MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Sepertinya ada yang salah dengan otak dan telingaku


__ADS_3

Dengan menyeret kaki, mengerahkan tenaga, aku berlari terus dan terus untuk menyelamatkan diri. Karena hanya diriku sendiri yang bisa menyelamatkan ku sendiri.


Aku melihat sebuah mobil terparkir sekitar 30 meter lagi. Aku berlari bersembunyi di balik mobil merah itu, tubuhku sangat gemeteran, ketika hendak menghubungi Steven lagi, ternyata HP ku sudah tidak ada. Tubuhku tak sanggup lagi berlari, tenaga telah habis, kaki dan tanganku terluka.


"Akhirnya kau tak bisa lari juga wanita cantik" pria itu berhasil menemukanku.


Pria penguntit itu menarik tanganku, ia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Ia hendak mengulurkan sapu tangan itu ke wajahku, namun tiba-tiba saja


Brukkkk....


Ia jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri. Seorang wanita cantik memegang balok kayu besar yang memukul kepala pria itu.


"Apa kau tidak apa-apa? Heii kau terluka" kata wanita itu melihat luka di siku kedua tanganku.


Aku masih gemetar dan tak bisa merespon normal. Ia memelukku, "sudah sudah sudalah kau sudah aman, jangan takut dia tidak akan bisa melakukan hal buruk padamu" katanya menepuk punggungku.


Aku menangis di dalam pelukan wanita itu. Tuhan telah mengirim seseorang untuk menyelamatkanku.


"Sini duduk dulu, tenangkan dirimu. Tuunggu sebentar aku akan memanggil polisi" kata wanita itu.


Ternyata mobil itu adalah mobilnya, ia menyuruhku duduk di kursi mobil merah itu.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya polisi datang dan menangkap pria itu, ternyata penguntit tersebut adalah buronan yang selalu mengejar dan menculik wanita muda yang sendirian di tempat sepi.


Polisi menanyakan beberapa pertanyaan, namun karena masih ketakutan wanita itu yang memberikan jawaban.


Selepas itu kami berdua pergi dari lokasi menuju sebuah toserba yang tak jauh dari sini. Aku duduk di kursi depan toserba sedangkan wanita itu membelikan air minum disana.


"Ini minumlah agar kau lebih tenang" katanya memberi sebotol air mineral.


"Terima kasih eonni" jawabku pada nya lalu meminum air tersebut.


"Namaku Elsa Park. Siapa namamu? Kenapa kau bisa dikejar-kejar oleh pria itu?" tanya eonni ini.


Aku menceritakan segalanya pada eonni Elsa.


"Syukurlah aku tadi melihat mu" katanya sambil membuka obat luka yang ia beli.


Ia membersihkan luka ku lalu mengobatinya, walaupun perih, tapi ku bersyukur bertemu dengan wanita sebaik eonni Elsa.


Pengobatan sederhananya selesai, "Sudah selesai tapi kau harus rajin mengobatinya. Wanita secantik dirimu seharusnya tidak pergi ke tempat sunyi sendirian" ujarnya.


Aku tersenyum haru melihat eonni Elsa, "terima kasih eonni" kataku tulus.


"Dimana alamatmu? Biar aku antarkan, ini sudah malam takutnya terjadi sesuatu lagi padamu" tawar eonni Elsa.


Aku menggeleng karena tidak hafal alamat rumah Steven, ia mengambil HP nya "bagimana bila nomor rumah? Kau ingat?" tanyanya lagi.


Jawabanku juga tetap dengan gelengan kepala.


Ia menggigit bibirnya bingung harus apa. Harusnya aku menghafal nomor Steven atau alamat rumahnya saja.


Sebuah ide terfikirkanku, "tolong hubungi Steven" ujarku.


Wanita cantik itu mengangkat alisnya bingung, "Steven siapa?" tanyanya.


"Steven Lee" jawabku jelas.

__ADS_1


"Steven Lee? Kenapa aku menghubunginya?" tanyanya heran.


Aku tidak menjawab, tapi dengan yakin dan percaya diri aku mengangguk.


"Baiklah-baiklah aku akan mencoba menghubungi kantornya" katanya masih heran.


Setelah menghubungi kantor, pihak kantor tidak bisa menghubungkan langsung pada Steven karena tidak ada janji.


"Begini saja, aku tidak tahu dimana rumah Steven, bagaimana bila aku mengantarmu ke kantornya saja?" saran eonni Elsa.


Aku pun setuju karena tidak ada pilihan lain, ia mengantar ku ke kantor Steven.


"Apa hubunganmu dengannya?" tanya nya sambil fokus menyetir.


Pertanyaan yang sampai saat ini tidak bisa aku jawab. Aku tidak memiliki hubungan pasti dengannya, tidak istri, tidak pacar, maupun tidak keluarga.


"Hmmm hanya sekedar kenalan saja" jawabku asal.


"Ku fikir kau adalah wanita barunya lagi" kata eonni Elsa.


Aku menunduk dan tersenyum kecut mendengar perkataan itu. Kedua kalinya aku mendengar orang mengatakan perkataan yang sama.


Mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang utama Lee's Group. Aku menggandeng tangan eonni Elsa karena takut dan malu dengan penampilanku.


Langkah kami dihalang oleh petugas keamanan.


