MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Be a nice guy


__ADS_3


Steven -



Kesibukan bahkan bisa terasa di dalam kamar ini walaupun tidak ada kaitan. Rasa penasaran sekaligus bersemangat membara penasaran di pikiran.


Hasil yang bisa menentukan masa depan ribuan manusia. Setiap hasil memiliki dampak brutal masing-masing.


Yang satu adalah sosok rakus dan haus akan sanjungan. Sedangkan di pihak lain ada wanita gila yang rela pertaruhkan apapun demi keinginan pribadi. Ya dialah Jessica.


"Bagaimana angka quick count saat ini?" tanyaku pada seseorang melalui airpods.


Elena membantuku memakai jas hitam koleksi limited edition brand asli Italia Booralro. Aku melingkarkan lengan jam tanganku.


"Pantau terus kenaikan angkanya, jika terjadi kenaikan yang signifikan hubungi aku segera"


Sebuah botol parfume brand Tom Ford sades Fabulous ku ambil dari salah satu koleksi parfume ternama yang berjajar rapi di meja rias. Aku menyemportkannya di area leher dan pergelangan tangan.


Aroma nya sudah menyebar di tubuhku. Elena mengambil tas kerjaku, "jangan lupa makan siang dan segera pulang setelah semua pekerjaanmu selesai"


Rasanya senang mendapat perlakuan perhatian bak seorang istri kepada suami. Aku mengecup dahi wanita di hadapanku, "of course my wife"


Kubungkukkan punggungku hingga sejajar dengan perut Elena yang masih membuncit seperti selesai memakan ramen tiga porsi dengan nasi. Kehamilannya masih seusia jagung lebih sedikit. Jadi perutnya belum terlalu membuncit.


"Daddy will go to make a living for my boy. Take care of your mother, be a good guy" ku elus perutnya dengan kasih sayang.


Aku berangkat kerja dengan diantar sang sopir. Pemilihan ketua dewan ini menyita perhatianku hampir sepenuhnya. Apabila kemenangan kali ini diraih Jessica, aku akan mendapat keuntungan besar.


Kupandangi layar komputer yang menunjukan angka-anka yang terus bertambah seiring berjalannya waktu. Jari jemariku bergantian mengetuk-ketuk sandaran lengan kursi kerjaku.


Benar, aku tidak pernah salah memilih sekutu. Lawan kalah telak. Jessica mendapat angka yang jauh dominan dan berhasil meraih kemenangan pasti.


Kuambil HP ku. "Congrats Jessica, sebentar lagi kau sah menjadi ibu bagi banyak masyarakat. Aku sudah kirimkan kejutan untuk mu. Oh shit, aku hampir lupa. Ada satu kejutan lagi yang akan kau terima. Temui aku di lokasi yang akan kuberitahu, remember! you should go!"


Tanpa mendengar jawaban ataupun penolakan, segera ku akhiri panggilan tersebut.


Setelah sejam hasil quick count diumumkan, tab screen komputer kuganti dengan membuka rekaman cctv lokasi terkini. Disana para reporter dan jurnalis sibuk mempersiapkan konfrensi pers kemenangan Jessica sebagai ketua dewan.


Tidak lama, Jessica muncul dengan wajah berseri bahagia. Aku hanya memberikan smirk di wajahku melihat kebahagiaannya yang hanya sementara.


Kata demi kata terima kasih, janji, maupun tekad serta dusta dia lontarkan di depan semua hadirin. Ketika ia selesai, dia berjalan melewati kerumunan kamera.


Tiba-tiba seorang pria berpakaian serba hitam yang menggunakan masker dan topi hitam pula menerobos keramaian menghampiri wanita tersebut. Ia memberikan bucket bunga dan sebuah bingkisan yang terbungkus rapi.


Pria itu langsung meninggalkan TKP sebelum Jessica membuka isi bingkisan. Semua orang berfikir itu adalah pendukung yang sangat menyukai Jessica tapi itu tentu statement yang salah.

__ADS_1


Jessica melihat bucket bunga, ada secarih kertas kecil di sana. Di kertas itu tertulis sesuatu, aku menulis lokasi yang aku janjikan. Dia pasti tahu itu semua adalah dariku.


Setelah ia membuka, kehebohan terjadi diantara mereka. Jessica menjerit takut melihat isi nya ada kepala babi yang berlumur darah dan sebuah plastik yang berisi darah.


Darah itu adalah darah manusia, bukan darah babi yang aku ambil kepalanya. Jessica kelihatan syok. Aku begitu excited menyaksikan rasa takut dalam kejadian itu.


"Ahh mari kita berpesta" aku berdiri, mengambil jasku lalu pergi ke suatu tempat.


Ketika baru memasuki mobil, aku menghubungi anak buahku. "Bawa orang itu" aku lalu melajukan mobil meninggalkan area kantor.


Saat ini aku sedang bermain di sebuah stadion ice skating lama yang tidak digunakan. Memutar dan menggerakkan tubuhku yang sudah kaku tidak pernah melakukan hal mendebarkan lagi.


Cukup lama menunggu akhirnya mereka sampai. Seorang wanita berdiri di pintu masuk stadion bersama para bodyguard yang aku berikan untuk menjaganya.


"Bawa wanita itu masuk!" perintahku tanpa melihat mereka. Aku masih sibuk memukul bola dengan tongkat ice skating.


Para bodyguard yang awalnya berkewajiban menjaga wanita itu, sekarang ia membawanya secara paksa ke sini.


