MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Precious


__ADS_3

3 Months Later



- Elena -


Hari hari dimana kegembiraan selalu menyelimuti hari-hari kami seakan sirna, menghilang entah terbawa kemana. Tanpa jejak menyisakan kesedihan dan kesepian yang mendalam.


Tidak seperti biasanya selalu ada senyuman tulus diberikan, kali ini malah senyuman pahit yang terpaksakan. Bahkan kalimat atau satu katapun seolah begitu mahal, ia sangat pelit.


Biasanya dia akan menggodaku, melakukan hal-hal jahil yang mengundang gelak tawa kami, atau bahkan melakukan hal-hal sederhana yang terasa manis dan romantis.


Suasana hatinya sedang sangat buruk, bahkan hanya ingin bertanya ingin makan siang apa aku ragu. Aku hanya fokus melipat dasi di kerah kemejanya.


Murungnya seorang Steven Lee sangat menusuk. Bukan sekedar kesedihan tapi ada kesepian dan penyesalan yang ikut mengikat lehernya.


Kuambil jas di atas ranjang yang sudah kusediakan sebelum ini. Aku membantu mengenakan jas itu di tubuh gagah dan sexynya.


"Steven" panggilku lembut terkesan ragu.


"Apa?" ia malah menjawab datar.


Sikapnya ini ada karena besok adalah hari ulang tahunnya. Hari peringatan dimana hidupnya berubah total.


"Bagaimana kalau kita mengadakan pesta besok? Aku ak...."


Steven memotong perkataanku "tidak ada pesta! Tidak ada berkumpul atau perayaan apapun!" jawabnya cuek.


Ia langsung mengambil tas kerjanya dan pergi begitu saja. Perasaanku tidak bisa dijelaskan, dia memperlakukanku seperti orang asing.


Namun ini bukan salahnya, dia hanya terpengaruh oleh masa lalunya. Esok adalah hari ulang tahunnya sekaligus peringatan kematian kakak kembarnya, Alvin.


Sampai sekarang Steven sangat sensitif dengan kematian kak Alvin. Ia belum bisa keluar dari luka masa lalunya, sama sepertiku. Walaupun tampak baik-baik saja namun dia sejujurnya terbebani dengan rasa bersalah.


Steven memang memiliki banyak keahlian, salah satunya menyembunyikan rasa sakitnya sendiri. Aku memahami cara dia meresponku hari ini, melupakan kebencian dan permusuhan kami dahulu karena aku sudah tahu masa lalunya yang pahit.


Dia sudah pergi ke kantor, waktunya bagiku untuk membersihkan diri dan melakukan pekerjaan pekerjaan rumah walaupun tidak seberapa. Sekarang kehamilanku sudah berjalan di usia tujuh bulan, suamiku itu tidak memperbolehkanku bekerja terlalu banyak.


Segalanya super ketat untukku, bahkan ia menghentikan private school ku dengan eonni Elsa. Perintahnya adalah agar aku lebih fokus pada perawatan anak kami.


Kuhela nafas berat, bagaimana caraku menghiburnya? Walaupun tiga sampai lima hari lagi dia akan kembali seperti semula namun bagiku itu terlalu lama. Aku tidak suka melihat dia murung seperti itu. Aku membenci cara dia bersikap dingin, mengingatkanku bagaimana kami pertama kali bertemu.


Setelah selesai berpakaian, aku turun ke lantai dasar. Pergi ke dapur untuk mencari bibi Kim. Wanita paruh baya tersebut sedang memasak sesuatu di dapur.


"Kami sudah sarapan, sekarang bibi mau masak apa lagi?" tanyaku.

__ADS_1


Bibi Kim tersenyum ramah, "biasa nyonya, hanya membuat rebusan rempah-rempah untuk nyonya"


Mendengarnya aku langsung merasa malas, aku tidak suka rasa air rebusan itu. Pahit dan terasa aneh sekali. "Rebusan lagi bi? Ah aku tidak suka minum itu"


"Ini perintah tuan agar bayi kalian tumbuh dengan sehat, kuat, dan cerdas nyonya"


"Tapi bisa tidak bi kalau rasanya dibuat sedikit manis, aku ingin muntah karena terlalu pahit" tawarku.


