MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Kept The Stuff for Years


__ADS_3

- Elena -


Malam ini terasa begitu haru dan penuh sukacita. Kita berempat ada di sebuah restaurant New York terkenal. Untuk makan di restaurant tersebut perlu mereservasi dua tiga hari sebelumnya. Namun dengan kuasaku itu bisa dilaksanakan hanya dengan beberapa menit saja.


Koki restaurant menyajikan steak spesial mereka. Semua pecinta steak akan setuju jika mereka memiliki kesempatan untuk mencoba, bahwa daging sapi Kobe adalah potongan steak paling luar biasa di Old Homestead Steakhouse di New York.


Selena berdiri dari kursinya, memandangi seluruh pengunjung restaurant.


"Good evening I convey to all visitors to this restaurant. 'Cause today is a happiest and historic day for me, I as the sister of the famous young entrepreneur Steven Lee, are happy to give you a free dinner here. My brotha will pay your bills all, order and enjoy whatever you want. Thank you and I love you all"


Selena dengan senyuman bangganya menyibakkan rambutnya kebelakang. Kak Briant menepuk bahu gadis itu, "you crazy?"


"Shut up, dari pada aku menyebutkan namamu yang membayarnya, kau mau?"


Kak Briant menepuk dahinya pasrah. Ia tidak bisa berkata-kata lagi akan tingkah diluar nalar gadis disampingnya. Adik dan kakak sama saja, gila.


Pria yang menjadi korban kenakalan gadis itu hanya bisa menggeleng pasrah. Aku dan kak Briant begitu terkejut dengan pengumuman barusan. Jangankan membayar mereka semua, kami yakin untuk membayar milik kami saja harus mengeluarkan dollar yang tidak sedikit.


Steven berdiri memandangi seluruh pengunjung restaurant yang tampak senang dan antusias. Mereka pasti bukan kalangan orang biasa. Namun bersenang-senang sudah membudaya, free party lifes.


"Since my little sister just got a bachelor's degree and makes me proud, then I can only go along with this silliness. I will pay all of you. Full your stomach to the brim, enjoy and have fun guys"


Semua orang langsung bertepuk tangan bersorak riuh. Kegilaan ini benar-benar diluar batas pikiranku. Honestly, he is fucking crazy.


Ia duduk dengan pandangan pasrah pada gadis yang cengar-cengir di hadapannya.


"Kau gila? Membayar semuanya pasti mengeluarkan uang yang sangat banyak" celotehku mencubit lengan Steven.


"Jangan cerewet, honey. Mengeluarkan uang sedikit tidak akan membuat kartuku limit" terserahlah Stev, hidupmu memang tidak lepas dari kata royal.



✨✨✨✨


- Steven -


Laptop yang menyala terpangku di paha. Layar yang menampilkan file perjanjian penjualan senjata di Washington. Mataku fokus memperhatikan setiap detailnya sebelum memberikan keputusan akhir.


Alunan musik dari band Amerika memenuhi seisi apartemen. Flash by Cigaretes After *** terdengar lembut dalam gendang telinga.


Keputusanku bulat, aku memberikan persetujuanku akan perjanjian tersebut. Sangat menguntungkan dan mudah dalam akses penyaluran barang dari perusahaanku. Tidak akan tertangkap dalam penyeludupan dari perusahaan senjataku di Urk ke Washington DC.


Setelah selesai, aku segera mematikan laptop tersebut lalu diletakkan di meja. Aku beranjak meninggalkan kamar menuju dapur.


Sudah waktunya makan siang. Kemungkinan kedua wanita itu sudah selesai mempersiapkan makan siang.


Aku memutuskan kami tinggal di apartemen Selena selama tiga hari ini. Seharusnya esok hari setelah graduation day kami kembali ke Korea. Tapi mempertimbangkan kodisi kehamilan Elena yang akan menginjak usia sembilan bulan tidak memperbolehkannya terlalu kelelahan.


Lagipula aku ada urusan penting yang tidak bisa dihindari lagi. Bagaimanapun aku harus menghadapinya.


Apartemen Selena sangat luas dan mewah. Terdapat empat kamar dan tiga kamar mandi. Dengan satu ruang santai untuk menonton, dapur sekaligus ruang makan, dan ruangan tamu.


"Sudah selesai ladies?"


"Ah ya sebentar, tinggal menghidangkan saja" jawab Elena seraya memindahkan makanan ke wadah.


Aku duduk di kursi makan sambil memainkan HP. Briant datang masih dengan wajah bantalnya. Semalam mereka masih punya trip berdua sehingga pulang subuh.


"Kau sudah siap hibernasi?"


