
- Steven -
Prankkk...
Pintu mobil tertutup keras usai aku keluar dari dalamnya. Dengan cepat dan penuh kekesalan memasuki rumah meninggalkan Selena masih di dalam mobil.
Ia mengejar sampai ke dalam dengan berlari. Memanggil-manggil namaku berulang kali.
"Kak tolong jangan seperti ini" ujarnya.
Langkahku terhenti di tengah-tengah lantai hampir menginjakkan kaki di atas anak tangga.
"Aku butuh penjelasan. Apa ini alasan kakak melarangku kembali ke Korea?"
Aku menghembuskan nafas pasrah. Berbalik dan menatap gadis itu datar.
"Iya dia alasannya. Jadi sebelum terjadi hal buruk, segera pergi dari negara ini"
Ia menggigit bibir bawahnya, "kak percaya padaku, tidak akan terjadi apapun. Semuanya akan baik-baik saja"
Baik baik saja? Aku tersenyum jengah dan merasa bodoh.
"Sekali saja jangan keras kepala, Selena. Semuanya demi kebaikan kita bukan untuk keegoisanku semata"
"Dia tidak akan bisa berbuat buruk padaku kak. Aku mengenal bagaimana Christian Yu. Dia memang buruk pada orang-orang, tapi tidak denganku"
Tanganku meregangkan ikatan dasi di kerah kemeja. Kutahan emosiku, "kau tidak tahu rasanya menjadi aku, Selena. Aku sudah kehilangan banyak. Kak Alvin, mama, papa, aku tidak mau kehilangan kalian juga. Devil will still be a devil, no matter how you deny it. I know very well because I am also a devil, Selena"
Air mata menetes dari mata indahnya. Ia menatapku marah "mereka bukan hanya orang-orangmu. Mereka juga milikku, bukan hanya kau yang kehilangan mereka. Tahu kah kau bahwa kau egois Steven?"
"Right, I'm selfish. I was always selfish in everyone's eyes. Christian datang karena punya maksud khusus. Dia menginginkan sesuatu yang ada padaku. Aku egois karena ingin menyelamatakan milikku itu. Puas?!"
"Siapa Christian Yu? Kehilangan apa?"
Kami menatap pada sumber suara. Elena datang dari arah pintu belakang dan kebingungan.
"Aku akan memerintahkan mereka mempersiapkan penerbanganmu malam ini"
Tangisannya semakin pecah kalah mendengar kesimpulanku. Ia langsung berlari dan memeluk Elena.
Elena mengelus punggung adik iparnya itu lembut seraya menenangkannya. Ia sesekali melirik padaku meminta penjelasan tentang pertikaian itu.
"Stev, cobalah percaya pada orang lain. Aku tahu kau sudah kehilangan banyak tapi cobalah percayai Selena"
Kuhelakan nafasku letih dan pasrah. Selena benar-benar tahu kelemahanku, ia mengerti Elena benar-benar paham mengambil hatiku.
✨✨✨✨
/ Author pov... /
Tok..tokk..tokkk...
Seorang wanita berambut blonde panjang datang membuyarkan fokus pria yang sejak tadi sibuk dengan dokumen-dokumennya.
"Lucas, kau sibuk?" tanya Elsa sopan.
Lucas melepaskan kacamata yang bertengger di atas hidung mancungnya dan meletakkan benda mahal itu di atas tumpukan kertas.
"Hampir selesai, kenapa honey?"
Elsa mendekati kekasihnya di depan meja kerja. Sejak tadi tangan kirinya terus ia sembunyikan, karena ada hal besar yang akan ia ungkapkan.
"Ada yang ingin aku berikan"
"Apa itu?"
"Boleh ikut denganku?"
Tidak seperti biasanya, Elsa menjadi lebih sopan dan pemalu. Entah dimana sosok agresif dan tangguh itu berada.
"Kemana?"
"Gendong aku" berhasil membuat Lucas tertawa gemas.
Pria itu menurut dan mengangkat tubuh ramping kekasihnya dalam posisi berpelukan. Secepat kilat Elsa melingkarkan tangannya di leher Lucas dan mereka saling berpandangan.
Sesuai arahan Elsa, Lucas membawanya menuju ruang santai. Sekarang wanita kelahiran Selandia Baru itu tinggal di penthouse Lucas.
Lucas tidak lagi mau kehilangan sosok wanita yang selalu spesial dalam hatinya. Mereka sudah tinggal bersama dan merencanakan hal besar untuk masa depan. Hanya perlu menunggu waktu yang tepat saja.
Ia membuat Elsa duduk di sisinya dengan kaki di atas pahanya. Mereka saling bertatapan dalam.
"Ini untukmu"
Sang wanita memberikan benda kecil berwarna putih. Dengan rasa penasaran sang pria menerima dan melihat benda itu.
Ekspresinya berubah 360°, semula tampak letih dan stress seketika begitu cerah dan bahagia. "Aku akan menjadi ayah?" tanyanya yang sudah tentu jawabannya iya.
