MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Prince Is Born


__ADS_3

- Author pov -


Sepasang mata yang sejak tadi terus memandang lurus pada sudut lantai beralih menatap pada sumber suara derapan langkah kaki. Ia berdiri saat itu juga melihat para pria dengan sepatu pantofel itu.


"Stev" panggil Leo.


Steven tampak sangat gugup, tidak seperti biasanya selalu tenang dan santai. "Bagaimana?" tanyanya bermaksud pada keadaan di dalam ruang operasi.


"Dokter masih melakukan persiapan, operasi belum dimulai. Selena di dalam menemani istrimu" jelasnya.


Dia mengelus-elus dagunya, semakin gugup dan cemas. Hal seperti ini di luar pengetahuannya. Steven berjalan mondar mandir di depan pintu ruang operasi, bahkan Lucas dan anak buahnya pusing melihat bos mereka tidak bisa tenang.


Ya mau bagaimana lagi, Steven bukan tipe orang paham hal begini. Ini pertama untuknya dan dia sangat menyayangi baik istri maupun anaknya.


Ceklek..


Dokter dan Selena keluar bersamaan, Steven dengan cekatan langsung menghampiri. "Ada apa dok? Persalinan belum di mulai?"


"Kak tenanglah dulu, jangan panik begini" kata Selena karena sang kakak seheboh itu.


Sang dokter mengangguk setuju, "nyonya Lee masih sangat muda untuk persalinan biasa, nyonya butuh anda di sampingnya"


Steven melihat ke kanan dimana ada Leo dan di kiri ada Lucas. Keduanya sama-sama mengangguk dan menepuk bahunya.


Sesuai dengan interuksi dokter, Steven masuk ke dalam ruang operasi lengkap dengan pakaian dan semua perlekapan.


Ia berdiri di samping istrinya yang terbaring. Semua fasilitas sudah sedia. Untuk pertama kalinya Steven merasa ngeri melihat pisau.


"Steven" panggil Elena dengan wajah pucatnya.


Steven langsung menggenggam tangan Elena yang dingin. Sebuah kecupan mendarat di punggung tangan itu dan dilanjut dengan kecupan di dahi Elena.


"Kau bisa, sayang. Aku di sini untukmu" kata Steven lembut.


Elena mengangguk saja, saat ini ia merasakan perutnya sangat sakit. Rasa takut dan cemas saat ini menguasainya.


Steven terus menggenggam tangan Elena tapi matanya melihat semua keperluan persalinan. Biasanya Steven menggunakan benda tajam itu tanpa peduli rasa sakit yang korbannya rasakan. Lalu saat ini, dahinya sampai berkerut karena takut membayangkan pisau bedah itu mengiris perut istrinya.


'Ah bagaimana kalau dokter salah potong? Bagaimana kalau mereka mengirisnya terlalu dalam dan mengenai anakku? Bagaimana kalau operasinya gagal? Kalau pendarahan bagaimana?' batin Steven bertanya-tanya.


Steven menatap tajam sang dokter. Saat ini mereka hanya bisa memadang dari mata ke mata tanpa melihat wajah karena tertutup oleh masker medis.


"Operasi ini harus berjalan dengan sempurna, jika ada kesalahan kecil saja hidupmu berakhir saat itu juga" ancam Steven.


Sang dokter terkejut melihat respon dari Steven. Ya tapi mau bagaimana, ini Steven Lee dan saat ini ia harus menggunakan tangannya untuk membantu kelahiran sang penerus keluarga Lee.


✨✨✨✨


"AAAAAA" teriakan itu sampai terdengar ke luar ruangan.


"Uwekk..uweekkk..."


Elena menghembuskan nafas sangat lega, keringat yang membasahi seluruh tubuh dan rasanya tulangnya seperti remuk semua.


Sedangkan Steven, ia malah tidak bisa mengedipkan mata akan apa yang terjadi barusan. Untuk pertama kalinya dia melihat Elena sesakit itu dan pertama kalinya ia mendengar tangisan darah dagingnya sendiri.


Keduanya saling memandangi dengan penuh arti. Elena menutup matanya begitu lemah, merasakan sentuhan lembut tangan Steven di pipinya dan genggaman tangan mereka yang belum terlepas.


