
Karina -
Helaian rambut hitam sebahu tertata rapi tanpa tambahan bahan kimia ataupun alat penata apapun. Memandangi bayangan penampilan diri sendiri yang terpantul jelas.
Dua mata dengan kelopak ganda, wajah dengan lapisan tipis cushion dan dengan pewarna bibir pink tersapu tipis membuat pahatan wajah cantik natural.
Namun bagaimanapun aku menata segalanya itu tidak mampu menutupi rasa sedih di wajahku. Bahkan siapapun tahu wajah murung ini tanpa harus berfikir lama.
"Karina apakah kau sudah siap?" kak Edward berteriak di luar kamar.
Akupun menjawab, "iya kak aku sudah siap" jawabku juga.
Ini adalah hari kedua aku tinggal di apartemen ini. Sejujurnya aku ingin pergi sejak semalam, namun pria yang sudah berperilaku seperti kakak ku ini melarang aku pergi.
Ia membiarkanku tetap di rumahnya tanpa bayaran apapun, memberi makan dan pakaian. Walaupun ia sudah baik, namun aku juga punya kesadaran diri. Sudah seharusnya aku membantu dia setidaknya dengan mengerjakan pekerjaan rumah sebagai balasan perlakuan yang aku terima.
Hari ini adalah semifinal pertandingan renang seasia yang diikuti oleh atlet-atlet terbaik di Asia. Kak Edward sudah mempersiapkan diri untuk ini selama beberapa bulan lebih.
Kak Edward mengajakku untuk menonton pertandingan daripada hanya diam di rumah tanpa melakukan apapun. Sejujurnya aku juga jenuh jadi aku menerima tawaran tersebut.
Di antara banyak penonton yang duduk rapi di kursi masing-masing, aku menjadi salah satu supporter bagi kak Edweard yang mewakili negara kami.
Sorak-sorai penonton memenuhi stadion renang, semua yang hadir saling menyemangati perwakilan negara mereka. Tersisa 5 negara yang bertahan dan salah satunya adalah Korea Selatan.
Dari kejauhan kelihatan kak Edward sedang nempersiapkan diri dan melakukan peregangan. Ia memandang ke arah ku dan tersenyum. Aku membalas dengan senyuman juga, akan tetapi para penonton yang ada di sekitarku tidak sadar pada siapa senyuman itu diberikan.
Entah Tuhan itu memang ada atau tidak, namun dalam hati aku tetap berdoa agar kak Edward bisa lolos ke tahap final dan membanggakan bangsa ini. Aku melipat kedua tangan dan berharap terus, semoga perjuangannya tidak berakhir percuma.
"Permisi, bolehkah kita bertukar tempat duduk?" suara seorang pria tiba-tiba mengubah fokus pikiranku. Suara yang aku kenal dan sudah dua hari tidak aku dengar.
Orang yang aku fikir tidak akan hadir kembali setelah sikap kasarku malam itu ternyata kembali hadir. Aku memandang pada pria yang berdiri menatapku.
"Bukankah itu Steven Lee?"
"Hei itukan direktur utama Lee's Group"
"Sedang apa tuan Lee ada disini? Siapa wanita itu?"
"Steven Lee, wah tampan sekali dia"
"Siapa wanita itu?"
"Sepertinya itu wanita barunya"
"Wanita itu juga cantik"
"Mereka pacaran? Mereka tampan dan cantik, mereka cocok"
__ADS_1
"Tuan Lee lebih tampan, mereka tidak cocok bersama"
"Apakah itu kekasih barunya"
Begitulah terdengar ditelingaku omongan-omongan supporter yang mulai membicarakan kami dan bahkan memotret.
Untuk apa pria ini datang kembali. Apakah dia masih belum cukup aku kasari? Dimana wanita itu? Dasar pria brengsek. Aku merutuki dia didalam hatiku.
