MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Big deal


__ADS_3

Kita sudah kembali ke mansion. Setelah makan tadi kami langsung pulang. Steven mengatakan ia ingin segera mandi dan istirahat.


Saat ini dia masih di kamar mandi. Dengan senang hati kuambil sleeping robe dan membawa ke kamar mandi.


"Ini pakailah" dia menerimanya dan langsung mengeringkan tubuh. Aku sudah biasa melihat Steven tanpa sehelai benangpun. Bagiku tidak ada yang lebih sexy dan menawan dari pada dia. Bahkan kak Briant sekalipun.


Setelah selesai mengenakan sleeping robe, kubawa Steven duduk di sisi kasur. Aku tersenyum lembut. Tanganku mengusap lembut pipinya dan memuaskan kerinduanku.


"Aku membuatmu menunggu terlalu lama" katanya pelan dengan suara beratnya.


Kugelengkan kepala, "aku takut kau pergi"


"Aku pasti akan kembali padamu"


Handuk yang bertengger dibahunya kugunakan untuk mengeringkan rambut basahnya. Dia membiarkanku sedangkan tangannya mengusap lembut perutku.


"Daddy merindukanmu, my boy"


Ia mengecup perutku, kurasakan bayiku menendang kesenangan. Aku tertawa karena ulang anak dan ayah ini. "Dia juga merindukanmu" kataku mewakili.


Dia menarikku duduk di pangkuannya. Aku menurut dan kami saling memandangi.


"Apa yang terjadi di sana?"


"Mereka hanya mengurung dan bertanya banyak hal"


"Lalu kenapa kau lama sekali?"


Dia mengusap pipiku, "mereka butuh waktu lama mencari bukti untungnya semua tuduhan mereka salah.


"Mereka tidak melukaimu kan?"


Dia memamerkan tubuhnya, "kau lihat tidak ada luka kan? Aku baik baik saja" Aku mengangguk mengerti.


Kurasakan tangannya memegang pinggangku dan yang satunya menarik wajahku mendekat. Aku menutup mata saat bibir kami saling menempel.


Semampuku membalas ciumannya dan lumatannya yang begitu lembut. Perlahan tanganku memeluk lehernya dan memainkan rambutnya sensual.


Steven melakukannya dengan sangat baik. Aku merindukan sentuhan sentuhannya.


✨✨✨✨


- Steven -


Gelas champagne kuletakkan di meja berbentuk lingkaran di depan kami. Aku menyilangkan kaki kemudian menghisap batang rokok di sela jariku.


"Beritanya sudah tersebar" info Lucas seraya menatap pada layar ponselnya.


Aku tersenyum menyeringai mendengarnya. Sudah kukatakan bukan? Omonganku bukan omong kosong.


"Apa yang kau lakukan pada mereka, Stev?" tanya pria bermarga Kim.


Lucas menunjukkan HP nya pada tuan Kim, "lihatlah sendiri"


Dia membaca judul artikelnya, "kau memotong ******** mereka lalu kau bunuh?" tanyanya dengan raut terkejut.


Pimpinan pasukan khusus dan salah satu pasukannya yang menyentuh Elena sudah berakhir tragis.


"Hadiah untuk mereka yang berani menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya mereka sentuh" jawab Lucas mendahuluiku.


Kutepuk tepuk pelan ujung batang rokok di asbak, "sebenarnya janjiku pada mereka adalah mengeluarkan organ mereka. Tapi tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang pria dari pada kehilangan senjata mereka"


Kami bertiga tertawa lepas akan hal itu. Dalam ruangan VIP restauran Tiongkok, hanya ada kami bertiga.

__ADS_1


"Jadi kapan kau akan berterima kasih padaku?" tanya tuan Kim.


Kutatap dia aneh, "untuk apa aku berterima kasih padamu?"


"Kalau bukan karena aku, interpol tidak akan membebaskanmu"


"Hahaha malah karenamulah aku lama keluar dari sana. Kalau bukan karena Lucas mungkin aku akan menghabiskan satu bulan di sana"


Aku dan Lucas melakukan tos di depan tuan Kim. Dia mendengus sebal karena tidak dianggap.


"Hahaha baiklah baiklah mari kita ulang" jelasku padanya.


Sekali lagi kami melakukan tos tapi bukan berdua melainkan ketiga. Dan dilanjut bersulang dengan champagne pada gelas masing masing.


Mataku memandangi anggur yang terhidang mewah di dekat lilin. Kugerakkan kakiku santai menikmati momen tenang ini.


"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Lucas.


Mataku beralih pada pria yang asik menikmati anggur dan champagne. "Woi rubah" panggilku dan dia seketika menoleh.


"Berhenti memanggilku rubah, sialan" dia melempar sebutih anggur karena kesal.


"Terserahku memanggilmu apa" aku duduk menaikkan kakiku ke meja dan menatapnya penuh arti, "mau kuberikan penawaran besar?"


"Penawaran apa?" tanya Lucas menyela.


Kutatap mereka bergantian dengan serius, "Christian Yu!"


✨✨✨✨


Handuk kecil melayang hingga mendarat di kasur begitu saja. Aku turun ke lantai satu dan memasuki dapur.


Wanita cantik itu sibuk meracik sesuatu di depan pantry. Tanganku melingkar di depan dadanya dan kecupan manis mendarat di pipinya.


"Oh-Steven, kau mengagetkanku"


"Membuatkanmu pancake" dia menuangkan madu di atas pancake itu.


