MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Inside of me


__ADS_3

Dua hati yang selalu terpisah oleh jarak dan waktu dipertemukan pada sang angin. Dua pasang mata saling beradu tatap berbagi arti klise sebuah perasaan yang tertutupi akan keadaan.


"Sepertinya akulah alasan rasa sakit yang dirasakan semua orang. Beberapa hari sebelum kecelakaan naas yang menimpah kakak sulungmu, aku menyaksikan ada kejanggalan dalam perilakunya. Ada ketakutan yang terpancar dari matanya. Seakan ia meminta pertolongan dan perlindungan" Briant menunduk malu.


Kedua alis hitam Selena mengerut, "maksudnya kak?" ia mendekat dan mengeratkan kedua genggaman di dada pria yang dihadapannya.


"Alvin seperti bersembunyi dari seseorang. Aku bertanya keadaan apa yang ia hadapi, tapi kau tahu bagaimana sifat kakak-kakakmu. Mereka tidak pernah ingin mengatakan apapun tentang rasa sakit mereka. Sebenarnya aku ingin mengatakan kejanggalan yang aku rasakan pada Steven akan tetapi Alvin melarang. Rasa bersalah dan penyesalan membakarku dari dalam. Aku tidak bisa melupakan bagaimana aku tidak bisa berbuat apapun" jelas pria itu.


Tidak ada kata apapun yang keluar dari mulutnya. Selena kelihatan bingung dan tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh pria idaman hatinya.


Briant berbalik dari pandangan gadisnya. Ia tidak berani menatap kedua mata itu, "Inilah alasanku tidak berani mengungkapkan perasaanku padamu. Api itu membakarku dari dalam. Jadi aku ingin kau meninggalkanmu karena aku akan menyakitimu juga. Aku ingin bebas tapi aku sadar selama ini aku hanya melarikan diri. Maafkan aku yang menyakiti semua orang"


Selena memeluk Briant dari belakang. Ia menangis dalam punggung pria yang selama ini berusaha menjaga jarak darinya. "Tidak kak itu bukan salahmu. Itu adalah inginnya. Ini memang berat bagi semua orang tapi kak kau sudah berusaha semampumu tapi jika takdir ingin maka itu akan terjadi"


Briant menghela nafas panjang, selama ini penyesalan yang tidak bisa ia ungkapkan akhirnya terlontarkan. Hatinya lega karena bisa mengatakan alasan segalanya.


Kakak kandung Elena itu berbalik dan memeluk erat Selena. "Maafkan aku Selena"


"Tidak kakak tidak perlu meminta maaf. Yang lalu biarlah berlalu kita harus bangkit" Selena tetap tegar.


Briant menepikan rambut yang menutupi wajah Selana, ia mengelus lembut wajah cantik dan manis pujaan hatinya.


"Semoga kesalahpahaman itu tidak lagi berlanjut" Briant menatap lembut mata Selena.


Selena mengangguk dan tersenyum. Ia memutuskan percaya dengan keyakinannya yang selama ini teguh.


Briant membungkuk mendekatkan bibirnya, "aku mencintaimu, jadilah wanitaku"


Kedua mata yang hanya berjarak sekian sentimeter berbagi perasaan satu sama lain. "Forever my love" kata Selena.


Akhirnya perasaan yang selama ini beku telah dilelehkan. Briant mencium Selena untuk pertama kalinya.


Mereka menutup kedua mata saling bercumbu dan menyalurkan kasih. Selena membalas bibir Briant dengan lembut.


Tinggi badan yang cukup berbeda membuat Briant membungkuk cukup rendah, Selena yang paham mengangkat bagian tumitnya. Ia berjinjit, mengalungkan kedua tangannya ke leher pria yang menciumnya.


Briant ******* bibir Selena dengan lembut dan penuh perasaan. Keduanya menikmati itu dengan hati berdebar.


✨✨✨✨

__ADS_1


/ Fantasia Human Research /


Keadaan sangat repot dan sibuk. Semua orang yang bekerja dengan fokus dan tergesa. Di balik dinding kaca tebal yang menjadi dinding pemisah dua buah ruangan beberapa orang besar menyaksikan para peneliti yang bekerja ekstra.


Jessica melipat kedua tangannya di dada, ia sejujurnya merasa ngilu melihat penderitaan anak yang bahkan belum sempat melihat wajah ibunya harus merasakan sakit yang amat parah.


"Semuanya sudah sedia? Naikkan tegangannya menjadi 750 volt" ujar salah seorang peneliti yang duduk untuk mengaplikasikan mesin.


Pria paruh baya yang sangat senang menyaksikan pemandangan miris tersebut, "jika ini benar berhasil maka dunia akhirnya akan berubah"


Tidak ada kata yang ingin Jessica katakan, dia tidak tega tapi dia harus melaksanakannya.


