MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Never bae, I promise hm...


__ADS_3

Elena kembali menatapku, "Kill! I said to you kill her!! STEVEN KILL HER PLEASE! Hikss.. Hikss.. BUNUH DIA STEV BUNUH! DIA MEMBUNUH IBUKU, MENGURUNGKU, MEMISAHKANKU DENGAN KAKAKKU. AYO BUNUH DIA! BUNUH"


Aku tidak tahu akan jadi seperti ini! Ini sungguh di luar dugaan!



Benar aku ingin Elena bangkit, melawan rasa sakitnya sendiri tapi bukan begini yang aku mau. Aku ingin dia melawan dengan cara bijaksana dan kepercayaan diri, bukan dengan emosi yang menguasai hingga ia berada di luar kesadarannya.


"Elena, kakak mohon tenangkan dirimu" ujar Briant panik tapi berusaha tenang agar bisa menahan istriku ini.


Kutatap tajam Jessica, "menjauh darinya, pergi dari sini!" perintahku.


Ia menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan. Aku lebih fokus untuk menahan Elena hingga tidak sadar ada smirk tipis sekilas di wajah wanita itu.


"BUNUH! BUNUH DIA!!! AKU BILANG BUNUH DIA!"


Elena terus meronta bagaikan orang yang sedang kerasukan. Dengan tidak enak hati aku terpaksa memukul punggungnya di titik tertentu agar ia tidak sadarkan diri.


Tubuhnya yang lemah terjatuh dalam pelukanku. Briant tampak sangat cemas saat aku melakukan itu tapi tidak ada pilihan lain.


"Saat aku kembali aku tidak mau melihatmu di rumahku lagi! Segera pergi sebelum aku mengeluarkan jantungmu dan menyayatnya menjadi potongan jagal" kataku disertai tatapan mencekam.


Aku mengangkat tubuh Elena dan membawanya ke kamar kami. Briant masih tetap di sana entah membicarakan apa yang jelas kebenciannya akan semakin mendalam.


Setelah membaringkannya di atas ranjang, aku menarik selimut untuk menutup tubuhnya hingga dada. Kugenggam tangan indahnya lalu mengecup punggung tangan itu.


Maafkan aku Elena, maafkan aku sayang. Aku terpaksa melakukan ini padamu. Aku berjanji tidak akan memintamu lagi untuk melawan ketakutan itu.


Dengan lembut kuletakkan tangannya di samping tubuhnya sendiri. Aku beranjak dari sana dan kembali ke ruang utama namun yang aku dapati hanya Briant yang sedang duduk membelakangi ku.


Ia menatap tajam pada lantai tapi pikirannya masih tertuju pada kejadian beberapa menit yang lalu.


/ Flashback on /


Setelah kepergian Steven membawa Elena ke kamar mereka, Briant langsung menghardik wanita yang begitu ia benci. Dengan cepat dan penuh akan amarah, pria itu mendekat dan langsung mencekik leher Jessica.


Briant dan Elena memiliki pola tingkah laku yang mirip ketika sesuatu yang menakutkan menghampiri. Ketika melihat akan ketakutan ada di depan mata, mereka akan marah dan sulit mengontrol emosi.


"Apa apaan ini, lepaskan tanganmu Briant" kata Jessica dengan memukul-mukul lengan yang mencengkram lehernya agar terlepas. Namun tetap saja gagal karena Briant adalah pria atletik nasional.


Tatapan mata Briant sangat mengerikan, tidak seperti biasanya yang hangat dan menenangkan. Ia menyeringai layaknya seorang psikopat yang akan menghabisi korbannya.


"Kau bilang apa barusan? Lepaskan? Kau pikir sedang berhadapan dengan siapa sekarang?" tanyanya. Jessica berjalan mundur selaras dengan langkah maju Briant.


Selama ini hanya satu orang yang berhasil membuat Jessica takut hanya karena tatapan mata, siapa lagi kalau bukan Steven. Tapi hari ini bertambah seorang lagi, Briant berhasil membuatnya takut.


"Lepaskan tanganmu atau aku akan memberitahu pada seluruh dunia bagaimana atitude dari seorang atlet nasional yang sangat dicintai negeri ini" ia masih berusaha untuk melawan.


Semua bodyguard hanya diam membiarkan pemandangan di hadapan mereka. Jessica seperti dipermainkan oleh keadaan, ia membayar mahal untuk mendapat perlindungan namun ternyata bodyguardnya tetap setia pada tuan mereka dan membiarkan Jessica dalam bahaya.


