
✨✨✨✨
Wanita berkarisma dengan rambut sanggulnya duduk di salah satu kursi yang melingkari meja melingkar itu.
Saat ini mereka ada di sebuah ruangan VIP restauran Tiongkok. Menunggu kehadiran sosok yang selema ini dirahasiakan. Bahkan wanita itu tidak tahu siapa dan bagaimana bisa Fantasia ternyata milik seseorang yang bukan tuan Han.
"Sampai kapan aku harus menunggu orang itu? Aku mau alasannya sekarang, kenapa kalian memindahkan Fantasia?"
"Sabarlah sebentar, dia akan segera datang"
Jessica menghela nafas pasrah. Ia memijit-mijit dahinya, pusing dengan semua hal ini. Kenapa semuanya tidak ia ketakui selama ini? Diapun tidak tahu.
Tidak lama waktu berselang, pintu terbuka. Jessica langsung memandangi kedatangan sosok pria asing berjalan masuk.
Tuan Han dan dirinya berdiri kala pria bertato yang katanya adalah pemilik asli Fantasia duduk di depan mereka.
Pintu kembali tertutup, hanya ada mereka bertiga saja. Jessica masih kebingungan, siapa, kenapa, kapan, bagaimana dan mengapa ini semua terjadi.
"Silahkan duduk nyonya dewan" kata pria itu.
Mereka berdua duduk bersamaan. Tuan Han berubah menjadi kikuk dan takut setelah kedatangan sosok barusan.
"Jadi dia pria bernama Christian Yu itu?" bisik Jessica pada pria seusianya itu.
"Jaga ucapanmu Jessica" balas tuan Han berbisik.
Christian tersenyum tipis, ia memandangi hidangan Tiongkok di hadapan mereka. Entah kenapa ia teringat pada Selena, mungkin itu karena kenangan lama mereka.
"Jadi anda adalah Christian Yu pemilik asli Fantasia?" tanya Jessica to the point.
"Benar, aku Christian Yu pemilik sah Fantasia, pusat penelitian yang anda investasikan. Anda harus tahu juga siapa aku, orang paling berkuasa kedua di Black Sun"
Arak dari mulutnya memuncrat saat mendengar dua kata terakhir.
"Black Sun? Anda serius?"
"Tentu saja, kenapa? Anda terkejut?"
Jessica memutar otak memikirkan banyak hal. Ini diluar jangkauannya. Dia sudah masuk ke dalam lubang hitam tanpa ujung.
Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur.
"Jelaskan, mengapa anda memindahkan Fantasia?"
"Jessica, pelankan suaramu" bisik tuan Han yang diabaikan oleh wanita itu.
Pria bermarga Yu itu memasukkan sepotong daging yang sudah diberi bumbu, merasakan cita rasa lama yang dia rindukan.
"Apakah masih perlu bertanya? BIN mengincar Fantasia, mana mungkin aku membiarkan sumber uangku lenyap begitu saja"
"Lalu dimana sekarang Fantasia?"
"Di tempat yang tidak terjamah"
"Di mana itu?"
"Di kuil Nayak"
Mulut Jessica menganga usai mendengar nama tempat tersebut. Orang di depannya ini memang bukan main. Bahkan dia dengan tidak berhatinya, membuat sebuah tempat ibadah sebagai lokasi untuk penelitian mengerikan itu.
"Well, bagaimana dengan Steven? Bukankah dia ikut campur tangan dalam masalah ini?"
"Biar aku yang urus teman lama ku itu. Kalian hanya perlu segera memberikan kabar baik tentang hasilnya"
"Deal, bunuh pria itu" ujar Jessica mantap.
"Sekarang dia ada di tangan interpol"
Ia lega, akhirnya menemukan senjata yang selaras dengan lawan. Selama ini Steven sudah membuatnya penuh ketakutan dan hanya bisa diam menurut.
Sekarang Jessica punya Christian, dia akhirnya bisa memberontak.
✨✨✨✨
- Elena -
Aku menatapi kota Seoul dari dinding kaca kamarku. Lampu-lampu yang bercahaya di gelapnya malam begitu indah layaknya bintang.
Tapi itu tidak menghibur sama sekali. Hatiku semakin gundah setiap harinya. Apa yang sudah, sedang dan akan terjadi pada suamiku.
Air mata seperti tidak ada habis-habisnya terjatuh dari pelupuk mataku. Pikiran-pikiran buruk terus menyeruak memenuhi otakku.
__ADS_1
Sekarang kami tinggal di apartemen kak Briant sementara. Walaupun rumah kami sudah diperbaiki tapi aku tidak mau disana. Saat di sana aku akan terus termenung memikirkan Steven.
