MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
STEVEN JUNIOR!! YOU NAMED IT!!!


__ADS_3


Steven -



Tahap demi tahap yang dapat dikatakan rumit telah dilalui oleh wanita muda yang sedang hamil pada bulan ke tujuh. Pemeriksaan rutin sudah menjadi kewajiban bagi kami selaku orang tua.


Untuk pertama kalinya aku merasakan sedikit kebebasan. Diikat oleh rasa bersalah seumur hidup sungguh menyakitkan dan hanya aku yang tahu rasanya. Biasanya aku akan merenung, menangis, atau bahkan melakukan hal-hal keji untuk melampiaskan emosiku yang terpendam.


Tapi hari ini berbeda, aku malah berada dalam ruangan dokter kandungan. Mendapatkan secercah harapan semalam membuatku lebih bebas. Aku sungguh bersyukur ternyata ada petunjuk di sekitarku, dan dia adalah istriku sendiri.


Kugenggam erat tangan wanita di sampingku, kami sama-sama antusias memandangi monitor yang menunjukkan keadaan bayi kami dalam kandungan Elena.


Walaupun ini akhir pekan, tapi sebagai dokter kandungan pribadi Elena, dia harus sedia 24/7 jika dibutuhkan. Dan hari ini dokter itu melakukan tugasnya.


"Selamat tuan Lee, anak anda adalah laki-laki dan ia tumbuh sehat serta kuat" jelas sang dokter.


Ini adalah kabar yang sangat menakjubkan, sungguh luar biasa. aku sungguh bersyukur akan anakku. Apapun jenis kelaminnya akan tetap menjadi kesayanganku selalu.


Tapi entah kenapa kesan memiliki putra sangat berbeda. Dia akan menjadi Steven Junior, Yass! Steven Junior and you should named it! JUNIOR!!!


Kedua pasang mata kami saling beradu tatap dan senyuman haru bahagia kami berikan satu sama lain. Moodku semakin baik karena kabar ini, sungguh sungguh baik.


"Mana pesananku?" tanyaku pada dokter.


Dokter tersebut mengambil sesuatu di laci meja kerjanya, sebuah buku. Aku menerima buku itu dengan senang hati dan antusias tinggi.


Elena memperhatikan buku yang aku pegang, "buku apa itu?"


Kuberikan buku tersebut padanya dalam masih kondisi bungkusnya masih melekat di buku itu. "Parenting book, I'm a young daddy now. I should learn how to be good daddy for my son. No, exactly my prince"


Istriku ini terkekeh kecil, ia memeluk buku itu di dadanya. Kurasa mungkin aku adalah pria paling bahagia hari ini, bahkan dia belum lahir tapi aku sungguh bahagia dan penuh rasa syukur. Bagaimana lagi jika dia sudah ada di pelukanku?


Beberapa penjelasan tambahan diajukan oleh sang dokter. Kami mendengarnya dengan baik dan tentunya akan dilaksanakan dengan baik pula.


Setelah check up selesai kami pergi meninggalkan ruangan ini. Kami berjalan dengan saling bergandengan, tapi aku melepaskan gandengan tangannya lalu melingkarkan tanganku di pinggangnya.


Tidak perduli banyak yang melihat, lagi pula dia adalah istri sahku, nyonya besar keluarga Lee. Aku langsung mengecup bibirnya, "terima kasih and I love you so bad Ms. Lee"


Matanya melotot, "hei apa kau tidak malu banyak yang melihat kita?" katanya berbisik dengan pipi agak merona.


Aku tertawa puas akan responnya yang selalu lugu dan polos, "kita sudah menikah dan seluruh negeri mengenal siapa nyonya besar keluarga Lee, lalu untuk apa malu? Hahaha"


Bukannya lega, pipinya malah semakin merona. Aku tidak tahu apa yang salah dengan ucapanku barusan. Entahlah, semakin kutarik pinggangnya agar lebih dekat denganku.


"Hola Mister and Miss Lee" sapa seseorang dari belakang kami.


Kami berdua berbalik beserta dengan para bodyguard yang ikut melakukan hal yang sama. "Hola brotha" balasku ramah.


Leo berjalan mendekati kami dengan jas dokternya yang masih bertengger. "Sepertinya baru selesai check up" ia menebak dan tepat sasaran.


"Ya Leo, kau pasti baru siap operasi" tebakku pula.


Dia menggerakkan bahunya naik turun, tentu artinya adalah, ya benar. "Bagaimana hasil pemeriksaan kalian? Kalian sudah memeriksa jenis kelamin bayinya?"

__ADS_1


"Bagus sekali dan dia laki-laki" jawabku santai namun bernada sombong.