Briant terus maju dan semakin keras mencekik Jessica hingga wajahnya memerah karena kesulitan bernafas. "Persetan dengan semua itu, semakin kau mencoba menghancurkan kami semakin kau menarik dirimu sendiri pada kehancuran"


Jessica yang terdorong sampai tersandung oleh sofa dan terduduk disana. Ia bersandar di sofa dengan tangan yang terus mencekik lehernya. "Kau salah Jessica, bukan Steven pelakunya tapi aku. Anak kecil yang dulu kau buang ke sungai... Ahhh aku tidak perlu menjelaskan karena kuyakin kau tahu apa yang terjadi pada anak itu. Namun ternyata alam masih ingin anak itu hidup, dan sekarang disinilah anak laki-laki itu berada. Di hadapanmu dan mencengkram keras lehermu" lanjut Briant beserta dengan seringai-seringainya.


Bukannya Jessica tidak mengenal siapa pria ini hanya saja ia tidak tahu bahwa akan seperti ini jadinya bahkan setelah kehidupan mereka sudah berjalan masing-masing.


"Kkuh.. Kumohon llepp.. Lepaskan aku" kata Jessica terputus karena kesulitan bernafas.


Dia tetap tidak melepaskan tangannya, "saat kau membunuh ibuku, membuangku ke sungai dan memukuli adikku, pernahkah sekali saja.. Sekali saja Jessica, kau berpikir untuk mengasihani kami?" katanya.


Jessica hampir kehabisan nafas tapi tekadnya sangat kuat "bbu..bukann..bukan akkuuu yyang mmem..melakukannya"


Entah apa yang ditangkap oleh kedua mata Briant, tapi ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya melepaskan tangan dari leher wanita itu.


Ia membuang nafas kasar, pikirannya kalut dan ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. "Pergi dari sini sekarang sebelum aku berubah pikiran dan benar benar membunuhmu" katanya dingin menahan emosi.


Sesuai perintah, Jessica mengambil tasnya lalu langsung berlari keluar diikuti bodyguard yang mengawalnya.


Ada yang salah dengan pikiran Briant. Ia mengusap wajahnya kasar lalu dengan kasar menghempas tubuh duduk di sofa.


/ Flashback off /


Aku duduk di single sofa, menatap menyelidik pada pria yang pikirannya masih sangat keruh. Bagaimana Briant menatap lantai itu, tampak kemarahannya sangat diluar batas.


Jelas bahwa ada dua orang yang ia sangat sayangi yang mampu membuat Briant berbeda, Selena dan Elena. Bahkan nama mereka pun mirip.


"Bi berikan dia air dingin" ujarku cukup keras agar bibi Kim mendengarnya. Kepala pelayan itu menyaut dan langsung datang membawa segelas air mineral dingin.


Briant menatapku, "kenapa kau melakukan itu pada adikku? Kenapa kau berbuat kasar padanya?"


Tatapannya yang sangat berbeda kubalas dengan tatapan datarku. Aku berpikir sejenak, Briant dan Elena memiliki kesamaan dalam beberapa hal termasuk sulit mengontrol emosi.


"Terpaksa atau Elena akan diluar kendali"

__ADS_1


Ia menyeringai kecil tampak tidak terima. "Sudahlah aku tidak mau melampiaskan amarahku padamu. Lalu bagaimana sekarang?"


"Aku tidak bisa jika kalian melangkah dengan emosi"


Briant semakin marah, ia berjalan ke arahku lalu menarik kerah kemeja bersama dengan tatapan ganasnya, "sekarang kau akan melarikan diri Stev? Pengecut"


Segera kutepis tangannya itu, "Jika emosi yang menguasai maka yang kalian dapatkan hanya kegagalan. Sekarang semua di tanganmu dan Elena"


Dia membuang nafas kasar kemudian kembali duduk "wanita itu terus membuat adikku takut. Kau lihat tadikan? Seorang gadis polos yang begitu manis malah berteriak ingin membunuh seperti tadi"


Aku juga sama terkejutnya dengan dia bahkan lebih. Tapi emosi Elena bukan kuasaku. "Apa yang terjadi antara kau dan Jessica tadi?"


"Aku hampir membunuhnya"


"Lalu apa yang ia katakan?"


Briant mengusap wajahnya gusar, "ia menyangkal perbuatannya pada kami"


"Lalu kau percaya?"


Ia menggeleng dan sekali lagi mengusap wajah gusarnya, "itu karena kau pernah mengatakan pelakunya bisa saja bukan Jessica"


Aku membuka jas yang masih terbalut pada tubuhku, "pelakunya orang tua Jessica"


"What are you fucking talking about?"


