MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
With my favorite clothes


__ADS_3


Elena -



Detik per detik berdentum saling bertaut. Waktu selalu melangkah maju tanpa menunggu apa keinginan semua orang.


Kembali stabil dan tentram dibarengi dengan kebahagiaan yang ikut ambil peran. Persiapan sudah di mulai sejak pagi. Masih belum ada hasil yang tampak tapi gambaran sudah bisa terbayangkan dalam fikir.


Steven sudah mulai memerintahkan bibi Kim untuk mengatur keperluan rumah tangga yang dibutuhkan sampai hari-H akan berakhir. Segala persiapan menjadi tanggung jawab Selena, bukan karena perintah apalagi paksaan. Tapi gadis itu sendiri yang menawarkan diri, Steven percaya dengan keterampilan adik ipar.


Aku masih disibukan dengan buku-buku dan alat tulis yang bertumpuk di meja belajarku. Eonni Elsa sangat memperhatikan apa yang aku pelajari. Saat ini ia sedang memainkan laptopnya sambil menungguku mengerjakan soal-soal latihan yang dia siapkan.


Drrrttt...


'Apa kau masih belajar? Aku merindukanmu sayang' Steven.


'Iyaa, eonni Elsa memberiku banyak sekali tugas. Aku juga merindukanmu sayang' balasku.


"Elena fokus pada pelajaranmu, sebentar lagi jam pelajaran akan berakhir. Jangan main HP terus" tiba-tiba dia memergoki ku.


Aku cengar-cengir karena ketangkap basah memainkan HP saat belajar.


'Aku dalam perjalanan pulang, jika kau sudah mendengar aku sampai di rumah, temui aku di kolam. Aku ingin mengejutkan Lucas'


Kejutan? Kenapa aku harus ke kolam? Sebelum dia sadar, aku segera mematikan HP ku.


Aku kembali memusatkan pikiran pada pembelajaran ini. Dan ketika waktunya tiba, aku mendengar suara rem mobil Steven mendecit di depan pintu utama.


"Kak aku ke kamar mandi sebentar ya, aku merasa mual" ujarku berbohong.


Eonni Elsa hanya mendehem, ia begitu fokus dengan dokumen-dokumen modul dan refrensi. Aku berusaha tampak normal dan tidak terlalu mencolok.


Aku berlari dengan hati bergairah, aku juga bingung padahal baru tadi pagi kami bertemu. Dari jarak yang masih cukup jauh mataku memandang sosok pria bertubuh tinggi dengan bahu bidangnya berdiri membelakangiku. Ia sedang berbicara di telpon.


Ia berbalik menyadari kedatanganku. Aku berlari hingga jatuh dalam pelukannya. "Aku merindukanmu" gumamku.


Steven memeluk sangat erat, dia mengecup dahiku dengan penuh kasih sayang. "Aku merindukanmu juga Elena" sambil menyentuh hidungku dengan jari telunjuknya.


Aku tertawa dengan perlakuan itu. Dia membawaku ke ranjang kolam dan membuatku duduk di atas pangkuannya. Aku memeluknya erat dan membenamkan diri pada pelukannya.


"Kita sudah lama tidak bersantai seperti ini lagi ya" gumam Steven di telingaku. Nafasnya membuatku geli, ku tarik kepalaku dari dadanya.


"Apa maksudnya kejutan yang kau katakan tadi" ku pandangi wajahnya.

__ADS_1


Steven kembali smirk, "biarkan Lucas yang mengurusnya sendiri. Aku tahu dia bukan pecundang di hadapan wanita"


Aku mengernyitkan dahi tidak mengerti apa yang dia maksudkan. Tapi aku percaya ada hal baik yang dia rencanakan di balik itu semua.


Senja mungkin menjadi waktu yang sedih bagi beberapa orang. Ada tafsiran yang menyatakan senja menjadi salah satu simbol dari kepedihan dan penderitaan.


Sempat juga ada perasaan yang sama dalam jiwaku. Tapi setelah dia datang, senjaku menjadi lebih hangat. Jingga menjadi penenang akan rasa takut tentang mengerikannya hidup.


Di bawah langit jingga yang hangat, aku menutup mata. Kedua tanganku melingkari leher pria yang sebentar lagi akan menjadi suami sahku. Steven menciumku dengan sangat lembut dan penuh akan perasaan.


Aku membalas sentuhan hangatnya yang sangat mendebarkan. Aku tidak pandai dalam berciuman, hanya mengikuti cara dia ******* bibirku dengan gairah khasnya.


✨✨✨✨


Pria bertubuh jangkung dengan balutan jas merah maroon keluar dari mobil Lamborghini Aventador S yang baru saja berhenti di depan pintu utama.


Karisma seorang Lucas bahkan terlalu jelas menarik perhatian para pelayan wanita. Dia berjalan dengan santai membawa sebuah tas Valentino berwarna hitam penuh akan dokumen yang diminta oleh si pemilik rumah tempatnya berkunjung.


"Aku sudah di depan, kau dimana?" tanya pria itu pada orang yang ada dalam panggilan.


