
/ Hari kedua belajar /
- Karina -
Pelajaran-pelajaran ini semakin lama semakin rumit saja. Ini karena aku harus mengejar ketertinggalanku yang sangat banyak. Eonni Elsa mengajar dengan sangat baik, hanya saja karena harus cepat jadi rasanya sangat memusingkan.
Bibi Kim membawa sebuah nampan berisi teh dan cemilan untuk kami berdua. Sudah sekitar 5 jam belajar jadi kami mengakhirinya dengan meminum teh itu.
"Eonni, Steven bilang kalian berada di sekolah menengah yang sama. Apakah kalian dekat?" tanyaku penasaran sejak dulu.
Eonni Elsa mengangkat sedikit sisi bibirnya, "kami tidak dekat sama sekali. Aku bahkan tidak menyukainya. Sejak SMA dia sudah terkenal keras dan nakal. Dia suka berkelahi dengan siswa lain bahkan dari sekolah lain. Steven memang berandalan tapi setahuku dia dan teman-temannya tidak pernah menindas yang lemah dan kasar pada wanita. Tapi tetap saja itu tidak bisa menutupi keburukannya. Dia juga terkenal playboy" jelasnya sangat jujur.
"Lalu kenapa eonni mau menerima tawarannya?" tanyaku lagi.
"Karena dia meminta secara langsung padaku untukmu jadi aku menerima" jawabnya lalu meneguk sedikit teh itu.
Aku mengangguk mengerti, ku teguk sedikit teh di tanganku "Eonni maaf bila mengganggu privasi mu tapi bolehkan aku bertanya sesuatu lagi?" tanyaku ragu pada hal yang paling aku penasaran.
Ia mengambil cemilan lalu mengunyah "apa itu?"
"Aku dengar eonni dan kak Lucas dulu pernah menjadi kekasih, apakah itu benar?" tanyaku lagi.
uhukk..uhukkk..
Mendengar celoteh ku ia menjadi tersedak. Berarti hal itu memang benar, jadi wanita yang pernah dikatakan Steven yang tidak bisa kak Lucas lupakan memanglah eonni Elsa.
Saatnya mulai mengitrogasi wanita cantik di hadapanku ini "Kenapa kita jadi bahas masa lalu" katanya melarikan pembicaraan. Aku duduk lebih dekat lagi, "kenapa kalian putus? siapa yang memutuskan lebih dulu? lalu apakah eonni sekarang sudah punya pacar baru?"
Ia meletakkan cangkirnya di meja, "kau ini seperti akan menerkamku saja. Baiklah aku akan menjawab satu persatu pertanyaanmu. Iya aku dan Lucas adalah mantan kekasih. Kami putus beberapa hari sebelum dia berangkat ke Kanada dan aku yang memutuskannya. Dan saat ini aku sudah menikmati hidup sendiri" jawabnya jelas dan tegas.
"Katanya kalian putus karena karena eonni tidak bisa menunggunya? memangnya kenapa?" tanyaku lebih dalam lagi.
"Saat dia mengatakan akan pergi dengan Steven ke Kanada untuk menjadi tentara bayaran, aku memintanya untuk tidak menerima ajakan Steven. Sejak awal aku selalu melarangnya berteman dengan Steven ya walaupun kami punya hubungan jauh setelah mereka berteman. Namun tetap saja, apa kau tahu Karina? tentara bayaran itu sangat kejam, mereka bisa membunuh siapa saja selama mereka menerima bayaran mahal. Aku tahu kau pasti tahu karena tahu bagaimana Steven. Itulah alasanku, aku tidak bisa menemani seseorang yang memiliki sisi gelap itu" aku bisa merasakan kegelisahan eonni Elsa.
Itulah mengapa aku berfikir dalam dalam untuk menerima lamaran Steven. Aku bingung, apakah orang dengan latar belakang seperti itu bisa aku temani. Iya, aku tahu dia baik padaku. Aku juga tahu dia akan menjaga dan menyayangiku, tapi aku juga manusia biasa yang takut kehilangan.
