MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Beautiful Wedding Day 2


__ADS_3

Cincin pasangan dari berlian putih bertengger begitu memesona di kedua jari manis kami masing-masing. Kedua mata ini menatap kedua cincin yang menjadi simbol pernikahan.


Tangan pria berkulit putih yang kekar dan besar bertaut dengan jemari indah dan lentik yang dibungkus oleh sarung tangan bridal putih.


"Mereka adalah Sisilia, organisasi mafia yang dulu menerimaku setelah keluar dari penjara. Kau pasti pernah melihat tatto kecil di dadaku berupa ukiran S dengan setengah lingkaran. Sisilia adalah organisasi mafia Amerika Italia yang paling kejam dan menakutkan di dunia. Dan pria yang aku panggil bos adalah pimpinan organisasi kami. Aku memang bosnya disana dulu tapi sekarang aku sudah tidak berperan aktif lagi. Pria bernama Vincenzo yang menggantikan posisi itu. Posisi itu bernama consigliere yaitu penasihat hukum bos mafia. Kami berdiri beriringan dengan bos. Bisa dikatakan posisi kami hampir sederajat, tapi tetap tidak bisa disamakan. Bos mafia adalah jantung dari organisasi dan consigliere adalah otak dari organisasi kami. Segala keputusan berasal dari consigliere dan bos akan mempertimbangkan lalu memberi persetujuan"


Otakku berputar-putar mencerna apa yang dia katakan. Aku tahu arti mafia karena pernah mendengarnya tapi consigliere, Sisilia, atau semacamnya aku tidak tahu. Namun dari penjelasan panjang Steven, dia bukan orang biasa. Dia manusia paling mengerikan yang aku kenal. Aku menikahi seseorang yang sulit untuk dijamah.


Inilah maksud perkataan Jessica waktu itu. Perkataannya benar bahwa Steven bukan pria kejam pada umumnya. Berfikir tenang adalah kunci dari semuanya. Aku tidak bisa membiarkan hasutan wanita berhati iblis itu menuntunku ke arah yang salah. Aku percaya pada pilihanku.


"Lalu apakah kau masih bergabung dengan mereka?" tanyaku ragu.


Ia mengusap lembut punggung tanganku yang masih terbungkus oleh sarung tangan bridal, "Mereka sudah menjadi keluargaku Elena. Disaat dunia membenciku mereka menerimaku. Benar mereka mengerikan dan keji, tapi mereka mengajarkanku untuk bertahan hidup dan memperjuangkan apa yang pantas diperjuangkan. Aku masih menjadi anggota Sisilia tapi hanya pimpinan pasif saja. Tenanglah, mereka adalah orang-orang yang berpegang pada prinsip dan kekeluargaan. Jika seseorang bergabung maka akan dianggap sebagai keluarga dan mereka akan melindunginya. Maafkan aku baru memberitahumu sekarang bahkan di hari pernikahan kita. Tapi aku hanya ingin kau bisa memahamiku. Suatu hari nanti jika kau kesulitan dan aku tidak bisa berbuat apapun, kau bisa menghubungi mereka karena mereka tunduk akan arahanku selama ini"


Aku balik mengelus tangannya, "hmm tidak Steven, aku tidak takut dengan statusmu sebagai mafia. Aku yakin kau bukan orang yang melanggar janjimu. Yang aku takutkan adalah saat kau tidak lagi bersamaku. Sisilia atau apapun itu, aku hanya berharap kau selamat. Tolong katakan pada Mr. Agustov dan yang lainnya aku berterima kasih karena mereka sudah menganggapmu keluarganya"


Keputusanku yang menerima cintanya dulu akan tetap kupegang teguh. Mau dia berbahaya maupun mematikan, aku akan tetap bertahan selama dia masih jujur.


Hatiku cukup lega karena aku mendengar semua langsung dari mulutnya. Setidaknya dia jujur padaku walaupun butuh waktu lama.


Seseorang yang tidak aku harapkan untuk datang ke pernikahanku bahkan hidupku sekalipun sekarang hadir di ruangan private pengantin.


Tanganku yang semula saling memegang erat tangan Steven langsung terlepas. Sekarang menggenggam erat gaunku dan meremasnya. Kepalaku tertunduk enggan melihat wajah orang yang selama ini telah menyiksa hidupku.


Jessica berdiri di hadapan kami, traumaku tentang masa lalu yang dia tanamkan tidak bisa sembuh.


"Selamat atas pernikahanmu putriku Elena, semoga kalian selalu bahagia dan bersama sampai hari tua" ujar Jessica.


"Terima kasih Jessica" jawab Steven. Dia seolah biasa saja nyaman dengan situasi sekarang.


Tubuhku seolah tidak ingin merespon, Steven memegang tanganku lembut. Ia melepaskan kepalan tanganku yang terus memeras gaunku. Ia memberiku kekuatan dan percaya diri.

__ADS_1


"Sebenarnya aku kecewa karena tidak menjadi walimu, padahal aku adalah ibumu" Jessica dengan tidak tahu dirinya.