"Ya begitulah huaaaa" jawabnya diakhiri menguap.


Selena dan Elena datang membawa hidangan yang cukup banyak. Kami berempat duduk saling berhadapan. Menikmati makan siang yang tentunya lezat.


Mataku terus memandangi Selena yang tertawa bahagia bersama Elena di sampingnya. Briant ikut bercanda dengan mereka, sedangkan aku hanya diam memperhatikan.


"Selena" panggilku membuka suara.


"Apa?" alisnya terangkat. Suasana menjadi diam usai mereka berhenti tertawa.

__ADS_1


"Menikahlah dan tinggal di Paris dengan Briant" pukasku tiba-tiba. Ketiganya bingung saling menatap bergantian.


"Apa maksudmu? Kenapa kami harus tinggal di Paris?" sanggah pria disampingku.


"Iya kak, untuk apa kami disana? Korea adalah rumah kami" lanjut Selena tidak terima.


Aku menghela nafas berat, "tidak bisakah kalian setuju dan pergi saja?"


Selena meletakkan sendoknya cukup keras ke piringnya, "kakak menghusir kami?"


Atensiku beralih ke wajah Elena. Ia memandangiku lembut disertai tangannya yang maju untuk menggenggam hangat tanganku yang berada di meja.


"Ada apa, Stev? Katakan dengan tenang" suara lembutnya menetralisir amarahku yang tadinya meninggi kala Selena menentangku dengan membanting sendoknya ke piring.


Briant mengubah posisi duduknya agak menghadap ke arahku, "kenapa Stev? Apa yang terjadi? Kenapa tiba tiba menyuruh kami pergi"


Aku membuang nafas berat, kugenggam tangan wanitaku seraya mengelusnya dengan ibu jari. "Yang jelas dengarkan saja kata-kataku. Aku mau kalian bahagia dan selamat. Kalian bisa membuka butik atau jika perlu label fashionmu sendiri, itu saja"


Selena mengambil air minumnya dan meneguk habis seluruh isi gelas. "Kak, katakan ada apa? Aku tidak mau melakukannya jika tanpa alasan yang jelas" menahan kekesalan.


"Itu kar...."


Dengan cepat kuraaih HP yang tergeletak dalam posisi terbalik di samping tanganku. Penglihatanku terfokus pada nomor yang menghubungiku ini.


"Aku terima panggilan ini dulu" pergi meninggalkan mereka tanpa mendengar sanggahan.


Mr. A


Aku masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat dari dalam. Pergi ke arah dinding kamar apartemen yang terbuat dari kaca sehingga bisa melihat langsung dari ketinggian bagaimana indahnya kota New York.


"Halo boss"


'..........'


"I'm so sorry, boss"


'........"


Panggilan terputus.


Dengan cepat aku mengambil dompet dan kunci mobil di atas nakas. Aku segera keluar dari kamar dan pergi.


"Aku ada urusan penting, mungkin akan lama. Jika kalian ingin bepergian, pengawal akan menjaga kalian. Jangan menungguku, Elena. I gotta go" mengecup dahinya dan mengelus pucuk kepalanya berlalu pergi.


Mereka semua heran dengan sikapku, wajar saja. Namun ini sangat penting, tidak bisa dihindarkan.


Aku turun ke parkiran basement, mengambil mobil Axton Martin yang sudah disiapkan untukku. Mobil melaju meninggalkan bangunan apartemen tersebut.


Dengan kecepatan tinggi tapi belum melewati batas lalu lintas, aku melajukan mobil ke sebuah tempat rahasia. Dalam dua puluh menit, aku sampai di sebuah bar.


Bukan bar biasa, namun gembongnya hal-hal kriminal. Judi kasino, miras, party, black market, perdagangan manusia dan kriminalisasi lainnya. Karena itu adalah salah satu markas Sisilia.


Namun tidak bisa dibobol karena tidak ada yang tahu isinya. Sebab dari luar ini hanya bar biasa.


Sisilia tidak hanya memiliki satu markas saja, tetapi banyak menyebar di Negeri Paman Sam ini. Bahkan di lima puluh negara berbeda juga terdapat markas Sisilia.


Kakiku terus melangkah melewati keramaian orang-orang yang bersenang-senang sekaligus bertransaksi di dalam bar. Setelah melewati ruangan Kasino, dua orang pria penuh tato menunggu kehadiranku.


"Follow us, Mr. Lee"


Kujawab dengan anggukan.


Kami pergi terus, masuk ke dalam lift. Salah satu dari pria bertato menekan tombol lantai sembilan.


Pintu tertutup dan lift turun. Tombol lantai sembilan itu hanya manipulatif, itu adalah tombol untuk menggerakan lift turun ke ruang bawah tanah.


