MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Alam menjadi saksi dan Tuhan akan merestui


__ADS_3

Orang bilang kebahagiaan terdalam adalah ketika sebegitu senangnya hingga meneteskan air mata. Ternyata memang benar, hal itu terjadi tepat di depan mataku.


Terpisah selama belasan tahun, rindu yang begitu besar hingga berubah menjadi rasa bersalah, dan pada akhirnya takdir membawa mereka kembali bertemu.


"Maafkan aku" aku merasa bersalah.


Dengan masih berlinang air mata saat membaca file tes DNA, Karina memandangku yang menunduk. "Kenapa kau minta maaf? Harusnya aku berterima kasih karena sudah mempertemukan kami kembali"


"Harusnya aku mencaritahu lebih cepat sehingga kau bisa berkumpul dengan kakakmu segera" ungkapku.


Ia berusaha mendekatiku yang terbatas oleh tempat duduk mobil. Karina memelukku, "terima kasih Steven, jika bukan karenamu aku tidak akan pernah mengetahui kebenarannya. Maafkan aku yang sempat berfikir buruk kau tidak mau membantuku"


Edward sudah kembali dari makam bersama adikku, aku membuka jendela pintu mobil "untuk hari ini mari kita rayakan, aku sudah buat rencana" teriakku.


"Rencana apa?" tanya Edward.


"Ikuti saja aku" aku menyalakan mesin mobil tampanku, kami langsung menuju tempat tujuan yang aku maksud.


Kedua mobil kami berhenti di parkiran pribadiku di bandara. Karina masih tertidur, ia pasti kelelahan apalagi ia menangis sejak tadi.


Karyawan bandara membukakan pintu mobil untukku. Aku menggendong Karina keluar dari dalam mobil.


"Kenapa kita kesini kak?" ujar Selena sekeluarnya dari mobil Edward.


"Kita akan pergi berlibur. Aku sudah membuat reservasi di Jeju" jawabku yang masih menggendong Karina.


Edward menyaksikan sekeliling yang begitu sepi akan kendaraan dan masyarakat umum. "Kenapa kita ke Jeju? Kita bisa merayakannya di Seoul"


"Ayolah bung aku tidak mau momen spesialku terasa biasa saja. Lagipula ada untungnya juga kalian berdua untuk baikan. Itu hadiahku untuk kemenanganmu hari ini" jawabku santai.


Mereka kelihatan sangat canggung padahal aku sengaja membiarkan Selena ada di mobil pria bodoh ini.


"Ini tempat apa? aku tidak pernah melihatnya sebelumnya" tanya Edward lagi.


Selena menjawab, "ini area jet pribadi kakakku jadi tempat ini sangat dibatasi". Pria itu tercengang, "jet pribadi? daebakk.. Steven sebenarnya sekaya apa kau"


"Anggap saja seperti yang kau fikirkan. Cepatlah naik sebelum adikmu ini bangun" aku segera memasuki jet pribadiku itu. Pihak bandara sudah mempersiapkan penerbangan sesuai yang aku minta.


Gadis mempesona tersebut aku tidurkan diatas sofa besar nan mewah. Edward yang masuk kemudian duduk di samping adiknya. Ia memegang tangan Karina yang masih tertidur lelap. Ia terus memandangi wajah adiknya.

__ADS_1


Selena mengambil tempat di bagian terdepan, ia tetap saja menghindari pria yang menjadi idaman sang hati bertahun-tahun lamanya.


Aku yang baru saja kembali dari toilet langsung menepis tangan Edward yang terus saja membelai rambut adiknya. "Awas ini tempatku, sana temui Selena. Kasihan dia kesepian"


"Kau ini masih saja cemburu" ujar pria itu kesal. Bukannya menurut, pria itu malah duduk di tempat yang berjarak jauh dari adikku.


Jet sudah berada diatas awan. Perjalanan akan memakan sekitar satu sampai dua jam. Aku membuka Ipadku untuk memeriksa keadaan kantor selama aku tidak ada.


"Hmm..dimana ini?" ujar Karina yang baru terbangun.


Ipad kesayanganku segera aku matikan, "kita ada di dalam pesawat menuju Jeju"


"Pesawat? Wow daebak" ia senang hanya karena ada dalam pesawat.


"Kau sangat senang?" tanyaku.


"Sejak lahir aku tidak pernah melakukan penerbangan sekalipun" jawab Karina sangat polos.


Aku membelai rambutnya, "nikmatilah penerbangan ini sayang" ia masih menyaksikan pemandangan awan dari jendela.


"Tapi kenapa cuma ada kita?" tanyanya pula.


"Sudah pasti hanya kita, ini jet pribadiku" kataku santai.


