MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Kita hanya tak sengaja bertemu


__ADS_3

Apakah benar aku yang terlalu naif atau memang pada dasarnya semua harus berjalan berantakan? Perjalanan yang terasa mulai nyaman dan damai, kembali bergelombang. Rasa nyaman yang ternyata adalah cover dari luka-luka baru yang lebih menyakitkan.


Manusia memang ditakdirkan terlahir dengan beban hidup masing-masing. Tidak ada hidup yang mudah, semua berjuang untuk merasa lebih baik. Jangan menipu diri sendiri dengan menyatakan hidupmu adalah yang tersulit.


Jika merasa terlalu berat untuk ditanggung sendiri, cari seseorang yang bisa memberi bahunya untuk bersandar. Seseorang yang mampu mengulurkan tangan, dan memberikan sapu tangannya untuk menyeka air mata di pipimu.


Namun bagaimana bila kita salah memilih? Seseorang yang aku kira akan memberi sedikit saja kata bahagia, ternyata malah samakin menghancurkan harapanmu untuk tetap bertahan.


Aku tidak mau menjadi orang munafik, namun keadaan yang memaksaku merasa begitu. Bila penderitaan berlangsung terus menerus, pada akhirnya akan habis. Yang tersisa hanya kebahagiaan.


Akan tetapi mengapa bagian penderitaan ku tidak ada ujungnya? Kapan ujungnya akan terlihat? Sepertinya saat itu adalah bagian kebahagiaanku yang akan kembali dengan penderitaan tanpa ujung.


Sejak awal pertemuan itu tidak menjanjikan akhir yang bahagia. Kita hanya tidak sengaja bertemu, dan pada akhirnya akulah yang terluka kembali.


Aku mohon.


Untuk apa Tuhan menciptakan hati jika untuk disakiti?


Pelarianku berhasil, aku berharap semoga dia tidak mengejarku dan memaksaku kembali.


Kak Edward membawakan segelas air, "Ini minumlah, tenangkan dirimu". Aku meneguknya sampai habis. Rasanya sangat segar dan memuaskan dahagaku yang sudah kering kerontang.


Ia duduk di sampingku, "apa kau sudah makan?" tanyanya lagi.


Aku hanya menggeleng, saat seperti ini siapa yang masih berselera makan.


Kak Edward pergi ke dapur, ia memasak sesuatu untukku. Aku melihat dari sofa ruang tamunya, pria itu sangat baik. Bahkan ia tidak memaksaku untuk cerita, ia lebih memilih memberiku minum dan makanan. Ia paham betul.perasaanku yang belum mampu bercerita.


Drrtttt....


'Steven'


Dengan sigap aku menolak panggilan nya, tidak mau berbicara dengannya, tidak mau mendengar suaranya lagi.


Pria itu keras kepala sekali berulang kali menghubungi. Karena terlalu kesal aku langsung menonaktifkan HP agar ia tidak bisa menghubungi lagi.


Aku pergi masuk ke kamar mandi, membasuh wajahku agar tidak terlalu kusam. Malam ini aku akan istirahat disini saja, besok barulah akan memikirkan harus pergi kemana.


Ketika aku keluar, kak Edward sedang menghidangkan makanan yang ia masak. "Sini makanlah, saat seperti ini kau butuh tenaga untuk bersedih dan kasihan bayimu juga" kata kak Edward lalu menunjuk hidangannya.


Karena merasa tidak enak, aku memilih makan hidangan tersebut. Wanginya menunjukkan ini lezat, aku mulai menyantapnya secara perlahan.


Kak Edward lalu membawakan semakuk sup, "ini agar kau merasa bertenaga lagi". Kak Edward sangat pandai memasak, sudah pandai, tampan lagi.


Sup itu seperti yang dimasak oleh mama saat dulu aku sedang sakit. Mama selalu bilang kalau sup ini baik untuk memperbaiki stamina.


"Terima kasih kak karena sudah menolongku dan membuatkan makan malam untukku"

__ADS_1


Pria manis berkulit sedikit gelap ini duduk di depanku turut makan bersama tersenyum lembut. "Iya kan aku sudah berjanji akan membantumu jika kau memintanya" katanya lalu mengunyah sesuap nasi.


Aku menghabiskan seluruh makan malam yang diberi, bayiku harus tetap dalam kondisi baik. Lalu tersadar, kak Edward menatapku sejak tadi.


"Ada apa kak?" tanyaku canggung.


"Apa kau masih belum bisa cerita apa yang terjadi? Aku tidak akan memaksa, jika memang tidak bisa maka aku tidak apa" ujarnya.


Drrttt...


Panggilan masuk ke HP kak Edward di saku. Ia melihat dan itu adalah nomor tak dikenal.


"Halo" sapanya.


Ia langsung mengakhiri panggilan setelah orang yang ada dalam panggilan berbicara.


"Apakah itu Steven?" tanyaku.


Kak Edward meletakkan HP nya di meja makan "Hmm dia sudah menggila karena kepergianmu"


Pria ini asing, tapi aku merasa nyaman berada di dekatnya. Ia begitu baik, aku merasa tidak enak jadinya.


Sebaiknya aku mencaritakan pada kak Edward apa yang terjadi tanpa menyebutkan wanita itu karena enggan menyebut namanya. Walaupun air mataku masih tetap menetes, aku merasa lega setelah mengungkapkan isi hatiku.


Ia memandangku dengan rasa iba, menghampiriku lalu memelukku. Kak Edward mengelus rambut dan menenangkanku.


