MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Elena dan Edward Lim


__ADS_3

/ Kantor Jessica /


Wanita berparas cantik, yang walaupun sudah menginjak usia kepala 4 masih terlihat menawan. Jessica bersandar di kursi kerjanya, memandangi layar laptop yang ada di hadapannya.


"Untuk mendapatkan dukungan penuh dari tuan Han, aku harus ikut berinvestasi pada proyek rahasia D itu. Dasar pria munafik, citra pada masyarakat sangat bersih sedangkan dari dalam betapa busuk dirimu. Baiklahh tidak apa, mengorbankan sedikit kekayaan ku maka aku akan memperoleh berkali lipat nanti" katanya pada dirinya sendiri.


Ia lalu mengambil HP dan mencari nomor tuan Han. Ia menghubungi secara langsung tuan Han.


"Halo tuan Han, bagaimana kabar anda?" tanyanya memulai pembicaraan.


"Bagaimana jika kita makan malam untuk menambah kedekatan kerja sama kita?"


"Baiklah kita bertemu besok malam di tempat yang saya sudah sediakan"


Ia menutup panggilan tersebut setelah mendapat apa yang ia inginkan.


"Sepertinya malam ini aku akan mengunjungi anak anjing kecilku itu" ujarnya tersenyum senang.


- Steven -


Perjalanan yang memakan beberapa jam di penerbangan akhirnya berakhir. Selama di perjalanan aku sudah membaca seluruh berkas dan profil dari client serta lawanku dan orang-orang yang ambil peran dalam kasus ini.


Setelah turun dari jet pribadiku, mobil untuk menjemput sudah menunggu. Aku dan Lucas diantar langsung ke tujuan. Sebuah perusahaan obat-obatan terbesar di Jepang yang mana CEO nya adalah kenalan ku sendiri.


"Halo Tuan Lee lama tak bertemu" sapa Erick si CEO.


Kami bersalaman dan mulai berbicara secara serius di ruangannya.


"Jadi apakah kau bisa menyelesaikan masalah ini secepat mungkin?" tanyanya.


Mendengar pertanyaan itu, rasanya kemampuan ku dalam dunia taktik, pasukan khusus, dan perang diremehkan. Ayolah di Asia aku adalah mafia terbaik dan masuk dalam 10 mafia paling menakutkan di dunia.


"Bahkan siang ini aku bisa menyelesaikan semuanya" jawabku enteng sambil memainkan HP ku. Aku melihat rekaman CCTV rumah dan betapa terkejut dan kesalnya aku ketika melihat wanita ku membawa pria lain ke rumah ku sendiri.


Aku menahan emosi ku karena tidak ingin melampiaskannya pada orang di sekitar ku.


"Baiklah jadi bahan obat-obatan yang kau ekspor dari Amerika mengalami kendala karena mereka tidak menepati perjanjian awal kalian kan? Baiklah besok malam kita lancarkan serangan" kataku.


Erick tersenyum puas atas jawabanku yang ia tunggu-tunggu sejak tadi.


"Cas, segera atur penerbangan kita siang ini juga. Oh ya segera tinjau lokasi target langsung setelah sampai" perintahku pada Lucas.


Ia mengambil HP nya lalu menyusun rencana sesuai arahanku.


Aku segera pergi meninggalkan perusahaan itu ke sebuah hotel terbesar di Jepang. Masih ada 2 jam sebelum penerbangan, jadi aku bisa beristirahat sejenak dan menyusun strategi disana.


Aku merilekskan tubuh di sofa kamar ku lalu kembali mengecek HP ku. Aku bisa melihat Edward masih ada di rumah bersama dengan Karina.


Emosiku memuncak ketika melihat Edward mencubit pipi Karina sedangkan gadis itu malah hanya biasa saja disentuh seperti itu. Aku segera mematikan HP lalu memilih fokus pada pekerjaan saja.


Ketika waktunya sudah tepat kami berangkat ke Amerika langsung. Perjalanan akan menempuh 10 jam jadi aku bisa menyelesaikan segalanya sesuatunya.