Semakin erat kupeluk dirinya, "kenapa terlalu banyak bekerja? Bagaimana kalau baby nya kecapean"


"Aku lebih suka bila suamiku makan makanan dari buatan tanganku sendiri" dia berbalik dan melingkarkan tangannya di leherku.


Kami saling tersenyum dan dia berjinjit mengecup bibirku lebih dulu.


✨✨✨✨


- Elena -


"Selena aku mau ice cream" pintaku pada gadis berambut panjang yang berjalan denganku ini.


Dia menoleh ke toko ice cream yang sedang kupandangi, "tunggulah di mobil biar aku belikan"


"Tidak biar aku saja, aku punya selera yang ribet tentang makanan" ujarku dan kami terkekeh.


Selena kembali ke mobilnya sedangkan aku masuk ke dalam toko itu. Aku berdiri di belakang seorang pria yang sedang memesan miliknya.


"Terima kasih" ujar pria itu menerima pesanannya.


Sepertinya aku mengenal suara ini, Leo?


"Leo?" panggilku.


Dia berbalik dan ternyata benar dugaanku. Kupandangi dia datar dan tajam, kenapa aku harus bertemu si brengsek ini disini.

__ADS_1


Dia tersenyum canggung dan mengangkat tangannya menyapa, "halo Elena"


Aku kehilangan selera makan hanya dengan melihat wajahnya. Ingin sekali kucakar cakar lalu kukeluarkan otaknya dan kujadikan pajangan.


"Elena, boleh kita bicara sebentar" ia menahanku pergi.


Saat ini kami duduk di dalam toko dengan ice cream masing masing. Kubuang pandanganku ke luar toko melihat lalu lalang orang.


Sejujurnya aku ingin sekali memberitahu kenyataan itu pada Steven. Tapi peristiwa yang terjadi baru baru ini menghalangi niatku.


"Apa kau belum memberitahu Steven?" tanyanya pelan.


Aku tersenyum sarkas dan memutar bola mataku jengah. Kutatap dia tajam, "dasar tidak tahu diri"


Leo menghela nafas pasrah, tangannya bergetar saat menyendokkan ice creamnya. "Maafkan aku" ucapnya lirih.


"Jangan meminta maaf padaku, minta maaflah secara langsung pada Steven dan minta pengampunan darinya. Aku tidak bisa jamin apa yang akan dia lakukan, tapi Leo... Setidaknya rasa kecewanya padamu akan berkurang jika kau sendiri yang jujur padanya, walaupun hanya sedikit. Dia begitu percaya padamu, ia akan semakin murka bila tahu kebenarannya dari orang lain"


Dia hanya diam dan menunduk. Walaupun aku membenci dan begitu marah pada Leo tapi aku tahu sebenarnya dia merasa bersalah.


"Tidak bisakah kita merahasiakan ini?"


"Mau sampai kapan? Hari ini mungkin aku tapi seterusnya bisa saja orang lain yang tahu. Pada akhirnya kebenaran pasti akan terungkap, Leo. Sampai kapan kau akan terus jadi pengecut? Hanya diam dengan semua kebohonganmu dan membiarkan keadaan mengendalikanmu? Aku tidak tahu alasan pastinya orang tuamu memaksamu melakukan itu. Tapi jika kau memang ingin bebas dari rasa bersalahmu setidaknya tebuslah itu. Steven sangat menderita dalam hidupnya, kehilangan semua yang dia punya dan itu bermula karena keserakahanmu. Dia mungkin tidak akan memaafkanmu tapi setidaknya kita bisa menghindari kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada keluargamu. Karena saat Steven murka, kau tahu seberapa mengerikan dirinya kan?"


Semua sudah kuungkapkan, semua akhirnya mengalir.


"****!"


Kami sama sama menoleh pada seseorang yang mengumpat.


"Sel-Ena" ucapku terputus.


Dia menatap benci pada Leo, tatapan berapi-api dan penuh kedengkian.


Leo langsung berdiri dan tangannya semakin bergetar. Ia tidak berani menatap mata gadis itu. Jujur walaupun tidak ada hubungan darah antara Selena dan Steven tapi mereka punya mata dingin mencekam yang sama saat marah.


Kuambil slingbag ku di meja dan hendak pergi tapi tiba tiba perutku begitu sakit. "Aghhh" desahku merasakan bayiku seperti akan keluar.


Tubuhku langsung terjatuh lagi ke sofa dan kugenggam erat apapun yang ada di dekatku. "Aghhh bayiku aghhh..." mulutku sampai menganga karena ini benar benar menyakitkan.


"KAKAK IPAR" teriak Selena segera berlari menghampiriku.


"Elena, apa yang terjadi?" Leo malah bertanya.


Keduanya memegangi lenganku, aku sampai keringat dingin karena ini benar benar menyakitkan.


"Atur nafasmu perlahan" perintah Leo dan kucoba lakukan.


Kupegang perutku, sepertinya aku akan lahiran. Tapi ini bukan waktu yang ditentukan.


"Selena bayiku agghhhh"


"Bantu aku membawa kakak ipar ke mobil" pinta Selena pada Leo yang langsung diangguki. Lagi lagi kucoba untuk meraih apapun yang ada di dekatku.


"AGHHH..." teriak Leo karena aku menjambak rambutnya. Hanya itu yang bisa kuraih.


"Huh..huh..huh.."


"Tarik kak Elena, tarik lebih keras, jambak lebih keras" kata Selena dan langsung kulakukan.


Leo tidak henti hentinya berteriak kesakitan, tapi perutku benar benar sakit. Kami secara perlahan keluar dari toko dan masuk ke mobil.


__ADS_1


__ADS_2