Leo ikut senang, "wow selamat buat kalian berdua, semoga putra kalian mirip ibunya bukan ayahnya. Jangan sampai dia jadi bajingan sepertimu Stev" katanya malah mengejek.


Aku berjalan mendekatinya, kutepuk pundaknya beberapa kali "kau terlalu lama melajang Leo, semoga calon istrimu nanti kuat menghadapi kebodohanmu" kataku balik membalas.


Kami tertawa dengan candaan kami berdua, bahkan Elena juga mengerti dan ikut tertawa.


"Aku dengar pemegang saham terbesar rumah sakit ini adalah keluargamu, mau berapa rumah sakit lagi yang kau beli?" tanyaku.


Ia berpura-pura bodoh, tersenyum seperti orang idiot. "Mungkin dua atau tiga lagi" dengan sombongnya.


Kurenggangkan dasi yang terpasang rapi di leherku, "aku sudah lama tidak bermain, ingin sekali menjadikanmu sebagai manusia asinan" kataku kesal.


Pria ini malah tertawa persis seperti orang idiot. Sepertinya begitulah jika orang zenius sedang bercanda, tawanya persis seperti orang autis.


Leo melihat jam tangannya, "sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau kita makan siang bersama. Aku tahu restauran barbeque yang lezat"


Elena meletakkan tangannya di pinggangku lalu menyaut "maaf kak Leo tapi kami harus pergi jiarah ke makam kak Alvin"


"Kau tidak ikut dengan kami?" lanjutku mengajak.


Ia menggeleng, "maaf Stev tapi aku hanya punya waktu istirahat sebenatar karena akan ada operasi lagi hari ini. Tapi aku akan jiarah sendiri kesana sebagai ganti hari ini"


Kusadari bila Elena memperhatikan Leo yang menolak dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti. Seolah dia kecewa, atau marah, atau bingung, atau pula penasaran.


Aku merangkul bahu istriku yang cantik ini "baiklah kami pergi sekarang"


Setelah pembicaraan tersebut kami langsung menuju makam kak Alvin. Aku tidak perlu khawatir Elena kelaparan karena sebelum pemeriksaan dia sudah makan lebih dulu.


Tapi saat kami berjalan di koridor, begitu banyak reporter yang menunggu. Mereka menghadang lalu berkerumun di sekeliling kami. Untungnya aku tahu hal ini akan terjadi.


"Tuan Steven Lee apakah kalian benar baru selesai melakukan pemeriksaan pada calon anak kalian?"


"Apakah anda bisa mengatakan sesuatu tentang kehamilan nyonya Lee?"


"Apakah kalian sudah memeriksa jenis kelamin anak kalian?"


"Berita menyatakan bahwa anak itu adalah hasil hubungan gelap antara anda dan nona Elena, benarkah itu?"


Dari sekian pertanyaan yang dilontarkan, satu pertanyaan terakhir membuatku marah. Dia benar benar ingin merusak moodku.


Saat akan menjawab, Elena menahanku. Kurasakan genggaman tangannya semakin erat seolah ingin menghentikanku.


Aku tahu dia masih belum terbiasa akan keramaian, ketakutan akan dunia masih tertanam dalam jiwanya. Tapi hari ini aku melihat dia berbeda, keberanian dan percaya diri tampak jelas dari matanya.


Ia selangkah di depanku, "bisakah anda mempertanggung jawabkan perkataan anda barusan? Dari mana anda tahu anak kami adalah hasil hubungan gelap jika kami saja merasa bila anak ini adalah harapan dan cinta kami? Tolong jangan berspekulasi sesuka kalian, dia anakku, anak Steven Lee, anak kami yang lebih berharga dari apapun" jawabnya tegas dan lantang.


Kalian tahu? Mungkin akulah yang paling terkejut sekaligus terkagum dengan apa yang baru saja terjadi. Ini sangat tidak terduga. Aku memang mengajarinya, melatih istriku untuk lebih tangguh dan bagaimana menghadapi orang yang menyudutkannya.


Tapi aku malah terkejut dengan hasilnya. Dia berhasil melakukan sesuai yang aku ajarkan. Aku sangat bangga, sangat kagum.


Semua reporter tersentak dengan jawaban yang mampu mengskak pertanyaan reporter menyebalkan itu. Semua reporter langsung melihat ke arah reporter yang bertanya hal menyebalkan tadi.


Aku mendekatkan wajahku ke telinga Elena, "good job my wife, you win" bisikku.

__ADS_1


Dia tersenyum lega, walaupun tangannya sedikit dingin. Dia pasti menahan diri agar mampu mengatakan semuanya.


