MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Kembalinya sang permaisuri ke castil Lee


__ADS_3


Steven -



Saling bergandengan dan tertawa ringan bersama, keduanya terlihat cantik dan mengagumkan. Dua gadis cantik yang mengisi hati dan hidupku datang dengan tawa di wajah indah mereka.


Aura kebahagiaan dan sukacita terlihat jelas berseri-seri diantara keduanya. Aku bersyukur karena keduanya bisa akur dan tidak ada kesalahpahaman kembali.


Edward tidak sabaran setelah mengetahui kabar yang baru saja aku berikan. Ia berlari memeluk Karina yang masih beberapa meter dari kami.


Gadis yang mengandung bayiku terheran-heran dengan sikap temanku itu. Ia belum tahu kebenarannya maka pantas saja dia merasa heran.


"Ada apa kak?" tanya Karina bingung.


Pria yang memeluk Karina melepaskan dekapannya lalu menghapus air mata di pipinya, "tidak tidak ada apa-apa" katanya. Karina bingung dengan sikap Edward.


Sebenarnya aku melarang Edward mengatakan hal sebenarnya, karena aku ingin memberi kejutan besar pada hari spesial untukku dan Karina nanti.


Dengan senyuman aku menyambut mereka. Karina yang berjarak sekitar sepuluh meter di hadapanku memonyongkan bibirnya, ia melihatku dengan tatapan sinis.


Aku mengelus sedikit dahiku dan tertawa. Karina segera berlari mendatangiku, awalnya aku kira ia ingin memelukku namun yang dapatkan malah pukulan.


Gadis pemarah itu cemberut, ia memukul-mukul dadaku. "Brengsek kau, harusnya menceritakan segalanya padaku. Aku membencimu, aku tidak mau melihatmu" katanya.


Entah kenapa ketika ia kesal ia bisa terlihat sangat imut. Kutangkap kedua tangannya, "kau yakin membenciku? Kau yakin tidak mau bertemu lagi denganku" godaku.


Akhirnya ia memelukku dengan hangat. Menjatuhkan dirinya tenggelam dalam dekapanku. "Harusnya kau mengatakan segalanya" katanya pelan.


Aku mengelus rambut halusnya, mencium rambutnya yang wangi. "Makanya dengerin aku dulu baru teriak-teriak" bisikku di telinganya.


Awww...Gadis ini pemarah sekali, dia bahkan mencubit perutku karena membuatnya kesal.


Ketika kami berpelukan, kedua orang itu malah diam dan canggung. Diantara empat orang tersia yang berdiri di tengah-tengah aula stadion renang, Edward dan Selena terlihat begitu canggung.


"Ada apa dengan kalian berdua? Selena? Biasanya kau centil sekali ke Edward" aku bingung.


Adik cantikku tersenyum kecut, "kak aku pulang duluan ya" ujarnya langsung meninggalkan kami bertiga.

__ADS_1


"Karina aku pulang duluan ya, jika butuh apa-apa hubungi aku lagi" katanya lalu pergi meninggalkan kami berdua.


Wajah kami saling berdekatan, aku menatap mata Karina yang jelas-jelas bengkak dan ada lingkaran hitam dibawah matanya. "Apa kau menangis terus?" tanyaku.


Ia berbohong dengan gelengan kepalanya, aku tahu jelas dia terus menangis. Rasanya sangat mengerikan menjadi alasan dia menangis.


Saat seperti ini para pengganggu datang. Mereka datang disaat yang tidak tepat. Reporter dan beberapa orang awam datang mengganggu.


"Ayo kita pergi sebelum mereka mengerumuni kita" aku langsung menarik Karina pergi. Kami masuk ke mobil agar mereka tak bisa menemui kami.


Selena dan Edward sudah tidak terlihat, sepertinya mereka memang segera pulang sesuai perkataannya.


Dalam perjalanan membawa wanita ku kembali ke castil, jari jemari kami kembali bersatu. Ku genggam erat agar tidak terlepas.


Kami sampai di depan pintu rumah utama. Penjaga membukakan pintu untuk kemi berdua. Terlihat bibi Kim menyambut calon ratu dari kerajaan kecil Lee.


Karina langsung memeluk bibi Kim, "bib Kim Karina rindu" katanya.


Bibi dan Karina berpelukan, "bibi juga rindu nona"


"Nona kelihatan kusam sekali deh, pasti nangis terus ya" ujar bibi Kim. Ia mengangguk dengan wajah imutnya, "itu karena dia bi" katanya pula.


Kami bersama masuk ke dalam rumah, udara di luar semakin dingin sepertinya akan turun salju lagi. Karina terlebih dahulu masuk ke kamarnya.