Masih 1 jam berlalu dan semuanya sudah terencana secara matang. Sisa waktunya akan aku gunakan untuk beristirahat dan meredam emosiku.

__ADS_1


Lucas menghampiriku yang sedang menutup mata. "Apa?" tanyaku malas.


"Hmmm..apakah kau ingat dengan adik dan ibu Edward yang sejak dulu ia cari?" tanyanya entah kenapa.


"Tak tahu, memangnya apa urusannya denganku?" jawabku lebih malas lagi.


"Hmm..nama adiknya adalah Elena, Elena Lim" lanjutnya lagi.


Aku menutup wajahku dengan kertas yang ada di dekatku, "Jadi kalau namanya Elena kenapa?"


Lucas memukul lenganku tiba-tiba, "Aishhh..Elena Lim nama asli Karina, dan Edward Lim. Apakah ini sebuah kebetulan? Menurutku tidak Stev" lanjutnya menjelaskan.


Seketika aku memperbaiki posisi ku, "Elena Lim? Apa kau serius?" tanyaku memastikan.


"Iya aku serius, awalnya aku tidak sadar. Tapi mengingat marga mereka sama dan nama Elena. Aku jadi cukup yakin" katanya.


Aku membuka Ipad ku lalu membuka semua berkas tentang Karina yang sudah aku simpan dengan sangat baik dan mencari profil lama Edward yang selalu tersimpan di 666 ku (pusat data dan informasi rahasiaku).


"What? Bagaimana ini bisa kebetulan? Bukankah kakaknya sudah meninggal 14 tahun lalu?"


Sepertinya emosi ku yang tadi aku pendam mulai hilang mengetahui kabar ini. Jika memang benar adanya, bagaimana aku bisa cemburu pada abang ipar ku sendiri?


Sepertinya aku akan melakukan tes DNA pada Karina dan Edward untuk mengetahui kebenarnya. Ini adalah kabar gembira untuk Karina.


"Kau masih sering kan berhubungan dengan Edward?" tanyaku pada Lucas.


Lucas tersenyum senang, "wahh jelaslah kami berdua itu sudah bagaikan Tom and Jerry" jawabnya enteng.


"Terserahlah, apakah kau bisa mengambil DNA nya?" tanyaku.


Aku juga ikut rileks, "bagaimana hubungan mu dengan wanita itu?" tanya ku.


Lucas membuang pandangannya usai mendengar pertanyaanku, "sudah lama berakhir tapi kau masih menanyakannya" jawabnya malas.


Selama perjalanan aku menghabiskan waktu rileks namun tetap produktif. Aku mengerjakan pekerjaan kantor yang masih terhenti karena keberangkatanku ini.


/ 10 Jam Kemudian /


Amerika saat ini sudah menjelang siang. Serangan akan dilakukan pada malam hari jadi persiapan bisa dilakukan dengan matang.


Aku segera menemui Alexander, temanku yang sama sepertiku. Dia adalah mafia yang terkenal di Amerika.


Pasukannyalah yang akan aku gunakan dalam misi ini.


"Hi Alex nice to meet you" sapaku pada teman lama ku ini.


"Hi Steven" jawabnya.


Kami bercengkrama dan aku menjelaskan apa yang harus dilakukan nanti malam. "Okey aku sudah transfer uangnya dan sisanya akan ku transfer setelah semuanya selesai" jawabku.


Aku meninggalkan Alexander untuk segera bersiap. Aku segera pergi ke hotel tempat janji temu kami dengan CEO perusahaan penghasil bahan obat-obatan tersebut.


Aku turun dari mobil sedan hitam dan masuk kedalam sendirian. Kehadiranku menarik banyak perhatian dari orang-orang yang ada di hotel itu.

__ADS_1


Langkah kakiku akhirnya sampai pada pintu ruang VVIP tempat CEO perusahaan tersebut menunggu. Asistennya membuka pintu untukku setelah mendapat izin dari si pemimpin.


"Halo Tuan Steven Lee, senang bertemu denganmu. Akhirnya aku bisa bertemu dengan mu" sapanya.