Jas itu kuletakan di meja, "sudah kuperiksa, orang tuanya membunuh ibumu dengan cara menyamarkan pembunuhan menjadi bunuh diri untuk memisahkan kedua orang tuamu. Mereka mengincarmu dan Elena juga tapi hanya kau yang berhasil mereka singkirkan. Mereka tidak tahu bahwa Elena selamat. Yang membuatku heran mengapa Jessica memilih menyelamatkan Elena dari pada membiarkan orang tuanya membunuh Elena"


Kami bertatapan dengan makna yang sulit dijelaskan. Entah pikiran kami sama tapi situasi membungkam kami berdua. Sejak awal aku duduk sofa aku sudah tahu ada hal yang mengganjal pada pikirannya.


"Aku ingin melihat adikku" katanya merubah pokok pembahasan.


"No, biarkan dia tidur" aku menghentikan langkahnya.


Ia menyerah, "alright aku pulang sekarang, kabari jika terjadi sesuatu padanya"


Briant meninggalkan kediamanku, setidaknya emosinya sudah tidak menggebu seperti saat aku menemukannya sendirian di ruang utama.


Aku menaiki tangga dan pergi ke kamarku. Disana Elena masih belum sadarkan diri. Aku duduk di sisi ranjang lebih tepatnya di samping tubuhnya.


Selama sejam aku masih setia disini, hingga akhirnya Elena tersadar. Menyadari itu, aku langsung memegang tangannya. Namun ia melepaskan tanganku begitu saja. Ia membuang pandangannya ke arah lain.


"Bagaimana perasaanmu? Apa kau merasa tidak enak badan?" tanyaku.


Kutarik selimut itu agar aku bisa melihat wajah indahnya yang sedang kesal. "Sudah aku bilang pergi maka pergi sana" katanya sedikit membentak.


"Maaf"


Ia tidak menoleh sama sekali malah mengubah posisi tubuhnya menyamping. Kuletakkan tanganku di depan dadanya untuk mengunci dia.


"Sekali lagi maafkan aku"


- Elena -


Satu kalimat itu berhasil membuat mataku basah siap meneteskan air mata. Aku beralih duduk tapi tetap tidak memandang wajah suamiku ini.


Mataku menatapi selimut putih lembut yang membalut setengah tubuhku. Air mataku terjatuh begitu saja hingga terserap oleh selimut.


"Kau menangis?"


Tangisan yang sejak awal sudah aku tahan berakhir terisak. Aku menangis keras karena tidak sanggup lagi.


"Ssttt... Baby don't cry please ssttt..." katanya lembut nan halus.


Secepatnya kupeluk dia, menyembunyikan wajahku di dadanya. Aku menangis dalam dekapannya, menjadikan kemejanya basah oleh air mataku.


Hikss... Hiksss.. Hikss..


Steven memelukku begigu erat dan hangat, ia membelai rambutku lembut "ssttt... Everything is gonna be okay, Right honey? Please don't make me feel so bad, aku merasa bersalah akan semua yang menimpamu"


Tiba-tiba dia memukul dadaku. Aku membiarkannya memukuliku, melampiaskan kemarahannya. Tidak sakit sama sekali.


"Harusnya kau membunuhnya hikss... Kenapa kau membiarkan dia terus Steven..? Kenapa kau sangat melindunginya hiks...? Aku membencimu"


Dua kata terakhir membuatku merutuki diriku sendiri. Tapi aku bisa apa, kasus ini terlalu ambigu, jika aku menurutinya maka yang ada Elena akan terseret sebagai tersangka juga.


Aku menangkap tangan itu, menahan gerakannya yang ingin terus memukuliku. Tangisannya sangat nyaring dan sangat membuatku teramat bersalah.


Kutatap matanya, "aku sudah berjanji akan menghukumnya bukan? Aku mohon tunggulah sedikit lagi baby. Aku pasti menepati janjiku"


"Kau pembohong"


Kepalaku menggeleng, "iya aku pembohong tapi aku tidak pernah ingkar janji"

__ADS_1


Ia terdiam, menatapiku intens dengan mata sembabnya. Ia tampak kesal sekali padaku.


"Lalu kenapa kau malah memukulku? Aku rela dipukul dan ditendang oleh Jessica tapi aku tidak tahan jika kau yang melakukannya" ucapnya lirih.


Kehela nafas pendek dengan rasa bersalah, tangannya yang masih kugenggam langsung kulepaskan. "Kalau begitu pukul aku, pukul aku sampai rasa sakit hatimu terbalaskan. Pukul aku sesukamu"


Dia mengerucutkan bibirnya monyong, sebuah pukulan mendarat di tengah dadaku. Tapi pukulan itu sangat pelan.


