
Elena -
Perlahan tangan kekarnya menuntunku duduk di depan meja sang dokter. Lalu mengelus perut dimana sang pangeran kecil bertumbuh kembang sebelum lahir ke bumi.
"Nyonya dan bayinya baik-baik saja. Si buah hati tumbuh dengan baik dan sehat. Rasa sakit itu karena nyonya sangat terkejut sehingga bayinya tertekan. Tidak perlu khawatir tuan dan nyonya Lee, semuanya baik-baik saja"
Kami saling memandang satu sama lain dan tersenyum lega. Diambilnya tanganku lalu menautkan jari-jariku di sela jari-jarinya yang besar.
"Syukurlah kalau begitu"
Ibu dokter melihat ke layar monitornya, "ini sudah memasuki bulan ke-9 artinya nyonya akan segera melahirkan. Diagnosa saya, persalinan akan terjadi dua minggu ke depan"
Mendengar ucapan sang dokter, aku sangat bahagia tapi juga takut. Dari yang ku tahu, melahirkan sama saja dengan perjuangan hidup dan mati.
Steven mengeratkan genggamannnya seolah tahu kekhawatiranku, "saya mohon bantuannya, dok"
"Tentu saja tuan Lee, saya akan lakukan yang terbaik"
Setelah pemeriksaan selesai, dengan bergandengan kami keluar dari ruangan sang dokter.
"Maafkan aku, sayang" ujarnya.
Tanpa melepaskan tautan tangan kami, aku semakin mendekatkan diri menggandengnya.
"Tidak apa-apa suamiku sayang. Aku tahu kau punya alasan"
Steven menghentikan langkah kakinya, ia menarikku dan memelukku. "Terima kasih selalu memahamiku, aku janji akan memberitahu semuanya nanti"
Aku mengangguk di bahunya, "aku akan selalu menunggunya"
Drrttt....
Suara ringtone HP miliknya menghancurkan momen kami. Steven melepaskan pelukannya lalu merogoh saku celana.
"Elena, aku ada panggilan penting. Bisakah kau menungguku di lobby?"
"Baiklah Stev, aku tunggu disana ya"
Tangannya mengelus pucuk kepalaku kemudian pergi menerima panggilan itu. Aku pergi ke lobby sesuai perintahnya.
Langkahku terhenti di depan pintu ruangan yang aku tidak tahu apa. Pintu itu tidak tertutup rapat, ada cela yang memampukanku untuk mengintip.
"Papa jangan paksa aku terus, dia sahabat aku. Dia teman masa muda Leo sampai sekarang. Bukankah sudah cukup tragedi itu? Aku merasa buruk pada Steven, pa"
Steven?
"Pa, saham dia di rumah sakit kita hanya 20%, tetap saja rumah sakit ini milik kita. Dia tidak seperti papa, Steven tidak akan merebut rumah sakit ini. Pa, aku berdosa padanya. Karena papa, aku harus membunuh pa. Apakah papa tidak merasa bersalah sudah membuat anakmu sendiri menjadi pembunuh? Alvin sahabat aku dan karena papa aku harus berbuat dosa, pa aku pembunuh aku menyesal menuruti perintah papa. Aku menyesali semuanya. Jabatan dokter atau rumah sakit ini semuanya kotor, semuanya kesalahan!"
Tubuhku mematung.
__ADS_1
Prakkk...
Pintu terbuka lebar. Seorang pria muncul dengan memegangi HP dan gagang pintu di tangan lainnya. Kami sama-sama terdiam memandangi satu sama lain.
Aku tidak menyangka sama sekali. Leo adalah sahabat lama Steven dan kak Alvin, tapi apa yang baru saja kudengar ini?
"Elena Lee?"
"Leo!"
Kakiku melangkah mundur dengan kepala menggeleng. Kenyataan itu benar-benar membuatku terkejut. Benar-benar seperti mengikat leherku kuat, mencekikku dan juga Steven.
