
Aku menghela nafas pendek, lalu memberikan kode pada salah seorang bodyguard yang berjaga di taman ini. Ia segera pergi melakukan perintah.
Briant mengepalkan tangannya "sepertinya kau lupa bahwa selama empat belas tahun adikku, istrimu sendiri terkurung sendirian, tidak bisa melihat dunia yang sebenarnya"
"Mana mungkin aku lupa, aku tidak setua itu hingga amnesia tentang hal ini" jawabku lirih.
Dia mengeraskan rahangnya, "kau bercanda sekarang? Steven apa kau tidak sadar wanita itu sangat kejam?"
Anak buahku yang tadi datang membawakan sebuah amplop coklat lebar beserta dengan Ipadku. Aku mengotak-atik layar Ipad mencari sesuatu yang sangat penting.
"Aku sudah melakukan investigasi mendetail tentang kasus Elena dan keluargamu. Tapi aku tidak menemukan bukti bahwa Jessica pelaku yang sebenarnya, bahkan aku menemukan fakta lain yang akan membuatku pingsan" jawabku merasa tidak nyaman.
Pria ini tidak mengerti maksudku, "bagaimana kau bisa mengatakan itu? Bukankah Jessica dalang di balik ini semua?"
Kuberikan Ipad itu dalam keadaan membuka sebuah file rahasia beserta dengan amplopnya. Ia mulai memeriksa file rahasia yang aku berikan.
"Jessica dan ayahmu menikah dua tahun sebelum dia menikahi ibumu. Pernikahan ayahmu dan Jessica sepertinya adalah perjodohan karena keluarga wanita itu adalah orang terpandang. Namun dua tahun kemudian ayah dan ibu kalian menikah diam-diam lalu lahirlah dirimu. Ibumu tidak tahu bahwa ayahmu sudah menikahi wanita lain sebelum dia. Setelah Elena berusia enam tahun, pernikahan orang tua kalian terungkap oleh Jessica dan keluarganya. Mereka mengincar ibumu dengan memisahkan kalian semua. Mereka kemungkinan mengancam ayahmu untuk memilih dari kalian bertiga untuk diselamatkan. Elena pernah mengatakan padaku bahwa suatu hari ayah dan ibu kalian bertengkar hebat, mereka memaksanya untuk memilih ikut dengan siapa. Saat itu dia terlalu muda untuk memilih. Orang yang diilih Elena adalah ayah kalian, maka mereka membuangmu ke sungai lalu ibu kalian dibunuh. Jessica menyekap Elena dan mengurungnya di rumah ibunya sendiri selama empat belas tahun. Mereka mengira kau sudah mati hanyut terbawa arus sungai Han ternyata kau selamat. Ayahmu merasa bersalah karena menipu ibumu dan membuat kau dan ibumu, wanita yang sebenarnya dia cintai meninggal demi keinginan keluarganya mempertahankan hubungan dengan keluarga Jessica. Sama seperti ayah angkatku, dia mabuk-mabukan setiap harinya hingga memilih bunuh diri. Tinggalah Elena sendirian dalam sekapan Jessica"
Aku mengenal Briant yang memiliki sisi lembut dalam dirinya. Sisi itulah yang menjadikan adikku tergila gila dengannya. Karena itu dia meneteskan air mata melihat semua bukti yang tersisa aku kumpulkan.
Sungguh aku bersyukur karena memiliki smart mirror wall itu. Bahkan bosku tidak akan bisa menemukan bukti ini walaupun sejauh apapun koneksi yang dia punya.
"Semua ini nyata? Bagaimana aku bisa tidak tahu apa yang terjadi pada keluargaku sendiri?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Kutepuk-tepuk bahunya untuk mengulurkan semangat dan turut berduka, "Jessica berasal dari keluarga yang sangat berpengaruh di negara ini. Keluarganya bisa menghapus semua bukti, hingga memanipulasi fakta. Mereka membunuh semua saksi, menghapus semua bukti, bahkan melenyapkan orang yang mereka pakai untuk membunuh ibumu. Ibumu dibunuh dengan membuatnya overdosis obat tidur, sehingga investigasi polisi menyimpulkan bahwa itu adalah bunuh diri. Mereka mengurung Elena di rumah kalian, di tempat yang sama dengan tempat ibumu dibunuh. Untungnya Elena tidak melihat kejadian itu, jika dia melihatnya pasti Elena akan gila"
Briant menangis kecil, menahannya sendirian "ini sudah ada bukti lalu kenapa kau tidak bergerak?"
"Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa Jessica memang pembunuh ibumu. Tapi aku bisa dengan yakin menyatakan dia yang mengurung, menyiksa, dan menyakiti istriku. Aku sudah melihat sendiri bagaimana cara dia memperlakukan istriku, rantai, tuas, penarik, bahkan Elena hanya punya seekor anak anjing yang menemaninya dan wanita itu juga membunuhnya. Hari itu aku mendengar langsung dari mulutnya meminta pertolonganku dan memperingatkanku seberapa mengerikannya Jessica. Dengan telingaku sendiri aku mendengar suara jeritan dan tangisannya saat mendapatkan siksaan. Kedua mataku sendiri melihat Elena diseret paksa oleh rantai di kakinya. Tapi untuk ayahmu aku tidak bisa berbuat apapun, karena semua sumber masalah ini bermula darinya" jelasku lagi.