Aku membalas sapaannya, "Halo tuan Logan". Aku tadi melihat ruangan ini dijaga ketat dari luar. Kami menyantap makan malam kami dengan nyaman sambil bercengkrama.


"Jadi kau datang kesini hanya untuk menyelesaikan masalah ini? Ayolah tuan Lee, untuk apa kau mau turun tangan hanya untuk masalah kecil ini" katanya memandangku remeh.


Aku melonggarkan ikatan dasiku sambil tersenyum tipis, "awalnya aku juga berfikir begitu. Untuk apa aku ikut turun tangan bila anak buahku saja bisa menyelesaikan sendiri kehidupan seorang sampah" jawabku.


Ia meneguk wiski nya lalu tertawa, "sudahlah kalian hanya orang-orang Asia menyedihkan yang tidak bisa apa-apa" katanya.


Aku mengeluarkan bungkus rokok yang ada di saku, membakar batangnya lalu menghisap dan menghebuskan asapnya ke wajah pria brengsek itu.


Ia memukul meja karena kesal, "beraninya kau tidak sopan padaku" teriaknya.


Aura ku sudah mulai tajam dan dingin, aku sudah tak lagi berniat untuk menyelesaikannya secara damai.


"Kau akan menyesali perkataanmu setelah menghina kami orang Asia dasar brengsek" kataku dalam bahasa Korea.


"Apa kau menghinaku dengan bersembunyi dalam bahasamu?" katanya sudah naik darah.


"Kalian urus dia" kata nya memanggil anak buahnya dari luar.


Anak buah nya berlari masuk ke dalam, tapi jangankan menghabisiku, menyentuh sehelai rambutku saja ia tidak bisa. Tembakan dari luar masuk membunuh para anak buahnya dan pasukanku yang menyamar menjadi pekerja hotel mulai beraksi, ia mulai panik dengan kejadian ini.


Aku berdiri lalu memasukkan puntung rokokku ke dalan wiskinya, "sudah ku katakan kan? Oh ya aku ambil misi ini karena aku tahu bahwa bahan obat-obatan yang kau jual semuanya tidak mendapat sertifikat legal dari pemerintahan. Aku sangat tertarik mengambil alih perusahaanmu" kataku.


Ia terkejut karena tidak menyangka karena aku mengetahui hal itu, "apa kau tahu? jika aku mau, aku bisa membunuhmu tadi tapi itu tidak akan seru" jawabku.


Logan mengeluarkan pistol dari dalam jasnya lalu menodongkannya ke kepalaku. Aku memasang smirk di bibirku, hal ini sudah biasa dalam hidupku.


"Setelah melihat semuanya aku sudah tidak berniat mengasihanimu, mari kita lihat apa yang akan terjadi antara kita berdua" kataku.


Aku menepis tangan Logan yang memegang pistol, lalu menyikukan tanganku ke wajahnya. Dia ingin membalas tapi aku segera memutar tangannya dan berbalik menarik pelatuk dan menembak kakinya.


Logan terjatuh kesakitan karena terluka, "tunggu pembalasanku, aku akan menghabisimu" teriaknya.


Aku memukul kepalanya dengan pistol lalu mencampakkannya ke wajahnya "baiklah akan aku tunggu" kataku meninggalkannya.


Aku berjalan menjauhinya tapi dengan sigap aku bisa mengelak dari tembakan yang ia lakukan tiba-tiba. Aku mengeluarkan pistol dari dalam jasku, "enyah kau brengsek" teriakku.


Aku menarik pelatuk sebanyak lima kali dan menembaknya tepat di dadanya dan pada tembakan yang terakhir sasaranku tepat pada otaknya.


Ruangan ini sudah berserakan dan berceceran dengan darah. Aku meninggalkan hotel ini dengan keadaan kacau setelah selesai dengannya.



Hola Readers ❤❤


Terima kasih karena sudah mampir dan setia dengan novel aku


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam pengetikan dan pilihan kata 🙏

__ADS_1


Episode baru akan di update setiap akhir pekan guys


Semoga kalian suka ❤


__ADS_2