Elsa mengangguk pasti seraya tersenyum malu. Artinya mereka akan menjadi sepasang orang tua. Ini adalah kabar gembira bagi mereka dan semua orang.
__ADS_1
Lucas berulang kali melihat apakah benar itu dua garis atau matanya saja yang berkunang-kunang akibat terlalu lelah bekerja.
"Sweet Jesus" ucap Lucas bahagia lalu memeluk Elsa begitu erat dan hangat. Tidak lupa mengecupi pucuk kepala wanita cantik itu.
"Te amo, Lucas"
Ia melepaskan pelukannya kemudian menangkup wajah mungil wanita di depannya dan mengecupi bibir ranum tersebut berulang-ulang.
"Te amo, senorita"
"Emmchh...Lucas mmcchhh... Stop, aku kesulitan bernafas" sela Elsa di sela-sela kecupan mereka.
"Oh sorry sorry hehehe"
Elsa menyematkan jarinya dalam sela-sela jari besar milik Lucas, "Kau sangat senang?"
Pria itu menarik tangan Elsa yang ia genggam lalu mengecup punggung tangan itu "of course, why not?"
"Lusa kita akan menemui mama dan papa. Aku akan meminta restu mereka untuk memperistri putri mereka" lanjut Lucas seraya menatap hangat.
"Aku tidak sabar akan menikah denganmu, Lucas"
"Hahaha besok aku akan memamerkan ini. Lihat saja Steven, kau kira hanya kau yang bisa menikah dan punya penerus?" sombongnya entah pada siapa.
Elsa menumpukan kepalanya pada tangan yang tersandar di punggung sofa. "Pertemanan kalian memang luar biasa. Bahkan setelah dibohongi olehnya, kau masih kembali padanya"
"Si kunyuk itu memang kurang ajar. Tapi dia selalu punya alasan untuk setiap tindakannya"
"Apakah setelah menikah kau akan tetap bekerja sebagai wakilnya di Lee's Group?"
Lucas menggeleng, "tidak, aku tidak bisa seperti itu terus. Selama ini aku bekerja keras demi masa depan yang ternyata ada kau dan dia di dalamnya. Aku sudah merencanakan perusahaanku sendiri"
Elsa terkejut, ia pikir Lucas akan terus berdiri di belakang Steven. "Kau serius? Tapi kenapa selama ini kau terus dalam posisi itu? Lalu bagaimana respon Steven nantinya?"
"Aku hanya menunggu waktu yang tepat, dan kukira sebentar lagi saatnya. Kami sudah pernah membicarakan tentang ini. Bahkan dia sendiri yang memintaku segera menikah dan buat perusahaan sendiri dengan ejekan ejekannya".
✨✨✨✨
- Steven -
"Tunggulah sepuluh menit lagi, aku akan sampai di rumah" ujarku pada orang dalam panggilan.
'Kak, aku tidak mau pergi' rengek Selena dari sana.
"Aku tidak akan mengulang kata-kataku lagi. Aku yang akan antar kau ke bandara"
Panggilan kuakhiri.
"Ada apa?" tanyaku setelah menerima panggilan.
'Bos, keadaan darurat. Interpol menyerbu mansion'
"****!" Semakin kuinjak pedal rem sehingga kecepatan melebih batas normal lalu lintas
"Bagaimana dengan Elena dan Selena?"
'Mereka menahan nyonya dan nona muda, bos'
"Lindungi mereka, aku segera sampai"
Panggilan kuakhiri.
Sialan, mereka menyerang sangat cepat.
Aku segera kembali ke rumah. Tidak lupa memberitahu Lucas untuk mempersiapkan banyak hal untuk menangani masalah ini.
Hanya dalam sepuluh menit mobil Ferarri F8 merahku berhenti tepat di depan pintu utama. Persetan dengan pelanggaran lalu lintas.
"Don't move! Angkat tanganmu"
Baru saja pintu mansion terbuka, aku sudah dihadang dengan puluhan senjata. Sesuai dengan perintah, aku mengangkat tangan dan tidak melakukan perlawanan.
Mataku layaknya elang memperhatikan kondisi sekitar. Semuanya menatap tajam dengan todongan lubang peluru pistol tepat pada kepala dan dadaku.
"Dimana istri dan adikku?" tanyaku datar.
Melihat kondisi rumah yang sudah benar-benar berantakan, sepertinya mereka sudah mengamankan anak buahku.
"Mereka aman disini" ujar sang bos pasukan khusus.
Perlahan kulangkahkan kakiku memasuki rumah. Mereka tetap menodongkan senjata tanpa melukaiku, karena jika dilakukan sama saja mereka mencari perang dengan Sisilia.
Langkahku terhenti ketika kedua wanita yang paling kusayang tersebut muncul bersamaan saling berpegangan erat. Pandanganku menajam melihat sebuah bekas merah di kening Selena.
"Kalian menyentuh mereka?!" baru saja aku mau melangkah ingin menghajar para pria yang menuntun keduanya datang tapi sang bos langsung menodongkan senapan tepat di belakang kepalaku.
