
Steven -
Suara sorak-sorai penonton yang antusias akan atlet kebanggan mereka pecah. Semuanya berteriak memberikan dukungan untuk orang-orang yang akan beradu demi kebanggaan bangsa dan negara mereka.
Karina menahan tubuhku untuk masuk ke dalam stadion renang tempat kami berdiri. "Aku takut terlalu banyak orang yang melihat kita, aku tidak mau kau malu karena aku"
Aku merangkul kedua bahunya, "memangnya kenapa aku harus malu? Apa yang bisa membuatku malu tentangmu? Wanita ku cantik dan mempesona lalu aku harus malu karena apa?" jawabku dengan pertanyaan akan fakta.
Kami memasuki stadion yang penuh akan khalayak ramai. Benar saja mereka heboh akan kedatangan kami. Bahkan kamera perekam pertandingan ikut menyorot.
Kursi terdepan sudah tersedia untuk kami berdua. Sebenarnya ada tiga, aku yakin satu lagi disediakan Edward khusus untuk Selena. Namun adik kecilku itu memilih untuk tidak datang.
Saat duduk Karina terlihat sangat cemas, aku tahu dia masih belum terbiasa disorot di hadapan ribuan orang. Apalagi banyak yang mengatakan hal-hal yang akan menyakiti hatinya.
Aku melepaskan kaca mata hitam yang ia gunakan dan syal yang menutupi setengah wajahnya. "Untuk apa memiliki wajah secantik ini jika kau merasa malu, aku ingin seluruh dunia mengenal seberapa mengagumkan wanitaku"
Ia secara perlahan menampilkan wajahnya dengan ragu-ragu. Layar LED yang menampilakan sorotan kami berdua memamerkan seberapa indah bunga yang ada di sisiku.
'wahh daebakk neomu yeppeo
'Wanita itu sangat cantik'
'Mengagumkan sekali wajahnya'
'Mereka terlihat seperti visual tak nyata, bagaimana bisa keduanya begitu menawan'
'Aku iri dengan pasangan ini'
Dan masih banyak lagi ujaran-ujaran mereka yang terdengar riuh.
"Selamat datang tuan Steven Lee, apakah anda datang dengan pacarmu? Sangat cantik. Apakah kalian berdua datang untuk mendukung teman lamamu?" kata sang MC dari atas.
Kami pantas menerima segudang pujian, khususnya Karina. Aku memasang wajah bangga dan aura percaya diri pada semua orang. Dunia hanya menyukai sesuatu yang mereka anggap baik dan enak dipandang. Lalu bila Tuhan sudah memberi itu kenapa harus disembunyikan seakan malu akan diri sendiri?
Pertandingan di mulai, Karina mulai terbiasa dengan kondisi di sekitarnya. Ia menyaksikan orang yang tidak ia sadari adalah kakak kandungnya sendiri sedang berdiri melakukan peregangan di belakang garis start.
Gerak-geriknya seakan tidak nyaman, ia terlihat gelisah dan tak bisa fokus. Selena harusnya kau ada di sini, dimana kau?
Aku mencari-cari siapa tahu adik manisku itu ada disini. Dan akhirnya harapanku nyata, Selena berdiri di tempat para panitia.
"Edward jika kau tak menjadi juara pertama aku tidak akan merestuimu dengan adikku lihat saja nanti" aku ceplas-ceplos karena penuh semangat. Karina tertawa mendengar ceplosanku itu.
Selena memberikan senyuman dukungan pada Edward. Mungkin mereka sudah baikan, syukurlah jadi jalanku akan mulus membawa Karina ke atas pelaminan nanti.
Edward yang akhirnya menyadari keberadaan adikku di tempat panitia kelihatan lebih bersemangat, ia begitu senang dan tampak ambisius.
Dor...
Tembakan pistol pertanda dimulainya pertandingan final olimpiade renang se-Asia. Semuanya kelihatan bersemangat.
Edward berada di urutan ketiga dari lima orang atlet yang tersisa. Ayolah bro aku percaya kau akan menang.
Kelimanya sampai pada bagian berbalik, Edward berbalik dengan sigap. Ia mengejar keterlambatannya dari dua orang atlet terdepan. Bagaikan ikan lumba-lumba mereka berenang begitu cepat seakan air adalah rumah mereka.
Dan dugaanku benar, Karina bangkit berdiri dan berteriak kesenangan. Edward memenangkan babak final. Ia membawa bangga seluruh bangsa ini. Teriakan pecah bahkan telingaku rasanya ingin meledak.
