
Steven -
Kenangan masa lalu akan selalu membayangi. Sekuat apapun melepaskan rantai itu, tetap saja akan selalu terjerat.
Jahat dan egois, begitulah aku. Tapi aku tidak akan meminta maaf karena aku tidak pantas dimaafkan. Tanpa memikirkan perasaannya, aku berbicara dengan suara keras dan sedikit membentak.
Elena tidak bersalah tapi aku juga tidak bisa mengontrol emosiku. Kenapa semuanya harus terjadi? Sampai kapan aku harus merasa bersalah?
Aku tidak bisa membalaskan dendamku karena pelakunya sudah hilang. Sekarang hanya melampiaskan amarah itu pada orang lain yang tidak ada kaitannya.
Kulewati para pelayan yang menyambut dan istriku sendiri yang memberikan senyuman ramahnya padaku tanpa membalas. Akan lebih baik bungkam saat ini atau aku bisa lepas kendali melakukan hal hal buruk yang menyakiti dia.
Aku pergi ke ruangan tempatku menyimpan segala macam miras dan alkoholku. Tempatku mengoleksi semua itu, bar pribadiku. Setelah masuk kuletakkan asal tas kerjaku di sofa santai.
Lalu memasuki area rak berisi aneka ragam miras dan alkohol dengan harga fantastis. Bahkan ada yang seharga dua mobil sport.
Secara random tanganku mengambil sebotol Jack Daniels kemudian duduk di kursi depan meja resepsionis. Kuteguk sekaligus hingga menghabiskan setengah botol.
Siapapun tahu aku bisa dikatakan salah satu raja alkohol. Toleransi tubuhku pada alkohol dan miras jenis apapun sangat kuat. Aku baru akan mabuk bila menghabiskan tiga atau empat botol, itupun masih sadarkan diri.
Pikiranku melayang layang. Rasa bersalah terus menghantui diriku. Aku tidak mengerti entah ini sebuah penyesalan atau rasa bersalah atau keduanya. Aku menolong orang asing namun kehilangan kakak kandungku sendiri.
Kedengkianku membuatku enggan untuk berbaur dengan keluargaku, hingga akhirnya kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupku.
Sekali lagi kuteguk isi botol alkohol di tanganku hingga habis, hari ini aku ingin melupakan semuanya walaupun sejenak. Tidak perduli pingsan, yang jelas aku butuh banyak minum hari ini.
Shit! Cepat sekali habisnya.
Aku berjalan ke rak kembali dan mengambil tiga botol sekaligus Jack Daniels yang berbeda jenis. Setelah kembali duduk aku membuka penutup botol dan kembali meminumnya tanpa menuang ke gelas.
Buhuku terbungkuk, kepala tertunduk, dan tangan mengusap rambut acak. Aku meneteskan air mataku, beginilah diriku jika tidak bisa menahan kesedihan itu. Hidupku selama ini sudah terlalu kesepian hingga akhirnya Elena datang, tapi bayang bayang masa lalu masih tersisa.
Kuteguk minumanku hingga habis. Ini adalah botol kedua, tenggorokanku sebenarnya sudah mulai panas tapi aku masih belum mabuk sama sekali.
Saat akan meminum botol ketiga, seseorang meraihnya. Kuhardik dia dengan tatapan dingin nan tajam, sangat menikam karena mengganggu me time ku.
Orang yang aku hardik awalnya terkejut tapi dia berusaha untuk tetap normal. Elena menjauhkan semua minuman di meja dariku.
"Tidak seperti ini! Sudah cukup bersedih sayang"
Kuhela nafas berat "pergi dari sini, aku sedang tidak ingin diganggu"
Tangannya memegangi wajahku, tatapannya selalu lembut. Itulah ciri khasnya, sangat lembut dan anggun, alasan kenapa aku sangat menginginkan wanita ini. Begitu polos dan murni.
Bibirnya tersenyum hangat dan menenangkan, tatapan itu begitu teduh dan menghangatkan "jika kau ingin menangis menangislah, akan kuberikan pundakku. Menangis bukan berarti lemah, bersedih bukan berarti pecundang, pura-pura kuat bukan berati kau hebat. Jadi dirimu sendiri, tidak perlu pura-pura"
__ADS_1
Seketika aku ingin sekali menangis begitu keras, hidupku memang penuh dengan kepura-puraan. Berlaku sok kuat padahal aku rapuh dari dalam.