Setiap bagian dalam rumah itu menyimpan kenangan akan apa yang sudah kami lakukan. Khususnya kamar kami, hampir semuanya kami lakukan di sana.
Sudah tiga hari dan belum ada kabar apapun tentang Steven. Berulang kali aku bertanya pada semua orang berulang kali aku bertanya pada Lucas tapi sebanyak itu pula aku mendapat jawaban ketidaktahuan mereka.
Tuhan, tolong bawa Steven kembali padaku. Kembalikan dia dalam kondisi baik dan tidak kekurangan apapun.
"Kak Elena"
Dengan cepat aku menghapus air mata di pipiku. Aku tersenyum kecut pada adik ipar yang membuyarkan lamunanku.
"Iya Selena?"
Dia menghampiriku dan tersenyum tipis. Gadis ini sangat kuat dan tabah, dia bahkan masih bisa tersenyum setelah apa yang terjadi.
Walaupun aku tahu dia benar-benar hancur dari dalam. Dia memelukku erat dan hangat. Walaupun tubuhnya lebih pendek dariku, pelukannya sangat nyaman.
"Jangan bersedih terus, kak Steven sudah berjanji akan kembali kan? Maka dia pasti akan kembali"
Kuanggukkan kepalaku setuju, aku tidak banyak bicara. Bahkan selama Steven pergi bisa dihitung berapa kali aku berbicara pada mereka.
Selena menuangkan air ke dalam gelas yang ada di nakas. Dia menyediakan satu teko air untukku di kamar.
"Kakak belum minum suplemen kan? Minumlah atau aku yang akan dimarahi kakakku karena tidak merawat kakak ipar"
Aku menerima beberapa butir pil dan air tersebut lalu meminumnya.
✨✨✨✨
Foto kami saat dulu berkeliling kota masih kusimpan dengan baik. Dengan lembut aku mengusap kaca yang melindungi foto tersebut dalam bingkai.
Tanpa sadar aku tersenyum dan tertawa sendiri melihat foto kami. Tawaku begitu nyaring dan semakin jelas.
Tokk..tokk..
Tawaku langsung terhenti dan berganti menjadi senyuman. Selena datang dan memandangiku lirih. Aku tahu dia kasihan dan merasa miris melihat kondisiku.
"Ayo makan kak, semuanya sudah siap"
Aku mengangguk dan mengikutinya ke ruang makan.
Selera makanku sama sekali tidak ada. Bayangan Steven terus membuatku cemas. Biasanya dia akan makan denganku. Terkadang saat aku tidak berselera dia akan menyulangiku.
"Makanlah Elena, setidaknya untuk beberapa suap. Demi anak kalian" bujuk kak Briant.
Kupandangi semua makanan yang sudah terhidang. Semuanya adalah makanan yang sering kubuatkan untuk Steven.
Sup, kari, daging, telur, ikan dan buah-buahan itu. Aku tersenyum melihat potongan telur dadar keju di depanku.
Baik kak Briant maupun Selena saling memandang. Aku juga tidak tahu, aku seperti bukan diriku. Kekosongan dalam diriku membuatku terus merindukan Steven.
Dia orang pertama yang menjulurkan tangan mengelurkanku dari semua penderitaanku. Dia juga yang menjagaku selama ini. Dia juga yang mencintaiku dan rela berkorban banyak untukku.
Ya aku tahu tidak mudah jalan yang kami lalui. Banyak tangisan, emosi, dan perjuangan yang kami lalui. Dan semua cara yang dia lakukan tidak bisa dikatakan sempurna. Tapi dari semua itulah kami saling terikat dan semakin mencintai.
"Telur dadar keju kesukaan Steven" aku memasukkan sepotong dalam mulut dan menutup mata menikmati kelezatannya.
Momen saat aku dan Steven memakan ini terukir dalam otakku. Aku tersenyum lalu tertawa lucu.
"Elena" panggil kak Briant.
Kubuka mataku dan menatapnya bingung. Alisku sedikit naik dan aku masih mengunyah.
"Iya kak?"
Dia diam dan melihatku lirih. Mengasihani kondisi mentalku yang saat ini bergejolak tak menentu.
Pandangannya beralih pada Selena, mereka saling menatap sedih dan mengasihani diriku. Saat ini mentalku seolah bukan milikku.
"Tidak apa-apa, makanlah dik" kak Bariant mulai mencapit nasi di mangkuknya dengan sumpit.
Aku mengambil sepotong daging dan memakannya dengan nasi. Rasanya seperti Steven ada di sini dan menyuapiku karena tidak berselera.