Aku ke dapur mengambil susu untuk Karina dan suplemen yang sudah dua hari ini ia pasti belum makan. Ketika aku menemuinya di kamar, ia sedang berdiri di balkon.


"Ini minumlah" kataku memecahkan lamunan gadis ini. Ia langsung menghabiskan semuanya dan kembali melihat ke layar kaca HP.


"Apa yang kau lihat" tanyaku.


Karina menghembuskan nafas singkat, "banyak artikel tentang kita di internet. Aku takut itu akan mengganggumu dan bisnismu setelah melihat semua komentar kebencian terhadapku"


Segera kurebut smartphone tersebut, "aku tidak perduli apa yang dunia fikirkan. Bagiku kau adalah yang terbaik. Lagi pula sebentar lagi aku akan memperjelas segalanya. Urusan bisnis itu bisa diatur." ujarku.


Ia tersenyum hangat menatap mataku dengan kedua mata bengkaknya, "maafkan aku untuk tindakanku malam itu" Karina meneteskan air mata.


Dengan jariku sendiri, aku menghapus air mata yang membasahi pipi gadis ini. "Tidak apa-apa, yang penting semuanya sudah jelas" balasku.


"Maafkan aku karena kasar tanpa tahu apa yang kau alami selama ini" Karina mendekap dalam pelukanku. Kukecup dahinya, ia pasti sudah tahu masa laluku.

__ADS_1


Dipandangnya wajahku lalu mengelus pipiku dengan jemarinya. Ia tidak mengatakan apapun tapi aku tahu dia pasti sedih tahu akan masa lalu kelam yang aku alami.


Aku membiarkan jemarinya mengelus wajahku, sekarang aku tahu dia sudah mulai mencintaiku. Aku bisa merasakan getaran di hatinya.


Dalam situasi seperti ini perasaan kami saling menyatu. Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Aku mendekatkan bibirku ke bibir ranumnya, ke kecup bibirnya.


Bibir manis yang sangat aku rindukan, aku ******* bibirnya dan ia langsung membalas. Kulingkarkan kedua tanganku ke pinggangnya dan dia melingkarkan tangannya di leherku.


Aku ******* bibirnya terus menerus. Membawa Karina masuk ke dalam kamar. Karina ku dorong ke atas ranjang perlahan sambil ******* terus bibirnya.


Ia tidak melawan, ia membiarkan ku menciumnya. Tunggu saja sebentar lagi aku akan menjadikannya istriku dan membuatnya menikmati malam bersamaku.


Karina menyembunyikan tubuhnya di dalam pelukanku, ia akhirnya tertidur dengan nyaman bersamaku.


/ Di kafe /


Sebuah kafe dengan tema vintage ala-ala anak indie, hanya ada dua orang yang mengisi. Edward dan Selena duduk dalam kafe berdua tanpa ada pengunjung lainnya.


Selena memandangi kopi latte yang ia pesan, sedangkan Edward memandangi Selena yang menjadi pemurung.


"Bagaimana kabarmu? Apakah kuliahmu lancar?" tanya atlet yang baru saja memenangkan semifinal pertandingan renang.


Gadis yang duduk di hadapan pria itu tak bergeming. Tetap diam bahkan tak mau menatap lawan bicara.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau menjauhiku? Apakah terjadi sesuatu?" tanya pria itu penasaran.


Akhirnya gadis cantik tersebut mengangkat kepalanya, "bukankah sejak awal kau memang ingin aku menjauhimu? Kau sendiri yang benci saat aku menganggumu. Saat aku berhenti menjadi pengganggu, kenapa kau malah terkejut?"


"Selena, katakan padaku siapa yang mengganggumu. Aku tahu sesuatu pasti terjadi" balas Edward.


Dengan ekspresi malas ia membuang pandangannya ke luar, "kau sendiri yang membenciku lalu sekarang kau pura-pura perduli? Kak, maaf tapi aku tidak mau menjadi beban" jawabnya.


Edward menggenggam tangan gadis di hadapannya, "bukan begitu maksudku".


Selena mengambil sebuah amplop dari dalam tasnya, "aku tidak mau menjadi wanita murahan yang datang menggoda pria yang sudah memiliki wanita lain. Dan satu lagi, selamat kak untuk hubunganmu dengan Lily" Selena langsung meninggalkan Edward sendirian.


Atlet tampan itu terdiam membisu melihat isi amplop tersebut adalah foto-fotonya bersama dengan Lily dan di foto terakhir mereka berciuman.


Kesalahpahaman kembali terulang, ia bingung harus bagaimana. Selena adalah gadis yang tidak pernah ia lihat marah sebelumnya. Namun bila seperti ini ia tidak tahu bagaimana memperbaiki semuanya.

__ADS_1



__ADS_2