Ibuku? Dasar wanita munafik. Sepertinya Steven memberiku kepercayaan diri dan keberanian yang besar "Ibuku? Kau bukan ibuku! Lebih tepatnya pembunuh ibuku"


Steven memandangiku dan tersenyum, "Kau dengar Jessica apa yang istriku katakan? Jangan mengklaim dirimu sebagai ibunya"


"Elena kau?!"


Aku spontan menatapnya tajam, ini seperti bukan diriku yang dulu "Kenapa? Kau pikir aku masih takut padamu? Aku hanya diam dan membiarkanmu karena aku tidak ingin merusak hidupku dengan keberadaanmu"


Kemarahan tampak jelas di matanya, tapi dia mungkin takut karena Steven memperhatikan kami. "Kau tidak bersikap sopan padaku setelah membesarkanmu belasan tahun?!"


Satu sisi bibirku menyungging, "membesarkanku? Kaulah yang menghancurkan hidupku. Setiap melihatmu aku ingin membunuhmu tapi aku tidak melakukannya. Bukan karena tidak bisa, aku bisa membiarkan Steven melakukannya sejak dulu tapi aku tidak mau karena jika begitu kami sama saja denganmu. Aku hanya berharap dosamu diampuni" kataku dengan suara lantang.


Ia menghembuskan nafas pendek dan memainkan bibirnya seakan menahan emosi "sebaiknya aku pergi saja. Semoga kalian menikmati pernikahan dan bulan madu kalian" dia bergegas pergi.


Tubuhku melemas kembali dan menghela nafas. Mataku terpejam sebentar untuk menjernikan pikiran.


Steven entah kapan tapi ia mendekatkan wajahnya ke telingaku, "Istriku sekarang sudah berani"


"Aku bangga padamu" Kami saling tersenyum satu sama lain.


Stylist yang membantuku datang menjemput untuk berganti gaun. Acara selanjutnya adalah bersenang-senang. Dengan gaunku yang super kembang dan berat akan menyulitkanku untuk menikmati setiap acara.


Maaf ya aku baru nemu foto karakter aslinya pakai wedding dress jadi aku rubah hihihi



Dress untuk acara resepsi


Setelah semuanya rampung Selena membawaku ke aula resepsi. Steven memberikan tangannya menyambutku, "ingin berdansa denganku Ms. Lee?"

__ADS_1


"Sebuah kehormatan bagiku Mr. Lee" jawabku tenang.


Alunan musik dansa mulai memenuhi seisi ruangan, kami berdua berdiri di tengah-tengan para tamu yang menyaksikan.


Every Day I Love You-Boyzone


Aku tidak tahu caranya berdansa tapi Steven sangat mahir. Kucoba menyamakan gerakan tubuhku sesuai dengan gerakannya, dia memeluk erat pinggangku dan aku meletakkan tangan di dadanya.


Kedua mata kami saling menyaut, senyuman kehangatan bercampur perasaan cinta dan harapan seolah kami berada di dunia milik kami sendiri.


"I love you so bad" ujarnya lembut.


"I love you too" jawabku.


Dia mendaratkan ciuman di bibirku, aku membalasnya dengan lembut. Seketika semua bertepuk tangan untuk kami. Beberapa pasangan mulai ikut bergabung berdansa, ada kakakku dan Selena, serta Lucas dan eonni Elsa.


Acara selanjutnya adalah pelemparan bride bucket flowers. Aku berdiri di set wedding bersama Steven. Membelakangi para hadirin yang antusias menangkap bucket yang aku lemparkan.


"Satu dua tiga..." kulemparkan dengan kuat bucket yang aku pegang ke belakang. Sepertinya lemparan itu cukup kuat.


Aku berbalik ketika mendengar ada yang berhasil menangkap, "Eonni Elsa" ujarku girang melihat wanita yang menangkapnya.


Semuanya bertepuk tangan, Lucas yang duduk dengan kak Briant di meja mereka tersenyum ke arah wanita yang berhasil menangkap itu. Eonni Elsa kelihatan malu karena semua menggodanya.


"Lucas kutunggu kartu undanganmu" teriak Steven.


Semuanya tertawa termasuk aku, suamiku ini melingkarkan tangannya di pinggangku. Dia mengecup pipiku, aku tersenyum manis padanya. Kami sangat bahagia karena Tuhan melimpahkan begitu banyak sukacita hari ini. Kuharap ini akan bertahan sampai selama-lamanya.


Seluruh acara mulai selesai satu demi satu. Hingga kami sudah sampai di penghujung acara. Para tamu mulai berpamitan dan aula mulai kosong.


Semua orang terdekat kami berdiri menyaksikan aku dan Steven memasuki mobil sport dengan atap terbuka duduk di dalamnya.

__ADS_1


"Nikmati malam kalian Stev" teriak Lucas yang memeluk kekasihnya itu.


"Selamat menikmati libur bulan madu kalian kak" kata Selena yang bergenggaman tangan dengan kakakku.


__ADS_2