
Steven -
Cahaya jingga sang senja menerobos masuk ke dalam ruangan direktur utama Lee's Group. Dalam hitungan jam sang mentari akan terganti oleh cahaya bulan dan lampu-lampu kota.
Sudah beberapa hari ini istirahatku tidak cukup. Tim produksi sudah memulai produksi senjata di Urk Utara. Perusahaan Y yang aku akuisisi sedang dalam tahap pembersihan dewan direksi. Belum lagi investasi dengan perusahaan tambang nikel di Amerika Latin.
Sebuah amplop besar berwarna coklat diletakkan. Kedua mata ku beralih fokus pada benda tipis dan lebar tersebut.
"Ini hasil tes DNA yang kau minta" Lucas dengan santai bersandar ke meja kerjaku.
Pria jangkung tampan ini dengan santainya memainkan HP "Kenapa lama sekali? Bahkan sehari saja tes ini bisa selesai, kenapa baru kau berikan sekrang?"
HP yang semula ia kenakan ia simpan ke saku dalam jas coklatnya. "Akhir-akhir ini kau tahu kan kita sibuk sekali, aku harus mengurus banyak hal sehingga tak punya waktu untuk menemui Edward. Buka saja tidak perlu cerewet, kau pasti akan terkejut dengan hasilnya"
Amplop tipis tersebut aku buka, beberapa kertas berwarna putih keluar dari dalam. Ketika membaca hasil tes didepanku, aku begitu bersyukur karena pencarianku akhirnya sampai pada ujung..
Orang yang sudah lama aku cari ternyata ada di sekitarku, orang yang pernah menjadi sahabatku juga. Takdir punya cara unik untuk mempertemukan kami. Hasil tes menyatakan 99.98% cocok. DNA Karina dan DNA Edward cocok sebagai saudara kandung.
Kerja keras membawaku pada hasil yang baik. Aku memukul mukul lengan sahabatku ini. "Terima kasih Lucas aku menyayangi mu" kataku.
Mendengar aku mengatakan menyayanginya ia terlihat risih, "Dihh jika begini kau akan sok manis. Tolonglah aku masih normal, aku menyukai wanita bukan pria apalagi pria beristri. Ingat ya, kau harus membayarku untuk segalanya"
Hasil tes DNA ku kembalikan ke dalam amplop dengan baik. "Tenanglah bayaranmu sudah aku beri cukup tunggu saja" jawabku santai.
Lucas tak mengerti dengan maksudku, ia pasti mengira aku masih bercanda.
"Ohh iya sudah lama kita tidak bertemu dengan tim elite, mereka meminta untuk berkumpul malam ini" Lucas menginfokan.
"Apa aku ada jadwal malam ini?" tanya ku untuk mempertimbangkan.
"Malam ini kau punya jadwal makan malam dengan direktur harian Daechang" Lucas.
Dengan tegas aku mengatakan, "batalkan pertemuan itu, tim elite lebih penting dari mereka"
Tim elite adalah pasukan khusus tingkat utama di pasukan keamanan ku. Mereka bukan pasukan khusus biasa yang aku latih sendiri. Tapi mereka adalah orang-orang yang dulu bekerja sebagai tentara bayaran yang pernah bekerja di pasukan elite yang paling ditakuti.
Mereka berhenti dan memilih menutup identitas dengan hidup normal dengan keluarga baru, namun akan menjalan misi kembali saat mendapat panggilan saja. Bakat dan kemampuan mereka ada dari dalam diri mereka sendiri.
__ADS_1
Kehilangan mereka akan membuatku kehilangan teman-teman berhargaku, mereka lebih penting dari pada para direktur tersebut.
/ 01.59 A.M /
- Karina -
Pintu utama terbuka, tiga orang pria berjas hitam masuk saling menopang. Supir dan seorang penjaga menopang kedua tangan membawa pria yang di tengah masuk ke dalam.
Aku berlari menghampiri mereka, Pria yang di tengah melihatku dan mendorong kedua pria itu menjauhinya.
"Hei wanita cantik? sejak kapan rumah ini ada wanita cantik? Hai cantik" Steven mabuk berat, bau alkohol sangat menyengat dan ia bertingkah konyol.
"Apa yang terjadi pak supir? kenapa dia seperti ini?" tanyaku pada sang sopir.
"Bos tadi minum dengan rekan-rekannya nona" jawab sang sopir.
"Baiklah terima kasih" ujarku. Ku hampiri Steven yang senyum senyum tak jelas.
"Halo nona kau sombong sekali" katanya membungkuk melihatku.
