
Elena -
Sosok pria gagah yang seharian melakukan banyak hal demi bisa memberikan kehidupan yang layak bagi keluarganya telah menampakkan sosoknya.
Ia tampak sangat letih seharian bekerja. Aku menghampiri Steven yang baru saja kembali dari kantor dengan segudang penat di tubuh dan pikirannya.
"Kau sudah pulang?"
Namun Steven malah mengabaikanku. Pandangannya seperti kosong dan tak berdaya.
Aku mengejarnya yang sudah berjalan mendekati tangga. "Steven, kau lelah? Biar aku siapkan air hangat untukmu mandi ya?"
Lagi-lagi dia mengabaikan ucapanku. Alisku berkerut kala dia mengabaikanku.
Sekali lagi aku mengejarnya yang sudah menaiki tangga, "Steven... Steven... Stevenn..."
Apa pikirannya kosong? Tapi dia tidak biasanya seperti ini. Aku pergi berlari kecil mengejarnya menaiki anak tangga.
"Stev...aaahhh"
Mataku terbuka karena aku tidak merasa kesakitan. Ternyata Steven yang menangkap tubuhku. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku dan bayiku.
Aku berdiri tegak dan memperbaiki pakaianku. Kutatap dia dengan mata sinis, "kenapa mengabaikanku?"
"Maaf sayang, aku tidak fokus tadi" ia menggeleng dan tidak berani menatap mataku.
Kakiku menaiki beberapa tangga di atasnya hingga wajah kami sejajar. Aku memegangi pipinya dan menatap mata itu lekat-lekat.
"Apa yang terjadi di kantor? Ada masalah?"
Ia mengerucutkan bibirnya dan menggeleng, "enggak sayang, aku hanya berpikir tentang masalah rapat tadi"
Kuanggukkan kepalaku mengerti. Aku juga tidak paham sama sekali tentang dunia perkantoran. Mungkin Steven hanya kurang puas pada pekerjaannya yang selama ini terkenal perfeksionis.
Kita berdua beriringan memasuki kamar. Aku dengan cepat ke kamar mandi menyiapkan air hangat di bathtub untuk suamiku tercinta.
Setelah semuanya selesai, aku keluar dan melihat Steven sedang berdiri di balkon sendirian. Ia termenung lagi, dalam keadaan jas sudah dilepas.
Kuhampiri dan menepuk bahunya pelan, "sedang apa? Kenapa termenung lagi?"
"Ah tidak, Elena. Aku hanya berpikir untuk proyek baru saja"
Ia segera pergi meninggalkanku mandi. Aku hanya bisa menghela nafas, sesulit itu pasti yang dia rasakan untuk mengurus banyak hal sekaligus.
✨✨✨
"Kak hadiahnya mana?"
Kak Briant menunjuk ke koper yang di bawa oleh seorang bodyguard. "Di dalam koper itu, semoga surprise ini berhasil" katanya ragu.
"Pasti berhasil, kujamin"
Kita semua duduk di kursi masing-masing. Steven di sampingku, langsung menyamping dengan dinding kabin. Ia menatap keluar jendela.
Tanganku hendak memegang bahunya, tapi aku mengurungkan niatku karena takut dia kesal lagi. Sudah beberapa hari ini dia tampak sangat kesal. Moodnya berubah-rubah tidak menentu. Bahkan Steven pernah membentakku sekali hanya karena tidak sengaja menjatuhkan dokumennya dari meja kerja.
Perjalan ke Amerika memakan waktu sekitar sepuluh jam. Aku menghabiskan waktu untuk menonton film, makan, dan tidur.
✨✨✨✨
"Elena, kau sudah selesai?"
Tanganku memasukkan sapu tangan ke dalam dompetku. Aku beranjak dari kursi rias setelah selesai memantaskan diri untuk hadir di acara wisuda adik iparku.
__ADS_1
"Finish, ayo pergi" dengan senyuman manis yang selalu kuberikan pada pria ini.