"Mohon maaf anda tidak diizinkan masuk ke area ini" kata mereka yang berseragam jas hitam.


"Tolonglah, kami ingin bertemu dengan tuan Steven Lee" pinta eonni Elsa.


Aku memberanikan diri maju untuk bicara, "katakan saja aku Karina Lim mencarinya" kataku pelan.


Mereka menatap ku dari ujung kepala ke ujung kaki, melihat penampilanku yang berantakan.


"Hati-hati dengan cara pandang kalian. Minggir kami mau bertemu" kata eonni Elsa memarahi mereka yang memandang rendah diriku.


Ia bersikeras untuk masuk namun mereka tetap tidak menperbolehkan. Mereka menarik kami keluar lalu mendorong ku ke lantai.


Aku terjatuh ke lantai kantor tersebut, aku hanya ingin bertemu dengan Steven tapi kenapa tidak bisa.


Air mataku terjatuh, tak sanggup lagi tertahan. Aku tidak ingin bangkit, rasanya sangat berat. Rambut ku berantakan menutupi wajahku.


"Tuan" terdengar suara mereka pada seseorang.


Seseorang turun dari mobil sedan, "Karina" teriaknya.


Suara itu sangat tidak asing di telinga, aku mengangkat kepala melihat sumber suara.


Steven berlari menghampiriku, sehingga tangisku akhirnya pecah. Ia memelukku erat, sedangkan aku menangis dalam pelukannya. "Dari mana saja kau? Apa yang terjadi padamu Karina?" tanyanya cemas.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN? KENAPA KAU MENDORONG WANITA KU?" bentaknya keras pada para petugas yang mendorongku.


"Mmmaaf tttuan, kami tidak tahu" mereka ketakutan.


Aku memeluk erat Steven, tidak ingin melepaskannya. Aku sudah tak sanggup berdiri, luka di lutut ditambah tenaga sudah habis. Steven mengecup kening ku, "tenang lah tidak ada yang bisa menyakitimu lagi" katanya dengan terus mengecup kening dan kepalaku.


Eonni Elsa menceritakan segalanya, aku pun mulai tenang.

__ADS_1


"Terima kasih Elsa sudah menyelamatkan wanita ku, aku akan membalasmu nanti" kata Steven menunduk memberi ucapan terima kasih.


Elsa mengangguk, "tidak perlu membalasku, jaga saja Karina. Jangan sakiti dia seperti yang kau lakukan biasanya" katanya. Aku mencoba bangkit berdiri hendak berterima kasih kembali, tapi tidak mampu.


Steven membantuku berdiri, ia merangkul ku dan erat.


"Terima kasih eonni Elsa, terima kasih banyak" ujarku dengan senyuman lebar nan tulus.


Wanita cantik yang telah menolongku itu mengambil tanganku dan mengelusnya "sama-sama Karina, sekali lagi hati-hati ya. Dan kau jaga dia baik-baik, jangan biarkan dia sendirian lagi" katanya pada kami berdua lalu pergi.


Steven menuntun dan merangkulku masuk ke dalam mobilnya. Kami duduk di kursi belakang. Ia melihat luka di tubuhku, "maafkan aku Karina harusnya aku lebih memperhatikanmu" ujarnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang" perintahnya pada sopir.


Sesampainya di rumah sakit Steven menggendongku memasuki ruangan perawatan. Orang-orang disini melihat kedatangan kami, Suasana menjadi heboh, kamera ponsel memotret dan ada juga yang merekam hal ini.


Wajahku aku tutup dengan bersembunyi di dada Steven. Aku sangat tidak suka menjadi pusat perhatian banyak orang.


Dokter segera mengibati luka ku, aku meringis karena perih. Steven menggenggam tanganku untuk menguatkan dan menciumnya.


"Nona tidak boleh mandi dahulu hingga mengering karena lukanya tidak boleh terkena air" ujar dokter itu.


Anak buah Steven membawakan sebuah kursi roda.


"Untuk apa ini? Aku bisa berjalan" kataku pada Steven.


Ia tidak menjawab penolakan yang aku lontarkan, ia langsung memindahkanku ke atas kursi roda tersebut.


"Apa yang terjadi padanya? Kenapa kalian berdua disini?" seseorang datang mengatakan sesuatu.


Kami memandang pada arah orang yang berbicara itu.


"Karina terluka jadi aku membawanya untuk mengobati luka itu" jawab Steven.


"Apa yang kau lakukan di jam segini?" tanya Steven lagi.


"Aku baru selesai rapat" jawab Leo. Leo tersenyum menyapaku, aku hanya mengangguk saja.


Leo seperti seseorang yang aku pernah temui, cara dia tersenyum dan suaranya seperti aku pernah dengar. Sepertinya ada yang salah dengan otak dan telingaku.


Kami kembali ke rumah, Steven membantuku dengan mendorong kursi roda tersebut. Kami masuk lewat lift kamar Steven agar memudahkan.



Hola My Dear Readers 💚💚


Waahh Author rilis eps nya double nih hihihi


Makasih loh ya buat yang udah singgah dan juga yang udah setia pastinya


Mohon maaf bila ada kesalahan author,


Eps selanjutnya akan di rilis lusa, besok author ada halangan 🙏🙏


Semoga kalian suka ya


Jangan lupa untuk like dan komen 💚💚

__ADS_1


__ADS_2