, kau mengamuk lagi?"


"Keluarlah, jangan ganggu aku"


Terdengar suara hentakan sepatu pada lantai yang semakin lama semakin keras. Lucas mendekat dan menyandarkan bokongnya di meja kerjaku.


"Sebenarnya ada apa denganmu? Sebelum ke Amerika, moodmu buruk. Bahkan sudah seminggu sejak kembali dari Amerika, emosimu terus meluap-luap? Dia sudah menjadi orang ke 50 yang kau maki-maki"


Sekali lagi aku menghela nafas. Tanganku meraih kemasan rokok yang ada di dekat monitor, mengeluarkan satu batang, membakar ujungnya kemudian menghisapnya. Mencari ketenangan lewat nikotin dalam sebatang rokok.


Lucas melipat kedua tangannya di depan dada, menyipitkan mata layaknya sedang meneliti perilaku lawan bicaranya.


"Aku mendengar Christian ada di kota ini"


Nama itu sudah tidak lagi asing dalam telingaku. Hanya mendengar nama itu otakku bisa mengadaptasi bahaya apa yang mungkin terjadi di masa depan.


Tidak ada jawaban yang bisa ia terima. Fakta pria itu ada di Korea sudah tersebar di seluruh jejaring dunia gelap.


"Kenapa dia disini? Tidak mungkin ka-"


Sebuah gumpalan asap keluar mengisi udara di sekitar kami. "Kau tidak akan meninggalkanku jika aku memberitahu kenyataan kan?" suaraku memberat disertai tatapan yang Lucas amati secara lekat pada wajahku.


"Will not" jawabnya singkat dengan penekanan di akhir.


"The stuff is with me, I'm sorry Cas"


Secara jelas dia kelihatan marah dan kecewa. Lucas cukup lama diam. Rahangnya mengeras dan tatapannya semakin tajam.


"I'm fucking sorry, Lucas Park"


Lucas meregangkan ikatan dasi yang terlilit rapi pada kerah kemejanya, mengumpulkan udara bebas. Ia mendongak dan tersenyum jengah.


"I thought we were brothers, Stev. Ternyata kau hanya menganggapku sebagai anjing pemburumu. Kecurigaan tertuju padamu, tidak bisa kupungkiri aku juga mencurigaimu. But-" ia menghela nafas secara kasar lalu melanjutkan perkataannya "Tapi aku berusaha menepis semua kecurigaan itu. Ternyata desas-desus itu benar. All these years we fought together, everything about me you know, even my personal secret I share with you. Tapi ternyata kau sama saja, tidak pernah membuka dirimu walau seberapa keras aku mencoba memahami sikapmu. Bertahun-tahun kita bersama, bertahun-tahun juga kau merahasiakan itu dariku. Don't worry bastard, I won't take it from you, not at all. But at least tell me so I know at least if I have a reason to stay with you. You bastard, I hate you, aku kecewa padamu Steven Lee"


Setiap kata tersalin sempurna dalam otakku. Lucas begitu marah, aku tahu ini akan terjadi. Tapi kalimat terakhirnya sangat memupuk rasa bersalah tak terhingga banyaknya.


Dengan emosinya Lucas keluar dari ruangan, membanting pintu begitu keras.


Aku tidak bisa mengejarnya, bukan karena tidak mau tapi karena keadaan mengisyaratkan untuk tidak melakukan apapun dan membiarkannya pergi saja.


"****"


Bragkkkkhhh...


Semua benda di atas meja seketika melayang bertebaran di lantai. Bahkan macbook sekalipun sudah tersungkar dalam keadaan layar retak.


Aku berdiri dengan kedua tangan memegang erat pinggiran meja, nafasku menggebu tidak teratur. Kali ini aku kehilangan satu kepercayaan dari orang terdekatku sejak remaja.


Dua puluh tahun mengenalnya, berbagi cerita bersama, dan melakukan banyak hal konyol bersama, semuanya hancur hanya dengan satu kenyataan yang terbongkar.


- Elena -


__ADS_1


"Baju-baju ini sangat menggemaskan, pasti keponakanmu akan terlihat menggemaskan memakai ini" berbinar melihat pakaian berukuran super kecil itu.


Selena terkekeh senang, ia mengeluarkan seluruh isi paperbag. Di dalam masih ada kotak-kotak kemasan mewah sebagai kemasan dari pakaian bayi yang dibawanya.


"Ini, lihatlah kakak ipar. Bukankah ini tampak tampan dan menggemaskan disaat bersamaan?" menunjukan kemeja bayi.


