
Steven -
Aku duduk dengan nyamannya bersandar pada headboard ranjang. Menikmati tayangan TV sekaligus membiarkan tubuhku beristirahat dari kesibukan sepanjang hari.
'Sepuluh bayi menghilang secara misterius dari rumah sakit. Di duga bayi yang baru dilahirkan tersebut telah dicuri secara diam-diam...'
Dasar pshikopat! Akhirnya kau menunjukkan dirimu brengsek!
Kuraih HP ku yang tergeletak di atas meja nakas samping ranjang. Aku mencari nomor seseorang lalu menghubunginya.
"Cas, investigasi stasiun TV KBS dan rumah sakit yang baru saja diberitakan kehilangan bayi itu. Dia mulai menampakkan dirinya"
'.......'
Panggilan kuakhiri setelah mendapat tanggapan darinya. Kuletakkan kembali HP ku di meja nakas tadi lalu saat ingin kembali rileks aku menyadari sosok wanita hamil berdiri di dekat ranjang terus memperhatikan layar TV.
"Sayang, kenapa diam saja? Kemari duduk di sini" kataku sambil menepuk sisi ranjang kosong di sampingku.
Ia sadar akan panggilanku lalu duduk di tempat yang aku minta. Elena tampak khawatir dan gelisah usai melihat tayangan berita tadi.
"Kenapa bayi-bayi itu menghilang? Siapa yang mencurinya?"
Kubelai rambutnya lembut lalu mengecup punggung tangannya, "aku tidak tahu pasti, tenang saja"
Elena menatapku geliasah, "kau biasa saja melihat itu? Bagaimana kalau hal itu terjadi pada putraku?"
"Tidak akan sayang, tidak akan ada yang bisa menculik maupun mencelakai anak dari seorang Steven Lee. Bukannya biasa saja melihat itu, tapi hanya bersikap santai dari pada membiarkan pikiran buruk menguasai diriku"
Ia mengangguk mengerti walaupun sebenarnya dia masih tampak khawatir. Kupeluk dia agar semakin tenang karena kekhawatirannya tidak akan pernah menjadi kenyataan.
/ Keesokan harinya /
Author pov...
Sang wanita yang menjadi ketua dewan dalam beberapa bulan yang lalu keluar dari dalam gedung lama yang tak layak dikatakan pusat penelitian lagi. Gedung yang hanya menjadi cangkang kamuflase dari sebuah rahasia besar yang belum terpecahkan.
Jessica masuk ke dalam mobil sedan hitamnya dan diikuti sang sekretaris duduk di kursi depan samping sang sopir. Mobil pun meninggalkan pekarangan gedung tersebut.
Ia memijit-mijit pelipisnya karena pusing dengan semua masalah yang mulai bermunculan. "Apa jadwal selanjutnya?" tanyanya.
"Masih ada tiga jam lagi sebelum pertemuan dengan sekretaris negara. Apakah nyonya ingin pulang ke apartement untuk istirahat sebentar?" tanya sang sekretaris.
Kepalanya menggeleng, "tidak perlu, kita ke kediaman Steven sekarang, aku perlu mengunjungi putriku" ujarnya sambil menutup kedua mata.
Sesuai dengan perkataan barusan, sopir melaju menuju mansion Steven dan Elena.
- Steven -
__ADS_1
Dengan perlahan kuteguk sedikit kopi yang sudah ditawarkan tadi. Duduk bersandar di sofa empuk dengan kaki disilangkan sambil mendengar omongan pria yang dahulu adalah musuhku saat menjadi tentara bayaran.
"Kami hanya ingin bekerjasama dengan Lee's Group untuk masalah ini. Tidak bisakah kalian menerimanya? Ini adalah perintah secara langsung dari gedung biru. Tidak seharusnya kalian menolak itu" kata pria bermarga Kim itu.
Mendengar itu memunculkan sebuah smirk di bibirku, kuletakkan gelas kopiku ke meja. "Kau lupa masa lalu? Apa perlu kita saling menikam lagi hanya agar kau mengerti aku tidak mau bekerjasama denganmu? Aku tidak perduli dengan gedung biru atau presiden sekalipun. Kau tahu aku siapakan? Satu perintah dariku maka presiden mati" ujarku untuk memperingatkannya.
Lucas memandangku tajam, ia tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Bukan tidak percaya, hanya saja ia tidak menyangka akan kata-kata barusan. Jika BIN mau maka aku sudah mati sekarang.
