
/ Author pov.. /
Suasana begitu hening, tidak ada satu pun orang yang mengeluarkan suaranya. Hawa berkabung masih sangat kental di atmosfer keluarga Lee. Semuanya seolah kabut tidak ada titik terang untuk fakta yang mereka hadapi.
Tak ada sedikitpun senyuman apalagi tawa dalam mansion itu. Siapapun yang datang ke sana bisa merasakan hawa menyedihkan itu.
Kabar kematian atlet Nasional yang baru saja mengganti nama panggungnya itu sudah tersebar ke seluruh penjuru negeri dan dunia olahraga. Para penggemar setiap harinya mengungkapkan belasungkawa turut merasakan kepedihan ditinggal oleh idola mereka.
Bagaimana bisa kematian itu terjadi secara tiba-tiba, tanpa ada pertanda, bahkan disaat keluarga Lee seharusnya bersukacita atas kelahiran sang penerus keluarga. Polisi bahkan tidak menemukan bukti apapun, semuanya abu dalam investigasi.
Pemakaman sudah dilangsungkan sejak dua hari yang lalu dan setelah selesai, Selena bahkan belum keluar sama sekali dari kamarnya. Mengunci diri dalam kamar, terus menangis dan merutuki dirinya yang sama sekali tidak terima dengan kematian sang kekasih.
Sedangkan di tempat lain yaitu di kamar utama, seorang wanita cantik sibuk melipat pakaian bayinya yang baru saja diambil dari jemuran. Elena berusaha untuk tidak menangis lagi, jika dia selemah itu maka kesedihan di sekitar mereka tidak akan pernah sirna.
Steven memandangi pergerakan istri mudanya itu dari sofa di kamarnya. Dalam hatinya Steven tidak henti-hentinya mengutuk dirinya sendiri. Lihatkan? Dia kembali kehilangan orangnya.
Dia curiga pada seseorang, tapi kecurigaannya terbantahkan pada satu hal. Jika memang pelakunya orang itu, kenapa si pelaku belum menghubunginya dan memaksa meminta Smart Mirror Wall itu.
Tok.. tok.. tokk…
Keduanya menoleh pada seseorang yang mengetuk pintu kamar. Ternyata dia adalah Elsa yang datang dengan Andreas di pelukannya.
“Elena, sepertinya Andreas lapar. Dia membutuhkanmu”
“Masuklah eonni” pinta Elena lembut.
Elsa masuk dan membawa Andreas. Selama dua hari ini dia datang ke rumah itu untuk membantu Elena menjaga si kecil. Biasanya Selena yang yang melakukannya tapi gadis manis itu masih tertekan.
Kekasih Lucas itu mengembalikan si bayi tampan pada ibunya yang cantik.
“Aku harus pulang sekarang, maafkan aku”
Elena menggeleng, “iya eonni pulanglah, kamu sangat membantuku di sini. Terima kasih ya” ujar Elena.
Setelah pamit dengan Elena, Elsa hendak pergi tapi untuk beberapa detik dia menatap dingin pada pria yang hanya duduk di sofa itu barulah dia pergi.
Usai gadis berambut blonde itu pergi, Steven menghampiri Elena yang sibuk menggendong sang bayi. Sejak tadi dia duduk untuk mengambil sebuah keputusan. Dan keputusannya bulat, dia akan membalas segalanya. Jauh... jauh lebih kejam dari apa yang dia terima.
“Sayang” panggil Steven sehingga wanita itu menoleh sekilas.
“Dia lapar?”
Elena mengangguk lalu duduk di tepi ranjang. Pangeran kecil mereka sangat lapar dan menjadi rewel. Ia harus memberikan asupan ASI atau si kecil akan semakin rewel.
Pria bertubuh tinggi dengan bahu bidang itu ikut duduk di hadapan istrinya yang sedang menyusui. “Ada yang ingin aku katakan” memulai pembicaraan.
__ADS_1
Ibu muda itu menatap penasaran suaminya, “ada apa sayang?”
Tangan kekar berurat itu mendekat pada wajah cantik istrinya, “maafkan aku tapi sepertinya aku harus melanggar janjiku”
“Maksudnya?” dari tatapannya saja Elena tahu bahwa Steven sangat serius dengan perkataannya.
“Maafkan aku sayang, semua ini terjadi karena diriku. Orang yang bertanggungjawab atas ini semua adalah aku”
Mata itu kembali berkaca-kaca, tapi Elena berusaha untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh. “Tidak, bukan kau yang salah Steven. Jangan menyalahkan dirimu setiap kali ada hal buruk terjadi”
Steven tersenyum kecut, “jika bukan karena bermusuhan denganku, pasti pelakunya tidak akan merenggut Briant dari kita”
“Aku percaya padamu Stev, kau hanya berusaha menyelamatkan apa yang kau harus. Aku tahu pasti karena Smart mirror itu kan?”
Dahi Steven berkerut dalam, “dari mana kau tahu?”
“Kau merahasiakannya selama ini, memintaku tutup mulut untuk itu, beberapa kali mendengarmu berbicara ditelfon mengatakan tentang itu, bahkan pria-pria berseragam hitam itu harus menggeleda rumah dan menahanmu”
Elena tidak sebodoh itu untuk tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dia memang terlambat dalam pendidikan tapi bukan berarti dia wanita bodoh.
Bahkan mungkin jika kejadian masa lampau tidak terjadi, sepertinya dia akan menjadi wanita karir yang mengagumkan.