"Stop, don't move"
"Steven" panggil Elena takut.
__ADS_1
"K-kak, aku t-tidak apa-apa" ujar Selena gemetar.
"Apa yang kalian cari?" tanyaku langsung tapi pandanganku tidak luput dari keduanya.
"Dimana barangnya?"
"Aku tidak tahu apa-apa"
"Jangan berbohong, katakan dimana kau menyimpannya"
"Periksa saja rumahku jika kalian tidak percaya"
Para pasukan mulai menyebar memeriksa ulang rumahku. Aku yakin mereka sudah melakukannya sebelum ini, bisa dilihat dari kondisi rumahku yang begitu berantakan.
"Kak, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa interpol mengepung rumah kita?"
Aku menutup mata, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Mereka telah melakukan kesalahan" pukasku dengan suara dingin.
Sang bos berjalan maju seraya terus menodongkan senapan di kepalaku. "Jangan bermain-main Mr. Lee, barang itu harus segera dikembalikan ke pemerintah Kanada"
"Menyerahkan apa jika aku saja tidak tahu apa yang kalian mau?"
"Jangan berpura-pura, smart wall itu ada padamu"
Aku segera menghardik pria dengan pakaian tempur lengkap itu, "jika terbukti smart wall itu tidak ada padaku lihat saja, kau yang akan menjadi orang pertama kukeluarkan jantung dan paru-paru dari dalam tubuhmu"
Kami saling berpandangan, dia menelan salivanya sendiri setelah ucapanku barusan. Aku Steven Lee, ucapan ku bukan sekedar omong kosong yang terlontar tanpa dasar. Ancamanku adalah peringatan keras yang tentunya akan menjadi kenyataan.
Para pasukan kembali dan sesuai perkiraan, dengan tangan kosong. Aku menyeringai melihat kebodohan mereka.
Ya, aku munafik. Smart mirror wall memang ada padaku, tapi bukan di rumah ini. Apa mereka bodoh, orang sepertiku bukan orang bodoh yang tidak memiliki ide, bukan?
Tentunya mirror itu sudah ada di tempat yang tak akan bisa terjamah.
"Now look at you all, guys? Setidaknya berpikirlah sebelum menuduh seseorang, FOOL YOU!"
"Bos, barangnya tidak ada disini" lapor mereka.
"Shut up, i know it"
Dia menjauhkan senjatanya dariku. Kemudian melepaskan pengaman kepalanya, "okey fine, tapi anda tetap harus ikut dengan kami"
"Well, setelah itu bersiaplah jantung dan paru-parumu akan kucongkel"
Dia mendehem.
"Jalan cepat" ujar sang pasukan yang mengawasi Selena dan Elena.
"Aaahhh"
"KAKAK IPAR" teriak Selena.
Aku yang barus saja akan mengikuti sang bos langsung menoleh ke belakang.
****! He touch mine!
Dengan sigap kakiku berlari lalu melopat dan berputar. Saat itu pula kutendang kepala pria berpakaian serba hitam itu.
Ia tersungkur dan terlena. Sehingga menjadi kesempatan bagiku untuk merampas senapan di tangannya.
Pukulan dari ujung senapan mengenai perut, dada, leher dan terakhir dahinya. Sesaat setelah itu dia tersungkur lemas dan darah muncul di dahinya yang terluka.
"BERANINYA ANJING JALANAN SEPERTIMU MENYENTUH ISTRI DAN ANAKKU, BASTARD!"
Baru saja aku menodongkan senjata api itu di kepalanya, pasukan yang lain langsung melerai dan menahanku. Mereka membuatku berlutut dengan tangan ke belakang.
"Anda tidak seharusnya menghajar pasukan kami"
"Bangsat, kalian menyakiti wanita hamil tapi malah menyalahkanku?"
Uhukk..uhukkk...
Pria yang tadi kuhajar itu kesulitan untuk bangun, ia sampai terbatuh-batuk sesak.
"Saya mohon makhlumi dia hanya melakukan tugasnya"
"Tugas kau bilang? Dasar pasukan sialan, tunggu saja. Setelah ini semua berakhir, tunggu saja!"
Elena segera berlari menghampiriku dan diikuti oleh Selena, "Steven hikss.. hikss...jangan pergi, aku takut hikss hikss..."
"Iya kak, jangan pergi. Mereka akan mencelakaimu"
Senyuman damai yang terasa kikuk terpaksa kuberikan. Kutatap wanita hamil yang saat ini memegangi wajahku dengan kedua tangan mulusnya.
"Elama kau percaya padaku, semua akan baik-baik saja hm"
Ia mengangguk, air matanya terus menetes. Aku beralih menatap adikku yang cantik, "aku tahu kau bisa diandalkan"
Gadis itu mengangguk.
__ADS_1
Sesuai dengan perkataan sang bos pasukan khusus itu, mereka membawaku pergi. Elena menangis kencang meratapi kepergianku.