"Three two one shot" dan mesin generator listrik mulai mengalirkan aliran arus ke dalam tubuh bayi percobaan itu.


Dalam tiga puluh detih bayi yang terus menangis kesakitan akhirnya tidak mampu menahan segalanya. Brttt...


Darah memuncrat di seisi ruangan penelitian. Dinding kaca yang semula gemerlap menjadi kemerahan, jas putih parah peneliti menjadi merah darah.


Jessica menutup matanya tidak berani melihat keadaan naas di hadapannya. Sedangkan tuan Han begitu kesal karena untuk kesekian kalinya percobaan yang ia rintis masih saja gagal.


Tuan Han mengeratkan tangan di kerah peneliti yang duduk di depan mesin tersebut "Gagal lagi gagal lagi!!! Dasar tidak berguna! Kapan kalian akan berhasil, sampai kapan aku harus terus membuang uangku sia-sia"


Pria emosian tersebut menatap marah pada Jessica, tapi ia tidak bisa mengungkapkan amarahnya pada seorang calon ketua dewan. Ia memilih pergi meninggalkan ruangan.


Jessica tidak tahan dengan keadaan saat ini, ia pergi meninggalkan Fantasia kembali ke rumahnya. Dalam mobil ia terus mengelus dahinya karena pusing.


"Nyonya, ada sesuatu yang perlu anda lihat" ujar sang sekretaris dari tempat duduk depan.


"Ada apa lagi?" tanya Jessica malas.


Sekretaris wanitanya itu memberikan Ipad kerjanya pada wanita itu. Jessica melihat layar Ipad dan matanya melebar setelah melihat foto sebuah artikel.


"Dimana Karina sekarang?" tanya Jessica.


"Saat ini mereka ada di Jeju"


Terbersit ide dalam pikirannya. Ia berfikir sepertinya ini akan sangat menguntungkan dirinya dalam pencalonan beberapa hari lagi.


Ia membaca berbagai komentar netizen yang meminta penjelasan hubungan Steven dan Karina a.k.a Elena. Semua menanyakan identitas gadis itu karena tidak ada yang mengenal siapa dia.

__ADS_1


"Hubungi reporter Jo sekarang" perintahnya pada sang sekretaris.


✨✨✨✨


/ Steven /


Pagi tidak seperti pagi yang biasanya. Seakan ada hal baru yang mengubah seluruh pagi hari. Terasa hangat dan menggairahkan.


Aku menopang kepalanya dengan tangan dan satu tangan lagi mengelus pipi wanita yang akhirnya sah menjadi calon istriku.


Memandangi wajah wanita yang tertidur di hadapanku itu, bagaimana Elena terlihat begitu menawan bahkan saat tertidur.


Hidupku yang selama ini begitu kesepian akhirnya akan melangkah beriringan dengan sang pemilik hati. Jika anakku adalah seorang pangeran aku yakin dia akan setampan diriku dan bila itu adalah tuan putri dia pasti akan indah seperti ibunya.


Aku harap siapapun anakku nanti, dia akan tumbuh dengan hati seputih Elena. Semoga dia tidak mengalami nasib buruk sepertiku. Kuharap dia bisa tumbuh nyaman seperti anak-anak lainnya.


Drrttt..drttt....


Ku raih HP ku yang terus berdering, "Hm?"


'Lihat artikel yang aku kirim sekarang' ujar seseorang dalam panggilan.


Suara Lucas terdengan cemas, segera kubuka artikel yang membuatnya harus menganggu momen pagiku.


'Apakah Karina eh bukan maksudku Elena akan baik-baik saja?' tanya Lucas.


Aku tersenyum tipis, "wanitaku ini adalah pribadi yang kuat. Tenang saja aku akan mengurusnya sendiri. Apa yang kau ingin aku bawakan untukmu dari pulau ini?"


'Aishhh aku sedang serius Stev, kau malah bertanya oleh-oleh"' kesal sahabatku ini.


"Ssttt jangan bicara dengan keras, Elena sedang tidur. Percaya saja denganku, kau seperti tidak tahu saja dengan diriku"


'Jangan bilang kau akan me..' kata-katanya langsung aku putus.


"Sudahlah aku mau melanjutkan pagiku bye" aku langsung menutup panggilan.


Dugaanku selama ini ternyata benar, pria yang mengikuti kami selama ini adalah seorang reporter. Dasar tidak berguna, tidak bisa membuat artikel yang keren.


Aku penasaran untuk siapa dia bekerja, pasti ada orang yang mendorongnya. Ada satu orang yang membuatku curiga.

__ADS_1



__ADS_2