“Aku harus melanggar janjiku untuk berhenti menjadi villain dan membunuh lagi”
Bagaimana bisa dia mengatakan di hadapan bayi kecil tidak berdosa? Apa Steven tidak berpikir ucapannya bisa menjadi umpan balik bagi dia atau malah lebih ke si kecil? Untung saja Andreas masih bayi, jika tidak itu pasti akan menjadi contoh baginya. Untunglah Andreas tidak akan mengerti arah obrolan tersebut.
“Aku harus membalaskan nyawa Briant dan air mata kalian. Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Aku harus melanggar janjiku karena aku tahu siapa pelakunya dan ini demi kita semua khususnya Selena dan Andreas”
Elena melepaskan tangan itu dari wajahnya, ia menggenggam tangan besar itu “siapa? Siapa dia?”
“Mantan kekasih Selena, Christian Yu dan Jessica”
Dia menggigit bibir sebelum membalas ucapan Steven, “tapi kau sudah berjanji untuk berhenti”
“Maafkan aku tapi aku sudah tidak tahan”
Dia menunduk memperhatikan bayi kecilnya yang lahap menikmati asupan, “lakukan! Balaskan dendamku dan Selena. Aku mau jantung orang yang sudah merenggut kakakku berhenti berdetak”
Steven mengangguk yakin, dia pasti akan melakukannya. Ia berjanji untuk dirinya dan demi hidup putranya.
Steven menarik tengkup leher Elena, kedunya berciuman dengan dalam dan tenang. Kali ini Elena harus melepaskan prinsipnya untuk hidup menjadi orang baik. Ciuman mereka menjadi matrai bahwa mereka pasti akan membalas segalanya.
Setelah cukup lama, Steven pun melepaskan ciumannya. Dia tersenyum tipis menatap manik indah milik Elena.
“I promise” ucapnya yang diangguki.
__ADS_1
Lalu Steven menunduk dan melihat bayi kecilnya yang lapar sedang meminum ASI, “tumbuhlah menjadi pria hebat, daddy menantikan itu”
✨✨✨✨
Kunci cadangan yang selalu tersimpan rapi di laci akhirnya dipergunakan. Steven memakai itu untuk membuka pintu kamar Selena yang sudah tiga hari tertutup rapat. Ia mendapati kamar yang begitu senyap dan sendu.
Matanya tidak bisa lepas dari pemandangan di depannya. Bagaimana tidak, Selena duduk di lantai di samping kasur sambil memeluk lututnya. Tatapannya kosong mengarah pada pemandangan di luar balkon.
“Dek” panggilnya tapi tidak direspon sama sekali.
Selena seperti kehilangan jiwanya, seolah hanya raga yang tersisa. Steven pun mendekat dan berlutut di depannya. Tangan itu menggenggam hangat tangan mungil yang begitu dingin.
Barulah Selena bereaksi, dia menatap kosong ke wajah tampan sang kakak.
“Bangunlah atau kau akan mati kedinginan “
Setetes air mata jatuh membasahi pipi pucat gadis yang biasanya periang itu, “harusnya aku mendengar perkataan kakak dulu. Harusnya aku menurut dan pergi dari sini dengannya. Harusnya kami menikah dan tinggal di luar negeri saja”
Steven mendudukkan Selena di kasur, ia mengusap surai panjang yang saat ini acak-acakan itu. “Semuanya sudah terjadi, kau harus menerima kenyataan”
“Andai saja aku menurut, anda saja aku tidak mempercayai iblis itu pasti Briant masih hidup sekarang hiksss..”
Steven menarik adik kecilnya dalam pelukan, ia mengusap punggung mungil Selena memberikan kekuatan dan ketenangan, “menangis terus tidak akan mengembalikannya. Kau harus menjadi tangguh, yang seharusnya kau lakukan adalah tetap hidup dan bertahan, balaskan dendammu”
Selena mengangguk setuju, ia menangis puas dalam dekapan sang kakak. Meluapkan seluruh rasa sedih yang membelenggu sebelum ia harus berperan menjadi gadis tangguh dalam karakter utama hidupnya.
✨✨✨✨
Steven berdiri menatapi kota Seoul yang begitu padat dan ramai. Ia memutar gelas wiskinya secara horizontal, memikirkan semua hal buruk dalam sel otaknya.
“Aku sudah mengatur semuanya” ucap seseorang yang tidak lain adalah Lucas.
Tanpa berbalik dan menatap lawan bicaranya, Steven mengangguk. Tanpa raut wajah, tanpa niat untuk merespon lebih, hanya menyeruput dan meneguk wiski dingin.
“Bagaimana kalau ada korban lain setelah ini?” tanya Lucas cemas.
Steven diam, diam yang mengartikan banyak hal. Tidak mungkin dia melupakan kemungkinan itu, dia juga masih mempertimbangkan banyak hal.
“Maka aku akan menukar Smart Mirror itu untuk menyelamatkannya”
Lucas melangkah mendekat, ia juga tidak punya solusi tapi bukan berarti dia akan setuju dengan mudah “Bodoh! Dunia akan hancur jika mirror itu ada di tangan Black Sun. Dokumen perjanjian itu hanya bisa diketahui oleh mirror itu. Kau kira dengan memberikan barang itu mereka akan puas? Setelah mereka mendapatkannya maka mereka pasti akan membunuhmu”
Steven langsung menghardik sahabat sekaligus tangan kanannya “Lalu aku harus apa? Membiarkan seseroang menjadi korban lagi?”
__ADS_1