Pria bermarga Kim itu menghela nafas kasar menahan emosinya, "aku tidak bercanda sekarang Steven! Tidak bisakah kita melupakan masa lalu? Ini demi kebaikan bersama"
Kulipat kedua tanganku di dada, "untuk apa aku bercanda? Maaf tapi aku tidak bisa melupakan penghianatanmu dulu. Aku belum melupakan perihnya lukaku yang tersiram air panas karenamu"
Tuan Kim selaku ketua BIN itu menghela nafas, "Steven kumohon jangan keras kepala. Ini demi keselamatanmu juga. Namamu masuk dalam daftar hitam aku tahu kau tahu itu"
Itu ancaman? Hahaha c'mon bro..
"Kau mengancamku? C'mon bro aku sudah masuk daftar hitam saat masih di Amerika dulu. Tunggu dulu ini tidak adil..." kataku lalu kulanjut "kenapa hanya aku yang masuk ke dalam daftar hitam? Bukankah kau mantan tentara bayaran Iran? Pasti seru kalau aku membuat namamu masuk daftar hitam juga"
Lucas memukul kecil lengenku, "Stev ini bukan saatnya bercanda" ujarnya pelan.
Pria di depanku ini malah smirk dan menatapku rendah, "istrimu sedang mengandungkan? Aku dengar sebentar lagi akan melahirkan. Haruskah aku membawa istri dan bayimu dalam masalah ini? Kau tahukan BIN tidak lembut untuk masalah keamanan nasional?"
Mendengar ancamannya barusan berhasil menaikkan amarahku yang tidak terduga. Dia ingin bermain dengan api? Silahkan!
"Kau mengancamku dengan membawa-bawa mereka? Ternyata kau masih belum berubah, rubah licik!" ujarku sarkastik.
"Ayolah Stev, kita bekerja di ranah yang sama. Bedanya aku untuk pemerintah sedangkan kau untuk kepuasanmu sendiri. Kau tahukan aku juga dalam keadaan terdesak? Jika tidak berhasil meyakinkanmu maka Presiden akan turun tangan langsung membunuhku. Lupakan masa lalu, okay?" ia berhasil mengancamku.
"Semua mata sekarang tertuju padamu, kecurigaan terpusat padamu tuan besar Lee. Interpol, FBI, CIA, Kanada, dan Amerika khususnya memantaumu. Bekerjasamalah denganku, maka aku pastikan tidak akan ada yang mencurigaimu soal mirror wall itu" lanjutnya.
Dengan tajam kutatap rubah licik di depanku ini, aku bisa saja menjadikan dia sebagai steak manusia tapi tidak kulakukan karena kasihan pada istri dan putranya yang masih berusia satu tahun.
"Selamat karena berhasil mengancamku! Tapi aku tidak mau menyelesaikan masalah menghilangnya bayi-bayi itu denganmu. Lee's Group akan bekerja sendiri" kataku lalu meninggalkan ruangan direktur BIN atau lebih tepatnya rubah licik bermarga Kim ini.
Setelah meninggalkan gedung BIN, aku meminta sopir mengantarku langsung pulang. Walaupun masih ada satu jam sebelum jam kerja berakhir, tapi aku bosnya aku berhak pulang kapan saja aku mau.
"Lalu aku pulang bagaimana? Aku tidak bawa mobil" kata Lucas dari luar mobil.
Aku tersenyum tipis melihat pria yng berdiri di samping mobilku meminta kejelasan, "jalan kaki sekaligus olahraga, atau jika malas naik bus saja sana" kataku lalu menutup jendela mobil.
Mobil pun melaju meninggalkan gedung ini dengan Lucas yang marah-marah disana karena ditinggal sendiri. Masalah hilangnya bayi ini memang sudah seharusnya ditangani olehku sendiri. Karena pada nyatanya aku juga sedang menyelidiki kasus yang sepertinya bersangkutan.
Tapi yang membuatku khawatir adalah kalimatnya yang terakhir. Istri dan anakku dalam bahaya sekarang ditambah orang-orang semakin mencurigaiku. Haruskah aku memindahkan mirror wall itu?
Sopir menghentikanku tepat di depan pintu utama mansion milikku. Setelah pintu dibukakan aku langsung keluar tapi sang bodyguard membisikkan sesuatu.
Apalagi ini! Kenapa semua orang membuatku kesal hari ini? Aku pulang untuk santai tapi wanita itu malah datang.
"Elena?" tanyaku.
"Nyonya pergi ke rumah tuan Briant pukul dua siang tadi bos dan belum kembali" jawabnya
Kuhembuskan nafas lega, setidaknya mereka tidak bertemu. Atau wanita itu akan mengatakan hal-hal menakutkan lagi pada istriku.
