
/ Han's Group /
Pria paru baya dengan balutan jas hitam duduk di dalam mobil sedam hitam yang berhenti di taman terbengkalai.
Seorang pria berjas lainnya duduk di kursi depan di mobil yang sama dengan pria tersebut.
"Bagaimana dengan prosesnya?" tanya Tuan Han.
"Semuanya berjalan lancar Tuan, bangunan sudah hampir selesai" jawab pria itu tanpa memandang wajah atasannya tersebut.
"Selesaikan dengan cepat, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi" Tuan Han mengingatkan.
"Siap Tuan" ujar pria itu, ia memberi hormat lalu membuka pintu mobil.
Ketika ia akan keluar Tuan Han melanjutkan perkataannya lagi, "Cari tahu tentang Steven Lee, apapun tentangnya".
Pria itu menunduk sebagai tanda mengerti dan hormat. Kemudian ia pergi meninggalkan Tuan Han di mobil tersebut.
- Steven -
Sepasang pria dan wanita keluar dari pintu utama rumah sakit bersamaan. Pria dengan blezer dark brown menawan dan wanita dengan gaun musim dingin berwarna putih yang cantik baru saja selesai melakukan pemeriksaan di rumah sakit terbesar di kota tersebut.
"Apakah kau menginginkan sesuatu?" tanya ku pada Karina.
Karina berdiri di hadapanku, memandang ku dengan mata berbinar bagaikan seorang anak kucing yang menggemaskan. "Apakah kita boleh berkeliling berdua melihat-lihat isi kota? Aku tidak tidak pernah melihatnya sebelumnya" pinta Karina.
Permintaan sederhana maka tidak apa bila aku mengabulkannya. "Baiklah tapi jangan pergi jauh-jauh dari ku" kataku mengingatkan gadis polos ini.
Karina begitu bersemangat melihat toko-toko di yang kami lewati. Ia memperhatikan seluruh toko yang ia lewati sambil memotret dengan kamera HP.
Kebahagiaan bisa terlihat jelas dari wajahnya yang berseri. Untuk membuatnya bahagia hanya perlu hal sederhana itu adalah kebebasan.
Aku mengikuti dia kemanapun ia pergi. "Pelan-pelan tak perlu berlari" kataku sedikit keras agar ia bisa mendengar.
Karina berhenti lalu menatapku cemberut, "kau cerewet sekali" teriaknya.
Ia melanjutkan langkah kaki kecilnya menyusuri jalan kota yang penuh dengan toko-toko besar. Perhatiannya terfokus pada sebuah toko mainan.
Dari samping gadis ini, kami berdiri bersama melihat sebuah boneka beruang besar berwarna merah muda dan boneka sapi berukuran besar pula.
"Apa kau menginginkan boneka itu?" tanyaku pada Karina yang di balas anggukan.
Permintaannya adalah sebuah kehormatan bagiku, sudah pasti aku akan memberinya. Lagi pula itu adalah hal kecil yang tidak sulit untuk dikabulkan.
Karina memeluk kedua boneka itu erat, "lihatlah bahkan boneka itu lebih besar darimu" ejekku padanya.
Karina mendatangiku dan memberiku boneka sapi tersebut, "pegang sebentar". Entah apa yang ia inginkan tapi aku hanya menerima saja.
Ia mengambil HP, "senyum" ujarnya padaku. Spontan aku tersenyum, ternyata dia memotret ku.
"Hei apa yang kau lakukan" ujarku.
"Kau imut dengan boneka itu hahahah" ejek Karina.
Karina berdiri di dekatku, "sekarang mari selfie bersama" katanya mengangkat HP itu. Aku memandang wajah Karina yang tersenyum dari pada melihat ke kamrea.
__ADS_1
"Sejak kapan kau bisa memotret?" tanyaku heran.
"Ibuku sangat suka memotret jadi aku mempelajarinya dulu, lalu aku kembali mempelarinya akhir-akhir ini" jawab Karina.