Aku melepaskan tangannya, tidak ingin melihat diriku pada titik terlemahku untuk kedua kalinya. Tapi ia keras kepala, Elena memegangi wajahku lagi dengan tangan indah dan hangatnya.
"Mungkin kau sudah melakukan yang terbaik tapi yang terpenting maafkanlah dirimu sendiri. Yang terutama dan utama adalah bahagiakan dirimu sendiri. Lepaskan ikatan itu dari lehermu, karena yang tersulit bukanlah memilih tapi bertahan pada pilihan. Bukankah itu yang selalu kau ajarkan padaku? Lalu kenapa kau sendiri gagal menerapkannya dalam hatimu?"
Sial! Aku terlihat begitu lemah sekarang. Aku langsung memeluknya sangat erat dan memecahkan semua kesedihan yang selama ini tertahan. Meluapkan segala emosi yang tidak bisa aku jelaskan.
Elena memberikan pundaknya untukku menangis, mengelus punggungku dan berusaha menenangkan. Aku tidak terisak seperti wanita, hanya menangis seperti pecundang.
Ia melepaskan pelukanku saat sudah tenang, membawaku duduk di sofa santai berdua. Aku masih memeluknya begitu erat dan menyembunyikan wajahku di dadanya.
Dia istriku jadi sudah hakku untuk menyentuhnya semauku. Elena hanya membelai rambutku yang lebat dan sedikit bersenandung. Kuakui suaranya memang lembut dan manis, so addicted.
"Maafkan aku karena kasar padamu pagi tadi"
"No problem honey, you're just in sadness" jawabnya. Walaupun bahasa Inggrisnya masih tidak bagus, ada beberapa kesalahan dalam pronounsationnya tapi ini sudah sangat baik karena dia juga hanya belajar sejenak.
"Sejak kapan kau bisa berbahasa Inggris?" aku bangkit dari pelukannya.
Wanita hamil yang pastinya adalah istriku sendiri itu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. "Selama ini aku mempelajarinya, tapi masih buruk kan?"
"Itu sudah cukup bagus" balasku senang.
Ia sangat senang dengan pujianku, kuelus ujung kepalanya dengan halus.
Elena mengeluarkan sesuatu dari sakunya, "aku tadi ke kamar kak Alvin"
Ia tampak serius, perubahan rahut wajahnya sangat drastis. "Tidak perduli bagaimana caraku sampai kesana. Aku ingin bertanya kenapa kau memiliki ini?"
Alisku berkerut dan aku sangat syok saat melihat tangannya memarkan liontin yang tergantung. Itu liontin milik kak Alvin, yang katanya berasal dari seorang anak kecil cantik yang dia sukai.
"Itu milik kakakku"
"Ini milikku" jawabnya simpel.
Miliknya? Kenapa bisa?
Dengan berhati-hati ia mengubah posisi duduknya, mengangkat satu kaki ke sofa agar bisa berhadapan jelas denganku. "Ini milikku yang hilang saat usiaku masih belum genap enam tahun"
"Tapi kak Alvin bilang itu milik anak kecil yang dia sukai" jawabku masih terheran.
Elena sepertinya memikirkan banyak hal, "aku ingat sekarang"
Sungguh ini sangat membingungkan, ingat apa?
Tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya "saat itu usiaku masih belum genap enam tahun, aku kabur dari rumahku karena tidak tahan dengan Jessica. Aku melewati jembatan di atas sungai Han dan sejenak menangis disana. Saat itu hujan deras, membuat perasaanku semakin kalut. Berat sekali bagiku saat itu, aku sungguh tidak tahan dengan siksaan wanita iblis itu. Aku memutuskan untuk mengakhiri segalanya, saat melihat air sungai pikiranku sangat kosong. Aku seolah ditarik untuk bunuh diri. Namun suara ribut membuyarkan halusinasi itu. Tidak jauh dari tempatku berdiri empat orang remaja laki-laki sedang bertengkar. Lebih tepatnya tiga lawan satu. Aku ragu ingin menolong karena aku terlalu kecil dibanding mereka. Ketiga laki-laki itu hendak mendorong yang satunya ke sungai Han. Mereka adalah perisak yang mengerikan, bahkan ingin membunuh korbannya. Ketiganya pergi saat mengira korban mereka sudah jatuh namun ternyata dia menggantung di jembatan. Ia terus berteriak meminta tolong, aku tidak sampai hati membiarkan itu, Kuputuskan menolongnya. Setelah berhasil menolong, kupandangi wajahnya. Aku langsung pergi begitu saja tanpa mendengarkan kata terima kasih darinya. Dan sekarang aku tahu kenapa wajah itu sangat akrab, mengapa pertama aku melihatmu di rumahku dulu aku tampak akrab denganmu"
Mendengar ceritanya aku ingin marah walaupun tidak tahu pada siapa. Tapi kenapa dia merasa akrab denganku?