Semenit kemudian pintu lift terbuka kembali saat lift berhenti. Aku melangkahkan kaki melewati koridor yang terbuat dari dinding baja.


Cukup panjang hingga akhirnya sampai di penghujung koridor. Kita berdiri di depan pintu baja yang tertutup rapat.

__ADS_1


Pria yang sama yang menekan tombol lift tadi melekatkan telapak tangannya di akses scan sidik jari pintu. Seketika pintu terbuka lebar.


Kami memasuki ruangan yang sekarang tidak lagi terbuat dari baja, melainkan marbel yang cantik.


Akhirnya perjalanan berakhir. Aku berdiri di hadapan seorang pria paruh baya gagah yang duduk santai menyilangkan kaki. Dua ****** tanpa busana duduk di kedua sisinya.


Gerakan mata pria itu mengisyaratkan keduanya pergi bersama dengan dua pria yang ikut denganku tadi. Saat melewatiku, keduanya mengelus pipiku untuk menggoda.


*****! You two damn it.


Pria itu mengambil gelas wiskinya, ia mengaduk-aduk gelas itu. Pandangannya menatap wajahku datar.


"Explain now!"


Aku beranjak duduk di sofa dekatnya. Tanganku sibuk memasukkan es lalu menuang wiski ke gelas kosong yang tersedia. Gerakan tanganku mengaduk-aduk agar rasa pahit wiski dan dinginnya es bercampur rata.


Sebelum memulai penjelasan, aku meminum sedikit wiski hanya sekedar mencicip saja.


"You already know boss, the stuff is with me. I kept it for years."


"Why keep it a secret? You think I will snatch yours?"


Kuhela nafas berat, "if I could, I would tell you the first time it was mine. But he forced me to keep it a secret. He forced me to promise to always protect and keep it a secret from the world."


"You are currently on the verge of war. The world is after you. Whenever they can kill you"


"I've been living in crime for years. Anyway I have to protect what's mine"


Bos merubah posisi duduknya usai meletakkan gelas wiski di meja. Kedua tangan ia tumpukan di paha dengan telapak tangan saling mengepal.


Ia menatapku tidak lagi serius. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya. Pria paruh baya yang mendidikku bertahun-tahun dalam dunia kriminal berubah menjadi sendu.


"Bagiku kau sudah seperti anakku sendiri. Aku membesarkanmu dengan didikan yang kejam. Membawamu ke dunia kejahatan tanpa ampun. Tapi kau tidak pernah mengeluh sama sekali, bahkan ketika aku menggoreskan pisau di tubuhmu. Kau berharga bagiku Steven, you ar my son"


Mendengar kalimat panjangnya yang tidak pernah sekalipun masuk ke telingaku sebelumnya, aku ingin menangis. Bahkan ayah tiriku sendiri tidak pernah mengatakan aku berharga baginya.


"You study Korean?" heranku karena bos berbicara dengan bahasa Korea walaupun pengucapannya masih belum fasih.


"Sebentar lagi cucuku akan lahir. Aku harus mempelajarinya agar bisa berkomunikasi dengan cucuku"


Aku terkekeh dengan mata agak memanas. Tidak, jangan menangis Steven.


Aku mengaku gagal.


Air mata itu jatuh. Pria menyeramkan ini berhasil membuatku menangis.


"You cry, my son?"


Segera kuhapus air mata itu. Aku menjadi salah tingkah karena pertanyaan itu.


Tubuhku terkejut saat bos memelukku. Ia menepuk bahuku pelan "I command you to live. Live happily with your wife and children. Live happily, bring my son-in-law and grandson in front of me. I hope you stay alive"


Tentu saja aku membalas pelukan itu. Pelukan dari seorang ayah pada putranya. "Sorry for all and thanks for everything. You are my father, my dad"


Cukup lama kami berpelukan. Aku tidak menyangka ada momen dramatis diantara kami berdua. Selama ini semuanya hanya hal-hal kejam menegangkan. Tapi saat ini semuanya terasa dramatis.


Aku melepaskan pelukan tersebut. Kuambil gelas wiskiku lalu meminumnya sampai habis.


"Jika nanti aku gagal melakukan perintahmu, aku harap papa mau melindungi keluargaku. Didik putraku menjadi pria tangguh tapi jangan terlalu keras"


"Cucuku seorang laki laki? Wow daebak!"



Doi aku ini bosss


Gak ngotak sekali gantengnya itu, pengen kuculik


BTW maaf ya readers ku karena dua minggu gak update.

__ADS_1


Jadi sebagai gantinya aku double update


__ADS_2