__ADS_1
Pihak panitia dan pemerintah memberikan apresiasi pada tiga pemenang itu. Edward sangat senang memegang piala besar di tangannya. Ia mencium bendera kebanggaan kami.
Aku dan Karina menemui Edward untuk turut memberikan selamat atas kemenangannya. Namun Selena menghilang, apakah masalah mereka masih belum terselesaikan. Sejujurnya aku ingin membantu mereka bersatu tapi aku ingin adik kesayanganku itu bisa menyelesaikan permasalahan cintanya sendiri.
"Kami akan menunggumu di kafetaria" aku dan Karina meninggalkan area kolam setelah Edward mengangguk.
"Temanku itu hebatkan" pujiku di pada Karina.
Karina sangat senang wajahnya begitu berseri, "kak Edward sangat hebat, dia begitu mengagumkan"
Langkah kakiku berhenti, "Lalu aku bagaimana?" aku iri dengan pujian itu.
Karina berbalik, "Kau? hmmm...biasa saja" ia kabur setelah puas mengejekku. Aku mengikutinya hingga ke kafetaria, tidak perduli bagaimana orang-orang memperhatikan kami.
Karina berdiri di depan meja konsumen, dimana Selena sedang duduk menikmati secangkir americano.
"Selena kenapa disini? Kak Edward tadi mencarimu" kata Karina. Ia duduk di depan adikku.
Aku turut duduk di samping Karina, "Kenapa kau langsung pergi? Tadi katanya tidak mau datang tapi ternyata datang juga, dasar plin-plan" ejekku pada si manis ini.
Selena menaikan sisi bibirnya terhadapku. "Kakak mau makan atau minum apa? biar aku pesankan" adikku menawarkan.
"Aku mau tiramisu cake dan latte" jawabku santai mengatur dia.
"Aku tidak bertanya padamu, aku tanya pada kakak ipar bweekkkk" ia malah menjulurkan lidahnya.
"Ahahaha kalian berdua itu sangat lucu ya, aku jadi ingat kakakku. Hmm aku mau latte dan red velvet cake saja" Karina.
Selena bangkit dari tempatnya duduk, aku menatap Karina yang tertunduk. "Apa kau sebegitu menyukaiku? Kemarin cemburu berat, sekarang memesan yang sama denganku" usaha untuk menaikkan moodnya.
Karina memukul tanganku, "dasar narsis"
Dengan sebuah nampan berisi pesanan kami Selena datang. "Selamat menikmati" katanya.
"Kak besok aku akan kembali ke Amerika, aku harus mengurus banyak hal untuk kuliahku" ujar Selena.
Ku minum perlahan coffee latte pasananku, "tidak! tetaplah disini untuk beberapa hari lagi. Aku ingin membawa kalian ke sebuah tempat"
Adikku tidak terima, "tapi kak.." perkataan Selena terpotong saat Edward datang menghampiri. "Kak aku pergi duluan ya" Selena mengambil tasnya, ia ingin pergi namun Edward menahan.
"Kenapa kau pergi? Kita ngobrol sejenak" ia menarik Selena kembali duduk di tempatnya dan turut ikut bergabung dengan kami.
"Selamat kak Edward atas kemenanganmu, kau hebat" Karina memberikan dua jempolnya.
Edward ingin mengelus rambut Karina tapi aku segera menepis, "jangan pegang-pegang" kataku.
"Bagaimana jika kita merayakannya? Aku yang traktir" tawar Edward.
"waahhh ayo kak" jawab Karina excited.
Aku mengambil HP dari dalam saku celana, "Cas batalkan semua jadwalku" aku langsung menutup panggilan.
"Ada tempat yang perlu kita kunjungi setelah itu kita akan merayakannya" aku membawa mereka.
🔫🔫🔫
Sunyi dan sepi menggambarkan setiap bagian dari daerah asri yang dilalui oleh mobil Porsche 918 Spyder hitam dan diikuti Mercedez Benz AMC GT-S silver. Tempat yang hanya di kunjungi orang-orang sesekali.
Dengan satu tangan memegang setir mobil dan satu tangan lagi menggenggam tangan wanita yang begitu cantik dan memepesona. Ia tampak menyaksikan penampilan area pemakaman.
__ADS_1
"Kenapa kita kemari?" tanyanya.
Semakin aku mengeratkan genggaman tangan kami seakan tidak ingin ia meninggalkanku. "Untuk menemui ibu mertuaku" jawabku santai. Ia mengerutkan dahi akan samarnya perkataanku.