Steven memberikan tangannya untuk aku gandeng. Kita berjalan beriringan meninggalkan apartemen. Kak Briant menginap di hotel agar Selena tidak tahu bahwa dia hadir hari ini.
Setelah berangkat ke kampus Selena, aku memperhatikan begitu banyak tamu yang hadir. Bisa dihitung dengan jari tamu ras Asia yang hadir.
Ia menuntunku memasuki kampus, berjalan diantara keramaian lobby. Beberapa orang yang bertugas mengarahkan tempat, membantu kami masuk ke dalam aula.
"Please have a seat Mr and Mrs. Lee, I hope you two enjoy our party. It is an honor for us to have you present at this event" maid tersebut membungkuk dengan gerakan tangan mempersilahkan dengan penuh kehormatan.
"Thank you" jawab Steven ramah.
Setelah Steven dan aku duduk di kursi yang sudah disediakan khusus, maid itu pergi. Kita berada di barisan kedua terdepan. Barisan pertama diisi oleh jajaran rektorat dan dosen serta yayasan universitas.
"Kenapa kita diberikan tempat khusus?"
Ia terkekeh akan pertanyaan polosku, "kita tamu kehormatan disini. Uangku ikut mendanai pendidikan beberapa mahasiswa berprestasi disini"
Mataku terbuka lebar kala mendengar penjelasannya. Aku tersenyum lebar nan tulus, suamiku begitu baik memiliki hati selembut itu.
"I love you"
"Tiba tiba sekali" dengan kekehan manisnya.
Aku semakin erat memeluk lengannya. Membiarkan kepalaku bersandar di bahunya yang sangat nyaman. Kecupan mendarat di rambutku.
Acara akhirnya dimulai. Kami mengikuti sejak awal.
Jadi seperti ini kehidupan orang normal pada umunya. Aku iri karena tidak bisa merasakan momen bahagia seperti ini. Ingin sekali menjadi salah satu dari mahasiswa yang sekarang mengenakan jubah kelulusan dengan tonggak di kepala.
Saat ini para mahasiswa yang akan sarjana bergiliran maju ke podium. Mengucapkan ikrar dengan berjabat tangan dengan sang dosen besar.
Tibalah giliran Selena. Aku begitu bangga karena adik ipar kecilku akhirnya menjunjung gelar sarjana itu.
"Lihat dia manis sekali"
Selena berbalik menghadap para hadirin. Ia mengangkat tonggahnya dan tersenyum sangat manis. "Yeayyy, dude i did it" teriaknya sehingga semua orang tertawa lucu.
"Hahaha lihatlah gadis itu, manis sekali"
"Hahaha dasar gadis bodoh"
Airmata yang terjatuh di pipinya segera Steven hapus. Ia tertawa lepas karena tingkah konyol adiknya itu.
Kuelus punggung tangan yang menggenggam tangan kecilku. "Kau pasti bangga kan?"
"Aku takut" suaranya berubah getir. Ekspresi yang tampak di wajah tampannya itu berubah menjadi sendu sulit dijelaskan.
Dahiku berkerut mendapati perubahannya yang sangat spontan, "ada apa? Ada yang mengganggu?"
Dengan cepat ia menggeleng, merubah ekspresinya kembali bahagia "tidak, hanya terharu saja" memberikan senyuman terbaiknya.
Acara demi acara berlalu hingga ke penghujung. Semua hadirin sudah berhamburan menyambut putri, teman, atau kekasih mereka yang baru saja selesai menempuh pendidikan di Fashion Institute of Technology (FIT).
Tangan yang selalu menggenggamku membantuku berjalan keluar dari aula. Kami pergi ke taman kampus menunggu Selena siap dengan segala urusannya.
"KAKAK, KAKAK IPAR"
Secara bersamaan kami berbalik menghadap sumber teriakan itu. Selena dengan sangat senangnya berlari ke arah kami.
Langakahnya berhenti tepat memeluk Steven. Keduanya sangat bahagia secara bersamaan. Aku tidak bisa berkata apapun, bahagia itu benar-benar menyelimuti kami semua.