Bibi Kim tertawa kecil, "tenang nyonya, saya sudah kenal betul dengan nyonya. Tadi sudah saya tambahkan gula merah Indonesia dan sedikit daun pandan"


"Gula merah Indonesia itu bagaimana bi?" tanyaku penasaran.


Ia membuka lemari dapur dan mengambil sebuah toples dan membukanya. Aku melihat sebuah benda warna coklat padat, lucu sekali bentu gulanya.


"Ini gula bi?" tanyaku semakin penasaran saat melihat bentuknya.


Ia memberikan sedikit potongan gula merah itu, "namanya gula aren jawa, dari Indonesia"


Gula itu aku cicip sedikit, benar rasanya manis sekali dan sedikit asam walaupun hanya samar. "Woahh daebak, kenapa bisa ada disini bi?" aku terkejut.


"Kebanyakan rempah-rempah di rumah ini berkualitas tinggi, di import dari luar negeri. Salah satunya adalah gula ini langsung di import dari Indonesia bersama dengan cengkeh juga"


Aku mendapat pengetahuan baru, rasanya menyenangkan mendapat pengetahuan baru walaupun hanya sesederhana ini.


"Bibi ada yang ingin aku tanyakan"


"Besok adalah ulang tahun Steven sekaligus peringatan kematian kak Alvin. Aku berencana merayakan ulang tahunnya bi, tapi aku ragu"


Bibi Kim terdiam, ia tampak gusar mendengar omonganku barusan. "Maaf bila tidak sopan nyonya, tapi menurut saya jangan lakukan itu. Tuan sangat benci dengan ulang tahunnya, dia berubah menjadi orang yang berbeda setiap kali berulang tahun"


Wanita itu memberikan gelas berisi rebusan yang baru saja dia buat untukku. Kuletakkan di atas meja karena masih terlalu panas.


"Saya sangat senang melihat tuan hari ini mau pergi bekerja, dahulu setiap akan ulang tahun tuan akan mengurung diri dan menangis sendirian atau bahkan dia pergi keluar rumah dan melakukan hal hal yang saya yakin nyonya tahu maksud saya"


Ya, aku paham maksudnya. Steven akan melakukan hal hal keji demi melampiaskan amarahnya.


Sepertinya memang akan lebih baik jika aku diam saja dan mengikuti alur. Aku tidak bisa berbuat banyak, hanya mendukungnya dari belakang.


Kubawa rebusan itu ke kamarku, aku berencana menata foto foto kami yang sudah aku cetak untuk dihias sedemikian rupa agar tampak lebih menarik dan menggemaskan.


Sambil berjalan, kuelus perutku yang sudah membuncit. Hamil tua begini menyulitkanku melakukan banyak hal termasuk menaiki anak tangga.


Setelah mengeluarkan usaha besar, aku sampai di lantai atas. Hanya menaiki tangga saja lelahnya seperti berlari ratusan meter. Aku bersandar sejenak di pembatas koridor lantai dua untuk menarik nafas lega.


Saat akan melanjutkan langkah aku melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah aku sadari sama sekali. Seperti sebuah pintu dibalik lemari besar di koridor terujung.

__ADS_1


Rasa penasaran membawaku untuk memastikannya. Kucoba untuk mendorong lemari itu, tapi apa daya aku seperti semut yang berusaha mengangkat seekor gajah.


"Penjanga" panggilku dengan suara lantang.


Tiga orang bodyguard yang bertugas datang merespon panggilanku. Mereka membungkuk untuk rasa hormat "iya nyonya kenapa anda memanggil kami?"


"Tolong geserkan lemari itu" perintahku.


Mereka langsung menggeser lemari itu, dan kami sama sama terkejut melihat ada sebuah pintu di baliknya. Aku membuka pintu itu, ruangannya sangat gelap.