"Baiklah aku kesana sekarang"


Dia berjalan dengan santai menuju ruangan belajar sekaligus perpustakaan pribadi. Tangannya memutar handle pintu dan masuk begitu saja.


Kaki yang semula ingin melangkah maju malah berakhir mundur. Hampir saja ia menabrak seseorang yang tidak pernah ia sangka akan bertemu kembali.


Tas hitam yang semula ia genggam terjatuh ke lantai marbel, kedua alisnya mengerut. Begitu pula dokumen-dokumen yang dipegang Elsa terjatuh berserakan ke lantai.


Keduanya merasa canggung karena pertemuan yang sebenarnya kedua hati itu rindukan.


"Oh Hai" Elsa menyapa dengan canggung.


"Eh oh ah Hai" lebih canggung.


Saling mengutuk diri sendiri yang merespon kaku. Elsa segera berlutut mengutip kembali barang-barangnya. Begitu pula dengan Lucas yang mengambil tasnya.


Lucas turut membantu mantan kekasihnya itu, hingga kedua kepala itu terjedut satu sama lain seakan ada magnet yang menarik.


"Aww maaf aku tidak sengaja" Lucas mengelus kepala gadis itu.


Elsa menengadah ke atas dan terdiam saat melihat wajah pria itu begitu dekat dengan wajahnya. Mereka bertatapan dan larut dalam momen masing-masing.


Gadis itu tersadar dan mundur sedikit, perasaan canggung semakin menggebu-gebu. Sosok Elsa yang berani seakan menciut dan sosok Lucas yang jujur pada situasi ikut melebur.


Dia segera mengumpulkan semua berkasnya, "aku permisi pergi" ujar Elsa ingin berlalu meninggalkan pria di hadapannya.

__ADS_1


Lucas menahan pergelangan tangan itu agar tidak terlepas lagi. Ia tidak mau kehilangan tangan yang sama untuk kedua kalinya. "Elsa" panggilnya.


Orang yang ditahan itu berbalik, "hmm iya?"


"Bisa kita mengobrol sebentar?" tanya Lucas santun.


Waktu seakan berhenti pada titik momen keduanya. Hati mereka sama merindu, itu sudah cukup untuk menjadi alasan Elsa menerima tawaran tersebut.


Keduanya duduk di sofa ruang utama, berjarak cukup jauh dan saling menjaga karisma masing-masing.


"Bagaimana kabarmu?" Kenapa kau di rumah Steven?" tanya Lucas canggung.


"Biasa saja. Disini aku menjadi guru private homeschooling Elena" jawabnya ringan.


Lucas mengangguk seolah mengerti, dalam hatinya ia merutuki sosok Steven. Ternyata kejutan besar yang dia katakan adalah mempertemukan mereka kembali. Harusnya dia mengatakan sebelumnya, setidak Lucas bisa mempersiapkan imege cool.


"Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau menempati posisi wakil direktur utama Lee's Group" Elsa langsung jujur.


"Hmm begitulah hehehe, aku hanya menjalankan perintahnya saja" Lucas.


Suasana tidak nyaman semakin menggebu hingga salah satu dari mereka mengutarakan sesuatu.


"Kenapa kau tidak pernah menemuiku sekalipun? Kau tidak merindukanku" Elsa.


Lucas yang sejak tadi malu menatap wajah Elsa secara langsung akhirnya menatap dalam-dalam dengan penuh arti tersirat. "Aku merindukanmu" dua kata yang begitu saja tidak bisa lagi tertahan.


Pipi merona dan jantung berdegup adalah akibat dari perkataan manis barusan. Ia tidak mengerti, kenangan itu sudah lama berakhir tapi ternyata masih ada sisa sisa perasaan terselubung.


Alternatif yang harus ia ambil sebelum kenangan lama menguasai diri, Elsa bangkit dari atas sofa "Maaf Cas, aku harus pergi sekarang"


"Bolehkan aku sesekali berkunjung dan beristirahat sejenak di rumahmu lagi?" Lucas menghentikan langkah kaki ramping di hadapannya.


Elsa memutar kepalanya 90°, "with my favorete clothes"


Lucas tersenyum lebar mendengar satu kalimat yang selama ini ia sangat ingin dengar. Elsa juga ikut tersenyum samar dengan jawabannya sendiri.



Gimana guys? Beberapa dari kalian pasti kpopers. Aku yakin yang kpopers pasti tahu kapal Chanrose 😁


Author salah satu penumpang kapal Chanrose, hihihi


Sebenarnya kalau kalian sadar mimin cari visualizer nya yang sesuai dengan karakter asli mereka dan yang punya chemistry yang bagus. Author gak akan spill visualizer untuk karakter antagonis, karena author gamau kalian ada yang sampai ngehate mereka ke dunia real.


Author juga mau buat V BTS as Briant nyesuaikan dengan Jisoo tapi wajahnya terlalu muda untuk jadi kakaknya Elena. Untuk visualizer Elena aku pilih Yoon Sunyoung karena dia itu cantik banget dan ada feels sad gitu di setiap pemotretannya persis kayak karakter Elena.

__ADS_1


Kalau Sehun ya karena mimin seorang Xunqi, sekaligus halu jadi buat dia visualizernya hahaha.


__ADS_2