
Karina -
Lemari rias besar dan cantik memantulkan sebuah bayangan paras seorang gadis nan cantik dan berseri. Bayangan yang tak berbeda dengan objek yang dipantulkan.
Dengan lembut brush halus menyapu pipinya, sedikit merona namun tetap terlihat natural di wajah indahnya. Brush yang semula ia sapukan diwajah ia letakkan kembali ke tempat semula.
Gadis itu berdiri dari kursi rias lalu berputar-putar kecil di hadapan sang cermin, memastikan penampilannya yang tak kalah indah.
Segalanya sudah cukup bagiku, tidak perlu terlalu tebal dan berlebihan cukup hanya dengan mengoleskan tipis cushion, blush on berwarna peach sedikit, dan diakhiri dengan lipstick berwarna orange peach.
Aku meninggalkan ruangan kamar tidurku, menuruni anak tangga menuju ruang utama. Sosok pria tampan berkarisma dengan pakaian yang berbeda dengan biasanya.
Steven yang biasanya terlihat formal dengan jas dan dasi, hari ini terlihat santai dengan jacket jeans hitam dengan dalaman sweater violet.
Kaki jenjangku hendak menginjakkan lantai marbel ruang utama, ia menawarkan tangannya untuk aku gandeng. Aku tersenyum dengan cara manis pria ini yang hendak membawaku ke sebuah tempat yang sejak tadi ia rahasiakan.
Kami berjalan menuju pintu utama bergandengan seperti pasangan kekasih yang hendak pergi berkencan.
"Stevennnn...." tiba-tiba terdengar seorang wanita berteriak dari luar memanggil pria yang aku gandeng.
Selang beberapa detik dari teriakan tersebut sosok seorang gadis masuk dari pintu utama. Gadis tersebut berlari dengan wajah berseri-seri.
Melihat sosok yang datang, Steven melepaskan tanganku begitu saja. Ia berjalan santai menghampiri gadis itu sedangkan aku dibiarkannya begitu saja.
Gadis cantik yang sepertinya usianya tidak jauh beda dariku, beraura manis dengan senyuman imut diwajahnya berlari memeluk Steven dan dibalas oleh Steven.
Mereka berpelukan tepat dihadapan ku, terlihat keduanya nyaman dan bahagia. Steven mengelus rambut gadis itu dan tersenyum senang.
"Kenapa kau tidak mengabariku jika datang hari ini, aku kan bisa menjemputmu?" tanya Steven mencubit kedua pipi gadis itu.
"Kan sudah aku bilang aku merindukanmu pria dingin yang angkuh, makanya aku mau buat surprise hehehe" ia menjawab dengan manis.
Seketika hatiku sangat remuk, perasaanku dihancurkan begitu saja.
Gadis tersebut memeluk Steven dan menengadah ke atas, "aku sangat merindukanmu" ujarnya lagi.
"Aku juga sangat merindukanmu Selena yang manis" jawab Steven. Sontak rasanya aku ingin menjerit sekuat tenaga melihat mereka bermesraan dihadapanku.
Hatiku begitu hancur melihat kenyataan tersebut, dipatahkan dengan kepercayaan yang selama ini mulai aku tanam untuknya. Aku meninggalkan mereka berdua, berlari ke kamar ku. Bahkan Steven tidak menghiraukan dan mengatakan sesuatu.
Aku mengunci pintu kamar rapat-rapat, bersandar di pintu besar tersebut. Air mata yang selama ini tidak pernah menetes olehnya akhirnya menetes membasahi pipiku.
Seluruh kepercayaanku sepertinya sirna, seluruh janji dan perkatan seperti permainan untuk pria brengsek itu. Ia sendiri yang memintaku menyukainya dan berjanji akan menunggu, namun ternyata sejak awal sudah ada wanita lain disisinya. Lalu untuk apa iya mengatakan akan menikah dengan ku? Demi anak ini? Demi tubuhku?
__ADS_1
Tanpa penjelasan, tanpa menghiraukan dia mengacuhkan aku. Dadaku sangat sesak, hatiku begitu sakit, harusnya dari awal aku tetap pada pendirianku untuk membencinya. Harusnya sejak awal aku tidak percaya, tidak menyetujui keinginnya.
Sudah jelas, segalanya hanya demi kepuasan pribadinya. Aku membencinya, sangat-sangat membenci. Namun aku lebih membenci diriku yang terlalu naif.
Tokkk..tokkk..tokkk.
"Karina kau di dalam? Karina?" Steven mengetuk pintu mencari keberadaanku yang tiba-tiba pergi.
Aku tidak menjawab sama sekali, mencoba diam agar ia tidak menyadari keberadaanku.
"Sepertinya tidak ada di dalam, dimana dia?" tanya Steven dari luar.
"Mungkin dia di luar" jawab gadis tadi.
Suara mereka tidak lagi terdengar, aku kembali menangis. Terduduk di lantai, betapa hancur hatiku. Dia bahkan tak berusaha menemukanku, ia membawa wanita lain ke hadapanku.
Aku menunduk, memeluk kedua kakiku menangis sendirian dalam pelukanku sendiri. Membiarkan perih tersampaikan agar tersisa luka saja.
