MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Karena pada akhirnya semua hanya akan memilih pihak yang kuat saja


__ADS_3

"Aku ingin mandi, aku bau sekali" kataku pada Steven.


"Apa kau lupa dengan kata-kata dokter? Kau tidak boleh mandi dulu" tegas nya lalu mengacak-acak rambutku.


Aku cemberut, "tapi sudah sangat kotor" kataku pelan.


"Baiklah-baiklah aku akan membantumu mandi" kata Steven mendorong kursi roda itu menuju kamar mandi.


Tidak tidak, mendengarnya saja aku sangat sudah ngeri. "Tidak tidak, aku bisa sendiri. Tidak perlu repot-repot" tolakku.


"Bukankah kau yang memaksa untuk mandi? Kenapa sekarang tidak mau" bujuknya. Aku berusaha bangkit berdiri, namun Steven membuatku tetap duduk.


Drrttt....


HP Steven berdering, ia menghentikan langkah lalu mencari HP itu.


"Bibi Kim yang akan membantumu mandi, aku ada urusan sebentar" katanya mengelus rambutku lalu pergi menerima panggilan tersebut.


Cepat sekali moodnya berubah, tidak biasanya dia seperti itu.


Bibi Kim datang membantuku mandi dan mengobati luka ku.


"Terima kasih bibi" ujarku tersenyum hangat pada wanita baik hati tersebut.


Aku keluar kamar Steven mencari pria tersebut. Dengan mendorong kedua roda cukup lama akhirnya sosok pria yang aku cari telah aku temukan.


"Baiklah-baiklah sampai ketemu, aku menyayangimu" ujar Steven pada seseorang di telepon.


Kedua tanganku sontak berhenti mendorong roda itu. Sepertinya aku salah dengar lagi. Aku berusaha untuk tetap berfikir positif.


Aku kembali kamar ku, berusaha sendiri untuk pindah ke ranjang. Tubuhku begitu lelah, aku ingin beristirahat.


/ Apartemen Edward /


Pria bertubuh atletis dengan wajah seorang artis berdiri memandangi langit malam kota Seoul dari balkon kamar apartemennya.


Menatapi indahnya lampu-lampu kota yang menjadi pengganti sang bintang untuk menyinari gelapnya malam yang mencekam.


Asap yang keluar dari dalam mulut dan hidung pria itu, mengilang tertiup angin malam yang dingin.


Orang yang selama ini ia hindari, sosok wanita yang selalu ingin menjadi alasannya untuk lari bersembunyi, namun saat ini ia malah menjadi alasan Edward merasa gundah.


'Kenapa dia tidak jadi kembali? Bukankah harusnya ia sudah di Korea kemarin? Bahkan sudah cukup lama ia tidak mengirim ku pesan apapun lagi' isi hati yang gundah Edward.


Ia mencari nomor Selena di HP nya, menghubunginya...


Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi...


Ada apa dengan gadis ini? Apakah terjadi sesuatu padanya? Bahkan bila aku meneleponnya, tak butuh 10 detik dia sudah mengangkat panggilan tersebut.


Dari nomor Selena, ia beralih ke nomor Lucas.


"Halo Cas" ujarnya pada si pemilik nomor.


"Apakah aku boleh bertanya kabar Selena? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Edward sopan.

__ADS_1


"Dia baik-baik saja, hanya ada masalah pekerjaan saja. Lagipula kenapa kau tidak bertanya langsung? Apakah akhirnya Edward Lim yang dulu sok dingin akhirnya luluh? hahaha" jawab Lucas malah meledek.


"Bukan begitu aku hanya..." belum sempat ia menyelesaikan perkataan, Lucas sudah memotong. Edward menghisap kembali batang rokok yang ada di kedua sisi jari tangan kanannya.


"Sudah sudah nanti kita bicara lagi, aku sedang sibuk membereskan orang yang tadi ingin menyelakai Karina" balasnya.


"Tunggu, tunggu, apa maksudmu? Apakah Karina baik-baik saja?" Tanya Edward seketika panik langsung membuang puntung rokoknya.


"Dia aman, tenanglah" Jawab Lucas tergesah-gesah.


"Syukurlah, bisakah kau memberikan nomor Karina?" pinta Edward.


Lucas menutup panggilan setelah setuju memberikan nomor itu. Edward begitu terkejut dan ikut geram pada si pelaku. Biasanya ia akan menceramahi Lucas apabila berbuat sesuatu pada seseorang walaupun orang itu bersalah, namun kali ini ia merasa tenang dan membiarkan Lucas bertindak tanpa mengatakan satu ucapan larangan sekalipun.


- Karina -


Matahari kembali memancarkan cahaya nya sebagai sumber kehidupan di bumi. Masih pagi-pagi buta namun aku sudah bangun dan memandangi pemandangan taman dengan segelas teh camomille di tangan.


Teh camomille sangat baik untuk membuat tubuh menjadi tenang dan damai. Steven masih tertidur di ranjang kamar ku, ia pasti begitu lelah mencari ku semalam.


Drringgg....


"Halo?" tanyaku pada nomor tak dikenal tersebut di telepon kamar.


"Karina? apa kau baik-baik saja? Aku dengan ada yang ingin menyelakaimu" ujar pria di panggilan itu.


"*Kak Edward?" Tanyaku memastikan.


"Iya ini aku, aku tanya apa kau baik-baik saja?" Tanyanya lagi*.


"*Iya kak, aku baik-baik saja. Oh iya dari mana kau mendapatkan nomor ini?" Aku bertanya.


Selepas berbincang-bincang sejenak, aku menutup panggilan dan mengembalikan telepon kabel itu ke posisi semula.