"Elena, kau mendengar semuanya?" tanyanya takut.
"Dasar pengkhianat! Brengsek kau Leo. **** you, bastard"
Aku langsung berjalan cepat meninggalkan dia. Mataku memanas mendengar kalimat yang tidak sengaja terdengar olehku. Kenyataan ini, semuanya sangat-sangat menyakitkan.
Mengapa semua hal selalu menyitkan? Kenapa semua hal selalu ingin melihat Steven menderita lagi dan lagi?
"Elena tunggu, dengarkan aku dulu"
Leo berhasil mengejarku sebelum sampai di ujung koridor. Kutatap pria brengsek itu dengan penuh kebencian. Kucoba untuk menahan amarahku, dokter sudah melarangku untuk mengontrol emosi berlebih.
"Sudahlah Leo, penjelasan apa lagi yang akan kau berikan? Bukankah semakin kau menjelaskan semakin jelas pula kau ingin menghindari kesalahanmu dan semakin jelas pula semuanya memang benar? Tidak perlu berdalih ini dan itu, aku dengar semuanya. Ternyata di sekitar kami, banyak sekali orang-orang munafik, parasit tidak tahu malu. Matilah kau Leo, masuklah ke neraka! Jika Steven tahu, kuyakin dia akan sangat kecewa dan arghhh sudahlah"
"Kecewa kenapa?"
Baik Leo maupun aku sama-sama terkejut atas pertanyaan dari Steven yang tiba-tiba saja datang. Dia mengangkat alisnya meminta penjelasan.
Aku memutar bola mata malas dan menghela nafas lelah. Tidak tahu harus bersikap bagaimana. Satu kata saja dari mulutku mampu menciptakan perang dingin dan pertumpahan darah saat ini juga.
- Steven -
"Semua sudah dalam posisi masing-masing, bos"
"Lakukan seperti yang aku perintahkan" ujar Lucas.
"Baik bos"
Aku meregangkan otot leher dan merilekskan punggung di kursi kemudi mobil Ferarri F8. Lucas menjadi pimpinan dan aku memantau bersama tuan Kim dari dalam mobilku.
Sesuai janjiku kami akan menyerang Fantasia. Walaupun sebenarnya sudah beberapa hari aku menunda karena banyak pikiran, emosi tidak stabil, dan beberapa acara.
"Serang!" perintah Lucas yang terdengar olehku dari earphone.
Dalam beberapa detik kemudian puluhan pria berseragam hitam khas pasukan khusus mulai keluar dari persembunyian.
Mereka mengendap-endap masuk ke dalam dan diikuti Lucas dari belakang.
Di dalam sana mereka mulai menyergap para peneliti yang bekerja di seisi gedung. Suara-suara teriakan untuk tetap diam tanpa ada perlawanan terdengar oleh kami.
Kedua pasang mata kami memperhatikan pergerakan mereka melalui rekaman pasukan khusus. Jelas sekali suasana sangat kacau.
__ADS_1
Gedung berlantai dua itu bersih ditelusuri oleh para pasukan khususku. Perlawanan tetap ada tapi mudah untuk ditakhlukkan. Mereka sudah terlatih. Tidak ada korban jiwa hanya beberapa peneliti dan staff keamanan mereka pingsan akibat terlalu banyak melawan.
"We got it" ujar Lucas setelah berhasil menemukan ruangan tempat mereka menyimpan bayi-bayi yang sudah ditabungkan pada lantai dua.
"We gotta go" ajakku.
Kami berdua segera memasuki gedung Fantasia. Naik ke lantai dua dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Tuan Kim sampai menganga melihat semua tabung tabung berisi bayi yang sudah difermentasi.
"Kami sudah mengamankan semua peneliti dan staff" lapor Lucas sekaligus melepaskan topi anti pelurunya.