Lamunanku terpatahkan saat eonni Elsa menggenggam tangan kananku.
"Sekarang karena aku sudah menceritakan masa laluku, bolehkan aku bertanya balik?" dengan lembut.
Aku menjawab dengan senyuman tipis.
"Maaf jika mengungkit privasimu, aku mendengar langsung dari Steven sedikit tentang apa yang kau alami. Tapi apa hubunganmu dengan Steven" tanyanya intens.
Kedua kalinya ia bertanya dan kedua kalinya juga aku bingung. Namun bagaimanapun aku tidak bisa terus berpaling dari kenyataan apa yang sudah kami lakukan.
__ADS_1
Kucoba untuk tenang, berfikir dengan kepala dingin. "Dia adalah orang yang menyelamatkanku, awalnya dia memang bertindak semenah-menah namun dia yang membawaku pergi. Dannn..." ucapanku terputus karena ragu ingin mengungkapkannya.
"Dan apa Karina?" tanyanya.
"Kami sudah tidur bersama dan saat ini aku mengandung bayinya" kataku jujur saja. Walaupun apapun yang terjadi saat itu, bayi ini tidak bersalah hingga aku tidak mengakuinya.
Eonni Elsa cukup terkejut, "bagi orang dewasa hal itu bisa dikatakan wajar tapi untuk hamil diumurmu yang saat ini bukanlah hal mudah. Jadi apakah Steven akan bertanggung jawab?" tanya eonni Elsa secara dewasa.
*Di negara maju seperti negara barat dan negara-negara timur melakukan sex adalah hal wajar bagi orang dewasa. Tolong jangan disamakan dengan yang ada di negara kita. Maaf bila terlalu vulgar, tapi jika memang tidak bisa terima saya meminta maaf sebesar-besarnya*
Secara dewasa kami berbicara dari kati ke hati. "Ia melamarku menjadi istrinya, sekeras apapun aku menolak dia tetap memilih menungguku. Sama seperti eonni yang takut, aku juga takut. Dia memang baik dan menyayangiku, tapi kenyataan membuatku bimbang. Bahkan status kami jauh berbeda, aku adalah orang miskin yang bahkan tidak bersekolah sedangkan dia..." terputus karena semakin aku menlajutkan semakin hatiku terluka.
Eonni Elsa memelukku, mengelus bahuku dan menepuknya perlahan.
Ia melanjutkan perkataannya setelah melepas pelukan, "aku paham perasaan mu. Menikah adalah hal yang besar, karena seumur hidupmu akan terikat dengannya. Aku tidak akan memberikanmu saran atau masukan apapun, aku hanya akan mengatakan ikuti kata hatimu. Karena semua tergantung dirimu sendiri. Dengarkan hati kecilmu, apa yang terbaik untukmu, bayimu, dan Steven. Aku tidak mau kau menyesal sepertiku dulu" katanya.
Penyesalan! Ada yang mengatakan bahwa itu adalah neraka terjahanam. Hidup dalam bayang penyesalan itu akan membuatmu tersiksa setiap saat.
- - - -
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua siang. Eonni Elsa pamit pulang karena ia juga masih punya beberapa pekerjaan lain.
Ketika ingin ke kamar aku melihat bibi Kim ingin pergi. "Bibiii" panggilku dari atas anak tangga.
"Saya mau belanja bulanan non, nona ingin bibi belikan sesuatu?" tanya bibi Kim.
Aku berlari lalu menggandeng bibi Kim, "aku ikut ya, aku bosan belajar terus. Jenuh, ingin refreshing sebentar" kataku memohon dengan manis.
Bibi Kim setuju selama para bodyguard ikut bersama kami. Kami pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan seperti sayur-sayuran, ikan, dan buah-buahan. Bagaimanapun, bahan makanan yang dijual di pasar lebih segar daripada yang dijual dengan diawetkan.
Melihat bibi Kim memilih yang terbaik dari yang paling baik, aku beljar banyak. Bibi Kim juga lihai dalam menggunakan uang untuk membeli bahan pangan yang tepat.