Lebih baik Karina menghabiskan waktu untuk belajar banyak hal dari pada tidak melakukan apapun. Terlintas di benakku untuk membelikan Karina kamera dan hal-hal lain yang ia sukai.
Gadis itu tersenyum lalu memelukku, "Terima kasih,sejak dulu aku menginginkan ini karena tidak pernah memilikinya" katanya.
"Apapun untukmu selama kau bahagia" belaiku lembut pada rambutnya.
Kami keluar dari toko tersebut dengan kedua boneka itu. Karina berjalan duluan sedangkan aku berhenti sejenak menatap sebuah mobil sedan hitam yang berhenti di seberang jalan. Setelah memastikan, aku berjalan kembali mengejar Karina yang sudah jauh di depan.
Sejujurnya aku sangat malu membawa sebuah boneka besar di tempat umum, apalagi jika sampai ada yang menyadari keberadaanku. Aku menutup sebagian wajah dengan boneka agar tidak ada yang tahu bahwa aku adalah Steven Lee.
Saat ingin memasuki mobil, aku melihat ke arah barat daya lalu bertindak biasa saja kemudia masuk.
Kedua boneka kami letakkan di kursi belakang agar tidak mengganggu.
Kupandangi Karina, "apa kau begitu senang?" tanyaku.
Ia mengangguk dan tersenyum lebar, "mamaku adalah orang tidak mampu, jadi dia tidak bisa membelikanku boneka dan mainan. Aku selalu iri melihat anak kecil lain bermain dan memeluk boneka mereka. Apalagi setelah Jessica membawaku, jangankan bermain bahkan aku tidak diperbolehkan belajar" jawabnya.
Seluruh perkataan itu adalah kenangan pahit masa kecil Karina. Ia pasti sangat merindukan keluarganya. Masa kecil yang berharganya sangat suram.
Ku elus tangan kanan Karina dan menggenggamnya erat. Aku paham betul bagaimana perasaannya dan aku bisa merasakannya sendiri.
"Aku sudah memiliki nama untuk mereka berdua, ini adalah monsiur (menunjuk boneka beruang) dan ini adalah toben (menunjuk boneka sapi)" katanya padaku.
Aku tertawa mendengar nama itu terfikirkan olehnya "Monsiur? toben? hahaha nama yang lucu"
Kami kembali ke rumah dengan suasana hati senang. Karena hari ini adalah hari minggu jadi aku bisa bebas tanpa harus memikirkan urusan pekerjaan.
Perasaan senang menyelimuti hati dan pikiranku. Akhirnya aku bisa memiliki hal yang sejak kecil aku tidak bisa dapatkan.
Kami kembali ke rumah, aku segera meletakkan monsiur dan toben di ranjang, "mulai hari ini kalian akan jadi teman ku untuk tidur" ujarku.
"Lalu aku bagaimana?" tanya Steven seperti anak kecil.
"Kau ya tidur di kamarmu lah" jawabku simpel.
"Wah sepertinya aku punya saingan tak masuk akal" katanya cemberut.
Ku angkat tangan ku lalu mencubit kedua pipinya, "kau tidur di kamarmu, ini kamarku"
Ia menggenggam kedua pergelangan tangan ku, "sepertinya kau mulai nakal ya" ucapnya ingin menerkam.
"Tidak tidak aku hanya bercanda" jawabku mengelak.
Ia melingkarkan tangannya dia pinggangku, "bagaiman jika hari ini kita habiskan dengan berkencan" ujar Steven.
"Kencan? Maksudnya?" aku tidak mengerti.
Steven mengangkat tubuhku, menggendongku meninggalkan kamar ini
"Apa yang ingin kau lakukan? turunkan aku cepat" kataku kesal.
__ADS_1
Steven tersenyum tipis, "tenang saja aku tidak akan membunuhmu" katanya terdengar menyeramkan.
