
Elena -
Pemberitahuan
Dalam episode ini dan selanjutnya nama organisasi dan tokoh-tokoh luar (orang barat) diambil dari nama asli. Jika kalian penasaran kalian bisa mencaritahu. Untuk kisah permasalahan novel ini merupakan remake kisah nyata. Ada sedikit yang dari kisah nyata dan kebanyakan adalah fiktif.
Bagi para readers dimohon bijaklah dalam membaca, jangan terbawa-bawa ke kehidupam real sampai menjudge karakter yang saya pakai. Saya hanya memakai karakter karena saya suka mereka. Mohon kerja samanya.
Serta kisah ini bergenre action-romance dan latar luar negeri, campuran budaya barat dan Korea. Dimohon jangan samakan dengan yang ada di negara kita. Saya memohon dengan sangat bagi readers seluruhnya untuk openmind, dan sesuaikan bacaan kalian dengan umur kalian.
Novel ini merupakan novel 18++ tolong dikondisikan ya. Sekian dan terima kasih! 💚
Bayangkan ini foto prewedding Steven Lee & Elena Lim
Gugup, cemas, bersemangat, dan perasaan lainnya bercampur aduk seolah tidak ada yang ingin mengalah. Semuanya sudah dimulai kala persiapan sudah rampung.
Firman dan khotbah yang disampaikan oleh pastor kudengarkan dan resapi dengan baik. Walaupun bukan istri yang sempurna setidaknya aku akan menajdi istri yang mampu memberi sukacita dan rasa tenang bagi suamiku.
"Dengan demikian kalian berdua telah sah menjadi suami istri. Kedua mempelai dipersilahkan untuk berciuman" ujar sang pastor.
Tangan pria yang sudah sah memilikiku atas nama yang kuasa dan hukum membuka veil yang menutupi wajahku. Kami saling tersenyum hangat dan penuh sukacita.
Di depan altar dan hadapan para hadirin kami secara resmi berciuman. Pernikahan yang selema ini aku impikan terwujud. Pemberkatan di altar Gereja Katolik Vatikan, meriah layaknya seorang putri kerajaan Eropa serta cinta maupun dukungan semua orang melengkapinya.
Dengan menggandeng tangannya, kami berjalan beriringan meninggalkan altar. Aku sangat gugup karena banyak sekali orang yang menyaksikan.
Ini wedding dress Elena selama pemberkatan
"Aku sangat gugup Mr. Lee" bisikku.
Dia mengelus tanganku yang memegang sikunya, "aku juga gugup Ms .Lee"
__ADS_1
Kami memasuki aula resepsi yang mulai riuh dengan tepuk tangan. Duduk berdua di sofa yang sama di set yang sedikit lebih tinggi. Resepsi diselenggarakan di hotel yang berbeda dengan dekorasi yang jauh berbeda pula. Steven memang sangat berkuasa dan hebat, hanya dalam seminggu saja semuanya tertata indah.
Bahkan aku lebih suka dengan design kali ini, terlihat luxury, glamorous, dan masih berkesan classic karena ornamen hotel yang memang menonjolkan nilai seni vatikan.
Para tamu mulai menyalim dan memberikan selamat serta hadiah. Aku tidak mengenal siapapun selain mereka yang memang selalu ada di sisi kami.
"Selamat menempuh hidup baru adikku yang cantik" eonni Elsa dan aku cepika cepiki.
"Terima kasih eonni" jawabku.
"Kalian datang bersama, artinya kalian sudah baikan ya?" Steven menggoda eonni Elsa dan Lucas.
"Selamat menempuh hidup baru bro, sekarang kau sudah tidak akan bisa menggoda wanita lain" Lucas memukul dada Steven gemes.
"Kau masih baru balikan saja sudah songong" ia tidak mau diremehkan.
Kami tertawa melihat pertengkaran menggemaskan kedua sahabat itu. Akhirnya semuanya bersatu kembali, Selena dan kak Briant, serta Lucas dan eonni Elsa.
Seluruh sahabat Steven datang termasuk Leo si dokter terkenal. Dia memeluk Steven "Selamat bro masa lajangmu telah berakhir"
"Kutunggu waktumu tiba bro" balas Steven senang.
Pria yang sedikit lebih pendek dari suami tercintaku ini seakan familiar saat tertawa. Wajahnya memang tipe wajah pria Korea biasa, tapi aku tidak mengenal banyak orang. Pikiranku terlalu bersemangat sampai aku memikirkan banyak hal mustahil.