"Kak, I did it. Thanks for everything and every second you gave for free for me. Thanks for making me stand here, thanks for being my dad. I love you stupid brother"
"I love you too ugly sister"
__ADS_1
Aku hanya bisa tertawa kala keduanya saling mengejek bahkan disaat seperti ini.
Steven memeluk Selena cukup lama. Ia menutup matanya tidak membiarkan adiknya itu melepaskan pelukan mereka. Kerutan di dahi dan matanya yang terpejam rapat mengisyaratkan ketakutan.
Sebenarnya apa yang terjadi padamu, suamiku?
Karena mulai sulit bernafas, Selena melepaskan tangan Steven. Dia memandangi wajah kakaknya lekat-lekat, kedua tangannya menangkup pipi tirus Steven.
"Hei hei apa yang terjadi? Kau menangis? Kakakku menangis?"
Refleks Steven menjauhkan wajahnya menatap ke arah berbeda. "Nangis apanya? Untuk apa aku menangis?" ia menelan salivanya sendiri.
Gadis menggemaskan itu berlari kecil ke hadapan kakaknya. Ia menertawai Steven yang baginya tampak lucu, "jujur saja kau menangis kan? Hayo nangiskan?" dengan ekspresi mengejek yang menyebalkan.
"Iya dia tadi menangis, aku beberapa kali melihatnya menghapus air mata" sautku membuat Steven semakin malu.
"Wahh dasar bodoh hahahha" tawa Selena lepas.
"Selena" panggil seseorang.
Tawa keras itu menghilang saat namanya dipanggil. Ia berbalik dan terdiam membisu melihat kak Briant berdiri tak jauh dengan seikat bouqet bunga di tangannya.
Surprise itu berhasil. Selena langsung berjalan pergi dengan tangan mengepal kesal. Steven dan aku menertawai pasangan itu sedang kejar kejaran.
"Mereka lucu sekali"
"Mereka tampak bodoh"
Kak Briant mengejar Selena yang berlari kecil masih dengan jubah wisudanya. "Pergi kau, aku tidak mengenalmu" gadis itu kabur.
"Sayang, tunggu. Jangan kesal please" kak Briant berlari kecil seraya menahan tawanya.
Gadis yang baru saja lulus itu seperti orang bodoh berlari kesana kemari menghindari kekasihnya. Mereka tampak seperti tom and jerry.
"Kau pembohong, I hate you Jerk" umpat Selena.
Kak Briant berhasil menangkap tangan Selena. Ia memeluk gadis kecil itu erat agar tidak kabur lagi.
"But you love this jerk too, right?"
"You ****!"
"I miss you, lil girl" kecupan mendarat di pucuk kepala Selena.
Tangan Selena melingkar di perut prianya, "**** you hikss hikss"
Tiba tiba Selena menangis dalam dada kak Briant. Karena panik aku dan Steven langsung menghampiri mereka berdua.
"You cry?" tanya kak Briant. Ia ingin melepaskan pelukan itu untuk melihat wajah Selena untuk memastikan. Namun Selena semakin mengeratkan pelukannya.
"Diam, jangan lihat aku menangis. You lied to me. You fool me" memukul-mukul pinggang kak Briant.
"Hei, kau memang bodoh. Jangan menangis atau kau akan semakin tampak bodoh" pukas Steven membalas ejekan Selena tadi.
"**** you Steven" saut Selena semakin kesal.
Kita semua tertawa lepas karena Selena berhasil dikerjai. Kak Briant memeluk erat gadis kecilnya, "you're happy this jerk is coming, right?"
"Shut your fucking mouth"
"I miss you, my lil girl"
"I miss you too, jerk"
Tangan Steven melingkar di pinggangku. Kami saling memandangi satu sama lain disertai senyuman penuh kasih di bibir masing-masing.
Tidak perlu lagi merasa heran karena Steven menciumku di hadapan banyak orang seperti yang sering dia lakukan selama ini.
__ADS_1
Budaya orang barat yang terbiasa akan hal ini tidak lagi terkejut melihat kami berciuman di keramaian. I let him do that 'cause I love it.