"Iya, bagus sekali" responku tidak bisa berbohong. Selena memang sangat jelas seorang yang berkecimpung dalam dunia fashion, tidak bisa meragukan seleranya lagi.


Aku mengelus perutku yang membuncit, sebentar lagi si kecil akan terlahir ke dunia ini.


"Selena" panggilku pelan.


Ia menoleh sekilas lalu mulai membereskan semua pakaian bayi yang dia bawa sebagai oleh-oleh untuk anakku dari Amerika.


"Iya kakak ipar?"


"Kenapa kau tidak menurut saja pada perkataan Steven? Dia pasti akan sangat marah melihatmu di sini" jelasku dengan suara pelan, tidak enak hati menyinggung perasaannya.


Selena mengerucutkan bibirnya, ia memutar bola matanya malas. "Ayolah kakak ipar, dia memang akan marah, tapi itu hanya sementara. Tidak mungkin dia menghusirku dari rumah ini" menggeleng malas lalu melanjutkan kembali membereskan pakaian bayi yang berserakan di atas ranjang.


Dengan lembut aku memegang pergelangan tangannya, sehingga ia diam hanya menatap pada baju-baju menggemaskan itu.


"Aku merasa ada sesuatu yang tidak baik, Selena. Kuyakin Steven punya alasan yang kuat memaksamu menikah dan tinggal di Paris. Firasatku buruk tentang ini"


Ia masih setia menatap pada baju bayi itu, lalu secara perlahan mengalihkan pandangan mata indahnya padaku.


Kedua pasang mata kami saling beradu tatap, menyalurkan makna dari mata ke hati satu sama lain.


Jelas sekali Selena juga takut. Aku tidak mengerti harus bagaimana, tapi aku adalah orang yang peka akan situasi.


Kelihatan jelas Selena cemas, bimbang, takut, sedih, dan marah. Tapi ia menutupi semua itu dengan senyuman manisnya yang terkesan paksaan.


Sekarang dia beralih menggenggam tanganku lembut, "tenang saja kakak ipar, semuanya akan baik-baik saja. Aku tahu kakakku punya alasan, tapi aku butuh alasan itu agar bisa pergi ke Paris"


Aku menggigit bibir bawahku, mencemaskan pertengkaran yang akan terjadi nanti saat Steven melihat Selena ada disini.


Kuanggukkan kepalaku mengerti dengan perasaannya. Kami menyingkirkan kegelisaan hati dengan sibuk merapikan semua barang yang dia bawa. Walaupun mustahil kegelisahan itu akan hilang.


✨✨✨✨


"Selena, kau pergilah mandi. Sebentar lagi Steven akan pulang, biar kita makan malam bersama" melepaskan celemek dan meletakkannya di atas meja pantry.


Selena mengangguk setuju, "okey kakak ipar cantik, aku segera kembali" melepaskan celemeknya juga lalu pergi ke kamarnya sendiri.


Untunglah semua terselesaikan tepat waktu. Kuyakin sebentar lagi Steven sudah sampai. Jadi saat dia datang, kami bisa langsung makan malam dengan tenang.


Aku tidak mau menimbulkan kemarahannya lagi. Cukup kemarin saja dia memarahiku karena telat. Sama sekali aku tidak memasukkan dalam hati, karena paham dia juga pasti lelah dengan pekerjaannya.


"Bi, siapkan meja makan ya. Aku mau mandi dulu" pintaku pada bibi Kim dan dituruti olehnya.


Aku juga butuh membersihkan diriku dan mempersiapkan keperluan suamiku.


Saat keluar dari kamar mandi, ternyata Steven baru saja kembali. Dia melepaskan jas dan jam tangannya.


"Kau sudah pulang, sayang?" sapaku mendekatinya.


"Hmm"


"Aku siapkan baju tidurmu, mandilah" ujarku lembut dibarengi senyuman lembut.


Tanpa mengubris sosokku, Steven langsung masuk ke kamar mandi begitu saja.


Wajah yang dulu begitu hangat padaku, akhir-akhir ini terlihat datar dan dingin. Khususnya hari ini, begitu muram tanpa semangat.


Selagi orangnya mandi, aku membereskan pakaian kotornya. Menyiapkan pakaian hangat dan seluruh keperluan lainnya.


Saat memakai skincare pada wajahku, Steven sudah selesai mandi. Muram pada wajah tampannya agak berkurang, itu membuatku sedikit lega.


"Sudah selesai? Ayo makan malam" ajakku manis agar mencairkan sedikit moodnya yang tidak baik.