__ADS_1
"Dimana Jessica sekarang?" tanyaku sambil mulai melangkah ke pintu utama.
"Dia duduk di ruang utama bos" katanya mengikutiku.
Setelah masuk aku melihat sosok wanita yang dimaksud sedang duduk di sofa ruang utama dengan diawasi oleh beberapa bodyguardku yang lain.
Menyadari kedatanganku, ia menyambut dengan berdiri tapi wajahnya sangat tidak bersahabat. Aku tahu tujuannya datang, pasti meminta kejelasan tentang kejadian di kediamannya.
Aku duduk di sofa tunggal dengan menyilangkan kaki dan memandanginya malas. "Kenapa kau kemari? Belum cukup ancamanku dulu?"
Ia duduk dan menatapku tajam. Wanita yang hanya beda belasan tahun denganku ini masih terus dengan tatapan tajamnya. "Kita sudah sepakat untuk tidak saling mengganggu, lalu kenapa kau mempermainkanku? Menurutmu pasti seru mempermainkanku"
Mendengar kata-kata itu aku tertawa kecil, "aku? Mempermainkanmu? Kau yakin?"
"Siapa lagi yang bisa melakukan hal-hal itu jika bukan kau? Steven aku tidak main-main, jika kau mempermainkanku lagi aku akan.."
Aku langsung memutus perkataannya, "akan apa? Membunuhku? Menyiksa Elena lagi?"
Ia terdiam menahan emosinya.
Tadinya aku duduk bersandar sekarang aku duduk sedikit membungkuk, kedua tangan aku tumpukan pada kedua lututku, kutatap dia intens "jangan berpikir bisa mengintimidasiku Jessica!. Harusnya kau tahu posisimu! Satu kesalahan akan berakibat fatal padamu! Ingatlah, aku tidak pernah main-main jika berbicara tentang keluargaku. Dan aku tegaskan lagi bukan aku pelakunya, tapi seseorang yang sangat ingin kau mati!"
Jessica mulai melemah dengan peringatanku yang sudah seperti ancaman baru baginya. Ia juga bingung dengan maksudku di kalimat terakhir.
"Seseorang? Siapa?" tanyanya.
Bibirku smirk dan aku semakin mengintenskan tatapan mataku, "kau juga akan tahu nanti. Jadi jangan asal menuduhku! Karena jika aku mau aku bisa melakukan yang lebih menakutkan dan tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Jangan buat aku marah atau aku akan membunuhmu detik ini juga"
"BUNUH! BUNUH DIA! BUNUH JESSICA SEKARANG!"
Atensiku langsung terarah ke seseorang yang berteriak barusan. Aku langsung berdiri dan menatap tidak percaya dengan yang barusan terjadi.
"Elena?" panggilku setelah melihat wanita muda yang sedang hamil. Tidak lama seorang pria yang tidak lain adalah Briant datang dari belakang Elena.
Jessica juga ikut berdiri dan menatap terkejut pada teriakan barusan. "Elena? Apa yang baru saja kau katakan?"
"Elena, tenang adikku. Jangan emosi seperti ini" Briant memegang kedua bahu adiknya.
Elena yang tadinya menatap begitu tajam dan penuh kebencian pada Jessica sekarang berjalan dengan cepat ke arah kami.
"BUNUH STEV! BUNUH DIA! BUNUHHHHH! AKU BILANG BUNUH DIA SEKARANG JUGA!! STEV BUNUH DIA! BUNUH!" teriaknya lagi.
Aku segera berlari dan menahan tubuh Elena kalau-kalau dia melakukan kesalahan tidak sengaja dan terjatuh. Tapi Elena berbeda, entah bagimana tapi saat ini seperti bukan Elena yang aku kenal lembut.
Ia melihatku dengan matanya yang sembab mengartikan bahwa dia takut sekaligus marah. Ia berusaha melepaskan dirinya, bahkan aku dan Briant kewalahan menahannya.
"Elena tenangkan dirimu" ujarku sedikit keras karena dia tidak terkontrol.
"Dik, kumohon tenanglah" Briant.
Jessica mendekat ingin mengelus rambut istriku tapi Elena langsung menepisnya kasar. "Jangan sentuh aku wanita iblis" katanya dengan tajam.
Elena kembali menatapku, "Kill! I said to you kill her!! STEVEN KILL HER PLEASE! Hikss.. Hikss.. BUNUH DIA STEV BUNUH! DIA MEMBUNUH IBUKU, MENGURUNGKU, MEMISAHKANKU DENGAN KAKAKKU. AYO BUNUH DIA! BUNUH"
__ADS_1
Aku tidak tahu akan jadi seperti ini!