Senyuman kebahagiaan tiada tara terulum di bibir Steven. Untuk kedua kalinya dia bisa tersenyum setulus itu, pertama saat ia resmi dengan Elena dan kedua adalah hari ini.


Steven mendekatkan wajahnya pada Elena dan memeluk wanita lemah itu, "Terima kasih sayang, kau sudah berjuang" bisiknya.


Elena mengangguk dan membalas pelukan Steven.


"Tuan bayi kalian terlahir sehat dan sangat tampan, saya ucapkan selamat" kata sang dokter menunjukkan bayi yang baru saja lahir itu ke hadapan pasangan suami istri itu.


Dokter memberikan bayi yang sudah dibersihkan dan terbalut baby blanket pada Elena. Air mata Elena menetes haru menerima bayi mereka.


Dia menatap pada Steven yang tak kala haru. Keduanya tersenyum lega, tapi Steven menyembunyikan air mata kebahagiaannya.


"Ini putraku?" tanya Steven masih tidak percaya.



Sang dokter ikut bahagia dan mengangguk. Semua yang andil dalam persalinan ini ikut bahagia atas kelahiran seorang bayi laki-laki yang sehat dan sangat tampan tentunya.


"Putra kalian sangat tampan, dia mirip dengan ayahnya" ujar sang dokter.


Steven membungkuk di depan sang bayi agar ia bisa melihat putra kecilnya lebih dekat dan jelas. "Welcome my prince" ujarnya lembut.


"Lihat Stev, dia sangat kecil" kata Elena melihat bagaimana bayi mereka yang sudah berhenti menangis sejak digendong oleh ibunya.


"Kau mau menggendongnya?" tanya Elena.


"Apa boleh?" tanya Steven ragu pada sang dokter dan diangguki oleh dokter.


Secara perlahan Steven mengambil alih putranya. Tubuh itu ternyata bisa gugup untuk pertama kalinya, matanya tidak henti-hentinya melihat bayi itu tidak menangis lagi. Mata sang bayi belum terbuka sempurna tapi Steven begitu mencintai putra kecilnya yang lemah.

__ADS_1


"Hai my lil boy, I'm your dad. Thanks for being born as my son" lalu kecupan lembut mendarat di dahi sang bayi.


Seperti tahu apa yang terjadi, bayi itu menggeliat kecil nyaman dengan perlakuan Steven. Elena hanya bisa bersyukur dan terus bersyukur dalam hatinya.


Ceklek..


Pintu perlahan terbuka dan muncullah tiga orang sekaligus, Lucas, Selena dan disusul oleh Leo.


Selena melihat Steven yang tidak henti-hentinya tersenyum dan menatapi sang bayi kecil. "Kak" panggil Selena seraya menepuk bahu sang kakak.


"Lihatlah dia sangat kecil" lapor Steven.


"Woah tampan sekali" puji Selena pada ponakannya.


Lucas ikut datang dan melihat bayi itu begitu polos, dia juga mengakui gen Steven memang tidak main-main.


"Kalian sudah merencanakan nama yang bagus?" tanya Lucas masih senyum-senyum melihat bayi itu.


"Andreas Grey Lee" jawab Elena lemah.


Selena langsung memeluk kakak iparnya, "terima kasih sudah memberikan kebahagiaan baru di keluarga ini kak"


"Nama yang bagus" ujar Lucas.


Sedangkan di dekat pintu keluar, Leo hanya bisa melihat itu tanpa berani mendekat. Ia turut bahagia karena kelahiran seorang penerus di keluarga ini.


Tapi dia sadar diri tidak pantas ikut merayakannyan. Ia terlalu berdosa untuk melihat bayi yang tidak berdosa itu.


Elena dan Selena menyadari Leo yang malu untuk mendekat hanya bisa menatap tajam pada Leo. Mereka juga manusia, mereka pasti membenci pembunuh itu.


✨✨✨✨


- Elena -


"Padahal aku bisa jalan, kenapa harus kursi roda?" gerutuku pada pria yang mendorong kursiku.


"Aku tidak mau kau kewalahan, sudah diamlah" jawab Steven simple.