Beriringan menuju ruang makan, hingga langkahnya terhenti di ambang pintu.


"Kenapa kau disini?" tanya Steven rendah.


Selena memberikan senyuman kerinduannya, duduk manis di sembarang kursi makan.

__ADS_1


"Hai bodoh, aku merindukanmu" sapanya bercanda.


Akan tetapi orang yang disapa malah membalas berbeda. Steven dengan cepat berjalan ke adiknya langsung mencengkram erat pergelangan tangan mungil itu.


"Kenapa kau menjadi pembangkang? Sudah kukatakan pergilah ke Paris, atau setidaknya tetap di Amerika"


"Kenapa aku harus disana? Ini rumahku juga kan? Aku bisa membuka label ku sendiri di sini" jawab Selena lantang tidak terima.


"Stev, tenangkan dirimu. Mungkin Sel-"


"Tutup mulutmu! Aku tidak mengizinkanmu berbicara sekarang!" bentaknya berhasil membungkam mulutku dan mataku memanas ingin menangis.


Selena tampak bingung dengan sikap Steven. Sikapnya sudah berlangsung selama hampir tiga minggu ini. Dan hanya kami yang tahu.


Dengan keras Selena menepis tangan yang mencengram pergelengannya.


"Kak, apa yang kau lakukan? Kenapa membentak kakak ipar?"


Walaupun takut, aku mencoba untuk berjalan mendekat hingga hanya ada meja makan yang memisahkan kami.


"T-tidak Selena, d-dia tidak membentak. Steven hanya bersuara keras saja" dalihku agar suasana mereda.


Dia menyibakkan rambutnya kebelangan secara kasar. Sedangkan Steven memijit dahinya.


"Tidak perlu membela dia, jangan-jangan ini bukan yang pertama kalinya dia membentak kakak ipar?"


Aku mendehem cemas karena faktanya dugaan itu benar. Kepalaku menggeleng, "tidak, ini yang pertama. Sudah jangan bertengkar lagi"


Steven berkacak pinggang, menghela nafas secara kasar. "Besok pagi kau kembali ke Amerika, jangan membangkang!"


"TIDAK! JANGAN MEMAKSAKU PERGI! BESOK AKU AKAN TETAP DISINI"


"KALAU BEGITU KAU PERGI SEKARANG, KEMASI BARANG-BARANGMU DAN KEMBALILAH KE AMERIKA"


Keduanya saling menyenggak dengan volume yang keras. Aku benar-benar takut kala suara-suara itu terus memenuhi ruangan ini.


Aku hendak melerai Steven dan Selena. Selena yang hendak menahan tangan kakaknya sebelum pergi,


"Kak ak-"


Saat itu juga gelas kaca berisi air minum terbanting ke lantai. Kami bersamaan mundur, kemarahan ini tidak lagi bisa kami kendalikan.


Steven menatap kami sangat tajam, ia bahkan kesulitan mengontrol nafasnya karena emosi yang menyeruak.


Aghhh..


Karena terlalu terkejut, perutku terasa begitu sakit nan sesak. sepertinya aku mengalami syok karena kejutan tadi.


"Kakak ipar" panggil Selena yang khawatir karena aku kesakitan sampai berjalan mundur dan terduduk di kursi sembarangan.


Selena berlari menghampiriku, ia menggenggam tanganku "kak apa yang terjadi?"


"Elena" panggil Steven ikut mendekat.


Keduanya menggenggam tanganku satu persatu. Kucoba untuk mengatur nafas, aku tidak mau terjadi hal buruk pada bayiku hanya karena pertengkaran tadi.


Steven berlutut, wajahnya tidak lagi seperti tadi. Ia begitu khawatir akan kondisiku, "sayang, apa yang terjadi? Kau sekaitan? Maafkan aku membuatmu takut. Aku panggil dokter ya"


Aku menahan tangannya yang akan mengeluarkan HP dari saku. Kugelengkan kecil kepalaku, "sudah tidak perlu. Aku hanya terkejut saja"


"Semua karena mu!" Selena menyalahkan kakaknya yang tidak bisa mengontrol emosi.


"Maafkan aku Elena. Tidak seharusnya aku membuatmu takut"


"Tidak apa-apa Stev, aku hanya terkejut saja"


Biar jangan tegang banget, aku spill foto Steven.


Unreal banget gak sehhh, kayak bukan manusia weii


Masih ada yang meragukan ketampanannya?


😉😉😍❤❤❤


__ADS_1


__ADS_2