Lalu sesuatu mengambil perhatianku. Seorang ibu muda yang sedang berdagang sambil menidurkan bayinya di ayunan yang menggantung ke tiang-tiang bangunan pasar.
Rasa iba dan salut terhadap wanita itu muncul di hati ku, dia bekerja keras namun tetap harus mengasuh bayinya yang masih kecil.
"Bibi ayo beli sesuatu disana" ajakku pada bibi Kim yang sibuk menawar.
"Tapi non Bibi sudah selesai berbelanja, semuanya sudah cukup" katanya sambil membayar belanjaan.
"Kalau begitu tunggu aku disini ya bi, biar aku saja yang kesana" pintaku lagi memaksa.
Ku hampiri pedagang buah-buahan itu, dagangannya bisa dilihat kurang laris. Buah yang ia jual tidak terlalu segar, mungkin itu alasan ia sepi.
Sebelum membeli aku memilih buah mana yang akan aku bawa pulang "Eonni aku ingin buah anggur itu" kataku menunjuk anggur yang ada disisi kiri bayinya.
__ADS_1
Ia membungkusnya dalam kantong plastik putih lalu aku membayar dengan selembar uang $100.
"Nona apa tidak ada uang kecil? saya tidak punya kembalian uang sebesar ini" kata si penjual.
"Sudah ambil kembaliannya" kataku ramah lalu meninggalkan si pedagang. Ia terlihat senang mendapatkan sedikit rejeki yang ia terima.
Bibi Kim tersenyum hangat padaku yang datang menghampirinya. "Nona baik sekali" kata bibi Kim. Itu hanya berbagi rejeki sedikit, bukan hal besar jadi tidak perlu merasa tinggi hati.
Semua barang belanjaan sudah ada di mobil, aku dan bibi Kim kembali ke rumah utama. Dia langsung menjadikan beberapa bahan belanjaannya menjadi hidangan lezat untuk makan malam. Walaupun tidak membantu banyak tapi setidaknya aku berusaha membantu dan belajar.
Waktu berlalu begitu cepat, aku pergi mandi dan bersiap untuk makan malam. Langit sudah gelap dan malam kembali menggantikan siang.
Dengan uap hangat bekas air mandi aku menginjakkan kaki keluar dari pintu kamar mandi. Rambut masih tergulung dengan handuk putih, dan tubuh terbalut oleh handuk.
Langkah kaki ku terhenti di hadapan seorang pria dengan wajah musam, jas yang dilepas, dasi terikat berantakan. Ia melihatku dengan wajah lelah setelah seharian bekerja.
Steven menjatuhkan tubuhnya ke pelukanku, membiarkan tubuhku menopang tubuhnya yang berat. Aku hampir terjatuh menahan beratnya tubuh pria itu.
Sebelum aku benar-benar terjatuh, aku membawanya duduk di atas ranjang. "Lihatlah penampilanmu, seperti gelandangan saja" aku menatapnya dengan berdiri di hadapan pria itu.
Bukannya menjawab atau mengelak, dia malah menarikku dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang. "gelandangan tampan ini mau tidur sebentar, aku sangat lelah" katanya dengan suara pelan.
Aku bangkit dari atas tubuhnya, ku tarik ia agar bangun. "Tidak tidak sebelum tidur kau harus mandi dulu dan makan malam"
Pria ini sangat susah untuk untuk dikatakan, dia malah balik berbaring.
Ia membuatku kesal, aku menarik selimut dan membungkus tubuhnya dengan selimut.
"Bangun cepat atau toben dan monsiur akan melayang keatas mu" ancamku agar ia bangkit.
Ia keluar dari selimut, dan menekuk wajahnya. "Kau sangat cerewet" katanya lalu meninggalkanku.
Hola My Dear Readers 💚💚
Wahh ada yang masih setia nih dengan novel aku 🤗🤗
Terima kasih ya dan selamat datang bagi pembaca baru 💚
Maaf ya jika ada kesalahan, atau author gak pandai dalam meilih kata-kata puitis
Semoga kalian suka ya
Jangan lupa like dan komen, gratis kok gak bayar :)
__ADS_1