Dia membawa kami ke kamar melalui lift. Setelah seminggu di rawat di rumah sakit, akhirnya Steven memperbolehkanku pulang. Padahal dokter sudah mengizinkannya sejak empat hari yang lalu.


Sesampainya di kamar aku membaringkan Andreas yang masih tertidur di tempat tidur ayunannya. Perlahan mengayun agar tidak membuat bayiku pusing.


Steven melingkarkan tangannya di pinggangku, kami sama-sama memperhatikan Andreas begitu mungil dan lelap.


"Dia masih tidur, aku lapar Stev. Ayo makan" ajakku.


Lalu kami turun ke ruang makan. Tentu saja, Steven sangat posesif dia menggendongku turun ke bawa.


✨✨✨✨


- Author pov -


Jessica langsung menoleh saat itu juga. Ia tidak tahu sama sekali tentang kabar ini.


"Kapan?"


Christian meletakkan rokoknya dalam asbak, "minggu lalu" jawabnya santai.


Tuan Han mengusap tengkuk lehernya, ia tahu arah pembicaraan ini kemana.


"Kalian yakin tentang ini? Dia Steven Lee, seluruh negeri ini mencintainya" saut tuan Han.


Kekehan kesal muncul pada Christian, ia teringat dengan perkataan gadis itu beberapa waktu dulu.


"Bawakan aku Briant Lim"


Baik Jessica maupun tuan Han memandangi tidak mengerti. Mereka tidak tahu apapun hubungan Christian dengan Steven apalagi Briant.


✨✨✨✨


- Elena -


Pintu kamar mandi terbuka, aku langsung keluar dengan tangan sibuk mengeringkan rambut. Namun aku terpekik terkejut melihat siapa yang ada di kasur saat ini.


"Stev? Kenapa kau di sini? Bukannya tadi Selena yang menjaga Andreas?"


Dia sama sekali tidak mempedulikan ucapanku, asik tertawa dengan putranya. Sehingga aku harus menghampiri keduanya, "Stev" panggilku lagi.


"Semua pekerjaanku sudah selesai jadi aku langsung pulang, aku rindu bermain dengan Andreas" jawabnya tanpa menatapku.


Mau bagaimana lagi, setelah Andreas lahir Steven memang sangat suka menghabiskan waktu di rumah. Bukan hanya itu, terkadang aku merasa Steven mengabaikanku karena putra kami.


Hari sudah memasuki tiga minggu setelah kelahiran Andreas. Dunia sudah tahu kabar bahaga itu, dan tiada hentinya menerima ucapan-ucapan selamat dari media dan partnernya.


Tapi aku sangat bersyukur karena Steven mulai melupakan pekerjaan kriminalnya. Dia lebih memfokuskan diri bermain dengan putranya itu.


✨✨✨✨

__ADS_1


- Author pov -


"Kakak, aku pergi ke rumah Briant dulu ya" kata Selena lalu pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban dari Steven.


Steven hanya bisa menggeleng pasrah dengan sikap adiknya yang keras kepala itu. Steven tidak lagi memaksa gadis itu pergi, karena Elena membutuhkan seseorang untuk merawat Andreas.


Ia terlalu takut membiarkan orang asing yang menjaga pangeran kecilnya. Walaupun orang asing itu adalah baby sister sekalipun.


Sesampainya di apart milik Briant, Selena tidak membuang-buang waktu lagi langsung menerobos masuk. Selain empunya, hanya Selena yang tahu sandi pintu apart Briant.


Namun apart ini kosong, benar-benar kosong. Sudah seminggu dan Briant tidak menampakkan diri. Terakhir kali mereka bertemu Briant datang bermain dengan keponakan mereka pekan lalu. Namun setelah itu satu pesan pun tidak diterima Selena.


Perasaan Selena semakin tidak enak, takut terjadi sesuatu. Mereka belum pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan bila Briant memiliki jadwal padat dengan pemotretan maupun dunia renangnya, dia pasti akan mengabari.


Lagi pula Selena tahu semua jadwal Briant. Bagaimana lagi, Selena memang gadis keras kepala yang posesif dan terobsesi dengan Briant.


Hanya saja akhir-akhir ini Selena begitu sibuk membantu Elena merawat Andreas. Jadi dia tidak bisa memeriksa secara langsung. Namun tetap saja Selena cemas, ia sering memeriksa HP apakah Briant menghubungi namun tidak sama sekali.


