
Elena -
Secangkir kopi pagi akan menambah energi harian. Bagi orang-orang sepertinya kebutuhan kafein sangat penting terpenuhi setiap harinya.
Menikmati secangkir kopi dengan pemandangan pantai di pagi hari, ketika para nelayan sedang berburu jenis seafood di pantai yang sedang surut. Suara kicauan burung merdu berirama dengan sangat angin.
Aku memasuki kamar hotel dimana aku dan pria yang sedang berdiri meratapi sang alam yang agung. Segelas kopi panas untuknya aku buatkan sendiri dengan penuh perasaan.
Steven tersenyum manis menampilkan dimple yang hanya ada satu yaitu di pipi kanannya. "Apa yang akan terjadi selanjutnya?" aku bertanya.
"Kita akan pergi mencari restauran seafood yang lezat lalu kembali ke Seoul untuk memulai semua persiapan pernikahan kita" Steven.
Dia menikmati rasa kopi yang entah menurutnya memang nikmat atau hanya sekedar menghargai usahaku. Steven punya selera rasa yang tinggi dan tidak sembarangan.
"Memangnya kapan kita akan menikah?" tanyaku.
Cangkir kopi yang semula ia pegang diletakkan di pinggiran balkon, Steven memelukku dari belakang. "Aku berencana untuk menjadikanmu istriku awal musim semi, tapi tentunya butuh persetujuan dari walimu"
Kupandangi wajahnya dari dekat, "Musim semi?"
"Ada apa? Kau belum siap menjadi nyonya besar keluarga Lee?" Steven mencium pipiku.
"Bukan itu maksudku. Musim semi akan dimulai dalam dua sampai tiga minggu. Akan banyak hal yang perlu dipersiapkan"
"Aku tidak suka menunda-nunda, lagipula aku punya banyak pelayan untuk mempersiapkan itu kan?" ia terus mencium pipiku.
Terserah pada Steven saja, aku tahu dia pasti punya rencana terbaik untuk kami. Kupercayakan segalanya pada Steven.
Aku bersiap untuk pergi keluar bersama dengannya mengelilingi semua tempat. Tidak lupa juga untuk membawa kamera yang baru diberikannya.
"Stev, dimana kakak dan Selena?" tanyaku pada pria yang sedang menatap bayangannya di cermin.
Steven memasang jam di tangan kanannya, "mereka sudah kembali duluan. Briant mendapat undangan ke gedung biru jadi dia harus pulang. Selena ikut bersamanya"
Kakak tidak memberitahukan apapun. Tapi tidak apa, dia pasti sibuk merayakan kemenangannya kemarin.
Dengan berjalan kaki kami berkeliling berdua menikmati pemandangan yang tak akan ditemukan di kota besar Seoul. Aku memotret pemandangan indah yang menurutku sangat bagus.
Sesekali bahkan memotret Steven secara diam-diam. Dia terlihat tampan bahkan hanya dari satu sisi saja.
"Hei kenapa kau memotretku?" tanya Steven setelah aku ketahuan.
__ADS_1
"Aku memotret sesuatu yang menurutku bagus" jawabku.
Dia tertawa mendengar jawabanku, "coba aku lihat"
Kuberikan kamera tersebut, dia melihat foto lucunya saat sedang berkedip. Aku segera berlari karena kejahilanku.
"Awas saja jika aku menangkapmu" kata Steven dari jarak cukup jauh.
Ia mengejarku, aku terus berlari sambil mengambil fotonya. Hasilnya akan aku simpan di album untuk kenangan.
Ketika sedang memotretnya, aku tidak sadar ada batu di belakang dan hampir terjatuh. Untungnya dia menangkapku "Hampir saja"
Aku tersenyum malu karena kecerobohanku. Namun saat aku ingin melepaskan diri dari pelukannya dia tidak mau. "Sudah kukatakan tadi"
Aku terdiam sejenak, berpura-pura calm dan menurut. Alhasil dia heran dan melepaskan tangannya. "Kenapa? Kau merasa sakit?"
"Aku lapar" jawabku polos.
Steven tertawa dengan tingkahku. Kami pergi ke sebuah restauran seafood yang terkenal sangat lezat.
- Steven -
Kuasa Tuhan memang hebat dan menakjubkan. Bahkan hanya memandang wajah wanita yang tertidur di sisiku ini aku bisa tahu.