Dosaku memang tidak terhitung banyaknya. Membunuh? Menyabotase? Penyeludupan? Rekayasa? Bisnis gelap? Pabrik senjata ilegal? Semua kulakukan.
Tapi kenapa melihat semua bayi-bayi itu batinku menjadi sesak? Seolah aku bukan penjahat? I'm a criminal but why.......?
"Terima kasih Steven Lee, berkat kau misi ini berhasil" ujar tuan Kim senang menepuk bahuku beberapa kali.
Wait, there is something wrong!
"Cas, ada yang tidak beres" kupandangi dia resah.
Lucas mengerutkan dahinya, "why?"
Kuletakkan kedua tanganku memegangi pinggang, menggigit bibir bawahku. "Tidak mungkin semudah ini"
"Apa maksudmu Steven? Bukankah kita sudah berhasil?" tanya tuan Kim kehilangan kegembiraannya.
Aku mengelus-elus leher belakangku sendiri. Perasaanku sangat buruk tentang ini, curiga ini semua sudah direncanakan.
"Ada pengkhianat dia antara kita" ujarku simpel.
Keduanya tersentak kaget kala mendengar penuturanku yang sangat jelas. Sang ketua BIN yang seusia denganku ini memegangi kedua bahuku.
"Jelaskan Stev, apa maksudmu? Pengkhianat? Bagaimana mungkin?"
"Benar, misi ini tidak mungkin semudah ini. Sepertinya mereka tahu tentang penyergapan kita dan memanipulasinya" lanjut Lucas setuju.
Tuan Kim terdiam, dia benar-benar syok sekaligus marah. Kuhela nafas lelah, mengerucutkan bibir seraya memikirkan solusinya.
"Ini adalah tindak kejahatan berat, bahkan BIN saja kewalahan untuk menyelesaikannya. Apa kau pikir wajar bila kita berhasil dengan semudah ini?"
"Sepertinya mereka tahu tentang ini, dan mempersiapkan segalanya. Mereka tidak mungkin sebodoh itu untuk melakukan kejahatan besar begini di tempat yang bisa terungkap kapan saja" jelas Lucas paham maksudku.
Tuan Kim terdiam mencerna semuanya. Hadeuuhhh si bodoh ini, percuma saja dia mantan tentara bayaran, hal seperti ini saja sulit dipahami. Terlalu lama bekerja di kantor menumpulkan instingnya.
"Jadi tuan ketua BIN yang bodoh, pada file rahasia di chip waktu itu, tertera jelas tuan Han adalah pemilik Fantasia. Aku percayakan investigasi padamu. Introgasi mendalam tuan Han, seluruh peneliti dan staff. Cari tahu semua hal, pekerjaan, keluarga, properti, suami atau kekasih, bahkan apa saja yang mereka lakukan dua menit yang lalu. Jelas sekali tuan Han tidak bekerja sendiri, dia tidak akan bisa melakukan ini sendirian. Aku yakin bos Fantasia yang sebenarnya bukan dia, kau mengerti bodoh?"
Dia mengangguk persis seperti orang bodoh. Kutepuk bahunya sebanyak tiga kali. Dan Lucas melakukan hal yang sama pula.
"Oh ya, aku ucapkan karena kau akan mendapat nama besar karena berhasil menangkap mereka. Tapi aku sarankan lakukan investigasi lebih menyeluruh karena firasatku mengatakan bos Fantasia yang sebenarnya bukan tuan Han. Dan aku merasa akan ada hal yang jauh lebih besar dari sebelumnya, dan jika itu terjadi maka masyarakat akan kehilangan kepercayaannya pada pemerintah apalagi BIN. Aku takut masih ada kejahatan lebih besar lain yang tersembunyi" lalu berlalu pergi.
"Jika menemukannya, kabari kami. Bye honey" salam perpisahan manis dari seorang Lucas Park.
__ADS_1
Jangan lupa like and comment ☺🙆💙