__ADS_1
Pria di sampingku ini tidak kuasa melihat foto lama mayat ibunya saat ditemukan meninggal dan ditambah penjelasan menyedihkan dariku.
Semua orang punya luka hatinya sendiri, tidak ada manusia yang baik-baik saja di dunia ini. Semua orang menyimpan luka mereka sendiri. Ada yang menunjukkannya, ada beberapa orang yang memilih diam, dan ada juga yang tidak tahu tentang kisah pahit masa lalu mereka.
Jangan mengklaim hidupmu adalah yang terberat di dunia ini, karena kita tidak tahu siapa dan bagaimana cara orang lain hidup. Karena pada dasarnya manusia adalah orang munafik, berpura-pura kuat, berpura-pura tidak membenci tapi pada nyatanya hati manusia dipenuhi kedengkian.
Jika bebanmu terlalu berat untuk kau pikul maka berbagi bebanlah pada seseorang yang bisa kau percaya. Menangislah jika itu menyakitkan, tidak perlu berpura-pura dengan senyuman palsu.
"Elena tahu semua ini?" tanyanya lirih.
Kugelengkan kepalaku, "tidak, aku tidak bisa mengatakan kenyataan pahit ini padanya. Hidup sudah terlalu jahat untuk istriku itu, dia juga perlu hidup baik. Terkadang lebih baik tidak perlu tahu agar ia bisa hidup tenang. Aku akan menyelesaikan semua ini tanpa sepengetahuan darinya"
"Lalu apa yang akan kau lakukan pada Jessica dan pembunuh ibuku?" ia menjadi sedikit lebih tegar.
Aku berpikir sejenak, "dalam kasus keluargamu ada tiga pelaku tapi ada empat yang perlu dicurigai"
Kutatap dia serius, "pelaku Elena adalah Jessica, pengkhianat di awal adalah ayahmu, dan pembunuhnya adalah...."
"Aaaaaaaaa" teriakan wanita.
Kami terkejut karena Elena ada disini. Aku segera berlari menghampiri Elena yang terduduk di rerumputan diam membisu.
"Elena? Sejak kapan kau disitu? Kau mendengar semuanya?" tanyaku cemas. Aku mengguncang-guncang tubuhnya agar dia merespon tidak lagi membisu.
Briant ikut menghampiri "Elena kau mendengarnya?"
Elena memandangiku, ia seakan sadar tidak sadar dengan tatapannya. Kuelus kedua pipinya memberikan dia kehangatan karena tubuhnya seketika dingin.
"Aku meninggalkan mama demi papa yang berkhianat? Papa tidak mungkin melakukanya" ujarnya masih tidak sadar.
__ADS_1
"Bagaimana ini Stev, dia pasti sangat terkejut" kata Briant mencemaskan adiknya.
Aku memeluk Elena agar dia tidak sampai kehilangan kendali, "Elena ini bukan seperti yang kau pikirkan, aku bisa menjelaskannya"
Tangannya mendorong tubuhku, ia mulai sadar dan matanya berkaca-kaca "kenapa kau merahasiakan selama ini dariku? Hikkss.. Hikss.. Steven kenapa kau tidak memberitahuku apa yang terjadi pada mama"
Kembali kupeluk dia erat, aku membelai rambutnya dan mengecup rambut itu berulang-ulang. "Aku mohon tenangkan dirimu, aku takut kau akan lepas kendali jika aku memberitahumu"
"Tapi Steven aku harus tahu apa yang terjadi pada keluargaku, kau sudah berjanji untuk jujur padaku Hikss.. Hikkss.."
"Elena maafkan kami, kami takut kau akan stres. Apalagi kondisimu sedang hamil" kata Briant mengelus lengan atas istriku.
Istriku ini memukul-mukul dadaku, ia terus melampiaskan emosinya padaku. Ia menangis sejadi-jadinya karena fakta yang selama ini aku rahasiakan demi kebaikannya.
"Maafkan aku Elena, maafkan aku merahasiakan ini. Tapi kumohon tenanglah, kuasai dirimu sayang" kataku memegangi dia.
Akhirnya dia tidak lagi memukul-mukulku. Ia menangis di dadaku dengan sepuasnya. Aku membelai rambut hitam lembutnya, berusaha memberikan kedamaian dalam jiwanya yang sedang terguncang.
"Aku berjanji akan menemukan pelakunya, aku pasti akan membalaskan dendam kalian" ujarku tegas.
Ia melepaskan tangannya yang menggenggam erat kemeja, berbalik memeluk kakaknya. "Maafkan aku kak, karena aku kakak hampir saja mati"
Briant menggeleng, ia membelai rambut Elena dan ikut tersakiti oleh masa lalu mereka. "Tidak Elena, kaulah orang yang paling tersakiti. Kau yang paling menderita, maafkan kakak karena tidak ingat apa yang terjadi sebelum jatuh ke sungai. Maafkan kakak karena tidak bisa membebaskanmu padahal selama ini kau ada di sekitarku"
Mereka saling menangis, kehidupan mereka sangat sulit. Yang satu terkurung dan tidak tahu kenyataan sedangkan yang satunya lagi tidak bisa mengingatnya.
Bagiku itu adalah sakit yang melekat, tapi bagi mereka ini adalah masa lalu yang bahkan tak bisa mereka ingat, maka biarkan saja itu terjadi.
__ADS_1