Elena melingkarkan kedua tangan itu di leherku dan menyembunyikan wajahnya di leherku. "Jangan begini Stev, jangan begini..aku tidak suka" katanya lirih.


Kubalas pelukan itu, membelai rambutnya lembut "kau harus membalasku, sakiti aku agar kau puas. Aku pria brengsek yang menyakiti istrinya sendiri"


Kurasakan gelengan kepalanya, ia semakin erat memeluk leherku "Stev bukan begini, jangan seperti ini. Aku tidak suka"


"Maafkan aku Elena"


"I love you Steven, I love you so much"


"I love you more hm"


Elena semakin mengeratkan pelukannya, seolah takut kehilangan sosok diriku. "Jangan pernah berbuat kasar lagi kumohon, aku takut" katanya dengan posisi ini membuat aku bisa merasakan gerakan kecil dalam pengucapannya.


Aku mengangguk setuju, "never bae, i promise hm"


Cukup lama sampai ia benar-benar berhenti menangis, Elena melepaskan tubuhku dan duduk tegap. Ibu jariku mengusap lembut pipinya dari air mata yang tersisa.


Kuberikan senyuman hangat dan manis padanya, "you know i hate tears, do you hm?"


"Hmmm" ia mengangguk pelan.


Elena bergeser hingga ke tepi ranjang, "aku akan siapkan pakaianmu, mandilah sana"


"Tidak perlu sayang, kau istirahat saja"


Drrrttt...


Kuraih HP ku dari dalam saku jas di meja nakas. Saat melihat namanya aku heran namun aku sudah menduga ini akan terjadi walaupun tidak secepat ini.


"Aku angkat telfon dulu, kau mandi duluan sayang" kataku lalu langsung keluar dari kamar. Ia melihatku heran tapi aku tidak ingin Elena khawatir.


Sekarang di sinilah aku berdiri, balkon depan sendirian.


"Halo Vincenzo Cassano"


'Stev aku mau kejujuranmu'


Sejenak aku diam sesaat lalu menjawab "apa ada hal yang perlu aku ungkapkan?"


'Jangan berpura-pura tidak tahu, dunia sedang gencar akan mirror itu. Para mafia sedang memburumu, aku tahu kau bisa menghadapinya tapi akan ada dua yang tidak bisa. Bos sudah tahu dan curiga padamu, sebentar lagi dia akan menghubingimu. Dia mungkin tidak percaya dengan perkataanmu, jangan rusak kepercayaannya. Dia hanya ingin kau jujur, bukan merebut mirror itu darimu. Dan yang kedua adalah Black Sun. Kau tahu dan paham betul mereka. Aku sungguh mengkhawatirkanmu. Tidak ada orang yang cukup berani dan kuat untuk menyimpan mirror itu sendiri selaim dirimu. Aku tahu benda itu ada padamu. Jujur saja padaku dan Sisilia maka kami berjanji akan menolongmu'


Ya, aku tidak boleh egois. Sekarang aku sangat terdesak. Jika menyerahkan mirror itu pada Kanada maka itu hanya keputusan bodoh karena aku akan membunuh jutaan nyawa di Britania Raya dan mereka tetap akan membunuhku dan keluargaku.


Sedangkan bila pada CIA atau Amerika maka mirror itu akan disita dan kami akan diasingkan. Apalagi bila jatuh pada Black Sun maka dunia akan benar-benar hancur. Mereka adalah orang-orang bukan, tapi predator.


Kemana pun dan apapun pilihanku akan tetap berakhir pertumpahan darah. Karena memang semua kecurigaan mereka memang benar padaku.


Aku tidak menyesal karena menerima mirror itu dulu, sehingga jutaan nyawa masih selamat dan hidup nyaman sampai sekarang.


Pertumpahan darah sepertinya tidak bisa dihindari lagi. Bersembunyi kemana pun akan tetap tertangkap maka aku memilih melawan.


"Benda itu ada padaku"


'Sudah kuduga'


"Vincen aku ingin meminta sesuatu"


'My pleasure sir'


"Pertempuran pasti akan terjadi, I beg you to save my wife and son. Karena apapun yang terjadi maka akulah yang akan maju"


'You crazy? Don't be fool! Save your fucking self first bastard'


"No.. kau yang tidak mengerti cinta tidak akan paham! Aku yang akan maju"


Halo Readers..


Author mau nanyak nih, apa ceritanya gak menarik ya? Kenapa semua readers berhenti baca cerita ini 😭


Apa Author hentiin aja?


Sedih banget aku


__ADS_1


__ADS_2