Jessica melawan, ia tidak ingin dipegang. Mereka memberinya sepatu ice skating untuk mempermudah bergerak leluasa.


Dia berseluncur dengan hati-hati ke tengah-tengah ruangan. Aku berseluncur memutari dirinya yang kelihatan menawan dengan balutan jas formal.


Smirk khas seorang Steven Lee tidak luput hadir.


"Kau tahu? Awalnya aku ingin membiarkanmu setelah menurut dengan peringatanku hari itu" aku membuka pembicaraan.


"Hahaha munafik memang menjadi ciri khasmu"


Dia menggigit bibir bagian bawahnya untuk melampiaskan kekesalan. "Sudah aku katakan aku tidak mengganggu kalian lagi"


"Bawa reporter Jo kemari" perintahku.


Ekspresi wajah Jessica berubah menjadi khawatir. Aku berseluncur menjauhinya. Mencari posisi sempurna untuk melakukan shot agar tepat sasaran.


Dua bodyguard membopong seorang pria yang sudah begitu lemas babak belur dengan banyak darah disekujur tubuh. Reporter Jo bersujud di samping wanita yang mulai gemetar ketakutan.


"Ampuni aku tuan Lee" kata pria itu dengan suara yang hampir habis.


Jessica turut bersujud, ia menyatukan kedua tangan di depan wajahnya. "Aku mohon Steven, maafkan aku. Saat ini aku sudah menjadi ketua dewan, kau tidak boleh menghancurkan itu"


Aku mengambil posisi tubuh yang tepat, lalu memukul bola itu dengan keras ke karah mereka. Bola tepat mengenai perut pria sialan yang menyebarkan rumor tidak sedap tentang hubunganku.


Reporter Jo tersungkur kesakitan memuntahkan darah dari mulutnya. Aku smirk dan menatap tajam Jessica.


"Tidak bisa menyentuhmu? Kau salah wanita jalang. Aku yang membantumu berada di posisi itu. Dan akulah orang yang bisa membuatmu dihempas dari sana. Elena tidak ada hubungan denganmu, kau bukan ibunya. Tidak ada alasan untukmu membuatnya menderita"


Menyaksikan penderitaan pada reporter sialan itu, Jessica bersujud membungkuk. "Maafkan aku Steven, aku berjanji tidak akan pernah mengganggu kalian bahkan hanya untuk bertemu sekalipun"

__ADS_1


"Orang sepertimu hanya menjadikan pertobatan sebagai alasan bukan keputusan. Berhenti bersikap sok lemah, aku tahu setelah ini kau akan membalasku. Ingatlah aku tahu segala hal tentangmu" aku berjalan mendekat dengan wanita itu.


Aku berlutut dengan satu kaki, ku hempaskan dengan keras tongkat di hadapannya. "Aku tahu siapa dan apa yang saat ini kau lakukan, ingat lah aku bisa menghancurkan semuanya"


Kudekatkan wajahku ke telinganya, "bahkan reputasi tuan Han"


"Ah ya, jangan salah memilih sekutu" lanjutku lagi.


"Baiklah baiklah aku berjanji, jika aku mengganggumu kau bisa mengambil apapun dariku termasuk nyawaku" janji busuknya.


Aku bangkit berdiri, memberikan tongkatku pada bodyguard dibelakang reporter Jo. Dari dalam pakaian ice skating aku mengeluarkan pistol jenis revolver dan menodongkannya ke jidat wanita iblis itu.


Jessica langsung diam tak bergerak, ia menatap jariku yang masih belum menarik pelatuk. "Maafkan aku tuan Lee, aku mohon maafkan aku sekali ini saja"


"Tenanglah aku hanya menakutimu. Tidak mungkin aku melenyapkan seorang ketua dewan di hari kemenangannya sendiri" aku melepaskan todongan itu.


Kakiku berseluncur menuju pintu keluar. Tapi berhenti dan menatap balik Jessica yang bernafas lega. "Tapi aku perlu memberimu tanda peringatan" aku langsung menembaknya.


Tembakan itu sengaja ku arahkan bukan di area vital, tapi hanya menggores bahunya. Posisi yang tepat untuk menutup bekas tanpa ada yang sadar.


Segera aku melepaskan sepatuku lalu berjalan seperti biasanya. Ku tepuk pundak salah satu bodyguard, "kalian sudah bekerja keras. Cek rekening bank kalian, aku sudah mengirim bayaran dan bonus"


Perasaan lega, puas, dan senang terbendung dalam hati. Aku meninggalkan area stadion tersebut tapi tidak kembali ke kantor melainkan pulang.


Walaupun ini masih pukul tiga sore aku hanya ingin pulang. "Lucas antar semua berkas ke rumahku" aku berbicara pada seseorang dari airpods.


✨✨✨


Ini biar agak menarik aku lampirin foto jodoh aku dan istrinya wkwk. Author gak punya foto sehun pake baju ice skating, jadi pakai ini aja dehh hahaha.




Ciee yang nunggu ya ahahaha


Nih author sudah update episode baru. Agak hambar gak sih ceritanya 🤔


Pengen buat sadis tapi lupa kalo ini di negara bersopan santun xixixi


Terima kasih buat kalian semua yang udah mampir dan juga yang udah setia.


Besar terima kasih author untuk yang selalu dukung 💚💚💚


Mohon maaf jika ada kesalahan kata, penulisan, maupun cerita yang kurang menarik.


Jangan lupa like komen dan vote ya, gratis ihh jangan pelit 😁

__ADS_1


Big Thanks for you all. muachhh 😚😚


__ADS_2