"Siapa?"
__ADS_1
"Dia adalah kak Alvin, kakak kandungmu. Aku menyelamatkannya dan sepertinya liontinku terjatuh saat itu dan dia memungutnya" jelasnya.
Rasanya ingin meledak, aku ingin membom nuklir dunia ini. Ingin sekali menciptakan bom atom dan membuat kehidupan ini berakhir.
"Maksudmu kak Alvin dibully?"
"Iyaa, saat itu hujan begitu deras sehingga aku tidak bisa melihat wajah pelakunya, tapi aku mengenali kakakmu" jawabnya lagi percaya diri.
Emosiku membuatku tidak karuan, aku menumbuk meja yang terbuat dari kaca tebal di depan ku hingga pecah. Elena terkejut dengan diriku, ia langsung menangkapku agar tidak sampai berperilaku berlebihan lagi.
Kucoba untuk melepaskan diriku, aku ingin sekali melampiaskan ini. Beraninya dia membully kakak dari seorang Steven Lee hingga membunuhnya. Aku bersumpah demi diriku sendiri siapapun pelakunya dia harus mati di tanganku.
Luka tanganku tidak ada rasanya dibandingkan sakit hati dan jiwaku selama bertahun tahun. Elena memelukku dari belakang yang mulai tidak karuan, perutnya yang membuncit membuat kami cukup berjarak.
"Aku mohon Steven, kendalikan dirimu. Setidaknya demi anak kita"
Kata 'anak kita' tersebut mampu melelehkan hatiku yang membeku. Aku hampir lupa kami punya sebuah tanggung jawab yang harus dijaga sepenuh hati.
Kuhela nafas panjang nan berat, aku menghapus air mataku yang terlolos. Saat ini aku penuh dengan dendam, aku harus membalaskannya.
Wanita ini berdiri di depanku, tatapan senduhnya mampu mambuatku kalah selalu. Tapi tidak berarti bisa menghilangkan dendam di hatiku.
Ia meraih tanganku yang sudah bersimbah darah, "aku mohon sekali lagi kendalikan dirimu. Kita obati tanganmu"
Aku mengangguk dan mengikuti ajakannya, kami meninggalkan area bar pribadiku dan pergi ke ruang utama. Dia membuatku duduk di sofa dan mengobati lukaku.
"Besok kita jiarah?" tanyanya sambil fokus mengobatiku.
"Aku tidak ingin keluar rumah" jawabku sarkastik.
Elena memandangiku dan menggeleng, "aku mohon, aku ingin kau bisa merasa damai"
"Baiklah hanya karena kau yang meminta" jawabku.
Setelah memasang perban itu, ia mengecup perbannya dan mengelus tanganku. "Lihatlah daddymu sayang, dia arogan sekali kan? Padahal biasanya dia bisa bersikap dewasa dan tahu kapan harus bertindak" ia mengobrol dengan janinnya.
Hatiku menghangat melihat interaksi ini, kehangatan keluarga kecil yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Emosiku hilang seketika, aku ingin menghabiskan waktuku untuk mereka berdua.
"Kau jangan seperti daddymu ya sayang, kau harus jadi orang yang lembut dan rendah hati"
Tanganku yang tidak terluka mengelus perut buncitnya, "daddy minta maaf karena membuat kalian terkejut"
Aku mengecup perutnya, "daddy sangat menyayangimu" kataku lembut.
Elena terkekeh, aku bersyukur dan sangat berharap bahwa keluarga kecil kami akan terus bertahan dan dilimpahkan kebahagiaan. Tadinya amarah sempat menguasai tapi aku bisa berpikir jernih sekarang.
Ternyata jawaban selama ini sudah ada di sekitarku, setelah susah payah mencaritahu masa lalu namun nihil. Malah secercah harapan ada dari Elena, istriku. Dia menyimpan semua jawaban masa laluku yang rumit dan menyedihkan.
...Jadi ceritanya author udah mau ke inti masalah, should i make this story has ended by sad ending or happy ending?...
Ini visual Elena setelah hamil tujuh bulan, makin dewasa dan elegan aja ya bunddd
__ADS_1