Bahkan nomor Briant tidak aktif, Selena sangat cemas. Ia segera pergi ke bagian resepsionis, untuk memperjelas keadaan.


"Apakah Briant Lim tidak di apart nya?"


Sang wanita respsionis menggeleng, "maaaf nona, tuan Lim tidak pulang selama seminggu. Apartemennya kosong sejak itu"


"Baiklah terima kasih"


Selena menggigit bibir bawahnya cemas, ia segera meninggalkan gedung apartemen elite tersebut menuju stadion renang.


Di sana para perenang sibuk latihan, namun orang yang dicari sama sekali tidak ditemukan.


"Pelatih Hwang, dimana Briant?" tanyanya pada pelatih renang yang sibuk menulis sesuatu.


Pria itu langsung tersenyum menyapa, ia mengenal siapa Selena, bukan hanya karena pacar Briant tapi juga adik dari Steven Lee.


"Oh-Briant tidak datang latihan selama seminggu ini. Aku sudah menghubunginya tapi nomornya tidak aktif"


Ia mengusap rambutnya secara kasar ke belakang, perasaannya semakin buruk. Tentu dia sangat khawatir.


"Apa anda tidak tahu dimana dia?" tanya pelatih Hwang.


Dengan cepat Selena menggelang, ia berpikir sejenak "kalau anda tahu dia dimana segera beritahu saya, pelatih Hwang"


"Tentu saja Selena, tidak biasanya anak itu bolos latihan seperti ini"


Dia pamit pergi pada pria itu lalu kembali ke mobilnya. Selena duduk di kursi kemudi dan hanya diam menatap lurus. 'Gak, gak mungkin itu terjadi' batin Selena memikirkan kemungkinan terburuk.


Drrttt...


Tangannya langsung menerima panggilan tersebut, "halo kak?"


'Selana, Briant dek. Briant..' ujar Steven terbata tidak sanggup melanjutkan kata.


"Ada apa kak? Please don't scare me"


'Briant dibunuh'


Stuck!


Jantung Selena seolah berhenti berdetak. Bahkan untuk berkedip pun dia tidak mampu.


"Kak please hikss jangan bohong, ini gak lucu hikss"


'M-mayatnya disini'


Airmata nya jatuh begitu deras. Ia semakin takut bahwa itu nyata mendengar isakan tangis dari telfon tersebut.


Dengan cepat Selena melajukan mobilnya kembali ke mansion. Pikirannya sangat kalut, dia tida tidak peduli bila harus melanggar aturan lalu lintas.


Sesampainya di depan mansion, dia berlari cepat. Bahkan pintu mobilnya masih terbuka dan mesinnya masih menyala.


Namun langkah kakinya terhenti melihat pemadangan di depannya. Selena masih tidak percaya, bukan, dia tidak mau percaya apa yang dia lihat ini.


"Briant" panggilnya pelan dan semua orang langsung menyadari kehadirannya.


"Briant"


"BRIANTTT...." teriaknya lalu berlari.


Selena berlari dan langsung berhenti di samping jasad Briant yang masih tertutup oleh kain putih. Sedangkan di sisi satunya, Steven berusaha menenangkan Elena yang menangis histeris.


"Kak Briant, kenapa kakak pergi? hikss..hikss.. Kita masih baru memulai hidup baru hikss... Kenapa kau meninggalkanku dalam kondisi seperti ini hikss.. Steven siapa yang lakukan ini hikss.. Siapa yang membunuh kakak ku hiksss hikss.. Jawab aku hikss.."


"Sssttt kumohon tenangkan dirimu, Elena" ujar Steven lembut namun nyatanya dia sedang menahan amarah yang menggebu di dalam hatinya.


Selena meneteskan air mata, dia diam tak berisak. Masih ingin menolak kenyataan di depannya.


"Briant" panggilnya pelan namun bagaimanapun panggilan itu tidak akan bisa disahuti lagi.

__ADS_1


Perlahan gadis itu membuka kain putih itu, dan seketika itu juga jantungnya seperti berdetak.


"SELENA" teriak Lucas menangkap tubuh Selena yang terjatuh pingsan.


__ADS_2