Elena belum membaca artikel di internet. Aku berusaha membuatnya sibuk dengan hal lain agar ia tidak melihat apa yang terjadi melalui layar smarhphone tersebut.
Pendaratan berjalan mulus. Aku ingin menggendong Elena yang masih terlelap tapi dia terbangun. "Kau sudah bangun?" tanyaku.
Ia mengangguk, wajahnya masih musam dan belum bersemangat. Aku menuntunnya keluar dari jet hingga masuk ke mobil yang menjemput kami.
Di perjalanan kembali ke rumah, aku menggenggam tangan wanitaku untuk memberinya kekuatan. Dia menyandarkan kepalanya dibahuku.
"Apapun yang orang katakan, kau tetap memilikiku" kataku pelan.
Mobil memasuki rumah utama, para reporter sudah berkerumun menutup jalan. Kamera perekam ada dimana-mana, Elena terkejut melihat semuanya. "Kenapa ini? Kenapa mereka mengepung rumah kita?"
"Kabar hubungan kita sudah tersebar, itulah mengapa mereka datang kemari" jawabku.
Sopir membuka pintu mobil untuk kami. Elena terlihat sangat cemas, kuberikan tanganku. "Tidak perlu takut, ada aku disini. Percaya dirilah selama kau tidak melakukan kejahatan"
Elena menutup mata sejenak, menghembuskan nafas dan berusaha tenang. Setelah cukup yakin, kami akhirnya keluar.
Suara kamera yang memotret disertai pertanyaan-pertanyaan mereka yang sangat berisik.
"Tuan Lee, apakah benar anda memiliki hubungan rahasia dengan nona ini?"
__ADS_1
"Apakah artikel yang menyatakan kalian memiliki hubungan gelap adalah benar?"
"Tolong katakan sesuatu tuan Lee"
"Tolong katakan apa hubungan kalian sebenarnya?"
"Siapa nona ini sebenarnya?"
Itulah inti pertanyaan-pertanyaan mereka. Tangan Elena menggenggam semakin erat sehingga aku merangkulnya.
Aku biasanya paling malas menghadapi para reporter tapi kali ini aku tidak akan melewati mereka. "Awalnya aku ingin memberikan pengumuman sendiri. Tapi karena beritanya sudah tersebar jadi aku akan mengumumkannya disini"
"Aku Steven Lee sudah resmi melamar wanita yang ada dalam rangkulanku, Elena Lim. Kemungkinan besar awal musim semi, pernikahan akan diselenggarakan secara umum. Aku mengundang kalian untuk datang dan turut merayakan hari pernikahan kami" lanjutku.
"Bisakah anda mengatakan sesuatu tentang nona Elena?" tanya salah seorang reporter.
Kupandangi wajahnya dan memberikan senyuman terbaik "Aku beruntung memilikinya, kalian akan tahu sendiri siapa wanitaku ini sebenarnya"
"Bagaimana dengan berita yang tersebar, apa yang ingin anda katakan tentang itu?" tanya mereka kembali.
Aku tersenyum sinis, "kamera zoom!"
Mereka langsung menzoom wajah kami berdua. "Untuk siapapun reporter dan jurnalis yang menyebarkan berita tidak sedap tentang hubungan kami, aku Steven Lee tidak akan melepaskanmu! Tunggu kedatanganku!"
Aku tidak ingin mengatakan apapun lagi segera kubawa Elena masuk ke dalam. Para penjaga membantuku untuk terlepas dari kerumunan itu.
Di dalam ruang utama, aku memeluk Elena agar ia lebih tenang. "Sudah tenanglah, setelah ini mereka tidak akan berani mengganggumu" ku elus punggung dan kepalanya.
"Bi tolong bawa Elena ke kamarnya" perintahku pada bibi Kim.
Sebuah panggilan masuk dari Lucas.
"Halo?"
'Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa kau mengancam di depan para reporter?'
"Agar orang yang aku ancam mempersiapkan diri. Kau sudah persiapkan yang aku minta?" tanyaku.
'Oh shit! iya iya aku sudah siapkan semuanya. Akan aku sebarkan sekarang' Jawab Lucas.
Ia menutup panggilan sebelum aku selesai bicara. Dia pasti sangat kesal karena ini akan menambah pekerjaannya.
Maafkan aku sobat karena selalu menyusahkanmu, aku sudah punya hadiah istimewa untukmu.
__ADS_1