Ku coba untuk membawanya ke kamar tapi dia malah memelukku erat, "siapa namamu? bagaimana bisa wanita secantik kau ada di rumah ini" katanya.
Ia tersenyum lebar seperti orang bodoh, "wanita ini ingin menggodaku, tapi maaf ya aku sudah punya istris di rumah. Dia sangat cantik dan seksi, tapi dia sangat menggemaskan" Steven melepaskan pelukan lalu cerita dengan membuat ekspresi sok lucu.
Aku menopang tangan Steven dan membawanya ke kamar ku karena lebih dekat dari pada kamarnya sendiri.
"Awas jangan dekati aku pria yang sudah beristri" katanya lagi bagaikan orang bodoh.
Bersusah payah aku membantunya naik dengan segala celoteh tak jelas yang ia lontarkan.
Ia melepaskan tanganku dari bahunya, "sudah aku bilang aku punya istri, Karina tolong wanita ini ingin merebutku darimu" ia berbicara dengan suara sedikit keras.
Pria ini membuatku kesal saja, "aku Karina, bodoh" aku memukul lengannya agar ia sadar.
Senyumannya semakin lebar setelah ia mendengar perkataanku. "Karina, kau, wahh Karina ku cantik sekali" Steven menyentuh wajahku dengan kedua tangannya.
Steven hendak menciumku, bau alkoholnya sangat pekat. Namun akhirnya ia tumbang juga. Ia akhirnya jatuh memelukku.
Pria bertubuh tinggi dan ideal ini kutidurkan diatas ranjang empukku. Ia tertidur pulas seakan tidak ada berbuat apapun. Ku lepas jas hitam dan sepatunya lalu menyelimuti dia.
Aroma alkohol yang begitu pekat membuatku mual, aku tidak bisa tidur di.kamar ini. Malam ini aku pergi ke kamarnya, kami bertukar kamar karena tidak ada pilihan lain lagi.
__ADS_1
- Steven -
Kepalaku sangat sakit seperti akan pecah. Ku coba untuk tersadar, bangun dari atas bantal. Aku tersadar bangun di kamar Karina, tapi orangnya tidak ada.
Pengar yang kurasakan cukup parah, walaupun toleransi alkohol tubuhku tinggi, tapi semalam aku minum diatas ambang batas.
Aku keluar dari kamar tersebut mencari segelas air untuk meringankan pengar. Dengan pakaian yang masih belum terganti sejak semalam, aku turun ke dapur.
Sosok idaman hatiku yang sejak semalam aku tidak lihat bahkan helaian rambutnya sedang berdiri di depan kompor bersama dengan bibi Kim.
Senyuman kebahagiaan melihat wanita yang aku cintai pada pagi hari begini sedang mengaduk hidangan diatas kompor. Karina menggulung rambutnya keatas agar tidak terganggu, memakai gaun tebal dan tidak lupa celemek sudah cocok sebagai seorang ibu untuk anak-anak ku.
Aku menuang air ke gelas lalu meneguknya sampai habis. Karina melihat ke belakang setelah sadar keberadaanku.
"Bibi apakah ini sudah matang?" tanya Karina dari tempatnya berdiri.
"Sudah nona, kalian hidangkan sup ini" jawab bibi Kim dilanjut memerinta pelayan lain.
Dari tempatku duduk aku bisa melihat Karina menolak untuk dibantu, dia menuangkan sendiri sup ke mangkuk lalu membawanya ke meja makan. "Ini sup pereda pengar, minumlah agar kau tidak pengar dan bertingkah bodoh lagi" katanya kemudian duduk di sampingku.
"Orang sepertiku tidak mungkin berbuat bodoh, oh iya kau cantik dengan celemek itu" katanya malah bercanda.
Dasar pria aneh. Celemek tersebut kulepas, lalu aku mulai menyantap sarapan pagi ku.
Ia mencicipi sup yang aku buat dengan bantuan bibi Kim, "hmmzz sup ini lezat kau ternyata berbakat memasak. Pengarku mulai berkurang karena sup ini" puji dia.
Pujian karena hasil tangan sendiri itu sangat manis. Aku berusaha menahan senyuman senang di bibir agar ia tidak lebih mengejekku lagi.
Hola My Dear Readers 💚
Terima kasih udah mampir dan masih setia dengan novel ini
Mohon maaf ya jika ada kesalahan ya 🙏
Semoga kalian suka 💚
Jangan lupa like dan komen ya gratis kok
Sampai ketemu di episode selanjutnya
__ADS_1