Kusandarkan punggungku agar merasa rileks, aku meletakkan kepalaku manja diatas bahu wanitaku ini. "Aku juga mau istirahat" wajahku bersembunyi di lehernya.


Ia merangkulku dengan tangan indahnya, "aigo aigo istirahatlah dengan nyaman" katanya. Ia membiarkanku tidur dalam rangkulannya, sungguh nyaman dan hangat.


Penerbangan menuju pulau asri yang mengandung beragam cerita masa lalu telah usai.


Dengan memegang tangannya, kami keluar dari jet bersama. Suasana sejuk dan menyegarkan begitu terasa saat kami baru saja menginjakkan kaki di pulau ini.


Reservasi yang sudah aku buat bukan hanya untuk hotel, restauran namun juga kendaraan agar kami bisa bebas menikmati waktu berlibur.


Bahkan berkendara disini sangat nyaman, tidak ada kemacetan seperti yang dialami di Seoul dan kota lainnya. Kami disuguhkan dengan pemandangan pantai yang cantik dan menenangkan.


Kami sampai di hotel yang sudah direservasi, aku memesan tiga kamar terpisah untuk kami. Tentu saja aku dan Karina berada dalam satu kamar. Dua kamar lagi adalah untuk Selena dan Edward.


Kamar hotel tempatku dan Karina menginap langsung menghadap ke arah pantai. Karina berlari langsung masuk ke kamar, ia melihat bagaimana pantai begitu menenangkan hati.

__ADS_1


"Apa kau suka" tanyaku setelah menyusul gadis periang itu.


Ia mengangguk girang, hatiku tenang karena ia menyukainya. Aku jadi berfikir harus membawa Karina kemana untuk berbulan madu nanti. Tentunya tidak di pulau ini lagi.


Aku memeluk Karina dari belakang. Berdiri di balkon kamar hotel menyaksikan ciptaan Tuhan yang megah.


"Apa kau sangat menyukai pantai?" tanyaku pelan di telinganya.


"Iya, pantai itu menakjubkan. Mama dulu pernah bilang kalau laut bisa memberikan kedamaian ketika hatimu gundah. Itulah kenapa aku selalu ingin menyaksikan pantai secara langsung" katanya.


Hembusan angin pantai menerbangkan helaian rambut Karina seakan menari-nari dengan gemulai. Jari-jemariku menepikan rambut yang menutupi wajah indahnya.


Aku mendekatkan bibirku. "Aku lapar" ungkapnya yang membuat seranganku gagal. Aku menghembuskan nafas panjang, "baiklah ayo kita makan". Sudah pukul tiga sore sudah pasti ia sangat lapar.


Hidangan restauran hotel sangat lezat, kami menikmati pelayanan pihak hotel yang tidak main-main.


Selepas makan, aku mengajak Karina berjalan-jalan dipinggir pantai. Sebentar lagi sang mentari akan terbenam. Pemandangan langit jingga akan begitu indah ketika dinikmati di tepi pantai.


Walaupun musim dingin untunglah aku sudah memastikan tidak ada hujan salju hari ini menurut perkiraan cuaca.


Aku dan Wanita ku ini berdiri di atas bebatuan besar tepi pantai. Kupandangi sosok mengagumkan yang bak lukisan memejamkan mata merasakan angin pantai.


Sebuah kotak berwarna hitam kecil nan mewah aku ambil dari dalam saku . Sang mentari sudah mengeluarkan cahaya jingga nya, senja sebentar lagi akan berakhir. Aku harus segera melaksanakan rencanaku datang kemari.


"Elena Lim" panggilku.


"Iya?" wanita yang sekarang akan aku panggil Elena.


Aku membuka kotak cincin permata dengan berlian putih yang begitu indah. "Menikahlah denganku" hari ini aku melamarnya dengan sang mentari dan kedamaian pantai sebagai saksi.


Ia memperhatikan cincin tersebut, matanya kembali berkaca-kaca.


"Maukah kau hidup berdua bersamaku selamanya? Menjalin kasih dan merasakan suka duka bersama hingga kita menua?" aku melamarnya.


Elena menatap mataku, ia akhirnya mengangguk dan tersenyum hangat. "Aku mau" katanya.


Jawaban itu akhirnya keluar dari mulutnya. Aku yang sangat senang spontan memeluk Elena dan berputar-putar.


Aku menurunkannya, lalu memasangkan cincin tersebut di jari manisnya yang lentik. Untuk pertama kalinya ia menciumku terlebih dahulu.

__ADS_1


Alam menjadi saksi akan cinta kita berdua dan Tuhan akan merestuinya. Aku membalas ciuman itu dengan penuh kehangatan. Setelah begitu banyak kejadian berlalu, akhirnya Tuhan mempersatukanku dengan wanita idamanku ini.



__ADS_2