Omongan-omongan yang membuat panas telingaku juga membuatku merasa cemas dan takut. Steven malah duduk tepat di sampingku. Mereka semakin heboh dan aku sangat cemas mendapati flash kamera dan suara potretan.
Bahkan hampir seisi stadion menjadi fokus pada kami berdua. Aku menunduk cemas, menutup wajahku dengan syal serta mengenggam erat bagian long coat yang aku kenakan.
Steven menyadari rasa cemas yang aku rasakan, ia menggenggam salah satu tanganku. "Maafkan aku" ujarnya.
Aku tidak memberi tanggapan, rasa cemasku sedikit terobati dengan dia yang menggenggam erat tanganku. Namun rasa sakit hatiku tidak akan bisa ia obati hanya dengan kata maaf.
Suara teriakan kemenangan membludak di stadion, pertandingan dimenangkan oleh lima negara yang akan masuk ke tahap final besok dan salah satunya Korea Selatan yang dipimpin oleh Thailand.
Rasanya sangat senang ternyata doaku kali ini dijawab, akan tetapi aku tetap tidak berani mengangkat kepalaku.
Tanganku yang menggengam erat long coat dan ia melepaskan itu lalu menyatukan jari-jemari kami. Tangannya besar dibandingkan tanganku yang terlihat sangat kecil serta sangat hangat.
Semua orang sudah mulai berhamburan di stadion, mereka yang kalah kembali ke negaranya dan yang menang sedang asik merayakan keberhasilan masuk tahap final besok.
Aku melepaskan tangan kami karena acara telah berakhir.
"Aku bisa jelaskan segalanya, tolong dengarkan aku kali kali ini saja Karina. Ini semua salah paham" Steven mendekatkan wajahnya ke wajahku yang masih menunduk.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan" jawabku hendak pergi namun ia menahanku paksa. Aku berusaha melepaskan namun ia tak memberi kesempatan.
Steven menutup mata sekejap dan berusaha tanpa emosi "Ini semua salah paham, aku hanya ingin menjelaskan". Namun kak Edward malah akan membawaku pergi. Dia masih basah-basahan, hanya mengenakan celana renang dan handuk di lehernya.
"Biar aku yang jelaskan semua kesalahpahan yang terjadi" seseorang datang entah dari mana. Namun mendengar itu kak Edward menghentikan langkah serta terdiam.
Aku memutar pandangan melihat suara wanita itu berasal. Dan aku rasanya ingin meledak saat melihat wanita itu adalah Selena.
"Kak Edward" panggil Selena pada pria yang enggan berbalik.
Selena berjalan ke hadapan kami, ia menatap pria yang ingin membawaku. Mereka saling bertatapan untuk waktu yang lama. "Biar aku bicara sebentar dengan eonni Karina" katanya.
Kali ini aku akan mendengar penjelasannya. Setelah itu aku pasti akan meninggalkan kota ini sejauh mungkin.
"Baiklah" ujarku lalu kami pergi meninggalakan kedua pria itu di antara kursi penonton. Steven meletakkan kedua tangannya di pinggang, melihat keprrgian kami. Sedangkan pria dengan dada bidang dan perut sixpack itu melihat Selena terus.
Wanita, tidak, lebih tepatnya gadis bernama Selena dan aku berdiri memandangi pemandangan jalanan kota yang sedang bersalju dari dinding kaca.
Selena memberikan secangkir coklat hangat, "Sebelumnya aku minta maaf kak Karina karena sudah membuat mu sakit hati karena kesalahpahaman ini. Perkenalkan, aku Selene Lee, adik tiri kak Steven."
Mendengar perkenalan tersebut, aku hampir menyemprotkan coklat yang ada di mulut. Jika Selena adik Steven, artinya aku salah paham besar disini.
- Steven -
__ADS_1
Sejak kedatanganku ke stadion ini, aku memergoki seorang pria yang mengikutiku. Pria yang sama yang aku lihat ketika berjalan di kota dengan Karina. Sepertinya ia mengikuti kami sampai hari ini.