Waktunya bagiku untuk berbicara, "camera zoom"


Setelah seluruh kamera fokus pada wajahku dan Elena, aku langsung mengungkapkan statement "Aku tidak bisa mengatakan banyak sekarang, kalian tunggu saja kelahiran tuan muda Lee kurang dari dua bulan lagi. Dan kalian sudah dengar kan perkataan istriku? Jangan menyebarkan spekulasi yang tidak jelas sebelum kesalahpahaman terjadi" ungkapku dengan suara lantang dan diakhiri senyuman menyeringai pada reporter menyebalkan barusan.


Setelah itu kami langsung meninggalkan para reporter dan bantuan para bodyguard untuk menuntun ke luar. Mobil Aston Martin Valkyrie warna Navi yang baru aku beli bulan lalu yang aku pakai saat pergi tadi sudah diam menungguku di depan pintu utama rumah sakit.


Mobil tampanku ini menjadi salah satu anggota dari list mobil mewahku. Jika kalian mengira semua kekayaanku berasal dari penghasilan perusahaanku yang di Korea, kalian salah. Itu tidak seberapa sama sekali.


Semua kemewahan yang aku punya ada dari perusahaanku yang di luar negeri. Walaupun banyak yang tidak terdaftar, tapi mereka sumber kekayaanku yang terbesar.


Segera kami masuk ke dalam dan langsung meninggalkan area rumah sakit. Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang agar tidak menjadi masalah bagi adrenaline Elena.


"Tadi itu sangat luar biasa" kataku membuka pembicaraan.


Dia bernafas dengan tenang dahulu, lalu menatapku dengan mata yang masih takut. Satu tanganku menghandle setir mobil dan satu lagi kugunakan untuk menggenggam tangannya yang halus.


"Seperti katamu, sekarang aku sudah menjadi nyonya besar Lee. Aku akan bertindak sesuai gelarku. Maka aku harus menjadi wanita yang kuat dan berani. Setidaknya demi anak ini"


"Its okay my wife, kau sudah melakukan yang terbaik. I proud of you" ujarku meyakinkan dengan segenap hati.


"Tapi bukankah itu terlalu kasar? Bagaimana kalau mereka malah mengejarmu?" ujarnya.


Aku tertawa kecil, "tidak ada yang bisa menakutiku, karena merekalah yang harusnya takut" ujarku tega


Kedua tangan indah dan halusnya menggenggam tangan kiriku lalu mengecup punggung lenganku. Sungguh ini pertama kalinya dia seperti ini padaku.


"Terima kasih karena sudah percaya padaku" ujarnya sangat lembut.


Segera ku tepikan mobilku di bahu jalan, tangan kananku langsung menaikkan dagunya. Dan aku menciumnya, lembut dan dalam. Hatiku melemah dan meleleh saat dia mengecup punggung tanganku tadi.


Drrrttt...


Sialan! Siapa lagi yang menggangguku sekarang?


Aku segera menghentikan kegiatan kami, kuraih HP ku di meja dashboard mobil. Lucas sialan!


"Apa lagi?!! Bukankah kau sedang berlibur sekarang? Ini akhir pekan kampret!" umpatku.


Dia malah tertawa dari balik panggilan itu, 'hahaha aku tebak kau pasti sedang melakukan sesuatu pada Elena'


"Shut your fucking mouth!" umpatku sekali lagi.


'Oh sorry brotha, aku hanya terkejut dan kagum dengan berita di rumah sakit saat Elena membuat reporter terskak. Tapi aku malah mengganggu waktu kalian'


"Jika kau tahu begitu maka diamlah dan nikmati liburanmu dengan Elsa" balasku lalu langsung memutus panggilan.


Elena terkekeh mendengar pembicaraan kami. Ia mengelus pundakku, "tenang sayang, masih ada banyak waktu lain. Kita bisa melakukannya lain kali"


Mendengar itu aku luluh, tapi si Lucas sialan memang sangat menyebalkan. Kembali kulajukan mobilku dengan mulus dan tetap batas normal.


Makam kak Alvin berada di sebuah area pemakaman terelit di Korea. Sebagai satu-satunya keluarga kandungku, aku ingin mendedikasikan sesuatu yang benar benar layak.


Kami berjalan melewati gang kecil untuk sampai ke makam tersebut. Aku sengaja membuat makam itu di daerah yang terpisah agar tidak sembarangan orang melewatinya.

__ADS_1


Hingga kami berdiri di depan sebuah makam yang sangat terawat dengan nisan yang bagus pula. Dalam nisan itu tertuliskan nama seseorang, Alvin Valentino Lee.



__ADS_2