"Hahahhaha" tiba-tiba aku tertawa terbahak-bahak. Tawa yang dulu keluar karena Steven menggelitiku karena aku usil padanya.
"Kak Elena, ada apa?"
"Hahaha tidak apa-apa aku hanya...hiksss hikkss..." tawaku berubah menjadi isak tangis.
__ADS_1
Aku menunduk dan menangis tersedu-sedu. Aku tidak sanggup lagi menunggunya. Ini sudah seminggu dan dia belum kembali.
"Kakak ipar, kenapa kau menangis seperti ini?" Selena mengelus punggungku.
Kak Briant memelukku dan memebelai rambutku. "Ada apa denganmu Elena, kondisi mentalmu tidak baik-baik saja"
"Kak hikksss..aku hanya mau Steven hikkss..hikkss.."
"Dia akan kembali kakak ipar, dia pasti kembali"
"Aku tidak peduli Selena hikkss.. Aku mau dia sekarang hikksss hikksss.."
Kakakku memegangi bahuku, ia mengapus air mataku tapi aku semakin terisak. Aku tidak sanggup lagi berpura-pura menunggu Steven.
Aku mau dia sekarang! I am fucking miss Steven Lee!!!
Tingnong..tingnong...
"Sayang, bisa kau bukakan pintunya?" tanya kak Briant pada gadis di sampingku.
Selena segera pergi ke pintu dan membukanya. Aku masih terisak dan terus menunduk. Berulang kali menyebut nama Steven Lee dan berulang kali mengatakan aku merindukannya.
"Siapa yang datang Selena?" tanya Kak Briant sedikit teriak.
"Steven aku merindukanmu.. Steven kembalilah kumohon.. Aku takut sekali, jangan tinggalkan aku hikss..hikksss"
"Steven kenapa kau tidak kembali hikksss.. Steven kau berbohong hikkss.. Kau mengingari janjimu untuk kembali hikkss hikksss.. Aku membencimu hikksss"
"Elena" panggil kak Briant yang tidak kuhiraukan.
Aku meremas dress ku sendiri, "Steven Lee hikkss hikkss kembalilah kumohon. Aku takut sendirian hiksss... Aku merindukanmu hikksss"
"Maafkan aku terlambat"
Seketika aku diam sejenak mendengar suara yang sudah seminggu tidak kudengar. Suara yang sangat ingin kudengar sekarang.
"Steven?"
"Iya ini aku, sayang"
Aku langsung mengangkat kepalaku dan melihat ke sumber suara. Isak tangisku semakin pecah melihat sosok pria bertubuh tinggi tersenyum padaku.
Dengan cepat aku langsung berdiri dan memeluknya. "Steven kau kembali hiksss..hikksss..."
"Kukira kau akan berhenti menangis tapi malah semakin tersedu-sedu" ia mengelus rambutku dan menciuminya.
"Kau pembohong..kau ingkar janji hikksss"
Dia menangkup wajahku dan menghapus air mataku, "tapi aku sudah disini hm"
Aku mengangguk dan mengontrol emosiku. Kupandangi matanya dalam-dalam, aku tidak mau dia pergi lagi.
Kecupan mendarat di kening dan bibirku. Aku menutup mata meresapi momen ini.
"Terima kasih karena kembali"
"Aku merindukanmu, Elena"
Kuberikan senyuman samar, perlahan isakanku tadi mulai menghilang. Lagi-lagi aku memeluknya erat.
"Aku merindukanmu, sangat sangat merindukanmu"
Kak Briant dan Selena juga ikut berpelukan dan lega setelah pria yang kupeluk ini kembali.
Aku melepaskan pelukanku dan memandangi sosok Steven Lee. Dia sangat berantakan, pakaiannya belum diganti. Dia masih memakai kemeja yang sama sedangkan jas nya aku tidak tahu ada dimana.
Wajahnya lesu dan dia juga lebih kurusan dari sebelumnya.
"Makanlah dahulu Steven, kau semakin kurus" aku membuatnya duduk di kursiku tadi. Kusendokkan nasi ke dalam mangkuknya.
Aku duduk di kursi makan tempat Selena tadi duduk. Dia berpindah duduk di samping kak Briant.
"Kau pun makan juga Elena, ingat kondisimu juga" perintah kak Briant karena aku sibuk memberi makan suamiku.
"Tenanglah kak, Steven pasti tidak teratur makan. Dia semakin kurus" sambil meletakkan sepotong telur keju di atas mangkuknya.
Bukannya memakannya Steven menawarkan suapan padaku, "aku akan makan kalau kau makan"
Aku setuju dan menerima suapannya. Dia tersenyum hangat lalu membelai rambutku. Lagi-lagi kecupan mendarat di keningku.
__ADS_1