Bahkan hari ini ia mengambil foto ku dengan Karina secara diam-diam. Biarlah, aku akan mengurusnya nanti.
Aku memegang erat sebuah amplop coklat tipis, yang sudah lama ingin berikan pada Karina. Ku pandangi amplop itu, berfikir apakah ini saat yang tepat atau tidak.
Kami berdua tidak mengatakan apapun, ia pun pergi ke ruang ganti. Sebaiknya aku mengatakan kebenarannya langsung pada calon kakak iparku.
Di kursi tunggu ruang ganti aku duduk menunggu teman lamaku yang sekarang sudah menjadi atlet sukses. Akhirnya yang ditunggupun keluar.
"Sedang apa kau disini?" tanyanya saat melihatku.
Aku mengambil bungkus rokok dari dalam saku, rokok menthol yang selalu tersedia di saku. Ujung batang rokok tersebut kubakar lalu menghisapnya dan merasakan sedikit ketenangan. "Ada yang perlu aku bicarakan" ujarku sambil menghembuskan asap rokok.
Ia merapikan rambutnya yang masih basah, "tidak ada yang ingin aku bicarakan denganmu" balasnya kasar.
Kembali ku hisap batang rokok tersebut, "dulu kau pernah mengatakan kau sangat merindukan papa, mama dan adikmu kan? Kau ingin bertemu mereka dan ingin tahu alasan mengapa mereka membuangmu?" kataku untuk memulai pembicaraan yang menarik.
Edward mengernyitkan dahi, "memangnya apa hubungannya denganmu?" tanyanya balik.
"Tentu saja ini ada hubungannya denganku" jawabku santai lalu menggeser posisi dudukku untu berbagi tempat.
"Siapa kau? kau tidak ada hubungannya denganku. Dan lagi pula aku sangat membenci mereka, aku tidak mau tahu lagi tentang keluarga menyedihkan itu" Edward membuka loker lalu mengeluarkan barang-barangnya.
Ku pandangi batang rokok yang ada di kedua jariku, "ternyata kakak dan adik sama saja, mudah menyimpulkan tanpa mencari tahu terlebih dahulu. Orang yang kau benci namun kau cari-cari selama ini sebenarnya ada di dekatmu" kataku.
Mendengar hal menarik ini, ia akhirnya menanggapi aku. "Siapa?" tanyanya lagi.
Aku tertawa lalu menghembuskan asap rokok kembali, "aku tidak menyangka kita akan menjadi saudara ipar".
"Tunggu, maksudmu Karina adalah Elena adikku" tanyanya tak percaya.
Aku melempar amplop coklat tersebut padanya, "bacalah".
Edward segera membuka isi amplop dan membaca file di dalam. Ia terkejut melihat hasilnya. "Tapi bagaimana bisa?" tanyanya.
Puntung rokok ditangan kubuang ke lantai lalu kuinjak, "berterima kasihlah denganku dan Lucas. hmmm oh iya, jangan membenci Karina. Tidak..tidak..maksudku Elena. Dunianya lebih gelap daripada yang kau rasakan" kataku.
Pria yang awalnya tak percaya kemudian duduk di sampingku, "Karina adikku? Kau tidak tahu bagaimana hidupku, jadi jangan terlalu banyak bicara" ia masih belum percaya.
Ia masih saja belum percaya, jadi aku menceritakan segalanya agar ia tahu siapa sebenarnya yang paling menderita.
Hola my dear readers 💚💚
Wihh balik lagi nih dengan author
Makasih loh ya udah tetep setia dengan cerita ini
Mohon maaf ya jika ada kesalahan author pada kalian 🙏
__ADS_1
Semoga kalian suka ya dengan novel ini xixixi
Jangan lupa like, komen kalo bisa vote juga wkwk gratis kok 💚💚