Waktu berlalu begitu cepat, senja telah tiba dan aku masih menangis sendirian. Satu hari ini aku hanya makan saat sarapan karena enggan keluar. Tubuhku sangat lemas dan kedua mataku sayu dan mulai membengkak.
Ku pandangi ranjang besar di tengah-tengah kamar, ranjang yang selama ini sering menjadi tempatnya tidur. Tempat ia sering memelukku hangat.
"Bi apakah bibi melihat Karina?" Steven bertanya di luar.
"Tadi naik ke atas tuan, mungkin tertidur di kamarnya" jawab bibi Kim.
Sepertinya keberadaanku sudah tak berarti lagi di rumah ini. Tenagaku sudah terkuras habis menangis sejak pagi, namun aku berusaha berjalan ke arah balkon kamar. Mengintip melihat apakah mereka sudah pergi.
Aku mengambil HP mencari nomor seseorang yang bisa membantu. Eonni Elsa, namun ia tidak menjawab panggilanku.
Kak Lucas. Aku menekan panggilan, dan "halo Karina" jawab Kak Lucas.
Lalu aku terfikir bila aku meminta bantuan kak Lucas, maka ia akan melaporkanku kepada Steven. Tidak! Aku akan mencari jalan lain saja!
Aku langsung menutup panggilan tanpa mengatakan apapun. Di HP iOs ku ini hanya tersimpan nomor Steven, kak Lucas, eonni Elsa, nomor rumah, nomor kantor Steven, dan kak Edward.
Pilihan terakhir yang aku punya hanya kak Edward. Aku langsung menekan nomornya, namun ia tidak menjawab panggilan ku.
Tidak ada jalan untuk keluar dari rumah ini. Bagaimana aku bisa melewati para penjaga tanpa bantuan seseorang, aku tak mampu lagi seperti ini. Berat bagiku tinggal di rumah ini bersama pria yang memiliki wanita lain, sebagai simpanannya.
Drtttt....
Melihat kak Edward menghubungi ku balik, aku langsung mengangkat.
"Halo kak, tolong aku" kataku tanpa mendengarnya duluan.
"Ada apa Karina? Apa yang terjadi?" tanya kak Edward terdengar khawatir.
__ADS_1
Ku coba untuk tenang dan tidak menangis agar keadaan tidak terlalu tegang, "datanglah ke sini kak, aku mohon. Aku ingin pergi dari sini ku mohon" pintaku dengan tangisan tertahan.
"Baiklah baiklah aku segera kesana, tunggu sebentar ya" ujar kak Edward. Aku mengakhiri panggilan, menyeka air mata yang terjatuh di pipi.
Ku buka perlahan pintu kamar, jam segini para pelayan sedang sangat sibuk di dapur. Aku berusaha pergi diam-diam agar tidak ada yang sadar.
Namun langkahku akhirnya dihentikan oleh para penjaga yang menanyakan tujuanku. "Aku ingin keluar menemui Steven dan wanita itu, mereka sudah menungguku" ujarku berbohong.
"Baik nona akan kami antar" kata salah satu penjaga.
Saat seperti ini aku harus tenang tidak boleh gelisah apalagi tergesah, "tidak perlu Steven sudah menyuruh seseorang menjemputku" aku berbohong lagi.
Mobil sport berwarna merah berhenti di depan pintu utama. Pria manis bertubuh tegap keluar dari pintu mobil tampan itu.
Ia berlari menghampiri ku, "Karina app..." perkataannya terhenti.
"Ayo kak" ujarku menarik tangannya dan masuk ke mobil tampan itu.
Dia melihatku secara intens, "ada apa Karina? Kenapa wajahmu berantakan, matamu juga membengkak" ia melihat ku dengan tatapan khawatir.
"Bawa aku pergi sekarang kak, aku akan ceritakan nanti. Sebelum mereka sadar, aku mohon" pinta ku lagi karena melihat salah satu penjaga itu sedang berbicara di telpon.
Kak Edward langsung membawaku pergi dari rumah besar nan megah milih Steven. Aku menyandarkan kepala ku ke jendela pintu mobil sport tampan tersebut.
Pikiranku kosong, air mataku terus menetes. Aku sudah keluar dari rumah itu tapi perasaanku tetap tidak tenang. Kak Edward menambah kecepatan, aku tidak perduli namun saat ini aku hanya ingin melarikan diri dari segala hal.
Hanya memakan waktu singkat, kami berhenti di area parkiran. Pria yang seumuran dengan Steven tersebut membawaku ke apartemennya.
"Ini sudah gelap, tidak baik aku meninggalkan mu sendirian dengan kondisi seperti ini. Jadi aku membawamu ke apartemenku. Ada kamar kosong disana, kau bisa memakainya" jelasnya.
Kami memasuki gedung besar apartemen itu, ia membawaku masuk ke dalam. "Sini duduklah, aku akan mengambilkan air untuk mu" katanya lalu pergi.
Visula Selena Lee
Hola my dear readers 💚💚
wihh balik lagi nih dengan author
Terima kasih dong buat yang udah mampir dan yang udah setia dengan novel ini 🤗
Mohon maaf ya jika ada kesalahan, author juga masih belajar menulis novel
Oh iya jangan lupa like dan komen, gratis kok
Bye bye yeorobun 💚💚
__ADS_1