Kami berhenti tepat di sebuah jalan setapak menaiki bukit kecil. Ku buka pintu mobil tempat Karina duduk. Ia melihat-lihat pemandangan makam yang tersusun rapi.
Kakiku baru akan melangkah, aku memergoki sebuah mobil berhenti di jalan yang sama dengan mobil ku berhenti. Kalian bersemangat sekali ingin menggangguku, baiklah aku akan menggunakan kalian untuk keuntunganku.
Edward dan Selena keluar dari mobil yang sama, Mercedez Yang berhenti di belakang mobilku. "Kenapa kita kesini" tanya calon adik iparku.
"Untuk menemui seseorang yang paling kau rindukan dan meminta restu oleh calon ibu mertuaku" jawabku. Kami bersama-sama menaiki bukit tersebut. Aku memegang tangan Karina tidak ingin dia takut atau terpleset.
Kami berhenti di sebuah makam yang masih baru. "Ini adalah makan ibu kalian berdua, nyonya Bae" kataku.
Karina melotot bingung dan pastinya tak percaya. "Apa maksudmu kami berdua? Kak Edward"
"Elena" panggilku.
"Stev dari mana.." perkataanya terputus.
"Nona Elena Lim aku sudah menepati janjiku padamu, Edward adalah pria yang selama ini kau cari. Dia Briant Lim anak sulung Tuan Lim dan nyonya Bae" jelasku.
Karina dan Edward saling menatap satu sama lain. Berduanya saling meneteskan air mata, "Kak Briant itu memang kau?"
"Ini aku Briant, adikku Elena" jawab Edward.
Karina langsung jatuh ke pelukan sang kakak, keduanya berpelukan dan menangis. Mereka memuaskan kerinduan mereka selama belasan tahun telah terpisah.
Aku dan Selena menyaksikan secara haru kedua saudara kandung itu. Aku merangkul adikku, satu-satunya keluargaku yang tersisa.
Dua orang kakak beradik berpelukan tepat di hadapan ibu mereka. Karina melepaskan pelukannya, ia menyentuh batu nisan ibu kandungnya, "mama aku merindukanmu" ujar Karina.
Edward menggenggam tanah kubur ibunya, mereka menangis di hadapan ibu yang mereka rindukan selama ini. Keduanya melepaskan kerinduan masing-masing.
Masing-masing dari aku dan adikku menguatkan adik kakak itu. Selena menangis tak karuan, ia begitu mendambakan pertemuan dengan nyonya Bae.
"Maafkan aku ma karena selama ini membencimu dan Elena, maafkan aku bertumbuh menjadi anak yang membenci keluarganya sendiri" kata Edward dengan tangisnya.
"Mama apakah kau bahagia di sana? Maafkan aku karena tidak pernah datang menemuimu" kata Karina pula.
Ku peluk Karina dalam hangat, di dalam dekapanku ia menangis. "Mama pasti sudah tenang disana, dia pasti bahagia melihat kedua anaknya datang menemui dia disini" kataku untuk menenangkan.
"Ma hari ini aku memenangkan pertandingan besar, apakah mama melihatnya dari sana?" Edward memuaskan kerinduannya. Selena memeluk Edward dari sisi pria itu, ia mengelus punggung pria idamannya itu.
Aku membiarkan mereka puas bertemu dan saling melepas rindu, keduanya berhak bahagia. Aku tidak boleh mengganggu momen kebersamaan ini.
Mereka bertiga aku tinggalkan di makam itu, aku pergi ke tempat yang sedikit jauh. Ku buka sebungkus rokok dari saku ku, aku menghisap batang rokok yang sudah aku bakar ujungnya. Asap rokok yang aku hembuskan langsung menghilang terbawa angin.
Sebuah tangan putih dan mungil tiba-tiba datang dan menarik rokok itu. Ia membuangnya ke tanah lalu meninjak dengan sepatu boot heals hitam sampai padam.
"Tidak sopan merokok di tempat seperti ini kak" kata Selena.
"Kau merindukan kak Alvin kan?" tanyanya pula.
Aku memandangi area pemakaman hijau dan rindang. Pemakaman dari keluarga-keluarga mapan yang berstatus tinggi.
Selena langsung memelukku, "Kak Alvin pasti sama dengan mamanya Edward, mereka pasti sudah tenang disana"
Tidak ada jawaban yang ingin aku katakan, perasaanku tidak boleh mengganggu momen keluarga ini.
__ADS_1
"Terima kasih kak karena sudah mengembalikan kebahagiaan Edward" Selena.