Teh camomille yang dibuat oleh bibi Kim itu kembali ku minum, rasanya sangat tenang setelah berbicara dengan kak Edward sekaligus meminum teh ini.


Seseorang memelukku dari belakang, rasanya sangat hangat. Aku tidak melawan maupun berbalik, begini saja agar lebih nyaman.


Steven menyandarkan dagunya ke bahuku, "selamat pagi sayang, apa kau sudah lama bangunnya?" tanya Steven.


"Iya aku sudah baikan" jawabku pada Steven.


"Maafkan aku karena saat kau menghubungiku, aku tidak menjawab" katanya pelan.


"Tidak apa-apa karena aku tahu kau akan tetap mencariku" jawabku pelan juga.


Steven mengecup leher ku, "Aku mencintaimu" katanya parau.


"Hmm" aku hanya menjawab dengan mendehem. Entah mengapa rasanya aku sedang tidak ingin mengatakan hal manis apapun. Mendengar dia mengatakan mencintaiku, rasanya sangat tabu.


"Apa kau tidak berangkat bekerja?" tanya ku karena hari semakin siang tapi dia belum bersiap.


Steven menggeleng, "aku tidak ingin ke kantor. Aku ingin bersamamu seharian, urusan kantor itu gampang" jawabnya dengan suara malas khasnya.


"Apa yang terjadi dengan pria itu?" tanyaku pada hal berbeda.

__ADS_1


Steven menarikku duduk bersamanya di ranjang, "tenanglah aku sudah mengurusnya" katanya sambil memegang erat tanganku.


"Mengurus dengan bagaimana? Jangan bilang.." perkataanku terputus.


"Ssttt..sudahlah tak perlu dibahas lagi. Sekarang ayo kita sarapan, Steven kecil pasti sudah lapar" katanya kemudian meletakkan tangannya di perutku.


Steven dan aku membersihkan diri dan mengganti pakaian tidur kami masing-masing di kamar masing-masing. Bibi Kim tidak membantuku mandi karena aku menolaknya, rasanya risih saat orang lain membantuku mandi.


Selepas mandi, kami sarapan seperti biasanya. Luka di tangan dan kaki ku bukan apa-apa, walaupun sakit, tapi itu tidak sebanding dengan luka-luka yang pernah aku dapatkan selama di penjara Jessica.


"Ada hal perlu aku tunjukkan padamu" ujar Steven pada ku.


"Apa itu?" tanyaku penasaran.


Steven membawaku ke sebuah ruangan dekat kamarnya, sebuah kamar yang terkunci dan belum pernah aku masuki. Rumah ini sangat besar, luas, mewah, dan canggih. Beberapa ruangan tidak bisa dibuka seperti pada umumnya, salah satunya ruangan ini.


Kami berdiri di depan pintu ruangan tersebut, Steven mendekatkan wajahnya pada sebuah mesin atau alat berbentuk kotak di samping pintu.


Seketika pintu besi tersebut terbuka, pastinya aku tercengang dengan hal yang aku tak pernah lihat itu. Mulutku sampai ternganga, dan mataku terbuka lebar.


"Ini adalah pintu yang hanya bisa diakses dengan iris mata" jelas Steven menyadarkanku.


"Maksudnya?" tanyaku yang tak mengerti sama sekali.


"Maksudnya adalah, pintu ini hanya akan terbuka hanya dengan memindai mata, irisan mata tersebut sebagai pengganti sidik jari, dan hanya orang tertentu yang bisa mengakses ruangan ini" jelasnya rinci.


"Nanti aku akan mendaftarkan irisan matamu juga" katanya lagi.


Kami memasuki ruangan itu, dan aku lebih tercengang lagi melihat isi dari ruangan rahasia itu. Aku begitu terkecut mengetahui isinya.


"Ini adalah ruang penyimpanan senjata di rumah ini" ujarnya membentangkan kedua tangan. Seisi ruangan semuanya adalah senjata, entah itu pistol maupun pisau.


"Bukankah negara tidak mengizinkan untuk memiliki senjata?" tanyaku heran.


Steven bukannya menjawab, ia malah tersenyum sepele.


Ia menempelkan telapak tangan kanannya pada alat yang mirip dengan pindai iris mata tadi. Dan seketika pintu lemari kaca tempat senjata itu terbuka.


Ia mengeluarkan sebuah pistol berwarna silver, ia melihat seluruh sisi pistol tersebut. "Menurutmu, seberapa adilkah hukum? Apakah menurutmu hukum akan berpihak pada mu dan melindungimu?" tanyanya balik.


"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanyaku. Steven memberikan pistol tersebut.


Ia mengangkat alisnya, "ada sebuah ungkapan, hanya dirimu yang bisa menyalamatkan dirimu sendiri. Artinya jika kau ingin menang dan selamat, maka kau harus berjuang. Hidup adalah tentang peperangan Karina, jika kau lemah dan hanya mengandalkan sesuatu, maka kau yang akan ditaklukkan. Kau harus kuat, kau harus melawan, karena pada ahirnya semua akan memilih pihak yang kuat saja" jelasnya panjang lebar dengan makna yang rumit.


Isi otakku penuh dengan pertanyaan karena tidak mengerti, entah apa yang ia maksudkan. Aku melihat pistol tersebut, aku tidak tahu ini jenis apa, namun ini sangat berat.


"Hari ini aku akan mengajarimu bagaimana caranya berjuang" kata Steven lalu menunjuk sebuah boneka beruang lama yang terletak di sudut ruangan.



Hola my readers 💚💚


Wihh makasih dong udah baca dan tetap setia menunggu updatean aku


Mohon maaf ya kalau ada kesalahan dalam penulisan

__ADS_1


Semoga kalian suka 💚💚


Jangan lupa dong like dan komennya hihihi


__ADS_2