Aku membawa perlatan bekas makanku ke wastafel, tapi ia mengatakan ia saja yang membersihkan segalanya. "Kau istirahat saja di kamar tamu itu. Aku yang akan membersihkan segalanya" katanya menunjukkan kamar tamu.


Ia kembali ke dapur untuk membersihkan peralatan, sedangkan aku membarinkan tubuhku ke atas ranjang yang cukup luas untukku sendiri. Tubuhku rasanya sangat letih, aku perlu istirahat yang cukup.


Sayup sayup terdengar suara berisik di luar kamar. Suara pria bertengkar di sana, aku terbangun dan melihat keadaan.


Steven datang menerobos masuk ke dalam. Ia membuat keributan di rumah orang lain hanya demi menemuiku.


"Karina" panggilnya saat melihatku keluar dari kamar.


Aku memandang benci padanya, marah dan tak akan mau ikut dengannya kembali. "Kenapa kau disini" tanyaku jutek.


Ia datang mendekat, menggenggam pergelangan tangan kanan ku. "Kenapa kau pergi begitu saja? Ada apa? Kenapa seharian kau mengacuhkanku" katanya lirih.


Dengan tegas aku menghempas tangannya, "kenapa? Dasar pria brengsek. Enyah kau, aku tidak mau tinggal bersamamu bahkan untuk melihatmu lagi" teriakku.


Kak Edward menghalanginya menarikku, "Stev kau sudah menyakiti hatinya dan sekarang kau mau membawanya tanpa rasa bersalah?" katanya keras.


Steven membalas menatap tajam, "kau jangan ikut campur. Ini urusanku dengan wanitaku. Karina sebenarnya apa salahku? tolong katakan sesuatu" katanya tak kalah keras.


Aku menutup mataku, ingin tenang sebelum emosi ku sampai pada ambang batas, "Steven pergi dari sini, aku mohon, aku tidak mau bertemu denganmu lagi" kataku.

__ADS_1


Pria yang begitu baik telah menolong ku medengar aku mengatakan hal itu dengan kondisi menahan emosi, ia tak bisa diam saja. "Kau dengar apa katanya kan? Sejak awal kau memang tak pernah serius dengannya, Jadi pergilah" kak Edward.


Pria pemarah itu tidak bisa menahan amarahnya, ia meninju wajah kak Edward dengan tangannya.


Menyaksikan mereka berkelahi seperti itu karena aku, aku tak kuasa. Emosiku memuncak, aku menjatuhkan HP yang ada di tanganku lalu teriak "PERGI!!! AKU TIDAK MAU MELIHATMU! AKU LELAH, AKU INGIN ISTIRAHAT" teriakku keras.


Keduanya terdiam melihatku yang sudah diambang batas amarah. Sebelumnya aku tidak pernah seperti ini.


"Karina" panggil Steven.


Aku menutup mata menghebuskan nafas panjang, "aku bilang pergi, sebelum aku semakin tak karuan" mencoba sabar.


Pria yang aku husir jauh dari hatiku itu akhirnya terdiam. Wajahnya terlihat sangat kesal dan kecewa. Ia pergi meninggalkan apartemen kak Edward.


Kepergiannya diikuti olehku yang masuk ke kamar lagi. Sudah tenang, aku bisa kembali beristirahat dengan tenang. Namun tetap saja, melihatnya membuatku mengingat kejadian tadi pagi. Aku menangis dalam selimut agar tidak terdengar ke luar.


/ Di sebuah laboratorium /


Malam baru saja di mulai, cahaya sang rembulan belum terlalu tampak menyinari gelapnya langit malam. Namun itu tidak menghalangi bagi mereka yang berkemauan untuk tetap gigih bekerja.


Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan sebuah laboratorium yang tidak terlalu besar. Tampak dari luar seperti sebuah laboratorium lama yang sebentar lagi akan tutup.


Pintu mobil dibuka oleh sang sopir berjas formal, keluar seorang wanita paruh baya yang tampak masih muda, cantik, dan seksi. Kedatangannya disambut oleh beberapa peneliti dengan jas putih mereka serta seorang pria paruh baya dan cukup banyak penjaga.


"Selamat datang di Fantasia" sapa tuan Han pada Jessica. Mereka bersama masuk ke dalam setelah saling menyapa.


Jessica melihat ruangan-ruangan dalam laboratorium terlihat seperti sebuah laboratorium yang akan bangkrut. Staff hanya sedikit sedangkan peralatan terlihat berantakan.


"Ini laboratorium yang aku investasikan? Kau bercanda?" kata Jessica tak percaya.


Tuan Han tersenyum santai, "mari ikut aku" kata nya lalu membawa wanita itu ke sebuah tempat tak terduga. Salah satu penjaganya menarik sebuah buku di rak buku yang berantakan, seketika rak buku itu bergerak. Sebuah lorong sempit rahasia yang terbuat dari dinding besi.


Jessica tercengang namun tampak normal. Mereka semua masuk ke dalam lorong menyelusuri jalan yang tidak terlalu lebar. Hingga mereka sampai pada inti penelitian.



Hola My dear readers 💚💚


Terima kasih karena sudah membaca novel aku dan tetap setia


Saya minta maaf jika ada kesalahan 🙏


Semoga kalian suka ya cerita aku


Jangan lupa like dan komen, gratis kok 🤔


감사합니다 💚💚

__ADS_1


__ADS_2