Aku hanya bisa ikut saja, membiarkan dia membawaku. Ia membuka pintu sebuah ruangan yang tak pernah aku masuki. Rumah ini sangat luas dan memiliki banyak ruang. Ada beberapa yang tidak pernah aku masuki karena cemas apabila ia akan marah.
Ketika lampu ruangan menyala, semuanya menjadi jelas. Ini adalah ruangan santai, terdapat sofa besar, rak buku, dan lemari besar berisi alkohol, serta layar putih besar.
"Apa yang kita lakukan disini?" tanyaku penasaran.
Ia menekan sebuah remote, mengklik beberapa tombol seketika layar tersebut berubah menjadi layar film.
"Kita akan menonton" jawabnya sambil memasukkan sebungkus bahan popcorn mentah ke dalam mesin pembuat.
Setelah popcorn telah tersedia, Ia duduk di dekatku. Ia memutar sebuah film barat, "kita akan menonton film ini" katanya.
Selera film nya tidak cocok dengan ku, ia memutar film laga barat. Aku tidak suka dengan film-film seperti ini serta memang tidak mengerti bahasa Inggris.
Ia menarikku duduk tepat disisinya dan merangkul pinggangku. Dalam scene film tersebut para aktor berkelahi dan menembak, darah berceran dan korban berjatuhan.
Dari wajahnya tampak jelas Steven sangat menikmati film ini. Film itu menggambarkan dirinya di mataku.
Aku hanya diam menikmati popcorn tanpa fokus ke alur ceritanya. Namun mataku melebar saat ada adegan 21+ muncul dilayar. Mereka bercinta dan aku tak sengaja melihatnya.
Terlalu malu sehingga aku menunduk tapi Steven menyadari ku yang malu-malu.
Tangannya yang merangkul pinggangku mengeratkan pelukannya. Aku melihat ke wajahnya dan sudahlah ia sudah mulai lagi.
Aku segera menutup mulut dengan tangan agar ia tidak menciumku lagi.
"Kenapa kau tidak mau melakukan hal yang sama juga?" tanyanya menggodaku.
Aku menggeleng dan menutup mata. Namun ia malah berbisik, "Buka tanganmu atau aku melakukan lebih" katanya membuatku merinding.
Aku berfikir sejenak, jika aku tidak menurutinya maka ia akan kembali melakukan hal dulu padaku. Akhirnya aku memilih membuka tanganku.
Steven mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku mundur agar ia tidak lebih dekat. Ia semakin mendekati wajah ku sampai aku tersandar ke sofa.
Ia menciumku kembali namun kali ini ia lebih ganas. Ia mengeluarkan tenaganya mencumbuku hingga aku kesulitan bernafas.
Aku memukul dadanya agar ia melepaskan ku, namun ia mengunciku agar aku tidak bisa bergerak.
"Tenang saja, aku tidak akan menyakiti bayi kita" kata Steven dengan suara serak.
Steven terus saja mencumbu hingga aku lelah dan memilih pasrah. Namun tangannya mulai nakal, ia membuka kancing gaun yang aku kenakan.
Perlahan ia melepaskan gaun itu, ia membuatku tidak berenergi lagi. Ia mencium leher dan dadaku hingga ke susu kembarku. Ia membuka dalaman lalu mulai mencumbuh tubuh ku meninggalkan banyak bekas merah disana.
Aku hanya bisa mengerang dan pasrah, dia selalu bisa membuatku lemah dan tak berdaya.
Hola my Readers 💚💚
Wihh makasih banyak nihh buat yang udah dateng dan setia sama novel ini.
Mohon maaf ya bila ada kesalahan baik pengetikan maupun pemilihan kata.
__ADS_1
Semoga kalian suka sama cerita aku, untuk eps selanjutnya akan di up di akhir pekan selanjutnya 🙏
Jangan Lupa like dan komen dong 💚💚