Kali ini pria yang sudah lama menghilang namun sekarang menjadi wali bagi pernikahanku ini memandangiku dengan mata yang sedikit berlinang.
Kupeluk erat kakak kandungku ini dengan rasa haru dan rindu. "Selamat berbahagia adik kecilku yang manis. Kakak tidak menyangka hari seperti ini akan tiba juga"
Steven mengelus punggungku, "terima kasih karena sudah kembali kak" gumamku lembut.
"Sudah sudah jangan menangis, nanti riasanmu luntur kakak ipar" Selena melerai. Ia mengajak ketiga orang itu menikmati pesta dengan para tamu lainnya.
Dan datanglah pria berwajah seram bahkan balutan jas rapi tidak mengurangi feel tersebut. Pria itu datang dengan beberapa pria lain, sepertinya itu adalah anak buahnya.
Sejak dimulainya pernikahan, aku sering melihat pria-pria berwajah seram dan bertubuh besar ikut meramaikan acara. Tapi yang satu ini adalah yang menduduki peringkat teratas wajah terseram di pernikahanku.
"Oh Mr.Lee" ujar pria itu ramah. Steven tersenyum lebar membalas sapaan itu sebelum dia menunduk.
Seakan pria itu sangat habet sampai Steven yang tidak pernah menunduk untuk orang lain hari ini aku melihatnya menunduk "Halo Bos"
__ADS_1
"Congratulations on your spectacular wedding, Mr. Lee. I am amazed by your always expensive and charming taste" pria berwajah seram.
"Thank you boss for coming to my wedding. I am very honored by your presence"
Aku mendekatkan diri ke punggung Steven, "siapa mereka?" aku cukup takut hanya dengan melihat wajahnya.
"Halo Ms. Lee congrats on your wedding, you look so gorgeous" pria itu menjalarkan tangannya ingin menyalam. Steven yang paham aku sedang cemas dia tersenyum penuh arti, "dia bosku, Mr.Agustov" jelasnya.
Bos? Tapi Steven bosnya bukan? Jadi dia siapa? Aku membungkuk memberi hormat juga bila memang benar dia bos Steven. Aku membalas jabatan tangan itu, "Thank you Mister".
Lalu seorang pria berwajah lokal tampan bersetelan rapi datang ke hadapan kami. "Selamat atas pernikahanmu sobat, aku turut bahagia untuk kalian. Semoga Tuhan memberkati pernikahan kalian" ramah memeluk Steven.
Steven membalas pelukan itu dengan senang hati, sepertinya mereka sangat akrab. Aku menyala dengan senyuman.
Dia menjabat tanganku ramah, "maaf karena terlambat menyapa Ms. Lee, aku terlalu sibuk karena suamimu ini. Benarkan Mr. Consigliere?" ia memandang suamiku dengan sebuah makna mendalam.
"Of course you do Mr. Consigliere" Steven.
Mereka saling memanggil dengan sebutan consigliere. Sepertinya itu hanya sebuah candaan saja, aku tidak terlalu mengerti.
"Dia adalah temanku, keturunan Italia dan ibunya adalah orang Korea asli. Dia adalah consigliere terhebat di Amerika sekarang" jelas Steven yang jujurnya aku tidak paham.
Aku hanya tersenyum sumbang berpura-pura paham. Dan akhirnya para tamu penting satu persatu selesai memberi kami ucapan. Karena kondisi kehamilan mudaku apalagi hari ini aku belum sempat istirahat sejenak karena tamu yang sangat ramai, aku merasa lemas.
Tamu-tamu yang sepertinya dari kalangan besar, berstatus sosial tinggi, pejabat, dan figur-figur sosial. Dua pertiga dari tamu adalah orang berkulit putih atau orang-orang Eropa, dan sisanya barulah tamu dari Korea.
"Aku lelah, boleh aku istirahat sebentar?" gumamku pelan.
"Kita istirahat sejenak, mari aku antarkan ke ruanganmu"
Steven menuntunku ke ruangan rehat mempelai. Kugenggam tangannya dan menikmati waktu berdua.
"Siapa orang-orang tadi? Kenapa kau memanggil pria menyeramkan itu bos? Bukankah kau bosnya?" tanyaku penasaran.
"Aku tidak bisa lagi menyembunyikan identitasku padamu, baiklah akan kuberitahu, tapi berjanji dulu untuk jangan memberitahu siapapun tentang ini" Steven berubah serius.
Kepalaku mengannguk mengerti.
__ADS_1