Setelah menekan tombol saklar lampu, ruangan seketika terang. Kusaksikan sebuah kamar yang terkesan tua tapi masih tampak mewah.


Kucoba untuk masuk, baru kali ini aku melihat kamar ini setelah delapan bulan lebih tinggal di rumah alias mansion ini.


Saat menyusuri aku melihat rak dipenuhi oleh buku buku pelajaran yang sudah tua tapi masih tampil awet. Kamar ini bersih dan sangat terawat, pasti Steven yang menjaganya. Kenapa dia menyembunyikan kamar ini?


Cukup luas sehingga butuh lama untukku mengeksplorasi. Aku melihat sebuah meja, terdapat Alkitab, Kantate, dan beberapa buku Kristen lainnya disini. Ada juga salib kecil yang berdiri tegap, patung Bunda Maria tidak terlalu besar dan sebuah salib berukuran sama dengan patung tersebut dipajang di dinding dengan dikalungkan Rosario.


Ini pastilah meja untuk berdoa atau melakukan waktu teduh. Tapi setahuku Steven bukan orang yang religius, dia juga pernah bilang berdoa hanya jika sedang ingin saja. Lalu kenapa ada kamar dengan ruang doa disini?


Aku beranjak ke sisi ranjang, mataku menangkap sebuah foto seorang remaja pria berkacamata yang tampan dan wajahnya selalu aku lihat setiap hari.


Itu pasti kak Alvin, artinya ini kamar untuk kak Alvin. Semua barang barang disini adalah milik kak Alvin. Kuraih foto itu, aku duduk di sisi ranjang dan memperhatikan.


Wajah mereka sangat mirip, bahkan cara mereka tersenyum. Hanya kacamata dan cara berpakaiannya yang berbeda. Bila Steven yang aku kenal suka berpakaian casual atau fashionable, kak Alvin tampak cupu dan pemalu.


Aku tidak punya banyak kenangan masa lalu karena waktuku terbuang sendirian di dalam rumah seperti castil tua. Hidupku layaknya rapunzel yang menunggu dibebaskan.


Pertama aku bertemu Steven aku merasa pernah bertemu. Dia seakan tersimpan dalam memoriku. Lalu hari ini aku kembali merasa bahwa Steven maupun kak Alvin seolah akrab denganku.


Kuelus pipiku tanpa sadar, seperti tubuhku memberikan ingatan yang aku tidak bisa mengerti.


Foto tersebut kembali aku letakkan, aku tidak mau menambah buruk moodnya karena masuk ke kamar rahasia ini. Sebelum pergi aku berdiri di depan meja doa itu, kupandangi salib itu dengan hati berserah pada Tuhan.


Akhir akhir ini aku mulai terbuka dengan agama dan kepercayaan. Aku mulai religius, ini semua demi berkat bagi anak kami nantinya.


Tanganku menyentuh dahi, letak jantung di dada, dada kanan lalu dada kiri, ya! Membuat tanda Salib. Dalam hati aku meminta agar Steven diberikan kedamaian dan bisa bangkit dari keterpurukannya.


Seolah Tuhan menunjukkan sesuatu pertanda bagiku, aku tidak sengaja melihat sebuah kotak hitam di bawah salib kecil di meja. Kuraih dan membukanya, liontinku?


Ini adalah kalungku yang sudah bertahun tahun menghilang. Liontin berlian putih pemberian mama sebelum dia dibunuh. Liontin berbentuk tanduk rusa yang sangat indah.


Jemariku mengeluarkan liontin itu, tidak mungkin ini sebuah kebetulan. Aku kehilangan liontin ini saat berusaha kabur dari Jessica saat usiaku masih belum genap enam tahun.


Dan seingatku hari itu aku menolong seorang remaja laki-laki yang mendapatkan penindasan dan perisakan si atas sungai Han. Kubawa liontin itu pergi, lalu memerintahkan para bodyguard menutup kembali pintu seperti semula.

__ADS_1



__ADS_2